Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 77


__ADS_3

Sehabis magrib, Akira, Gian dan juga keluarganya telah berkumpul di rumah Ayah Ayus.


Sesungguhnya Ayah Ayus sangat merasa malu kepada keluarga besan, atas apa yang terjadi kepada putri sulung mereka, yang tadinya akan menjadi menantu merek.


Tapi mereka bersyukur pernikahan Gian dengan Shafira tidak terjadi, setelah tau apa yang terjadi sebenarnya.


Shafira sendiri tidak mampu mengangkat wajahnya di hadapan keluarga Gian, terutama di hadapan Mama Nirmala, yang dulu sangat berharap kepadanya, untuk menjadi menantu kesayangannya.


Tapi kini hanya aib yang ia berikan kepada keluarganya.


 Sebelum acara dimulai, mereka bercerita bersama berbasa-basi antara dua keluarga.


Sampai tibalah waktu yang telah ditentukan, ketua RT datang bersama penghulu yang akan menikahkan mereka, karena acara pernikahan ini dadakan Belum sempat mengurus surat-surat resmi.


Dan juga status Lucky masih suami Vera, maka pernikahan ini, hanya pernikahan di bawah tangan.


Dan tidak banyak orang yang hadir di acara tersebut, hanya keluarga inti dan keluarga Gian, Ketua RT , penghulu dan dua saksi yang di bawa oleh ketua RT.


Kemudian acara segera dimulai, dengan siapa dan sigap Lucky mulai dibimbing oleh pak penghulu untuk mengucapkan ijab kabul.


Dan dengan satu tarikan nafas lucky telah berhasil mengucapkan kata tersebut, "Saya terima nikah dan kawinnya Shafira binti Ayah Ayus, dengan emas kawin seratus ribu rupiah dibayar tunai."


"Sah para saksi?" Penghulu memastikan kesahan ijab qobul yang diikrarkan oleh Lucky.


"Sah." tegas para saksi serentak.


"Alhamdulillah …." Semua orang mengucap syukur dengan perasaan lega.


Namun tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan, prok … prok … prok ….


"Hebat sekali kalian!" 


Semua orang berbalik ke arah sumber suara, dan terlihat seorang wanita dengan dengan membawa seorang anak perempuan.


Anak itu berlari ke arah lucky sambil merentangkan kedua tangan lalu berseru, "Papa …." 


Ya, yang datang ternyata Vera bersama putrinya.


Suasana menjadi ricuh dan tegang, Lucky langsung bangkit dari tempat duduknya.


Dan putri kecilnya memeluk kaki Lucky.


"Ada apa lagi Vera kamu datang kemari, bukankah semua yang telah kamu inginkan sudah aku lakukan?" ucap Lucky.


"Cuih …." Vera meludah.


"Dasar lelaki tidak tahu diri, masih bertanya mau apa, urusanmu denganku masih banyak b e d e b a h h h!" Vera masih mengumbar amarahnya di depan semua orang.


Mendengar umpan Vera yang terdengar tidak pantas didengar oleh anak seusia Sisil dan putri dari Vera - Rania. Akira langsung mengintruksi Rima untuk membawa dua anak itu pergi dari ruangan itu.


Dan Rima langsung mengerti dengan isyarat yang diberikan Akira kepadanya.


Rima langsung mengajak Sisil pergi dari sana, dan membujuk Rania agar ikut dengannya.


Jelas Rania menolak karena Rania tidak mengenal Rima dan semua orang di sana kecuali Papanya.


Akhirnya Erwin membantu Rima dengan lebih dulu membawa Sisil pergi dari sana sementara Rima masih membujuk Rania, Akira juga ikut membantu Rima agar Rania mau pergi dari sana.

__ADS_1


Dan akhirnya Akira dan Rima berhasil membawa Rania pergi dari sana, dan menyusul Erwin dan sisil ke kamar Akira.


Di kamar itu Erwin terlihat tengah duduk di sana, ia melihat foto Akira dengan berbagai pose, semua itu lumayan membuat Erwin tercengang dan semakin mengagumi Akira.


"Ya Tuhan, dia cantik sekali, apalagi yang ini, ia sedang tersenyum begitu cantiknya." Mata Erwin tertuju pada satu foto Akira yang menampilkan sebuah gambar wajah Akira dengan senyuman manisnya.


Dan ternyata Sisil pun sedang melakukan hal yang sama seperti papinya, mengagumi semua gambar wajah Akira yang ada di kamarnya.


"Lihat, Papi! anteu cantik sekali bukan?" Sisil bertanya meminta pendapat Papinya.


"Iya benar, Sayang." Erwin setuju dengan ucapan Sisil, karena ia memang sedang mengamatinya.


"Andai, dia bisa jadi Ibumu nak!" celetuk Erwin.


"Apa Papi?" Sisil bertanya memastikan indra pendengarannya.


"Oo tidak, Sayang, maksud Papi, dia cantik seperti ibumu." Erwin salah tingkah karena ia keceplosan bicara, untungnya Sisil bisa dialihkan pembicaraannya.


"Iya, Papi Ante sudah seperti ibuku sendiri, dia baik dan sayang sama aku." Sisil menimpali Papinya.


Erwin tersenyum mendengar putrinya berbicara seperti itu.


Dan tidak lama Akira dan Rima datang, "Anak cantik, baik hati … kamu tunggu disini dulu ya sama mbak Rima, sama Sisil juga. mama sama papa kamu mau bicara dulu sebentar, anak kecil gak baik kalau mendengarkan obrolan orang dewasa." Akira bicara lemah lembut kepada Rania.


Rania pun mengerti dan menganggukkan kepalanya.


"Mbak Rima tolong jagain dulu ya!" Akira menitipkan Rania kepada Rima.


"Iya, Non." Rima mengangguk patuh.


"Ya, kamu duluan saja sana, nanti saya nyusul." sahut Erwin yang masih betah duduk di sana memandangi foto Akira.


"Oke, aku permisi kembali ke sana, Sisil ajakin temannya ya." Akira pamit tapi sempat meminta Sisil untuk mengajak Rania bermain bersamanya.


"Iya, anteu." sahut sisil lalu menghampiri Rania dan mengajaknya berkenalan.


Sesungguhnya Rima sangat risih dengan ke hadiran Erwin di sana, yang hanya duduk memandangi foto Akira.


Dan sesekali Erwin mengulum senyum di bibirnya, tanpa tau pasti apa alasannya.


Dalam diam Rima memperhatikan tingkah Erwin yang terlihat sangat aneh menurut Rima.


Tapi Rima hanya diam tidak berani menegurnya.



Akira kembali ke ruangan dimana terjadi keributan.


Sebab Vera semakin menjadi, terus-menerus mencaci maki Lucky dan Shafira.


Ia sampai berteriak-teriak mengundang perhatian para tetangga di sana.


"Hey perempuan j a l a n g g g, apa yang kamu dapatkan sekarang? hanya lelaki sampah tidak punya apa-apa, dia lelaki  parasit yang hanya mencari keuntungan, sekarang kalian yang dimanfaatkan olehnya, pak Ayus! kalau dia tidak menikahi anak kalian yang j a l a n g g g itu mau tinggal di mana dia? uang sepeserpun dia tidak punya pakaian saja hanya itu yang ia kenal dari pagi sampai sekarang, pakaian saksi bisu perbuatan m s u m mereka!" Vera bicara dengan berteriak, makin murka karena tau shafira dan Lucky malah melangsungkan pernikahan.


Sedangkan batinnya sendiri tersiksa, tidak ada itikad baik sama sekali baik dari Lucky maupun Shafira.


Itu yang membuat Vera makin meradang, ia menjadi hilang kendali, padahal awalnya ia datang untuk mempertemukan Lucky dan putrinya, berharap ada sedikit rasa iba dari suaminya ketika melihat sang putri, sehingga ia mau meminta maaf, dan ingin mempertahankan pernikahan mereka demi siang putri.

__ADS_1


Tapi pada kenyataannya, dari awal Shafira dan Lucky tidak ada satupun dari keduanya yang mengeluarkan kata permohonan maaf.


Mereka malah banyak diam dan menerima kesalahan mereka, Lucky malah dengan rela melepaskan apa  yang dia punya karena Vera memintanya.


Tidak ada pembelaan diri, atau mencoba mempertahankan apa yang di punya.


Tapi kali ini Lucky sudah cukup geram dengan tingkah Vera, yang semakin membabi buta mempermalukannya dengan cacian dan makiannya di depan banyak orang.


Kali ini Lucky menghampiri Vera, dan berusaha untuk menenangkan Vera, "Cukup Vera, apa yang sebenarnya yang kamu mau, kamu Mita semua fasilitas yang kupunya telah aku berikan, ya, aku memang mengaku salah telah berselingkuh dengan Shafira, aku menikahinya karena aku mencinta dia."


"Sekarang apalagi yang kamu mau? hah!" tegas Lucky.


"Tapi aku ini masih istrimu, pernikahanmu dengan j a l a n g g g itu tidak sah." 


"Oo jadi belum cukup jelas untukmu, baiklah. Dihadapan semua orang disini, kalian semua jadi saksinya, mulai  saat ini dan detik ini juga, dengan  penuh kesadaran dengan senang hati aku talak tiga Vera permata, dari ujung rambut hingga ujung kakinya tidak ada lagi tanggung jawabku dan hakku sebagai seorang suami atas dirinya. Puas!" Akhirnya Lucky menjatuhkan talak tiga kepada Vera, disaksikan banyak orang.


Bagai disambar petir yang mengelegar, jiwa Vera seakan terpental jauh entah berantah keberadaannya saat ini.


Ia hanya terpaku dengan ekspresi wajah penuh kegetiran, matanya membulat sempurna dengan mulut terbuka air mata menetes dengan sendirinya tanpa berkedip sedikitpun, tubuhnya gemetar, seketika tubuh Vera ambruk terjatuh di lantai.


Ia kehilangan keseimbangannya seiring hilangnya kesadarannya, ia begitu syok ketika mendengar ucapan talak tiga yang dijatuhkan suami yang dicintainya, begitu lantang tanpa memikirkan perasaannya sama sekali.


 


Kini tubuh Vera terkapar di lantai, awalnya semua orang hanya diam menyaksikan, sebab mereka pun merasa merinding ketika mendengar ucapan talak tiga yang diucapkan oleh Lucky, semua orang ikut terbawa suasana yang mencekam semua ikut syok. Sehingga saat Vera menjatuhkan dirinya semua orang tidak menyadarinya.


Selang beberapa detik, Akira langsung berlari menghampiri Vera, Gian sempat menarik tangan Akira untuk mencegah agar jangan mendekat, Gian khawatir Vera akan brutal dan Akira bisa jadi sasarannya.


Akhirnya Gian yang mendetinya lalu membawanya ke dalam mobil Vera, lalu meminta tolong kepada pak RT untuk membawanya ke rumah sakit agar tim medislah yang menanganinya.


Pak Ayus dan Gian  ikut bersama menemani Vera dibawa kerumah sakit, dengan menggunakan mobil yang berbeda.


Sedangkan Akira menemani mertuanya, di sana menenangkan ibunya yang ikut syok dan terpukul atas kejadian itu.


Sedangkan Shafira, diamankan di dalam kamarnya oleh suaminya - Lucky.


"Akira, Ibu seperti tidak punya wajah sekarang, ibu malu bertemu para warga." Ibu Yulia mengeluh kepada Akira di hadapan besannya.


Akira mengerti dengan apa yang dirasakan oleh ibunya.


Akira memeluknya, "Yang sabar ya, Bu." Hanya kata itu yang dapat Akira ucapkan sambil mengelus punggung ibunya.


Mama Nirmala juga ikut menenangkan besannya.



"Lihat Lucky … atas perbuatan kita semua menanggung akibatnya, terutama kedua orang tuaku, mereka menanggung malu atas perbuatanku, aku menjijikan … aku menjijikan …" Shafira menyadari perbuatannya. ia seperti sedang prustasi memukul-mukul dirinya sendiri.


Ia sungguh menyesali semuanya, kini dirinya terhina di mata masyarakat, dia digunjingkan, dan tidak hanya dia yang menanggung malu, Ayah dan Ibunya serta Akira juga ikut merasa malu atas perbuatan Shafira.


Ibu Yulia, tidak sanggup untuk bertatap muka dan bertegur sapa dengan masyarakat, padahal dulu orang begitu menyeganinya.


Tapi kini tatapan para warga terasa sinis kepadanya, cibiran dan cemoohan para warga kerap ibu Yulia dapatkan ketika memang mengharukan dirinya bertemu dengan mereka.


...


Akan seperti apa kehidupan Shafira setelah ini? Simak terus kisahnya kawan ... 🙏

__ADS_1


__ADS_2