
Bagaikan jemuran yang telah kering, dijemur sehari, akan basah seketika saat tiba-tiba turun hujan.
Seperti itu pula, Erwin di mata Gian. Hanya satu kesalahan Erwin langsung mendapatkan nilai buruk di mata Gian, dan tidak mendapatkan kepercayaan karena kelalaiannya.
Erwin memang telat hadir di acara meeting tadi pagi. Tapi ia sudah mengakui kesalahannya dan telah meminta maaf kepada Gian.
Erwin juga berjanji tidak akan mengulanginya lagi, sehingga ia berusaha untuk hadir di acara meeting nya siang hari ini, meskipun masalahnya dengan Rima belum terselesaikan, dan kondisinya kurang fit.
Klien penting yang sedari tadi ditunggu akhirnya tiba di tempat acara, semua bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangannya.
Seperti biasa mereka memakai adab berjabat tangan, sebagai salam pertemuan.
Gian sebagai pemandu meeting, mempersilahkan seluruh Kliennya untuk duduk kembali.
Dan tanpa basa basa-basi lagi, Gian memulai acaranya, dengan pembukaan sepatah, dua patah kata. Lalu kemudian dilanjutkan dengan pembahasan bisnis mereka, Erwin memulai persentasenya.
Semua menyimak apa yang sedang Erwin sampaikan, dengan penyampaiannya yang santai dan tapi meyakinkan, seperti biasa para kliennya selalu dengan mudah terbeli hatinya dengan kata-katanya, dengan cara penyampaiannya yang meyakinkan.
Ya, Erwin memang sudah biasa melakukan hal itu, sehingga di negeri jepang bisnisnya berkembang pesat, karena keahlian Erwin dalam bidang marketing.
Beda halnya dengan urusan cintanya, Erwin malah terkesan kaku jika berhadapan dengan seorang wanita, ia tidak lihai dalam merayu wanita.
Hanya ibu Sisil (almarhum istrinya) yang dapat memalukan hatinya. Almarhum istrinya wanita yang sangat lembut, dan sangat mengerti setiap apa yang diinginkan oleh Erwin.
Tanpa Erwin berkata, ia langsung bisa menebak apa yang suaminya inginkan, dengan begitu dia tau apa yang harus ia lakukan untuk melayani suaminya.
Erwin merasa sangat beruntung memilikinya, karena itu Erwin sangat mencintainya, senyum manisnya selalu menghangatkan hati Erwin yang dingin, membuat Erwin selalu nyaman berada dalam dekapan hangatnya.
Saat malaikat maut menjemputnya, hati Erwin seperti ikut terbawa bersama kepergiannya, hati Erwin benar-benar telah beku, meskipun ia berusaha mencoba untuk mencari pengganti, tapi selalu mendapatkan kegagalan.
Seperti dengan Sarah, dan dengan Lisa, Erwin sempat ingin serius dengan keduanya, tapi Allah berkehendak lain. Erwin malah menikahi Rima, wanita yang tidak pernah terbesit sedikitpun mempunyai rasa suka apalagi cinta dihatinya untuk Rima. Dan kini Rima telah menjadi istrinya, bahkan Erwin telah menjamahnya.
Rima wanita kedua yang Erwin pergauli, setelah almarhum istrinya, meskipun banyak wanita yang tergila-gila padanya tapi tidak ada yang mampu membuat Erwin tertarik kepada mereka.
…
Meeting telah berlangsung sekitar 3 jam, setelah sama-sama saling menyimak dan memberikan ide-ide atau masukan dalam rencana pengembangan proyek mereka, akan ada kendala apa saja yang akan mereka hadapi, lalu bagaimana cara mengatasinya, serta seberapa keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh oleh mereka, semua telah selesai dibahas.
Kesepakatan pun telah dibuat, tentunya dengan beberapa ketentuan yang menguntungkan atau tidak merugikan kedua belah pihak.
Gian merasa puas dengan hasil kesepakatannya, senyum kepuasan pun merekah di bibirnya.
Sang Klien, segera pergi setelah menandatangani surat perjanjian kerjasama.
Meeting telah dianggap selesai, Gian menatap Erwin, ia bisa merasakan ada yang aneh dengan kakaknya itu.
"Hay, Bro! Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gian.
Erwin hanya diam, tapi perasaannya gelisah terlihat sekali dari gerak-geriknya tidak seperti biasanya.
Wajahnya juga terlihat sangat pucat, serta matanya nampak merah, entah itu pengaruh dari minuman beralkohol yang ia konsumsi kemarin malam yang membuat kepalanya pusing bukan main, atau karena ia kurang tidur, atau bisa jadi karena perasaan lain yang menyebabkannya seperti itu.
"Win, Apa kamu sakit, wajahmu sangat pucat!" Gian khawatir.
"Iya, kepalaku pusing sekali." Ucap Erwin sambil memijat kepalanya sendiri.
Dengan cemas Gian bangkit dari tempat duduknya, lalu menghampiri kakaknya. Ia meletakkan telapak tangannya di kening Erwin, lalu berpindah ke lehernya.
__ADS_1
"Wah, Win, ternyata kamu demam tinggi ini!" seru Gian setelah mengecek suhu tubuhnya.
"Aku kan, sudah bilang jangan memaksakan diri, ayok aku antar berobat." Ajak Gian, sekaligus mengingatkan Erwin.
Erwin mengiyakan ajakan adiknya karena dia memang merasa tidak enak badan.
Badannya meriang, kepalanya pusing berdenyut seperti ingin pecah, semakin ia rasakan, ia tahan rasa sakitnya semakin nyata rasa sakit itu membuat perasaannya tidak karuan.
Gian membantu Erwin bangkit dari tempat duduknya karena tubuhnya terasa lemas efek dari suhu tubuhnya yang sangat tinggi.
Gian memapahnya berjalan menuju mobil, karena Erwin sepertinya tidak mampu untuk menopang berat badannya, Erwin sampai tertatih-tatih dalam melangkah.
"Ya ampun, Win, kenapa sampai seperti ini, makanya punya istri tuh di akui, biar dia mau ngurusin kamu, jadi kaya gini kan jadinya." Sambil berjalan Gian terus saja ngoceh sendiri, membuat Erwin jengah mendengarnya.
Tanpa aba-aba Erwin menoyor kepala Gian, karena tiada henti bicara.
"Aduh! sialan, Lo, dah gua bantuin kurang ngajar lagi, main noyor-noyor kepala gue aja." pekik Gian kesal.
"Lagian, Lu, berisik banget bikin kepalaku jadi tambah pusing aja." keluh Erwin.
"Tapi, Gua, bener ngomongnya, Lu, dikasih taunya ngeyel." ucap Gian tidak kalah sewot dari sebelumnya.
Dan akhirnya mereka sampai di mobil, Erwin ikut mobil Gian, sedang mobil Erwin dibawa oleh sopirnya untuk menjemput Sisil dan Rima di sekolahnya.
Selang beberapa waktu akhirnya mereka sampai di rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Erwin.
Gian langsung ke tempat pendaftaran untuk membuat antrian sesuai prosedur rumah sakit.
Setelah pendaftaran dan mendapatkan nomor antrian, Gian mengajak Erwin untuk menunggu di depan ruangan dokter umum.
Kebetulan keadaan nampak sepi, hanya ada tiga pasien yang mengantri.
Setelah pasien yang pertama keluar, masuklah pasien kedua, setelah pasien kedua selesai diperiksa, barulah kini giliran Erwin yang masuk untuk diperiksa kondisinya.
Kemudian dokter segera mengecek kondisi Erwin, mulai dari tekanan darah, dan detak jantung lalu suhu tubuhnya,
Dokter menyarankan untuk agar Erwin dirawat inap untuk beberapa hari sebab kondisinya cukup memperihatinkan.
Setelah mendapat izin dari Giant sebagai pihak keluarga dan dari Erwin sendiri sebagai pasien, dokter segera mengambil tindakan menyiapkan kamar rawat inap untuk Erwin dirawat di sana.
Kondisi Erwin memang sangat lemah, sehingga ia harus mengenakan kursi roda dari ruang pemeriksaan menuju ruang rawat inapnya.
Giant segera memberitahu orang-orang terdekat bahwa Erwin sedang dirawat di rumah sakit, terutama Giant memberitahu Rima terlebih dahulu.
Karena Rima lah yang berhak untuk merawat Erwin sebagai istrinya.
Gian segera menghubungi Rima melalui sambungan telepon.
Rima masih terpaku memikirkan tentang Erwin, ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi pada dirinya, mengapa ia bisa terjebak dalam sebuah pernikahan palsu dengan Erwin.
Mengapa bodohnya ia, mengapa ia juga bisa masuk lebih jauh lagi, dengan menyerahkan kehormatannya kepada Erwin.
Entah ia harus senang atau sedih, karena Erwin juga telah mengutarakan hubungan masa lalunya dengan Sarah, tapi, kata-kata Sarah membuat Rima membuka mata lebar-lebar.
Pengakuan Sarah yang tidak pernah di sentuh oleh Erwin selama menjalin hubungan membuat Rima berpikir kerasa, Sarah yang memang jauh segalanya dari dirinya, dari penampilannya, postur tubuhnya yang seksi, dari pendidikannya.
Berbanding terbalik dengannya, ia hanya seorang babysitter, dari kampung yang sudah mendapat image perawan tua di kampungnya.
__ADS_1
Mana mungkin Erwin tertarik dengannya, tapi Erwin telah menjamahnya, semua benar yang dikatakan oleh Sarah, Erwin melakukan itu karena dalam keadaan tidak sadar, buktinya jika dalam keadaan sadar Erwin selalu menjaga jarak dengannya.
Bahkan Erwin menolak satu kamar dengannya.
Ketika pikiran Rima sedang melanglang buana, terdengar suara bunyi panggilan di headphonenya, dan getaran dari handphone itu membuatnya terkejut.
"Astaghfirullah …!" seru Rima, saat merasakan getaran headphonenya yang tersimpan di saku bajunya.
Rima segera merogoh benda pipih tersebut dan melihat dilayar headphonenya siapa yang menghubunginya. Dan terlihatlah nama Gian di sana.
Rima segera menyentuh gambar telepon berwarna hijau yang tertera di layar handphonenya, untuk menerima panggilan telepon dari Gian.
Rima curiga telah terjadi sesuatu kepada Akira, sebab tidak biasanya Gian menghubunginya jika tidak ada yang penting.
"Halo, Tuan," sapa Rima.
"Iya halo," Gian membalas.
Dengan nada cemas Rima bertanya, "Apa ada masalah, Tuan, Apa yang terjadi dengan Nona Akira? "
"Bukan Akira, Rima! melainkan Erwin, dia di rawat di rumah sakit sekarang." jawab Gian dengan tegas.
Alangkah terkejutnya Rima ketika mendengar Gian mengatakan bahwa Erwin lah Yang sedang mendapat kan masalah.
" Apa ..!" pekik Rima
" Iya, Rima," tegas Gian.
"Apa yang terjadi kepadanya?" Rima makin panik.
"Sudah jangan banyak bertanya, segeralah kamu datang ke rumah sakit dan lihat sendiri kondisi suamimu, " saran Erwin.
"Tapi, bagaimana dengan Sisil? jika saya pergi ke rumah sakit, bukankah rumah sakit bukan tempat yang baik untuk anak kecil." Rima merasa bingung untuk meninggalkan Sisil atau membawanya.
Tapi jika ditinggalkan Sisil pasti merasa keberatan Dan tetap ingin ikut bersamanya. Sedangkan jika Sisil ikut bersamanya pihak rumah sakit akan mengusir Sisil jika berlama-lama di ruang rawat inap.
Mendengar keluhan Rima yang bingung karena Sisil, Gian menyarankan agar Rima membawanya ke rumah sakit, setelah di rumah sakit nanti Gian yang akan membawa Sisil pulang dan Akira nanti yang akan menjaganya.
"Oo iya, jika begitu." Rima merasa lega setelah mendengar masukan dari Gian.
Jika bersama Akira, Sisil aku anteng, dan tidak akan rewel mencari-carinya.
Tidak lama terdengar bel pulang sekolah menandakan aktivitas belajar telah selesai. Dan sudah waktunya pulang sekolah bagi Sisil.
Rima segera menyambut Sisil keluar dari kelasnya, lalu bergegas menuntunnya menuju mobil untuk pergi ke rumah sakit.
Di perjalanan Sisil merasa bingung atas sikap Rima yang terlihat gelisah, tidak tenang.
Awalnya Sisil diam saja melihat sikap Rima yang aneh hari ini meskipun Sisil sudah merasakannya, tapi saat Sisil menyadari arah jalan pulang mereka tidak melewati jalur biasanya itu membuat Sisil makin bingung.
Karena rasa penasarannya Sisil kemudian bertanya kepada prima dan Pak sopir, "Eh kita mau ke mana ini, kok jalan yang kita lalui perbedaan tidak seperti jalur biasanya? "
Pak sopir melirik dari kaca spion, iya tidak berkata karena ia tahu bahwa Rima lah yang akan menjelaskannya.
Ya tentu saja Rima akan menjawab pertanyaan Sisil dan memberinya pengertian tentang Papinya yang sedang dirawat di rumah sakit, agar Sisil tidak merasa syok ketika mendengar kabar itu.
Rima mulai berkata untuk menjawab pertanyaan Sisil, "Sisil sayang, kita tidak langsung pulang ya, , kita ke rumah sakit dulu ya, soalnya Papi Sisil sedang tidak enak badan dan harus diobati, makanya papi Sisil sekarang sedang di rawat di rumah sakit, dan kita akan kesan untuk melihat kondisinya," terang Rima
__ADS_1
Mendengar Papinya sakit, tetap saja Sisil merasa terkejut, meskipun Rima sudah menjelaskannya sedemikian rupa, "Apa! Memangnya Papi sakit apa, kenapa sampai harus dirawat di rumah sakit?".