
Saat ini, kedua orang tua Akira beserta Shafira dan juga Lucky telah sampai di rumah keluarga Mahendra.
Saat ini Shafira juga tengah punya balita berjenis kelamin perempuan seusia Anjas, tapi balita itu bukan putri kandungnya, shafira telah mengadopsinya dari seseorang.
Shafira mengadopsi seorang anak dengan alasan karena ia tidak bisa memiliki anak sendiri, rahim Shafira telah rusak karena ternyata Shafira pernah melakukan a b o r s i, karena hamil di luar nikah saat lucky belum menikahinya dulu.
Dan ternyata itu satu alasan mengapa Shafira dulu lari di hari pernikahannya dengan Gian, itu karena Shafira tengah mengandung anak Lucky, dan karena ia belum siap untuk memilih anak Shafira terpaksa melakukan tindakan A b o r s i dan itu menyebabkan rahim Shafira rusak.
Di tambah saat ia mengalami sakit keras yang hampir merenggut nyawanya, Shafira banyak mengkonsumsi obat-obatan dan efek dari obat-obatan itu membuat rahimnya kering dan akat sulit untuk memiliki keturunan.
Jadi ia dan Lucky mengambil keputusan untuk mengadopsi anak. Namun, sesungguhnya Shafira punya alasan lain mengapa ia mengambil anak perempuan itu menjadi putrinya, tapi semua itu masih dirahasiakan olehnya.
…
Keluarga Mahendra menyambut kedatangan keluarga besannya, dan langsung membawa mereka untuk menemui putri mereka, karena sepertinya Ayah dan ibu Akira sudah tidak sabar lagi ingin melihat langsung putri mereka.
Keadaan Shilla saat ini sudah lebih baik, rasa sakit di kepalanya sudah berkurang, saat ini ia sedang menikmati makanan malamnya yang terasa hambar di lidahnya, ia terpaksa menyantap makan malamnya hanya untuk mengganjal perutnya yang terasa perih, karena cacing di perutnya tiada henti berdendang meminta asupan makanan dari sang empunya perut.
Dengan terduduk di tempat tidurnya dan dengan tatapan kosong Shilla menyuapkan makanan ke mulutnya, ia mengunyah makanan itu dengan tatapan selera sedikit pun.
Saat semua orang datang menghampirinya, reaksi Shilla langsung terkejut melihatnya.
Wajahnya terlihat sangat tegang, dan panik, Shilla merasa takut dengan orang-orang yang dia anggap asing, apa lagi Shilla mengingat kata-kata Anjai yang mengatakan bahwa orang-orang di masa lalunya adalah orang-orang yang tidak menginginkan hubungan nya dengan Anjai. Sudah pasti dalam pikiran Shilla orang-orang itu adalah orang-orang jahat.
Semua orang bisa melihat, kepanikan Shilla, dan mama Nirmala segera berusaha menenangkannya, mama Nirmala khawatir Shilla akan merasa tertekan dan pingsan lagi seperti sebelumnya.
"Tenang Akira, ini kedua orang tuamu dan kakak mu serta suaminya." Terang Mama Nirmala.
Shilla melihat wajah tenang kedua orang tuanya, Ayah dan Ibunya. Mereka menatap Shilla dengan mata berbinar.
Rasa tidak percaya tapi ini sungguhan, putri mereka yang selama ini di anggap sudah tiada, kini ia ada di depan mata.
"Akira … kamu masih hidup, Nak!" gumam ayah Ayus.
Semua mendekat ke arah Shilla, kedua orang tuanya ingin memeluknya, tapi Shilla kembali menghalau mereka sama seperti ketika Gian ingin menolongnya saat ia akan pingsan.
"Jangan dekati aku, menjauh lah dari ku, mungkin benar aku Akira anak kalian, tapi aku bukan Akira yang dulu yang bisa dengan mudah kalian perdaya." ucap Shilla dengan tatapan mata penuh kebencian, ia sangat membenci orang-orang di sana, karena Shilla telah termakan omongan Anjai..
Keluarga Akira mengerutkan keningnya, mereka merasa syok ketika mendengar ucapan Akira seperti itu, Akira yang dulu tidak pernah berkata kasar kepada kedua orang tuanya, ia selalu mematuhi setiap kata-kata orang tuanya, tapi mengapa Akira sekarang berbeda dengan Akira putri mereka.
Kedua orang tua Akira jadi meragukan jika wanita yang mirip dengan Akira itu adalah putri mereka.
Lalu mama Nirmala angkat bicara, "Shilla, hargai kedua orang tuamu, Akira yang dulu tidak pernah bersikap seperti itu, Akira yang dulu sangat menghormati orang tua,"
__ADS_1
Shilla tersenyum kecut, "H'm, tapi aku bukan lagi Akira yang dulu, sekarang aku Shilla, aku tidak akan lemah lagi yang akan mudah kalian perdaya." Shilla seakan menantang mereka semua.
Ibu Yuli sungguh terkejut mendengar kata-kata yang keluar dari mulut wanita yang mirip dengan putrinya, Bu Yuli sampai membuka mulutnya dan menutupnya dengan telapak tangannya.
"Bu Nirmala apakah benar dia putri kami?" Bu Yuli bertanya tidak yakin dengan apa yang ia dengar dan dia saksikan.
Kemudian Mama Nirmala meminta agar Shilla tenang sebab Mama Nirmala kini ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Akira.
"Oke, silahkan berbicara, ini memang tugas anda untuk menjelaskan semuanya kepada mereka, aku sudah sangat lelah, ketenangan dan kebahagiaan ku kalian usik, untuk apa, apa sebenarnya mau kalian, apa keuntungannya buat kalian? hah, katakan!" Shilla berbicara penuh emosi.
"Shilla …!" Mama Nirmala membentaknya agar ia diam.
Dan seketika itu Shilla diam, sebab ia juga masih memiliki rasa takut dengan orang-orang yang baru saja ia kenal.
Nyonya Nirmala mulai berbicara saat suasana sudah hening, ia mulai menjelaskan mengapa Akira bisa bersikap seperti itu.
Bahwa Akira telah kehilangan ingatannya akibat dari proses melahirkan putra kembarnya, yang memang terjadi masalah, atas tindakan Riza yang membuat Akira tegang ketika membawa Akira kabur satu tahun lalu.
Kandungan Akira mengalami kontraksi hebat, ia sampai mengalami pendarahan, tim medis yang menanganinya sampai harus mengambil tindakan operasi sesar, untuk menyelamatkan ibu dan bayinya.
Tapi, salah satu bayinya tidak dapat tertolong, dan Akira mengalami koma hampir satu tahun lamanya, dan ketika ia tersadar dari komanya, Akira melupakan jati dirinya, ia kehilangan ingatannya.
Dan Riza ngambil kesempatan untuk mempengaruhi Akira dan merubah identitas Akira menjadi Shilla lalu menikahinya.
"Iya, Anjai memang sangat mencintaiku, menyayangiku memberiku banyak cinta dan kasih sayang, sebelumnya kami juga pasangan kekasih, tapi kalian semua telah memisahkan kami, terutama orang yang bernama Giantha Mahendra, dia telah merenggut kesucianku dengan paksa dan menghamili ku, dia menyiksaku, jiwa dan ragaku."Shilla angkat bicara ketika mama Nirmala menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepada Akira.
Tapi apa yang dikatakan oleh Shilla tentang Giantha memang benar semua.
"Tapi nak, setelah itu hubungan kalian membaik, penuh cinta dan kasih sayang, selama ini Gian menunggumu, hanya dia orang satu-satunya yang yakin dirimu masih hidup dan kenyataannya memang kamu masih hidup, Nak." Ayah Ayus meneruskan cerita Shilla memberi tau apa yang sebenarnya, bahwa cerita Anjai (Riza) itu tidak lengkap.
"Cukup pak tua, benar apa yang dikatakan oleh suamiku kalian semua ada di pihak Giantha Mahendra." Pekik Shilla sudah tidak ada rasa hormat lagi kepada orang tua.
Kebetulan saat itu Gian datang ke kamar di mana Shilla berada untuk menemui orang tua Akira, tapi ia mendengar semua perkataan Shilla.
Gian menatap Shilla dengan tatapan dingin sedingin salju, "Kamu boleh membenci ku, karena penilaianmu atas semua ucapan Riza, yang mengatakan hal buruk tentang aku, dan atas ingatanmu tentang aku juga, aku memang mengakui semua itu benar, tiap kamu tidak usah bersikap kurang ajar kepada para orang tua, silahkan kamu mau membenciku selama sisa umurmu, aku juga berpikir dua kali jika ingin kembali kepada mu dengan sikapmu yang sekarang ini,"
"Jadi kamu tidak usah khawatir lagi, aku akan segera mengurus perceraian kita, agar kamu bisa kembali hidup bahagia dengan suamimu itu, tapi tolong jaga sikapmu kepada para orang tua di sini, agar kamu tidak menyesal nanti nya." Tegas Gian.
"Jadi dia benar Akira?" Ayah Ayus memastikan.
"Iya, si b a j i n g a n itu juga memang mengakui bahwa dia memang Akira, tapi k e p a r a t itu telah mencuci otaknya." Papa Arga yang menjawab penuh penekanan karena emosinya telah terpancing oleh sikap Shilla yang kurang a j a r.
Semua keluarga memutuskan untuk keluar dari sana dan membiarkan Shilla untuk beristirahat, namun ketika Sisil akan ikut keluar dari sana, Shilla bergumam menyebut namanya, "Sisil sayang …!"
__ADS_1
Semua keluarga kembali berbalik dan melihat ke arah Shilla, mereka merasa aneh mengapa Shilla menyebut nama Sisil, apakah ia mengingat Sisil?
Sisil pun ikut berbalik lalu membalas gumam Shilla, "Iya anteu! Apa Anteu butuh sesuatu?" tanya Sisil untuk memastikan.
Shilla menggelengkan kepalanya, "Tidak ada boleh, anteu minta pelukanmu, Sayang!" Sepertinya Shilla merindukan hal itu, Shilla mengingat Sisil, karena hanya kepada Sisil, Shilla bersikap manis seperti itu.
Sisil tersenyum, lalu mengangguk, "Boleh kok Anteu." ucap Sisil lalu mendekati Shilla kemudian ia menyambar tubuh Shilla dengan sebuah pelukan.
Shilla menangis ketika mendapatkan pelukan dari Sisil, "Anteu sangat merindukanmu, Sayang,"
"Aku juga anteu, aku dan semuanya sangat merindukan Anteu!" balas Sisil.
Sebenarnya sedari tadi Rima merasa penasaran ingin bertanya, dan ini lah kesempatan untuk Rima bertanya.
"Maaf, Akira bukankah kamu melupakan semuanya, tapi apa kamu mengingat Sisil?"
Shilla mengangguk "Iya, aku mengingatnya, ia anak baik dan juga malang, aku bertahan tetap bersama dia (Shila menunjuk Gian) salah satu alasannya karena Sisil.
Iya, Shilla mengingat sedikit banyak tentang Sisil saat canda tawa dan kesedihan mereka lalui bersama, Shilla ingat Sisil sangat menyayanginya dan begitu juga sebaliknya.
"Terima kasih Anteu sudah mengingatku!" Ucap Sisil senang.
Lalu Shilla meminta Sisil untuk tetap di sana menemaninya, Sebab ia merasa kesepian.
Sisil mengangguk, sebagai tanda bahwa ia setuju, "Tapi sama bunda juga ya," pinta Sisil.
"Bunda?" Shilla mengulang kata itu, karena yang Shilla ingat Sisil tidak punya Ibu.
"Iya, bunda, itu bunda ku, " Sisil menunjuk Rima.
"Setahuku kamu tidak punya ibu?" tanya Shilla bingung.
"Papi Ku Kan sudah menikah dengan bunda Rima , dan sebentar lagi aku akan punya adik." terang sisil.
"Oo begitu rupanya, maaf aku tidak mengingat akan hal itu," ucap Shilla.
"Akira, insiden hilangnya dirimu yaitu saat pesta pernikahan Erwin dan Rima digelar saat itu." Bu Yuli ikut menyambung obrolan Sisil dan Shilla.
"Benarkah?" Akira.
Shilla terdiam ia berfikir memang banyak hal yang ia lupakan dan ia ingin mengingat semua kejadian yang pernah terjadi dalam hidupnya, Shilla merasa seperti orang linglung tidak mengingat tentang dirinya yang sebenarnya.
Ia merasa bingung, apa yang dikatakan oleh Anjai tentang orang-orang yang bersamanya saat ini, tidak sesuai dengan kenyataannya.
__ADS_1
'Aku harus tenang, setenang mungkin aku harus tau ucapan siapa yang benar, Anjai atau orang-orang yang sekarang sedang bersama ku saat ini." Akira membatin.