
Percakapan Akira dengan Erwin masih berlanjut setelah kepergian Lisa.
Seiringnya waktu, perlahan perasaan Erwin kepada Akira telah berubah rasa, setelah melihat besarnya cinta Gian kepada Akira, dan melihat mereka bahagia Erwin juga ikut bahagia.
Kini Erwin menganggap Akira sebagai adik, tida ada lagi rasa ingin memilikinya di hati Erwin saat ini.
"Kak Erwin bisa kita bicara sebentar?" Akira mengajak Erwin bicara.
Erwin menganggukkan dan langsung duduk di bangku terasa, di ikut oleh Akira.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Erwin memulai pembicaraan.
"Tentang Mbak Rima." jawab Akira.
"Sekarang keputusan ada di tangan kak Erwin, kak Erwin harus menentukan pilihannya kak Erwin, lebih memilih Lisa apa mbak Rima?" Akira ingin Erwin lebih tegas.
"Karena keduanya juga menyukaimu, tapi kak Erwin harus menentukan pilihan, karena tidak adil untuk mereka kalau harus di gantung."
"Sepertinya aku akan bertahan demi Sisil." ucap Erwin.
Perasaan Erwin masih abu-abu, jadi dia belum bisa menentukan perasaan cintanya untuk siapa, tapi sudah menentukan pilihan nya.
"Jika seperti itu kak Erwin harus meyakinkan Mbak Rima bahwa ia pantas menjadi pendampingmu, berkomunikasilah dengan baik dengannya, berikan perhatian kepadanya, agar ia bisa tau kalau kak Erwin ingin serius dengannya," lanjut Akira.
"Jika komunikasi kalian sudah baik dan lancar, saling jujur dan saling memberi perhatian serta pengertian, cinta akan mudah hadir karena kalian akan merasa saling nyaman." Akira memberi masukan.
"Oke, aku akan berusaha melakukan saran dari kamu." Erwan memahami semua perkataan Akira.
Cukup lama mereka berbincang berdiskusi masalah Erwin dan Rima, yang hanya salah paham saja, jadi Erwin di minta untuk mengalah oleh Akira.
Karena posisi Rima serba salah, diam dia salah, agresif pun dia tetap salah. Jadi biarkan Erwin yang bertindak lebih dulu.
Karena Rima juga telah pasrah dengan hubungannya, ia tidak ingin berharap lebih, dan malah akan lebih menyakitkan baginya.
Akira menyudahi pembicaraannya dengan Erwin, karena Gian memanggilnya.
"Aku masuk dulu ya kak, sepertinya bayi besar ku sudah bangun." Akira pamit dan berlalu untuk menemui suaminya.
Hari ini berlalu begitu saja, stelah hari itu tidak ada lagi yang membahas pernikahan Erwin dan Rima bagaimana seharusnya hubungan mereka.
Akira, Gian serta kedua orang tuanya sudah memberikan masukan, kepada keduanya untuk mereka lebih dekat dan berumah tangga layaknya suami istri.
Tapi baik Erwin, maupun Rima tetap terlihat canggung dan tidak bisa bersikap seperti yang mereka harapkan, keduanya tetep menjaga jarak.
Padahal jika Erwin bicara secara baik-baik dan meminta untuk Rima menjadi istri sesungguhnya bagi dirinya tidak hanya sekedar menjadi babysitter Sisil.
Mungkin Rima akan mempertimbangkannya dan berusaha untuk mengimbangi Erwin.
Erwin sendiri seperti menutup diri untuk Rima, bagaimana bisa Rima yang hanya seorang babysitter dengan kepribadian lugu dan jujur bisa bersikap agresif.
Seminggu berlalu belum ada perubahan sama sekali dalam hubungan Erwin dan Rima.
Keluarga pun memilih untuk diam, tak lagi membahas tentang itu, karena memang perasaan tidak bisa dipaksakan, Erwin memang terlalu dingin kepada perempuan, seperti tidak memiliki hasrat.
Hari ini di meja makan ketika sedang sarapan Mama Nirmala dan papa Arga memberitahu semua keluarganya bahwa mereka berdua ingin keluar kota untuk beberapa waktu.
Dan di saat yang bersamaan, kedua orang Akira juga datang untuk menjemput Akira, agar tinggal di rumah mereka, Karen shafira sekarang tinggal di rukonya, jadi rumah ayah Ayus sepi, lagi pula sebentar lagi Akira akan melahirkan ibu Yulia ingin merawat Akira saat melahirkan nanti.
Karena Mama Nirmala terlalu sibuk untuk mengurus semua itu, dan semuanya sudah dibicarakan sebelumnya, jadi saat orang tua Akira datang mereka sudah tau Akira sendiri sudah bersiap.
"Erwin jaga keamanan rumah selama kami pergi, semua menjadi tanggung jawab mau selama kami pergi," Mama Nirmala mengingatkan Erwin.
__ADS_1
"Iya mah." Erwin mengerti.
Rumah menjadi sepi, saat semua orang pergi, Akira sudah pergi diantar Gian-suaminya.
Sisil dan Rima juga sudah pergi ke sekolah diantar sopir pribadi Sisil.
Mama Nirmala dan papa Arga juga sudah pergi meninggalkan rumah.
Erwin juga telah pergi ke kantornya untuk bekerja.
Kini di rumah hanya ada beberapa ART yang bekerja melakukan pekerjaannya.
Sehari-harinya memang seperti itu, kecuali ada Akira, jika ada Akira rumah tidak akan sesepi seperti sekarang ini.
Sampai sore menjelang, Sisil dan Rima kembali dari sekolah, karena memang sudah tugas Rima mengasuh Sisil.
Jadi sedari dulu Rima setia seharian menunggu Sisil di sekolahnya, padahal dia hanya menunggu di luar kelas, hanya jika sedang istirahat saja Rima bersama Sisil, selebihnya Sisil belajar di dalam kelas bersama teman-temannya dan para pengajarnya.
Seperti biasa Rima membersihkan tubuh Sisil mendandaninya, menyuapinya makan, setelah itu barulah Rima yang membersihkan diri dan makan.
Sementara Sisil mengerjakan PR-nya.
Saat malam menjelang, suasana rumah masih sangat sepi, karena tuan rumah hanya ada Sisil di sana.
"Mbak, ko rumah sepi sekali?" Sisil merasa kesepian dan kehilangan.
"Iya, sayang … kan, Nenek sama Kakek lagi keluar kota, Anteu sama om Gian juga kan, sekarang tinggal di rumah orang tuanya Anteu, sekarang seperti biasa hanya ada kita berdua." jawab Rima memberi pengertian kepada Sisil.
"Mbak, gak bakalan ninggalin Sisil lagi kan?" Sisil merasa takut akan ditinggalkan oleh Rima.
"Kamu tenang aja, Mbak akan selalu setia menemani Sisil, sekarang Sisil tidur ya, sudah waktunya untuk tidur."
Setelah seharian beraktivitas Sisil dan Rima memang selalu merasa kelelahan, merek selalu tidur di jam sembilan, atau paling malam setelah sepuluh.
Di sekitar jam satu malam Erwin baru pulang, dengan penampilan acak-acakan dan sempoyongan.
Ternyata Erwin telah menghadiri pesta ulang tahun teman kuliahnya di sebuah bar, merek minuman bersama sampai Erwin mabuk seperti itu.
Tapi ketik salah satu ART membukakan pintu utama, Erwin langsung masuk dan menuju kamar Sisil, meskipun ia telah mabuk berat tapi ia masih mengingat putrinya.
"Aku kangen putriku, aku ingin menemuinya dulu." Ucap Erwin, sambil menyerahkan tas kantor yang ia tenteng kepada ART untuk di simpan di ruang kerjanya.
Erwin masuk dan melihat putranya sedang tidur, ia sempat mengelus kepalanya dan mengecup pucuk kepalanya, "Selamat tidur ya nak." Lalu ia menatap babysitternya yang tidur di sofa bed di kamar itu.
"Eeh … dia juga sudah tidur ya." Erwin ingin menghampiri Rima, tapi saat ia melangkah kakinya tersandung kakinya sendiri.
Sehingga membuatnya tersungkur dan jatuh menubruk tubuh Rima.
Dan itu membuat Rima sangat terkejut terbangun dari tidurnya.
"Astaga … Tuan Erwin apa yang anda lakukan," ucap Rima.
"Ssst …." Erwin menaruh telunjuknya di bibirnya, agar Rima jangan bersuara.
"Diam, jangan berisik lihat putriku sedang tertidur, suaramu bisa membangunkannya." Erwin mengingatkan.
Melihat dari cara Erwin berbicara, dan dari gerak geriknya Rima merasa curiga Erwin sedang mabuk.
Erwin mencoba bangkit tapi ia sangat kesulitan, untuk menjaga keseimbangannya, Erwin beberapa kali terjatuh.
Awalnya Rima hanya memperhatikannya tanpa berniat membantunya, karena Rima juga merasa bingung apa yang harus ia lakukan.
__ADS_1
Tapi setelah saat ia berhasil bangkit, ia juga masih kesulitan untuk berjalan.
Dan akhirnya Rima bangkit lalu menopangkan tangan Erwin di pundaknya, "Mari saya bantu Tuan, saya antar ke kamar Tuan."
Erwin malah tertawa kecil, "Ha … ha … ha … bagus sekali, ini baru istirahat yang baik …."
Perlahan Rima melangkah sambil menopang tubuh Erwin, yang terasa sangat berat, selain dari postur tubuhnya lebih besar dari Rima, tubuh Erwin lunglai karena mabuk, sehingga menambah beban beratnya semakin berat.
Entah mengapa saat adegan seperti itu dada Rima berdetak kencang tidak beraturan, pasalnya selama ini ia tidak pernah sedekat itu dengan Erwin.
Selamat pejalan menuju kamar Erwin, Rima hanya diam, merasakan debaran di dadanya.
Sedangkan Erwin sendiri terus saja mengoceh tanpa alur, karena ia juga tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan.
Sesampainya di kamar Erwin, Rima menidurkan Erwin, membuka sepatunya, "Saya permisi dulu tuan, selamat beristirahat." Rima pamit, setelah selesai membuka sepatu Erwin.
Tapi saat Rima membalikkan tubuhnya hendak keluar dari kamar Erwin. Tiba-tiba Erwin menarik lengan Rima dengan kuatnya, sehingga tubuh Rima kembali berbalik dan terpelanting menubruk tubuh Erwin.
Erwin langsung merangkul tubuh Rima yang berada di atas tubuhnya.
Rima memberontak, ia sangat ketakutan, "lepaskan saya tuan jangan seperti ini,"
"Kenapa, Sayang …? Aku kan suamimu, sudah sepantasnya kamu melayaniku." Erwin menuntut kewajibannya.
"Tapi anda sedang mabuk Tuan …"
"Kenapa, kalau sedang mabuk, aku tetap tidak dosa kan kalau m e n j a m a h istriku?"
"Tapi Anda sedang tidak sadar Tuan." Rima tetap berusaha untuk melepaskan diri.
"Tapi aku ingin menyalurkan hasratku, lebih dosa lagi untukku jika melakukannya dengan wanita lain, dan dosa juga untukmu sebagai istriku tidak mau melayaniku." Erwin bicara benar meskipun ia sedang mabuk.
Sehingga Rima terdiam, mencerna ucapan Erwin.
Namun meskipun sudah berusaha sekuat tenaga, ia tetap wanita biasa kodratnya tetap lemah, apa yang ia lakukan tetap sia-sia karena tenaga Erwin lebih kuat sebagai lelaki, serta ia juga sedang dikuasai hawa n a f s u sehingga kekuatannya semakin kuat. Dan membuat Rima tidak berdaya.
Akhirnya Rima hanya bisa pasrah melayaninya, saat Erwin membalik posisi Rima menjadi di bawah tubuh Erwin, dan mengungkung tubuh Rima.
Rima tidak lagi memberontak, Erwin m e l u m a t rakus bibir Rima, mengabsen seluruh isi mulut Rima dengan lidahnya, awalnya Rima hanya diam, tapi gairah Erwin memancing hasrat Rima.
Sehingga tanpa sadar Rima membalas kembali memberi l u m a t a n bibir Erwin.
Cukup lama bibir mereka saling bertautan, sehingga Rima merasa kewalahan untuk mengimbangi Erwin, ia sampai kehabisan oksigen dan terengah-engah.
Menyadari itu, Erwin melepaskan tautan bibirnya dan memberi kesempatan kepada Rima untuk bernafas.
Tiba-tiba Erwin menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Rima, membuat Rima terkejut.
"Tuan anda tidak, apa-apa?" Rima takut terjadi sesuatu kepada Erwin.
Meskipun awalnya Rima terpaksa melakukan hal itu, tapi ada rasa kecewa yang Rima rasakan saat jika Erwin tidak meneruskan adegan itu.
...
Sampai di sini dulu ya …!
Rima : yaaah, other gimana sih! kok udahan ... 😔
Erwin : othor ... aku udah mode on ini ... 😫
al-del : komen dulu dong, mohon dukungannya dong kawan²ku, tinggalkan jejakmu dengan cara like vote komen subscribe serta bintang limanya ... Supaya aku tetap semangat dalam berkarya ...
__ADS_1
Terimakasih 😘😘😘