
Dari kejadian yang barusan terjadi, Putra dapat mengambil kesimpulan bahwa Juna juga menyukai Dokter Yuri.
Namun, itu semua belum pasti kebenarannya, putra harus mencari bukti kuat untuk membuktikan perasangkanya, ia harus mencari tahu tentang kebenarannya sebelum ia melangkah lebih lanjut dan malah akan terjerumus dalam masalah yang lebih dalam lagi dengan Juna.
Pagi hari, Putra masih di kamarnya ia belum bisa beraktivitas seperti biasa ia masih harus stay di rumah dalam masa pemulihannya.
Sedangkan Juna sudah bersiap untuk pergi ke rumah sakit menjalankan rutinitasnya sebagai dokter.
Seperti biasa setelah bersiap, Juna keluar dari kamarnya menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarga, di sana sudah ada ibu dan Papa angkatnya, tak lupa Juna menyapa keduanya.
"Selamat pagi Bu, pah!" sapa Juna.
"Pagi juga …!" sahut Akira dan Gian.
Juna segera duduk di kursi yang biasa ia tempati, ia mengambil menu sarapan yang tersedia lalu menyantapnya. Tapi perasaan Juna ada yang hilang, suasana pagi ini terasa hambar sebab di tengah-tengah mereka tidak ada Putra.
Awalnya Juna berfikir Putra memang belum bersiap dan mungkin sebentar lagi dia akan menyusul ke meja makan.
Namun, sampai menu sarapannya habis Putra tidak kunjung datang, Juna jadi berfikir apakah Putra masih marah kepadanya karena hal semalam, sehingga ia tidak ikut sarapan bersama.
Dan akhirnya Juna bertanya tentang Putra kepada ibunya, untuk menghilangkan rasa penasarannya.
"Bu! kemana Putra kok dia tidak ikut sarapan?" tanya Juna.
Gian menatap Juna dengan tatapan datar, sepertinya Gian mengetahui sesuatu, Gian merasa tidak suka kepada Juna, karena selama ini, sesungguhnya Putra lah yang banyak mengalah demi Juna, dan mengingat kejadian semalam Gian merasa Juna tidak tahu diri.
Dan beraninya dia bertanya tentang Putra padahal semalam ia telah berseteru dengannya.
Gian tidak tahu jika putra dan Juna sudah berbaikan kembali.
Akira merasakan suasana yang menegang, ia tau seperti apa suasana hati suaminya terhadap Juna.
Maka dari itu Akira merasa tidak enak hati kepada Juna, karena sikap Akira yang seperti ini yang terkesan selalu membela Juna ditambah Putra juga yang selalu mengalah dan membelanya, membuat Juan besar kepala.
Kemudian Akira segera menjawab agar suasana tidak memanas, "Putra ada di kamarnya, hari ini ia belum pergi bekerja karena ia masih dalam masa pemulihan," terang Akira.
"Oo begitu ya!" sahut Juna.
Kemudian Juna bangkit dari tempat duduknya berniat untuk menemui Putra di kamarnya.
"Mau kemana kamu?" tanya Papa Gian.
"Aku mau menemui Putra, Pah!" jawab Juna.
Gian merasa semakin tidak suka kepada Juna karena melihat tingkahnya.
Jangankan dalam keadaan salah, dalam keadaan benar pun, seseorang tidak akan mendapat nilai baik di matanya jika sudah terlanjur tidak suka.
Seperti Gian, yang tidak pernah suka kepada Juna, sekalipun Juna benar, Gian tetap menatap Juna dengan tatapan datar, jarang sekali bahkan mungkin tidak pernah, Gian tersenyum kepadanya, atau pun merasa bangga ke pada Juna.
Tapi Juna selalu mendapat pembelaan dari Akira, sehingga ia merasa ada perlindungan dan membuat kepribadiannya menjadi sangat egois.
"Putra sedang istirahat jangan ganggu dia!" Gian mengingatkan Juna.
"Tidak Pah, aku hanya ingin menemuinya" jawab Juna dan tetap melangkah meninggalkan kedua orang tua angkatnya.
__ADS_1
"Lihat dia! semakin hari semakin besar kepala, itu karena kamu terlalu memanjakannya," tuduh Gian.
Akira hanya diam karena apa yang diucapkan oleh Gian itu benar.
Di depan kamar Putra, Juna mengetuk pintu, tok, tok, tok … suara pintu diketuk.
"Siapa!" terikat Putra bertanya ingin memastikan siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ini aku!" jawab Juna.
"Masuk," akhirnya Putra mengizinkan Juna untuk masuk.
Ketika Juna masuk, ia melihat Putra masih asik rebahan di kasurnya.
Juna segera menghampirinya lalu duduk di samping kakak angkatnya, "Bagaimana keadaanmu, apa masih sakit?" Juna mengkhawatirkan kondisinya.
Kemudian ia menempelkan telapak tangannya di kening Putra untuk mengecek suhu tubuhnya.
"Aku baik kok!" Kemudian ucap pura memberi tahu Juna.
Dan memang Juna pun merasakan suhu tubuh Putra memang normal.
"Syukurlah jika kamu baik-baik saja," Juna merasa lega, sesungguhnya Juna sangat menyayangi Putra, walau bagaimanapun mereka adalah keluarganya, meskipun hanya keluarga angkat, Sebab hanya mereka juga yang menyangi Juna dengan tulus.
Kemudian putra bercerita, sesungguhnya ia sangat malas harus berdiam diri seperti itu di rumah, ia merasa jenuh atau bosan. Namun Ibu mereka meminta Putra untuk stay di rumah selama dalam masa pemulihan.
Dan Juna malah membenarkan apa yang Ibunya katakan. Putra menatap Juna dengan tatapan sinis nya, tapi itu hanya bercanda Putra tidak sungguh-sungguh dengan tatapannya itu.
"Oo jadi kamu udah sekongkol sama ibu supaya aku terkurung di rumah." ucap Putra.
"Eeh iya, Aku ingin bicara serius denganmu!" lanjut putra
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Juna penasaran
"Menurutmu, Dokter Yuri itu seperti apa?" Putra to the point meminta pendapat Juna tentang dokter Yuri, sekalian ia ingin memancing reaksi Juna akan seperti apa,
apakah Juna akan tetep menutupi perasaannya kepada Dokter Yuri, atau ia akan terus terang kepada Putra, tentang perasaannya kepada dokter Yuri.
"Apa maksudmu?" Juna ingin Putra memperjelas maksud dari perkataannya.
"Apa dia cocok dengan ku?" Putra meminta pendapat Juna.
"Hah! Jangan bilang kamu juga menyukainya?" Juna, sedikit terkejut mendengarnya, ternyata Putra terang-terangan meminta pendapatnya, dengan begitu ia sengaja memberi tahunya bahwa ia menyukai dokter Yuri.
"Iya, aku memang menyukainya!" jawab Putra dengan tegas tanpa basa-basi.
"Berarti kamu harus bersaing dengan ku!" secara tidak langsung Juna mengungkapkan bahwa ia memang menyukai dokter Yuri.
"Kamu juga menyukainya?" Putra bertanya untuk memastikan perasaan Juna kepada dokter Yuri.
"Iya bahkan aku lebih dulu menyukainya." tegas Juna
"Jadi perempuan yang kamu maksud tempo hari adalah Dokter Yuri?" Putra ingin memastikan.
"Iya, " tegas Juna sambil menganggukkan kepalanya dengan mantapnya.
__ADS_1
"Apa kamu tidak mau mengalah demi kakakmu ini?" Putra sengaja memancing reaksi Juna.
"Harus nya kamu yang mengalah, karena aku lebih dulu mengenalnya dan menyukainya." Juna tetap tidak ingin mengalah.
"Hay! Sebelum janur kuning melengkung dia masih bisa jadi milik siapa pun juga!" Putra juga tidak pesimis, ia berfikir bahwa dirinya juga masih punya kesempatan untuk mendapatkan Dokter Yuri.
"Oke baiklah kita akan bersaing secara sportif, kita sama-sama berjuang untuk mendapatkan hati dokter Yuri." masukan dari Juna.
"Oke siap takut, dan perjanjiannya, siapa pun yang akan dipilih dokter Yuri, di antara kita, makan jangan ada dendam diantar kita, harus ikhlas dan lapang dada." kesepakatan yang Putra ajukan.
"Bagaimana?" Lanjut Putra.
"Oke, aku setuju!"
"Deal …!" Putra menyodorkan tangannya mengajak Juna untuk berjabat tangan sebagai sebuah kesempatan.
"Oke, deal …!" Juna menyambutnya dan terjadi sebuah kesempatan di antara keduanya.
Karena waktu sudah siang, dan Juna tidak kunjung keluar dari kamar Putra, maka Akira menghampirinya di kamar putra, sebab ia harus segera berangkat untuk pergi ke rumah sakit.
"Juna …!" Panggil ibu.
"Iya Bu …!" sahut Juna yang masih asik ngobrol bersama Putra.
"Lihat jam berapa sekarang, ini sudah siang loh! Nanti kamu telat pergi ke rumah sakit," Akira mengingatkan Juna, sedangkan Papa Gian sudah berangkat ke kantor sedari pagi.
"Oo iya Bu …," Juna sampai lupa waktu karena keasyikan ngobrol bersama Putra.
"Apa sih yang kalian bicarakan sampai Juna lupa waktu seperti ini?" Akira merasa penasaran.
"He, he, he, ini rahasia anak muda Bu, ibu gak usah kepo!" jawab Putra sambil cengengesan .
"Tidak ada yang penting kok Bu, cuma becandaan aja!" Juna menimpali.
Dan keduanya (Juna dan Putra) berusaha untuk menutupi apa yang mereka bicarakan, agar tidak ada yang tau, sebab jika mereka tau pasti akan ada perasaan memihak di antara mereka dan akan menimbulkan perdebatan serta perseteruan, terutama antara Akira dan juga Gian.
Sebab sudah pasti Gian akan berpihak kepada Putra, dan mungkin Akira pun akan memiliki perasaan yang sama dengan suaminya, akan tetap seperti biasa Akira akan berusaha bersikap adil ia tetap akan mendukung Juna juga, dan tentu saja Gian akan merasa tidak terima akan hal itu.
Karena itu mereka berdua bisa berdebat, dan berselisih, sebab itu, Juna dan Putra juga telah sepakat agar tidak ada yang tau masalah persaingan mereka untuk mendapatkan dokter Yuri.
....
Mohon perhatiannya ...
Untuk para pembaca yang Terkasih, al-del ucapkan banyak terima kasih, kalian sudah mau mampir dan membaca karya al-del ini, yang masih jauh dari kata sempurna.
al-del sadar betul karya al-del ini masih banyak typo, banyak kekurangan yang harus al-del perbaiki.
sampai detik ini al-del masih melakukan banyak revisi di tiap bab nya untuk meningkatkan kualitas karya al-del, jadi al-del mohon maaf jika ada tulisan Typo, dan alur cerita yang menurut kalian kurang pas.
mohon kritik dan saran yang membangun, karena al-del masih dalam tahap belajar, tolong hargai kerja keras al-del dalam berkarya, karena untuk sampai di detik ini tidak mudah bagi al-del.
terimakasih banyak untuk kalian yang sudah setia membaca dari bab awal sampai bab ini, dukungan kalian adalah semangat yang luar bias untuk al-del, itu suatu mood booster bagi al-del untuk al-del berkarya lebih baik lagi.
terimakasih banyak semuanya 🫰🫰🫰
__ADS_1