Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 56


__ADS_3

Saat itu Gian hanya termenung, ia terlihat bingung untuk menentukan pilihannya.


Erwin juga tau apa yang dirasakan oleh Gian,  dia juga berat untuk meninggalkan Shafira.


Akira mendekat ke arah Gian, dan berbicara kepadanya.


"Tetaplah di sini demi  dia yang mencintaimu, jangan pedulikan aku yang belum tentu mencintaimu." Akira sengaja berucap seperti itu agar Gian bisa dengan leluasa melepaskan Akira.


Akira tidak ingin menjadi beban bagi siapapun. Ia sudah mantap dengan keputusannya, ingin pergi dari kehidupan Shafira dan juga Gian, ia ingin mencari kebahagiaannya sendiri.


Sedangkan Gian masih berdiri mencerna ucapan Akira.


"Percayalah aku wanita kuat, tegar dan insyaallah tangguh, kamu lupa aku pernah kehilangan segalanya dari pada ini dalam hidupku karena masalah ini, kamu lihat aku mampu melewatinya, semua ini tidak berarti apa-apa jadi jangan pernah beranggapan aku akan hancur jika berpisah dengan mu." Tegas Akira dengan nada bicara penuh keangkuhan.


Dan semua itu membuat hati Gian sungguh sakit, sebab dengan begitu Gian tidak berarti apapun bagi Akira, dengan kata lain Akira tidak pernah mencintainya.


Jiwa Gian bergemuruh, seakan dihantam topan badai, hatinya hancur bagaikan tercabik-cabik, pasalnya ia sudah memiliki perasaan spesial kepada Akira, ia pernah punya harapan hidup bahagia bersama Akira selama.


Gian tidak mampu membalas setiap kata-kata yang keluar dari mulut Akira, karena ia tidak tahu harus berbuat apa, marah, atau menangis merasakan rasa kecewanya.


Ini lebih perih, ini lebih pedih, ini lebih sakit dari rasa kecewa yang pernah Gian rasakan sebelumnya.


Karena Akira tidak mendapat respon dari Gian, Akira anggap Gian mengerti dengan maksud ucapannya.


"Oke, semua sudah jelas ya, aku pergi sekarang, tenang saja aku bisa menjaga Sisil dengan baik," Akira pamit sambil tersenyum berusaha untuk terlihat tegar.


Lalu melangkah mundur untuk menjauh dari Gian setelah Tiga langsung mundur Akira berbalik dan mulai melangkah maju untuk meninggalkan Gian.


Tubuh Gian sampai gemetar matanya memerah karena menahan emosinya.


Melihat Akira yang semakin menjauh Gian tetap memiliki suatu harapan 'Akira berbalik lah beri aku satu tanda bahwa kamu mencintai ku, bahwa kamu juga berat berpisah dengan ku, bawah perasaan mu, hati mu merasakan apa yang aku rasakan.' 


Gian terus saja berharap di setiap  langkah Akira ada suatu tanda yang diberikan Akira kepadanya untuk meyakinkan perasaannya.


Saat langkah terakhirnya sebelum melewati pintu terakhir batas ruang tunggu menuju area lepas-landas  pesawat.


Hati Gian berdebar kencang, karena di saat itu saat penentu Akira akan berbalik atau tidak.


Jika Akira berbalik Gian akan anggap Akira memilliki perasaan yang sama dengannya dan Gian akan memperjuangkannya.


Tapi jika Akira sama sekali tidak menoleh ke arah belakang, Gian akan anggap Akira sungguh tidak memiliki perasaan apapun kepadanya, dan Gian siap untuk menahan rasa sakit hatinya.


Saat satu langkah lagi dalam hati Gian menghitung mundur sebagai penentu respon Akira, 'Tiga, dua, sa….' 


Dan saat hitungan terakhirnya, Akira benar menoleh bahkan ia berbalik badan dan sempat menghentikan langkahnya tersenyum kepada Gian dengan senyuman yang lesu penuh kesedihan.

__ADS_1


'Sa… tu.' akhir dari hitungan Gian.


Dan saat itulah terbit sebuah senyuman di bibir Gian, ia bernafas lega.


Rasa sesak yang awalnya menghimpit jantungnya, hilang sekejap mata dengan hanya Akira berbalik badan dan bahkan sempat tersenyum kepadanya.


Gian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, ia berlari sekencang mungkin untuk mengejar Akira sambil menyerukan nama Akira, "Akira….!" 


Akira langsung menoleh ke arah sumber suara yaitu Gian lah orangnya.


"Kak Gian…!" gumam Akira yang sebenarnya bingung dan bertanya dalam hatinya.


'Ada apa dengan kak Gian kenapa dia berlari ke arahku dan memanggil namaku?'


Sementara itu Shafira makin menangis histeris sambil menyebut nama Gian.


"Hiks… hiks… Gian…"


Saat sudah sampai di hadapan Akira Gian langsung memeluknya. Dan itu berhasil membuat Akira terkejut.


"Ada apa kak Gian?" tanya Akira bingung.


Dengan nafas yang ngos-ngosan, tubuh yang bergetar Gian menangis sambil memeluk Akira, emosi yang sedari tadi ia tahan pecah begitu saja.


Akira hanya diam mematung bahkan ia tidak membalas pelukan Gian, karena ia bingung harus berbuat apa, sedangkan ia sudah memantapkan hati dan telah berjanji akan pergi menjauhi Gian.


Tapi mengapa Gian malah mengengejarnya.


"Kak Gian maafkan aku… aku sungguh tidak bisa untuk bertahan hidup bersamamu." sahut Akira .


Mendengar itu Gian langsung mengurai pelukannya, dan menatap wajah Akira mencari keseriusan di wajahnya.


Akira terlihat tetap tegar, dan kukuh dengan pendiriannya.


"Terserah padamu Akira, tapi aku akan tetap pulang bersamamu." 


"Tapi kak Gian… bagaimana dengan kak Fira?" 


Namun tiba-tiba Shafira datang dan menyauti ucapan Akira.


" Tidak usaha sok berlaga baik deh kamu Akira."


Gian dan Akira langsung menoleh ke arah Shafira yang baru saja menghampiri mereka berdua.


"Kak Fira…" gumam Akira.

__ADS_1


"Dasar perempuan munafik." 


Plak… Shafira menampar Akira dengan kerasnya.


"Waw…!" seru Akira kesakitan sekaligus terkejut dengan tindakan kakaknya.


Tubuh Akira langsung terhuyung dan hampir terjatuh untungnya Gian langsung meraih tubuh Akira sehingga ia tidak sampai terjatuh.


"Shafira…!" teriak Gian tidak menyangka Shafira akan melakukan tindakan seperti itu.


"Apa-apaan kamu…?" Gian makin emosi.


Tapi Shafira malah menangis tersedu-sedu.


"Gian dia wanita munafik, dia berjanji akan melepaskan mu untuk ku, tapi pada kenyataannya dia selalu menggodamu." Tuding Shafira.


"Akira tidak seperti itu." sangkal Guan.


"Aku lebih mengenalnya dari pada kamu Gian" Shafira terus berusaha untuk mempengaruhi Gian.


"Terserah apa katamu, tapi hatiku tetap berkata bahwa aku mencintainya." Tegas Gian.


Shafira makin kalap mendengarnya. "Tidak… itu tidak mungkin, Kamu hanya mencintaiku selamanya, kamu milikku seutuhnya Gian." 


Shafira malah membuat keributan di sana, Erwin sampai turun tangan untuk mengatasi, Safira kembali memerankan dramanya.


Ia kembali mengaduh kesakitan, "Awa… kepalaku sakit sekali… Awa… tolong Aku!" Lalu Shakira pura-pura pingsan.


Shafira menjatuhkan tubuhnya di lantai, tergeletak begitu saja.


Akira begitu panik melihat kondisi kakaknya.


"Kak Gian tolonglah kak Fira…" pinta Akira.


Sesungguhnya Gian pun merasakan apa yang dirasakan oleh Akira ketika melihat Shafira pingsan.


Tapi Gian ingin menjaga perasaan Akira dengan tetap diam.


Erwin ingin menolongnya, akan mengangkat tubuh Shafira dan akan membawanya ke tempat yang lebih aman.


Tapi Shafira berakting kembali, dengan memanggil-manggil nama Gian.


"Gian tolong aku… Gian aku mencintaimu… Gian…!" Ia terlihat belum sadarkan diri tapi hanya Gian yang ia panggil, menandakan mentalnya hancur karena Gian dan hanya Gian lah yang ia harapkan.


Akira memohon kepada Gian agar mau menolong kakaknya dan melepaskannya untuk pergi.

__ADS_1


__ADS_2