Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 24


__ADS_3

Gian dan Akira secara spontan saling menatap ketika mendengar pertanyaan Sisil karena mereka melupakan hal itu.


….


"Ya menurut informasi kita akan liburan ke negeri Jepang." Akira yang menjawab pertanyaan Sisil.


Gian termenung mendengar hal itu, ia teringat sesuatu, sesungguhnya Menurut rencananya dulu, Gian dan Shafira akan berbulan madu ke negeri sakura itu.


Namun karena pernikahan nya gagal dengan Shafira, rencana itu pun terpaksa gagal.


Tapi pada kenyataannya, Gian memang harus tetap pergi kesan meskipun ia menikah dengan wanita lain, dengan mendapatkan hadiah dari perlombaan yang ia menangkan bersama Akira.


Tapi Gian menolak untuk pergi ke sana, karena ia akan teringat tentang Shafira dan itu hanya akan membuat luka hatinya makin parah.


"Maaf Sisil, sepertinya om tidak bisa berangkat ke sana bersama kalian." Tegas Gian memberi tahu.


Dan itu membuat Sisil sangat kecewa, pasalnya hadiah itu tidak bisa di wakilkan oleh orang lain, dan itu sudah satu paket.


Jadi jika salah satu dari ketiganya tidak bisa berangkat maka hadiah itu akan di gagalkan.


Sisil merajuk setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Gian.


"Om harus ikut, pokoknya Sisil pengen pergi kesan titik." ucap Sisil memaksa.


"Sisil biarkan saja hadiah itu hangus, karena om tidak bisa ikut, tapi Sisil akan tetap pergi bersama anteu karena nanti Om yang akan ganti semuanya." Sebagai gantinya Gian lah yang akan membiayai keberangkatan Akira dan Sisil nanti, yang penting ia tidak ikut serta bersama mereka.


Perdebatan antara Gian dan Sisil semakin kacau, karena Sisil tetap ingin pergi besama Gian, dengan disponsori hadiah itu, ataupun dengan biyaya pribadi Gian.


Akira kini berada dalam situasi yang sangat membingungkan bagi nya, ia tidak dapat membujuk salah satu dari mereka.


Jika ia membujuk Sisil sudah pasti Sisil akan marah padanya karena merasa Akira berpihak kepada Gian.


Dan jika ia berpihak kepada Sisil, Gian akan mengira dirinya lah yang sebenarnya yang ingin pergi berlibur dengan Gian.


"Ooh tuhan ku kenapa aku selalu ada di posisi yang serba salah seperti ini." Batin Akira mengeluh, karena merasa lelah dengan keadaan yang selalu ia hadapi yang menguasai emosinya.


Sehingga ia harus berkali-kali menahan emosinya berusaha untuk sabar dan mengalah.

__ADS_1


Karena Sisil tetap kukuh, dengan keinginan Sisil sampai menangis histeris, dan nekat akan lompat dari mobil jika Gian tidak menuruti ke inginnya.


Melihat itu, Gian dan Akira begitu panik.


"Heey,,, Sisil jangan nekat sayang!" Teriak Akira panik melihat Sisil yang sudah akan loncat dari jendela mobil.


"Sisil…!" Pekik Gian, ikut panik lalu segera menepikan mobilnya.


"Apa-apaan kamu…!" Lanjut Gian begitu emosi melihat tindakan nekat Sisil sebab Gian merasa terkejut.


"Biarin aja, biar aku mati ikut mami ku di surga, di sini gak ada yang sayang sama Sisil, papi sibuk sendiri, semua juga juga tidak ada yang peduli kepada ku lebih baik aku mati aja" pekik Sisil sambil menangis.


"Astaga,,, Sisil kamu tidak boleh bicara seperti itu nak….!" ucap Akira tidak menyangka anak sekecil Sisil punya pikiran seperti itu.


Akira langsung pindah posisi beralih ke belakang lewat sela-sela kursi antara kursi yang ia duduk dan kursi Gian, untuk menenangkan Sisil.


Akira memeluk Sisil dan mengelus punggung Sisil.


"Sisil tidak boleh seperti ini nak…!" ucap Akira penuh kelembutan dan penuh kasih sayang.


Karena dengan begitu lah emosi Sisil bisa di kendalikan, justru jika di lawan dengan kekerasan Sisil akan semakin nekat dengan pikiran jeleknya.


"Hiks,, hiks,,, tapi aku ingin pergi kesana anteu, impian ku ingin  berlibur kesana besama mami dan papiku, seperti teman-teman ku…!" Sisil mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya kepada Akira sambil terisak.


Sehingga Akira mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Sisil, Akira menjadi tidak tega untuk menolak keinginan Sisil.


Akhirnya Akira mencoba untuk berbicara dengan Gian, agar Gian bisa menurunkan egonya.


"Kak Gian,,,!" Seru Akira, dengan suara lemah lembut.


"Hmm..!" Hanya itu respon dari Gian, tanpa menoleh ke arah Akira dan juga Sisil.


Gian tetap pokus mengemudi, karena ia sudah melakukan kembali mobilnya ketika Akira sudah bisa meredam emosi Sisil.


"Kak,,,, aku mohon demi Sisil ikut lah keinginannya, jika kamu menolak pergi karena membenci ku dan tidak ingin pergi bersama-sama ku, anggap saja aku tidak ada di antara kalian, aku berjanji tidak akan mengusik mu aku tidak akan mengganggu mu…!" ucap Akira mencoba memberi penawaran untuk suatu kesempatan agar Gian mau mengikuti keinginan Sisil.


Tapi Gian tidak mempedulikan apa yang di ucapkan oleh Akira. Karena ia tetap diam seribu bahasa.

__ADS_1


Dengan demikian Shakira dan Sisil tau Gian benar-benar engga pergi.


Sisil benar-benar kecewa dengan respon yang di berikan oleh Gian.


Sehingga Sisil kembali menangis kejer…


"Om jahat, om gak saya sama aku…!" Ucap Sisil di sela-sela tangisnya.


Tapi Akira terus memeluknya, Akira takut Sisil akan benar-benar nekat melemparkan dirinya keluar jendela mobil.


Akira ikut merasakan apa yang Sisil rasakan, entah mengapa ia pun ikut menangis bersama Sisil.


"Kak,,,!" Seru Akira lagi memanggil Gian.


Tapi tidak ada jawaban dari Gian, sehingga kesabaran Akira sudah habis.


"Dasar hati batu, kepala batu!" gumam Akira.


Dan itu berhasil mendarat respon dari Gian, karena Gian langsung menoleh ke arah belakang, untuk memastikan ucapan Akira ditujukan untuk siapa, dan memang hanya ada mereka di sana, tidak mungkin Akira berbicara seperti itu kepada Sisil, sedangkan yang di ajak bicara oleh Akira memanglah Gian.


Ya, saat Gian menoleh ke belakang, Akira sedang menatap ke arahnya dengan tatapan tajam.


"Apa maksudnya kamu bicara seperti itu!" sahut Gian penuh emosi.


"Lalu apa klw bukan kepala batu, hatimu sungguh keras, egois…!"


"Cukup tidak pantas kamu menilai ku begitu, kau tidak mengenalku, semua ini karena mu dan kakak mu…!"


"Kenapa selalu disangkutkan dengan masalah itu, saya sudah berusa berkorban untuk membayarnya, lalu aku harus apa? bukan kah aku sudah bilang ambil pistol ku, tembak aku biar kamu puasa…" Akira sudah tidak bisa menahan lagi emosinya.


"Anteu…!" Sisil terkejut melihat Akira begitu emosi, dan mendengar ucapan Akira, memang tidak pantas didengar oleh Sisil, tapi karena rasa emosinya Akira melupakan keberadaan Sisil bersama mereka.


"Jaga ucapan mu…!" Gian mengingatkan Akira.


"Lebih baik kamu turun di sini, kamu bisa mempengaruhi Sisil." Lanjut Gian menyuruh Akira turun dari mobilnya.


"Oke siapa takut…!" Akira menyanggupi tantangan dari Gian.

__ADS_1


Akira langsung membuka pintu mobil dan turun dari mobil Gian, tapi Sisil menarik tangan Akira merangkulnya sambil menangis histeris dan sulit sekali Akira melepaskan cengkraman Sisil.


__ADS_2