Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 44


__ADS_3

Akira salah paham atas tindakan Gian, niat Gian ingin melindungi Akira malah di salah artikan oleh Akira, sehingga terjadi perselisihan antara Akira dan Gian ketika itu.


….


"Aku tuh capek banget terus-terusan berdebat sama kamu, padahal aku udah berusaha selalu mengalah tapi, kamu malah makin seenaknya seperti ini." Akira sungguh kesal dan merasa lelah.


Gian diam ketika melihat dan mendengar Akira yang terlihat lemas dan duduk di tepi tempat tidur.


"Maaf Akira aku telah membuatmu kecewa lagi dengan sikapku, tapi sungguh aku hanya tidak ingin kamu kecapean lalu kamu  sakit, aku hanya ingin menghindari hal itu." Gian menjelaskan maksudnya.


Suasana yang tadinya tegang, panas karena emosi keduanya memuncak.


Tapi seperti biasa Akira mengalah dan menurunkan egonya.


Karena merasa lelah dan ia sadari perdebatan di antara mereka berdua tidak ada gunanya.


Akira juga sudah tidak punya tenaga untuk menarik urat, berbicara keras untuk menimpali emosi Gian.


Sehingga Akira melemah dan pasrah, karena itu Gian pun ikut melemah.


"Tapi seharusnya bicara dulu jangan datang-datang seperti itu, kamu tau kunci kepercayaan dalam suatu hubungan itu komunikasi yang baik, jika tidak ada komunikasi yang baik dalam suatu hubungan maka akan selalu terjadi salah paham dan akan selalu terjadi perselisihan dan pertengkaran." Jelas Akira.


Gian baru memahaminya dan mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Akira.


Ia juga baru menyadari bahwa tindakannya salah.


"Oke maafkan aku Akira, aku mengaku salah, aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi." Janji Gian, berucap dengan nada lirih penuh penyesalan karena rasa bersalah.


Setelah mendengar nya akira langsung melihat ke arah Gian, melihat wajah Gian mencari keseriusan dari raut wajah Gian atas ucapannya.


Gian tertunduk dengan raut wajah sendu. Akira sungguh tidak tega melihatnya.


'Mengapa hati ku lemah sekali, melihatnya begitu rasanya aku tidak tega.' Akira bicara dalam hatinya.


Karena itu Akira berpikir Gian memang tulus kepadanya, sehingga Akira memberanikan diri memeluk Gian dari belakang tubuhnya.


"Maafkan aku." gumam Akira.


Gian sangat terkejut, Karena Akira seperti itu kepadanya. Matanya sampai terbelalak, dengan mulut terbuka.


Gian membalikan badannya untuk memastikan itu benar-benar Akira istrinya yang melakukannya, sebab ia merasa tidak percaya, karena selama ini Akira selalu menghindarinya. Tapi tiba-tiba Akira berperilaku seperti itu.


Gian tersenyum bahagia, hatinya berbunga-bunga kala itu.


"Sayang kamu tidak salah apa pun, aku yang salah, jadi kamu tidak perlu meminta maaf kepadaku." Gian sambil merangkul Akira dan membawanya ke dalam pelukannya.


Emosi yang memuncak, suasana yang memanas di antara keduanya, kini lenyap begitu saja, karena Akira sudah tau cara meredam emosi Gian, emosi tidak harus di lawan dengan emosi lagi.


Karena hanya akan memperkeruh keadaan.

__ADS_1


Akira memilih mengalah dan melemah, agar bisa melunak hati Gian, seperti caranya selama ini, kebencian Gian perlahan menghilang dan malah kini Gian menyesali semua perbuatannya, dan sangat menyayangi Shkira saat ini.


Itu semua berkat kesabaran Akira, sehingga mampu meluluhkan kerasnya hati Gian.


Saat keduanya larut dalam pelukan, Akira teringat sesuatu.


"Eeh, kamu udah mandi belum?" tanya Akira sambil mengurangi pelukannya.


Gian yang di tanya terlihat bengong, seperti mengingat-ingat, tapi kemudian Gian tersenyum kaku "Aku belum mandi he… he…" 


"Hhhmmm pantesan." gumam Akira.


"Eeh tapi kamu suka kan?" Gian malah menggoda Akira. Dan menariknya lagi kedalam pelukan Gian.


"Aah lepaskan… kamu bau belum mandi.!" Teriak Akira, tapi Gian makin menggodanya.


"Ayolah mandi bersama ku!" 


"Tidak mau, aku sudah mandi!" Akira menolak.


Tapi saat mereka sedang saling menggoda dengan Gian yang terus memeluknya dan Akira sendiri berusaha melepaskan diri.


Pada saat itu, Sisil masuk, "Ante… Om!" 


Gian dan Akira seketika itu menghentikan aksinya.


"Iya Sisil sayang." sahut Akira sambil merapikan dirinya.


Akira tersenyum, "Tidak sayang, Ante baik-baik saja." 


"Kita jadi dong jalan-jalan hari ini."  Sisil.


Akira mengangguk sambil tersenyum, kemudian datanglah salah satu pelayanan menghampiri mereka.


"Maaf tuan, nona, tuan Erwin sudah menunggu kalian di meja makan untuk sarapan." Ucap si pelayan.


"Baiklah kami akan segera ke sana." Akira yang menjawab.


Kemudian si pelayan berlalu dari sana setelah memberi tau dan sudah mendapatkan jawaban dari mereka untuk kembali di laporkan kepada majikannya.


Akira pun meminta Gian untuk segera mandi sedangkan Akira dan Sisil lebih dulu menemui Erwin di meja makan.


"Papi… good morning!" sapa Sisil penuh keceriaan,


"Morning honey!" sahut Erwin menyambut kedatangan putrinya, ia langsung bangkit dari duduknya, lalu mengendong Sisil dan mencium kedua pipi gadis kecilnya.


"Kamu cantik sekali, wangi lagi." Erwin memuji putrinya.


"Iya, dong…!" sahut Sisil dengan pedenya.

__ADS_1


Membuat Erwin dan akira gemas melihatnya.


Lalu Erwin mendudukkan Sisil di kursi meja makan, dan mempersilahkan Akira untuk ikut duduk.


Erwin juga menanyakan keberadaan Gian.


"Aku di sini!" Sahut Gian dari kejauhan, rupaya Gian mendengar Erwin menanyakannya.


"Oo ya… mari segera sarapan, setelah itu kita akan segera mengajak putri kecilku jalan-jalan." ucap Erwin.


"Hore…!" Sisil sangat bahagia saat mendengarnya.


Akira ikut bahagia melihat sisil seperti itu, Gian langsung duduk di sebelah Akira, duduk di antara Erwin dan istrinya.


Menghalangi pandangan Erwin untuk tidak memperhatikan Akira lebih seksama.


Entah mengapa Gian memiliki kecurigaan kepada Erwin, Gian berpikir Erwin menyukai Akira, melihat cara Erwin menatap Akira.


Tapi Akira sendiri menganggap semua biasa-biasa saja.


'Ada apa dengan ku, aku merasa tidak rela Erwin menatap Akira, apa ini karena perasaan cinta, karena itu aku merasa cemburu.' gumam Gian dalam hatinya.


Mereka mulai sarapan, Gian terus menatap Akira, membuat Akira merasa gugup di buatnya.


Akira menghentikan makannya dan balik menatap Gian, dan malah di sengaja kan oleh Akira untuk menggoda Gian di depan semua orang.


"Kenapa… menatapku seperti itu?" Akira menegur Gian.


"Oo tidak apa-apa, aku hanya ingin memastikan kamu benar-benar makan." 


"Oo kalau begitu suapi aku!" Pinta Akira.


Membuat Gian tercengang, "Apa! kamu ingin disuapi?" Gian bertanya untuk meyakinkan dirinya.


Akira mengangguk dan tersenyum, Gian merasa canggung, ia sampai menoleh ke kanan dan kiri, melihat sekitaranya.


Erwin menganggukkan kepalanya, Sisil malah bertepuk tangan, itu isyarat dari mereka bahwa mereka mendukung Gian.


Ya, Gian pun menyuapi Akira dengan hati yang berbunga-bunga.


"Ciee, Om sama ante….!" Sisil menggoda keduanya.


Akira dan Gian tersenyum simpul.


Erwin pun turut bahagia melihat adiknya bahagia, karena Gian memang sempat menceritakan tentang kisah cintanya, dan perlakuan nya kepada Akira sebelumnya seperti apa.


Erwin ikut prihatin ketika mendengar cerita Gian tentang itu semua.


Maka dari itu ketika Erwin melihat Akira sedang memasak di dapur ia merasa kasihan melihat nya, padahal Akira begitu cantik, dan penuh kasih sayang, saat memperlakukan Sisil, ia begitu perhatian kepada putrinya.

__ADS_1


Tapi sungguh malang nasib nya harus di korbankan oleh kakaknya sendiri, menjadi pelampiasan kekecewaan dan kebencian Gian.


__ADS_2