
Waktu sudah menunjukkan saatnya Sisil berangkat ke sekolah.
Rima sudah menyiapkan keperluan Sisil seperti biasa, Sisil juga telah rapi dan siap untuk berangkat.
Namun hari ini, Rima terlihat tidak tenang ia dihantui rasa was-was, karena Rima takut bertemu dengan Erwin.
Sisil juga merasakan keanehan atas sikap Rima, Sisil sampai beberapa kali menanyakan kondisi Rima yang terlihat aneh.
Selain sikapnya yang aneh, Rima juga terlihat pucat, dan seperti menahan rasa sakit, itulah mengapa Sisil merasa curiga Rima tidak baik-baik saja.
"Mbak ….!" Panggil sisil.
"Iya, sayang," sahu Rima yang di panggil.
"Kalau, Mbak sakit sebaiknya jangan di paksakan, lebih baik kita izin saja gak masuk sekolah," saran Sisil.
"Eeh mana boleh begitu, Sisil harus tetap sekolah," Rima tidak setuju dengan usulan Sisil, justru Rima ingin cepat-cepat pergi dari sana untuk menghindari bertemu dengan Erwin.
Padahal dia memang merasa tidak enak badan, tubuhnya masih terasa sakit semua, terutama di bagian bawahnya seperti ada sesuatu yang mengganjal, tapi Rima ingin menghindar dari Erwin.
"Mbak, bagaimana kalau aku pergi dengan pak sopir saja, atau di antara bibi yang lain, biar Mbak istirahat saja di rumah," Sisil kembali memberi saran.
"Tidak usah, sayang, sudah Mbak bilangkan Mbak itu baik-baik saja." Rima tetap kukuh menyangkal kekhawatiran Sisil atas dirinya yang terlihat tidak sehat.
"Tapi, Mbak~" terpotong karena Rima memotong ucapan Sisil.
"Sudah tidak usah banyak protes, ini sudah siang sudah waktunya kita berangkat sekolah, ayo!" Rima langsung bergerak menuntun Sisil dan membawakan tasnya.
"Mbak, beneran tidak apa-apa?" Sisil masih mengkhawatirkan kondisi Rima.
"Iya."Rima menjawab dengan tegas, untuk meyakinkan Sisil.
Lalu keduanya bergegas pergi menuju sekolah Sisil.
....
Kini waktunya sudah siang matahari sudah hampir di atas kepala, Erwin mulai terbangun dari tidurnya.
Ia merasakan kepala masih terasa berat, ia mengucek matanya, lalu memegangi kepalanya yang masih terasa berdenyut.
Erwin melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sudah pukul sepuluh, Erwin menelisik tubuhnya, ia sedikit membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
Ia tercengang saat menyadari dirinya tidak mengenakan busana, "Hah, apa sebenarnya yang terjadi, kepada aku tidak memakai pakaian?" Erwin tidak mengingat kejadian semalam.
Kemudian Erwin melihat ke bawah lantai, ia melihat pakaiannya berserakan di sana.
"Perbuatan siapa ini?" gerutu Erwin.
Erwin beranjak dari tempat tidur ingin memungut semua pakaiannya, tapi ia kembali dikejutkan dengan penemuannya yang ia temukan di antara pakaiannya yang berserakan.
Yaitu sebuah CD wanita dan kacamata gunung kembar, itu sudah tentu milik seorang wanita.
"Ya tuhan, ini milik siapa ini? Apa yang sebenarnya terjadi tadi malam." gumam Erwin.
Kemudian ia mencoba mengingat-ingat semua, dari saat ia pulang dari kantor , lalu pergi ke klub malam untuk bertemu dengan teman-temannya, lalu mereka minuman bersama.
"Wah, iya aku semalam mabuk ya," Erwin bicara sendiri
Erwin mengingat-ingat kembali, setelah itu ia pulang, ia masuk kedalam kamar Sisil, lalu Rima membantunya untuk berjalan mengantarkannya ke kamarnya, semua itu terlintas samar-samar di dalam ingatannya.
__ADS_1
Erwin merasa semu seperti di dalam mimpi, bayangan ketika ia sedang memadu kasih bersama Rima juga terlintas, bagai mimpi.
Erwin merasa tidak percaya, "Ini pasti mimpi," Erwin mencoba untuk meyakinkan dirinya, menganggap semua hanya sebuah mimpi.
Tapi bukti ada di depan mata, yaitu sebuah CD dan kacamata gunung kembar.
"Tapi ini," ucapnya sambil melihat benda yang ada di tangannya.
"Iih …." Lalu Erwin melemparkan benda tersebut, dengan spontan ketika menyadari benda itu ada di tangannya.
"Tidak mungkin ini hanya salah paham, Rima tidak mungkin mau melakukan hal itu." Erwin tetap berusaha menyangkal ingatnya, dan bukti yang ada.
"Aku harus menanyakan semua ini kenapa Rima untuk meyakinkan."
Erwin segera bergegas untuk membersihkan dirinya, ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang polos.
Namun ia kembali tercengang, dengan penemuan barunya, saat selimut itu ia tarik, nampak bercak darah di sprei berwarna putih yang begitu nampak jelas di pandang mata.
"Hah … itu …!" Ucap Erwin, sambil menunjuk bercak darah yang baru saja ia lihat.
Dan barulah Erwin meyakini bahwa dirinya memang telah melakukan hal anu terhadap Rima.
"Oh my God, jadi semua itu benar-benar telah terjadi." Erwin seperti menyesali perbuatannya.
"Ya Tuhan, bagaimana dengan Rima, pasti dia sangat terpukul dengan apa yang telah aku lakukan." Erwin mengkhawatirkan kondisi Rima, Itulah yang membuat Erwin merasa menyesal.
"Aku harus segera bicara dengan Rima."
Erwin segera bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya, ia melupakan kepalanya yang sakit.
Ia mengguyur kepalanya di bawah shower, air mengalir membasahi seluruh tubuhnya, membersihkan peluh di tubuhnya sisa-sisa semalam.
Rasa bersalah semakin menguasai diri Erwin, apalagi ketika Erwin mengingat Rima menangis dan dirinya mengusap air mata Rima.
"Ooh Tuhan … Rima, maafkan aku." gumam Erwin, sangat menyesalinya.
…
Erwin keluar dari kamarnya setelah ia sudah rapi dengan pakaian pormalnya.
Erwin mencari keberadaan Rima, di kamar Sisil dan di kamar Rima, tapi Erwin tidak menemukannya.
Erwin tau saat ini sudah jam sekolah, Sisil sudah pasti berada di sekolah, tapi siapa tau setelah kejadian semalam Rima tidak pergi ke sekolah pikir Erwin, maka dari itu Erwin mencari Rima di rumah.
Salah satu ART melihat Erwin yang terlihat kebingungan, keluar dari kamar Sisil dan mengetuk pintu kamar Rima sambil memanggil-manggil nama Rima.
"Tuan, anda sedang mencari Mbak Rima?" tanya salah satu ART.
"Ooh ya bik, Rima kemana ya?" tanya Erwin.
"Lah, ya seperti biasa Tuan, mbak Rima pergi sekolah mengantar non Sisil." ART mengingatkan Erwin.
"Oo iya, saya lupa." Alasan Erwin, padahal bukan seperti itu, ia hanya menduga-duga, siapa tau Rima ada di rumah.
"Terimakasih bik, saya pergi dulu, Oo ya bereskan kamar saya." Perintah Erwin lalu bergegas pergi.
ART segera melaksanakan perintah Erwin, ia masuk kedalam kamar Erwin untuk Merapikan dan membersihkan kamarnya.
Si ART melihat setumpuk cucian, yang sudah Erwin kumpulankan, sprei, selimut dan pakaian kotornya.
__ADS_1
'Tumben sekali tuan Erwin, mengumpulkan cucian kotor seperti ini, padahal sebelumnya dia tidak pernah seperti ini.' gumam ART merasa aneh.
Setelah kamar itu rapi, ART keluar dan membawa cucian kotor itu untuk ia rendah terlebih dahulu.
Di tempat cucian ART memilah dan memilih cucian itu untuk dipisahkan warna putih dengan warna yang lainnya.
Tapi alangkah tercengangnya si ART ketika menemukan CD dan kacamata gunung kembar ada di antara cucian kotor itu.
"Astaga … punya siapa ini? Kok ada di antara cucian kotor Tuan Erwin." ART merasa curiga, tapi ia tidak mau ambil pusing dengan urusan majikannya, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Tapi saat akan merendam sprei berwarna putih itu, ia menemukan bercak merah di sprei tersebut.
"Apa ini?" Ia mencoba ngecuknya di air deterjen dan perlahan memudar warna merah itu, dan tercium bau anyir darah.
Ia semakin curiga dibuatnya, "Ini seperti darah." gumamnya.
Karena itu, ia sampai berpikir keras, "Semalam aku yang membukakan pintu untuk Tuan Erwin, dia masuk sendirian, Tuan Erwin langsung masuk ke kamar non Sisil, tapi gelagatnya aneh sepertinya dia sedang mabuk, di kamar Sisil munkin ada Rima, sedangkan yang sering bersama non Sisil itu kan cuma Rima." ART bergumam.
"Yang masih gadis di rumah ini kan cuma Rima dan non Sisil, karena non Sisil masih kecil, berarti kemungkinan Rima yang habis melayani Tuhan Erwin semalam, dan pagi ini tuan Erwin bertingkah aneh sekali, ia mencari-cari Rima, padahal dia tau ini jam sekolah, dan tugas Rima dari dulu menemani Sisil sekolah.' ART itu bermonolog sendiri.
Mengait-ngaitkan semua kejadian, dan semu telah ia simpulkan.
Ia semakin yakin setelah mengamati CD dan kacamata gunung kembar itu, ia pernah melihat Rima menjemurnya.
Matanya membulat, dan mulutnya menganga ketika ia menyadari semuanya. Ia sudah benar-benar yakin dengan kecurigaannya.
"Ya ampun Rima, apa yang telah kamu lakukan dengan tuan Erwin, kenapa kamu serendah itu." ART itu terus saja bicara sendiri, ia menyayangkan tindakan Rima.
ART itu, tidak tau jika Rima dan Erwin sudah menikah, hanya Rima orang yang dicurigai, karena selain ia menemukan bukti-bukti yang menunjukkan Erwin telah berbuat tidak senonoh, di rumah itu juga hanya Rima lah orang yang dicurigai setelah melihat bercak darah di sprei tersebut.
Karena hanya Rima lah yang masih perawan di rumah itu, ART itu sendiri sudah memiliki beberapa anak, begitu juga dengan ART yang lain.
Ditambah dia sendiri yang membukakan pintu untuk Erwin masuk dan dia juga yang menguncinya.
Dia yakin tidak ada orang lain lagi yang masuk rumah, Erwin juga tidak langsung masuk kedalam kamarnya, Malah menemui Sisil yang selalu bersama Rima, bukti yang di temukan mengarahkan kepada Rima semua, sikap Erwin juga sangat aneh ketika akan pergi, Erwin sampai mengumpulkan semua cucian di kamarnya, "Jadi ini alasannya."
"Ooh Tuhan, apa yang harus aku lakukan, apa aku harus melaporkannya kepada Nyonya besar dan Tuan besar tentang semua ini." ART itu merasa ia harus mengambil tindakan agar Rima diperingati.
…
Erwin tergesa keluar rumah dan langsung naik ke mobilnya, karena sopir pribadinya sudah setia menunggu sedari tadi.
"Selamat pagi, Tuan." sapa sopir.
"Pagi," Erwin menjawab sapaan sopirnya.
"Pak, kita jangan ke kantor dulu!" lanjut Erwin.
"Lalu kita kemana, Tuan?" Sopir bertanya.
"Kita ke sekolah Sisil dulu." Ternyata Erwin ingin menemui Rima terlebih dahulu.
"Baik, Tuan." Sopir mengiyakan ucapan Erwin.
Erwin melihat layar handphonenya, karena dia sempat melupakannya.
Karena ia menggunakan mode senyap jadi ia tidak bisa mendengar, setiap bunyi notifikasi atau panggilan dari handphonenya.
Dan ternyata banyak sekali panggilan masuk, dan pesan dari Gian.
__ADS_1
"Wah gawat, aku lupa ada meeting pagi ini." Erwin baru saja mengingatnya.