Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 113


__ADS_3

"Hiks … hiks … Anda sungguh-sungguhkah, Tuan dengan semua ini Anda tidak sedang mempermainkan perasaan saya." Rima belum yakin.


"Kamu tidak percaya kepada saya, kamu tidak yakin? Makanya saya minta kesempatan kepadamu untuk membuktikan kesungguhanku." Ucap Erwin sambil mengusap kembali air mata Rima yang terus saja mengajak sungai di pipinya.


Karena Rima Teru saja menangis haru, lalu ia menganggukkan kepalanya memberi jawaban iya kepada suaminya.


Erwin tersenyum lebar dan menarik Rima kedalam pelukannya. Rima hanya bisa pasrah mengikuti arahan suaminya.


Rima menelungkupkan tubuhnya bertumpu di atas dada suaminya, ia masih menangis, rasanya semua seperti mimpi baginya.


Yang tadinya ia hanya mencintai Erwin dalam diam, berandai-andai bisa menggenggam tangannya dan memeluknya itu hanyalah sebuah angan-angan semata, sebab ia sadar betul siapa dirinya, bagai pungguk merindukan bulan.


Namun kini menjadi kenyataan, ia bisa menyentuh dan mendekapnya bahkan besar bertumpu di dadanya.


Rima bangkit pada posisinya semula, ia menepuk-nepuk pipinya dengan tangannya, dan bergumam, "Sakit,"


"Hey, apa yang kamu lakukan?" tanya Erwin melihat perilaku istrinya.


"Aku beneran tidak sedang bermimpi!" gumamnya lagi.


Erwin meraih tangan Rima, lalu berucap" ini nyata, Sayang,"


"Aku akan berusaha membahagiakanmu dan juga Sisil." janji Erwin.


Tapi mendengar itu, Rima makin menangis pilu karena rasa haru. ia merasa berarti dan penting bagi Erwin, lelaki pujaannya yang awalnya mustahil ia dapatkan.


"Eeh, kok nangis terus sih, kamu kok sedih kaya gini, senyum dong,!" Erwin menggoda istrinya.


Rima berusaha menghentikan tangisannya dan tersenyum dalam tangis bahagia, Erwin membalas senyuman Rima.


'Tuhan, tolong bantu aku, hadirkan rasa cinta di hatiku untuk gadis ini.' di balik senyumnya Erwin bergumam dalam hati.


Sebab Erwin belum memiliki rasa cinta untuk Rima, ia hanya ingin mencoba untuk mencintainya entah karena rasa kasihan, iba atau apalah itu namanya, yang jelas Erwin tidak tega melihat Rima harus menderita menanggung bebannya sendiri, Erwin ingin membahagiakannya.


Erwin tidak tahu apa keputusannya ini tepat, adil atau tidak untuk Rima, yang jelas niatnya baik, ia ingin membuka diri lebih mengenal Rima terlebih dahulu biarkan cinta tumbuh dengan sendirinya, Erwin juga tidak ingin memaksakan dirinya.


__ADS_1


Sebelum magrib suster datang ke kamar rawat Erwin, untuk mengantarkan makan malam untuk Erwin, ketika itu rima masih dalam keadaan menangis. Saat kedatangan suster, Rima langsung bangkit dari duduknya, kemudian ia beralih ke dalam ke kamar mandi yang terdapat di ruangan itu untuk membasuh wajahnya, membersihkan sisa-sisa air mata di wajahnya.


Matanya terlihat sebab, hidungnya memerah karena kebanyakan menangis. Setelah dirasa cukup Rima kembali ke ruangan, dan suster masih berada di sana, ia sedang membenarkan selang infus yang tersendat karena Erwin banyak bergerak, membuat darah Erwin naik lalu membeku dan menyebabkan jalan cairan infus tersendat.


"Kenapa, Sus?" tanya Rima.


Merasa telah terjadi masalah dengan selang infus suaminya.


"Ini Bu, selang infusnya tersendat jadi harus di betulkan." Jawab Suster, sambil melirik sekilas ke arah Rima, lalu kembali fokus kepada pekerjanya.


Suster itu dapat melihat jelas bahwa Rima tengah menangis, dan ia bertanya-tanya dalam benaknya "Kenapa dia?" 


Sebab Rima masih mengenakan seragam babysitternya, menunggui pasien dewasa, "Masa Tuan ini punya babysitter pribadi sih, padahal sakitnya juga gak parah-parah amat, bukan sakit stroke atau lumpuh yang memang butuh pengasuh."


Setelah selesai membenarkan selang infusnya, ia berbalik menatap Rima yang memang berdiri di belakangnya.


Ia memandang Rima dari ujung kaki hingga kepalanya, "Dia tidak mungkin istrinya, tapi kenapa dia mesra banget sama pasien? pasti dia selingkuhan nya yang nyamar jadi babysitter, agar bisa leluasa bermesraan, supaya gak ketahuan istri sahnya." Suster itu bermonolog sendiri dalam hatinya.


Ia memandang rendah Rima, karena ketika Suster itu masuk Rima memang sedang duduk di tepi ranjang Erwin di sebelahnya, dan menghadap ke arah Erwin, sedangkan Erwin sendiri sedang mengusap air matanya sambil menggoda Rima.


Ditatap sedemikian rupa oleh suster itu, Rima merasa risih, lalu Rima menegurnya.


"Maaf, Sus, kenapa anda menatap saya seperti itu?" dengan nada suara sumbang Rima bertanya.


"Oh tidak." Sahutnya sambil memalingkan muka.


Lalu ia menghampiri Erwin, dan membereskan peralatannya yang tadi ia pakai untuk membetulkan selama infus Erwin.


"Tuan, saran dari saya, tuan jangan dulu banyak bergerak, nanti bukan hanya selang infus yang tersumbat, aliran darah tuan juga bisa tersumbat, hindari dulu deh penyebab penyakit, tuan." Suster bicara seakan sedang menyindir Rima matanya mendelik melirik Rima dengan ekor matanya saat ia berbicara seperti itu.


"Apa maksud, Anda Suster?" Erwin merasakan nada jutek dari ucapan suster itu.


Dari gerak geriknya dari ucapannya Erwin tau Suster itu telah salah paham kepadanya dan juga kepada Rima.


Mendapat teguran dari Erwin, Suster itu menjadi canggung, "Oo tidak apa-apa, saya hanya mengingatkan anda, kalau anda banyak bergerak selang infusnya bisa tersumbat lagi." terangnya gugup.


"Sayang, tolong suapi aku makan aku lapar." Erwin sengaja memanggil Rima dengan sebutan Sayang di depan Suster itu, agar dia tau Rima tidak seperti penilaiannya.

__ADS_1


Tanpa menjawab Rima langsung mendekat, dan mulai bersiap untuk menyuapi suaminya.


"Iis … dasar tidak tau malu, selingkuh kok di rumah sakit, pake panggilan sayang-sayang segala, hhmm." Lanjutnya bicara dalam hati, seraya menyunggingkan salah satu sudut bibirnya.


Menyaksikan kemesraan Erwin dan Rima babysitter semakin yakin kalau mereka pasangan selingkuhan, dan dia semakin memandang Rima rendah. Dan Suster itu berlaku begitu saja.


"Sepertinya dia telah salah paham dengan ku, mungkin dia pikir aku babysitter yang  merayu tuannya," ucap Rima, disela-sela aktivitasnya menyuapi Erwin.


"Lah, memang begitu kan?" ucap Erwin.


Mendengar itu Rima menghentikan pergerakannya, dan menatap tajam wajah Erwin.


"Apa! Apa menurutmu aku begitu?" Rima tidak merasa begitu.


Erwin tersenyum sambil mengangguk, "Iya, kamu merayuku, sampai aku tergoda padamu dan ingin selalu bersamamu, dan kamu memang harus tetap seperti itu, karena aku lebih suka di rayu daripada merayu." Ternyata Erwin sedang menggoda Rima .


Ya itu cukup berhasil membuat Rima terpancing, awalnya ekspresi Rima sudah menegang ketika mendengar tubuh Erwin tentang dirinya, tapi ketika mendengar semua itu hanyalah sebuah candaan, perlahan bibir Rima mengembangkan senyum manisnya.


Membuat Erwin senang melihat senyuman Rima yang merekah indah, maka dari itu Erwin selalu memancing senyum Rima dengan candaannya.


"Mana ada, wanita yang merayu pria, dimana-mana wanita tuh di rayu." protes Rima, menyahuti ucap Erwin dengan candaan juga.


"Itu mah udah biasa, kita kan pasangan yang beda, jadi kita harus menciptakan peraturan yang berbeda juga." Erwin makin menggoda Rima.


"Masa harus seperti itu, terus nanti kamu yang hamil dan yang melahirkan," Rima menimpali candaan Erwin.


"Hah …!" Erwin malah terkejut mendengar itu .


"Sorry, aku terlalu berpikiran jauh tentang hubungan kita." Rima langsung menyadari, sepertinya Erwin tidak berharap keturunan darinya.


Erwin tau Rima tersinggung dengan reaksinya, Erwin langsung tersenyum, "Masa iya, aku yang hamil dan melahirkan, dari mana masuk dan keluarnya nanti, ha … ha…!" Erwin malah terkekeh sendiri.


Rima hanya tersenyum lesu menatap Erwin yang sedang tertawa, "Syukurlah, Anda sudah bisa tertawa, Tuan." Batin Rima.


"Hey, jangan bengong," tegur Erwin, sebab Rima tidak ikut tertawa bersamanya.


Kini Erwin juga mulai serius, ia ingin membicarakan peraturan di dalam hubungan mereka.

__ADS_1


__ADS_2