
Hari ini sesuai rencana yang telah disusun oleh Erwin, mengatur semua jadwal dan persiapan liburan untuk putri kecilnya.
Dan sesuai jadwal hari ini mereka akan mengunjungi salah satu tempat wisata di negeri tersebut.
Jepang merupakan negara besar yang memiliki kebudayaan yang maju, masyarakatnya terkenal dengan ketekunannya dan kemandiriannya.
Hal ini ni terbukti dari hasil karya anak bangsanya yang bisa terkenal di seluruh dunia, mulai dari peralatan rumah tangga, elektronik, dan segala macam kendaraan banyak yang berasal dari negeri Jepang.
Karena itu jepang juga menjadi salah satu destinasi wisata, sebab banyaknya tempat wisata di negara Jepang yang menakjubkan, yang dapat memukau pasang mata jika berwisata ke tempat-tempat tersebut.
Diantaranya tempat wisata anak di jepang yaitu, Fujiko F. Fujio Museum.
Di dalam museum ini terdapat semacam diorama di mana patung Doraemon dan teman-temannya berpose di ruangan yang sudah sangat familiar bagi pencintanya, seperti kamar Nobita dan lapangan bermain dengan tiga pilar besar.
Selain Doraemon, museum juga memajang karakter lain karya Fujiko F. Fujio.
*Jika di Indonesia seperti Museum Pak Raden atau Museum Gubug Wayang Mojokerto.
Museum Gubug Wayang Mojokerto abadikan karya seni tokoh antagonis Pak Raden serta berbagai koleksi wayang dari berbagai daerah. Museum Gubug Wayang juga menghadirkan boneka Unyil keluaran pertama hingga terakhir*.)
Di Fujiko F. Fujio Museum juga terdapat wisata kuliner yang menyediakan berbagai makanan bertema Doraemon seperti Dorayaki dan berbagai macam makanan lainnya.
Erwin sengaja mengajak putrinya berwisata ke tempat itu, karena menurut cerita yang Erwin dengar, Sisil sangat menyukai karakter Doraemon.
Sisil sangat antusias saat berkunjung ke sana sebab ia bisa melihat langsung properti dalam animasi Doraemon kegemarannya di museum tersebut.
Setelah puas berkeliling melihat dan memperhatikan semua benda yang ada di museum tersebut, mereka memutuskan untuk berwisata kuliner masih di area tersebut.
Sisil memesan Dorayaki makanan kesukaan Doraemon, begitu juga dengan Akira, memesan makanan yang sama seperti yang Sisil pesan.
Sedangkan yang lain memesa makan sesuai dengan selera mereka.
Sambil bersantai dan bercerita mereka menikmati makanan dan kebersamaan mereka.
Terutama Erwin, ia begitu senang setelah sekian lama terpisah dari keluarganya baru kali ini ia merasakan kebersamaan dan kehangatan seperti itu.
Meskipun Mama dan papa nya sesekali berkunjung untuk mengunjunginya sambil mengurus perekaman di sana.
Tapi Erwin tetap merasa hampa, karena itu Erwin enggan untuk menemui Sisil, pulang ke Indonesia.
Ia takut ia tidak bisa mengendalikan perasaannya yang merasa trauma mengingat kepergian sang istri yang sangat ia cintai.
Tapi apa yang terjadi sekarang, saat Erwin bertemu langsung dengan Sisil ia merasa sangat bahagia.
Tingkah sisil selalu mampu mengundang tawa dan senyum di bibir Erwin.
Tidak hanya Sisil yang membuat Erwin begitu bahagia, Erwin juga merasa senang dengan kehadiran Akira bersama mereka.
Karena Akiralah yang selalu memancing tingkah-tingkah menggemaskan Sisil.
Sehingga suasana menjadi lebih ramai, riang gembira.
Setelah selesai di sana mereka meneruskan wisata mereka ke tempat wisata berikutnya.
__ADS_1
"Bagaimana Sisil, apa kamu senang." tanya Erwin di dalam mobil saat dalam perjalanan menuju tempat wisata berikutnya.
"Iya pah, aku sangat senang." jawab Sisil dengan wajah berseri-seri.
"Sisil tidak capek sayang?" Kali ini Akira yang bertanya.
"Aku masih semangat Ante!" jawab Sisil lagi.
"Oke… kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan wisata kita." Seru Erwin penuh semangat.
Sedangkan Gian hanya diam, seperti sedang merasakan sesuatu.
Ya, Gian memang sedang merasakan rasa kesal karena mereka semua tidak peka dengan perasaannya.
Sebab mereka tidak memberi kesempatan kepadanya untuk berduaan dengan Akira.
Mereka terus saja menempel dengan Akira, terutama Sisil dan juga Erwin yang beralasan ingin dekat dengan Sisil, sedangkan Akira lah penghubung antara Erwin dan Sisil.
Karena itu Gian berubah mood menjadi sangat bete.
Dan itu terlihat ketika di dalam mobil selama dalam perjalanan.
Ia hanya diam tidak berkata apa pun, sedangkan Erwin, Akira, Sisil dan juga babysitter Sisil mereka bercerita, berbicara, bercanda, saling menimpali.
Gian kesal karena posisi duduk Akira dan dirinya terpisah.
Erwin yang mengemudi mobil, Gian duduk di sebelahnya.
Tapi Erwin meminta Gian untuk duduk di sebelahnya karena rasanya tidak pantas jika yang lain yang duduk di sebelah Erwin.
Saat di Fujiko F. Fujio museum sikap Gian masih bisa saja, karena saat itu ia masih bisa berdebat dengan Akira.
Tapi ketika perjalanan menuju tempat wisata berikutnya, barulah terlihat perubahan sikap Gian.
Erwin melirik ke arah Gian, lalu menegurnya, "Heh bro ada apa dengan mu, kenapa diam saja, apa kamu saryawan?" Erwin merasakan gelagat aneh dari sikap adiknya.
"Aku tidak apa-apa?" jawab Gian datar.
Dari situlah Akira baru memahaminya, jika Gian sedang merasakan rasa kesal.
Akira juga sudah bisa menebaknya hal apa yang membuat Gian seperti itu.
Meskipun Akira memahaminya tapi Akira tidak bisa berbuat apa-apa saat itu.
Erwin merasa belum puas mendengar jawaban dari Gian.
"Lalu kenapa kamu diam saja?" Erwin bertanya kembali.
"Aku hanya merasa lelah saja!"
"Om masa om kalah sama aku." Sisil malah merendahkan Gian.
Ucapan Sisil berhasil mengundang reaksi dari Gian karena Gian langsung berbalik badan dan melihat sisil dengan tatapan tajam.
__ADS_1
"Om marah sama aku." Sisil bukanya takut mendapat tatapan mematikan dari Gian ia malah bertanya seakan menantang Gian.
Sehingga terlihat jelas raut wajah Gian begitu marah kepada Sisil.
"Sisil… kamu tau cara berbicara sama orang tua?" Gian berucap mengingat Sisil dengan nada ketusnya.
Sisil sudah membuka mulutnya ingin menimpali ucapan Gian.
Tapi Akira menutup mulut Sisil dengan telapak tangannya untuk mencegah nya, karena Akira takut jawab Sisil akan membuat Gian makin kesal.
"Iya sayang… Sisil tau kok cara berbicara dengan orang tua, Sisil kan anak baik." Akira yang menyahuti untuk meredam emosi Gian.
Sisil paham dengan apa yang di lakukan oleh Akira, sehingga Sisil pun meminta maaf kepada Gian.
"Iya om Sisil minta maaf om." Kemudian ucap Sisil mengalah.
Erwin kembali melirik ke arah Gian, kemudian Erwin menepikan mobilnya.
Akira, Sisil, dan Ratna merasa bingung dengan sikap Kakak beradik ini, ada apa dengan mereka? Mengapa mereka bersikap aneh seperti itu.
"Kenapa berhenti?" Pertanyaan Akira mewakili pertanyaan yang lain.
Erwin tidak menjawab, ia malah bertanya kepada Gian, apa yang diinginkan oleh Gian.
Erwin tidak ingin melanjutkan perjalanan jika Anda orang yang merasa keberatan, meskipun Erwin lebih ramah dari Gian tapi Erwin orang yang tegas dalam segala hal.
"Lanjutkan saja, aku tidak apa-apa kok!" Sahut Gian.
"Apa kamu mau pulang duluan?" Tegas Erwin.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Erwin, Akira yang merasa cemas akan terjadi perselisihan antara kakak dan adiknya.
Emosi Gian akan meluap dan akan membuat suasana menjadi lebih kacau.
Akira segera mengambil keputusan, untuk membela Gian, agar emosinya tetap setabil, karena merasa senang Akira ada di pihaknya.
"Maaf jika kak Gian pulang, aku ikut dengan nya." Akira menimpali.
"Ante…!" Sisil keberatan.
"Oke… silahkan lanjutkan!" Gian tetap ingin perjalanan berlanjut.
Karena ia merasa Akira peduli dengannya dan itu membuatnya sangat senang.
( *Othor : Hhm… Abang Gian dasar egois, ya tetep aja egois, susah ya ngilangin siap jelek, meskipun, othor dah berusaha mau bikin Abang Gian berubah baik 😅
Abang Gian : Diem Luh Thor…! Baik buruknya aku tergantung kamu!"
Othor : Iya sih…😂
Abang Gian : makanya readers kalau mau hujat aku tuh hujat othor nya…!
Othor : mereka readers yang baik hati gak bakalan hujat aku…😝 Iyakan readers*?
__ADS_1