
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, menghabiskan waktu berjam-jam lamanya.
Kini mereka telah sampai di kediaman Papa Arga, mereka turun dari mobil.
Saat Rima ingin mengambil kopernya dari bagasi mobil, Gian menghentikannya.
"Rima …!"
Rima langsung berbalik melihat ke arah Gian, "Iya tuan …." sahut Rima.
"Sekarang kamu datang ke rumah ini sebagai menantu disini, jadi saya harap kamu bisa menyesuaikan diri kamu, dan jangan panggil aku Tuan lagi, karena sekarang aku adalah adik iparmu." Gian mengingatkan Rima.
Tapi semua perkataan Gian membuat Rima makin gugup untuk menghadapi situasi.
Gian juga melarang Rima untuk membawa kopernya. Gian malah menyuruh pak sopir untuk menurunkannya, lalu menyuruh ART lain untuk membawakannya ke kamar Erwin.
"Tidak usah, di bawa ke kamarku." sergah Erwin.
Dan itu membuat Rima ketakutan, ia merasa Erwin menolaknya. Hatinya begitu sedih tapi Rima sadar diri jika memang Erwin tidak dapat menerimanya sebagai istrinya.
Dengan raut wajah yang ditekuk Rima menundukkan wajahnya.
"Heh, sekarang dia itu istrimu, jadi sudah seharusnya dia tinggalkan di kamarmu." Gian mengingatkan Erwin.
"Tidak usah menggurui ku." Ketus Erwin lalu masuk kedalam rumah tanpa menggandeng Rima yang sekarang telah resmi menjadi istrinya.
Sementara Rima dan Gian masih mematung di teras rumah, Gian melirik ke arah Rima, Gian merasa tidak tega melihatnya di perlakukan seperti itu oleh Erwin.
Ya, Gian begitu karena sudah mengenal Rima sejak lama, sejak Sisil masih bayi Gian tau Rima orang baik, tulus mencintai dan menyayangi Sisil.
Jadi Gian merasa tidak sepantasnya Erwin bersikap seperti itu kepada Rima, padahal Rima sudah sangat berjasa karena telah merawat, dan mengasuh Sisil dari sejak Sisil masih bayi.
"Rima …."
"Iya Tuan." sahut Rima lirih.
"Kamu harus banyak bersabar ya, mungkin butuh waktu untuk Erwin bisa menerimamu sebagai istri sesungguhnya, ini tantangan untukmu Rima, kamu harus banyak belajar kepada Akira tentang kesabaran, kamu taukan? Seperti apa aku memperlakukannya dulu, sangat buruk lebih buruk dari yang Erwin lakukan kepadamu."
"Tapi berkat kesabarannya, kasih sayangnya , dia mampu meluluhkan kerasnya hatiku, aku malah sangat menyayanginya sekarang." Gian bicara apa adanya menyanjung istrinya dengan tujuan memotivasi Rima.
Rima tetap diam tidak menjawab, keren ia bingung harus menjawab apa, ia juga hanya menganggukkan kepalanya.
Rima tidak tahu bagaimana seharusnya menghadapi Erwin, mungkin lebih baik dia menikah dengan pemuda pilihan orang tuanya. Meskipun terpaksa dan tanpa cinta.
Setidaknya ia lebih bebas atau leluasa dalam bertindak, dia juga tidak merasa sendiri ada kedua orang tuanya yang bersamaannya. Mendukungnya.
Rima merasa terjebak dalam situasi, karena perasaannya kini merasa sangat tersakiti atas sikap Erwin kepadanya, yang tidak menganggapnya sebagai istrinya.
Gian menepuk bahu Rima, dan mencengkeramnya, sebagai isyarat bahwa ia mendukungnya, bahwa Gian ada di pihaknya. Gian seperti itu untuk menguatkan Rima, agar Rima bisa sekuat Akira.
Dan ketika itu Akira keluar dari dalam rumah untuk menyambut kepulangan suaminya.
Namun apa yang dia lihat, Gian sedang bersama Rima dan sedang memegangi bahunya.
"Sa … yang." suara Akira terpotong dan melemah saat melihat adegan itu.
Gian segera melepaskan tangannya, dan Gian terlihat sangat gugup.
Sedangkan Rima tetap berekspresi datar dengan wajah sedihnya.
"Nona Akira …." Rima menyapa Akira sambil membungkuk hormat.
Akira tersenyum kaku kepada Rima, membalas sapaannya.
"Ada apa, Yang?" Akira bertanya karena sikap Gian terasa sangat janggal.
Sebagai seorang istri yang mencintai suaminya, tentu akan merasa curiga dan cemburu, tiba-tiba melihat suaminya sendiri melakukan hal seperti itu kepada pegawainya.
Gian tau Akira telah salah paham, lalu Gian menyuruh Rima untuk masuk dahulu menemui Sisil di kamarnya.
__ADS_1
Sementara Gian akan menjelaskan yang sebenarnya kepada istrinya.
"Kamu ko gitu sih sama, Rima?" Akira mulai bertanya dan menunjukkan rasa cemburu dan kecurigaannya.
"Tenang, sayang … aku akan menjelaskan semuanya, Tapi kita masuk dulu."
Gian menggiring istrinya ke kamarnya, untuk berbicara dan menjelaskan keadaan Rima dan Erwin.
Setelah di dalam kamarnya, Gian memeluk tubuh Akira dari belakang tubuhnya.
"Aku kangen banget sama kamu." ucapnya.
Tapi Akira malah merasa tamba kesal kepada suaminya, "Kamu modus-in aku?" sahut Akira sambil memanyunkan bibirnya.
"Iih aku gemes banget deh lihat kamu cemberut seperti ini, kaya ikan … ikan apa ya namanya?" Gian malah sengaja menggoda istrinya yang sedang merajuk.
"Iih kamu jahat udah bikin aku sakit hati, memergoki kamu sama Rima, sekarang malah ngatain aku." Akira protes, dan makin kesel .
"Padahal tadinya aku udah antusias banget mau menyambut kedatanganmu." lanjut Akira, ia bicara seakan sangat sedih.
"Uuh … cayangnya aku, sorry, sorry ya bukan maksudku seperti itu, maafkan aku ya, Sayang…" Gian bicara seakan sedang membujuk anak kecil. Bicara seakan penuh penyesalan.
"Oke, oke, aku jelasin ya."
Dan Gian mulai serius untuk menceritakan perjalanannya, dan apa saja yang telah terjadi.
….
Sementara itu, Rima masuk ke dalam kamar Sisil.
Dan disana sudah ada mama Nirmala, papa Arga, Erwin dan juga seorang suster yang sedang menunggui Sisil yang kini masih terbaring lemas, Rima tidak menyangka keadaan Sisil bisa separah itu hanya karena berpisah dengannya.
"Sisil …." seru Rima
Dan itu mengalihkan fokus semua orang yang ada di dalam ruangan, semua mata tertuju padanya.
"Rima …." sahut Mama Nirmala.
Setelah mendekat, Rima menyentuh tangan Sisil, "Sisil sayang, kamu kenapa bisa seperti ini? maafkan mbak ya yang pergi begitu saja." Kemudian ucap Rima sambil menangis di saksikan oleh semua orang.
Erwin seakan muak melihat sandiwara yang sedang di mainkan oleh Rima, Erwin menganggap Rima seperti itu hanya ingin mendapatkan simpati darinya dan dari keluarganya.
Erwin tidak berpikir jika Rima memang menyangi Sisil merawat dan membesarkannya dari bayi sudah seperti anaknya sendiri.
Ia rela bergadang semalaman ketika Sisil rewel dan sakit, saat tumbuh kembangnya Rima lah yang mendampinginya.
Saat Sisil bisa merangkak, berjalan tumbuh gigi Rima yang mendampinginya. Dan banyak momen yang telah Rima lakukan bersama meskipun tidak ada hubungan darah antara Sisil dan Rima, seiring kebersamaannya dua puluh empat jam Rima habiskan setiap hari hanya untuk menemani sisil.
Sedangkan dia sendiri (Erwin) sebagai papinya telah melewatkan momen penting tunggu kembang putrinya sendiri.
Tapi kini di menganggap kasih sayang Rima itu palsu, hanya karena penilaiannya tentang Rima, yang tidak begitu ia kenal.
Dan malam menilai Rima mengemis perhatian dan cinta darinya.
Mendapat sentuhan dari Rima dan mendengar suara Rima .
Sisil langsung memberikan responnya, ia perlahan membuka matanya untuk memastikan bahwa orang itu benar-benar Rima.
Saat matanya terbuka meskipun belum bisa terbuka sempurna tapi Sisil bisa melihatnya dengan jelas, iya Sisil benar-benar melihat Rima di hadapannya.
"Mbak, jangan tinggalkan Sisil lagi …." ucap Sisil lirih.
Rima makin tersedu mendengarnya.
"Iya, sayang … mbak janji tidak akan meninggalkanmu lagi …." Rima menimpali sambil menangis.
Seulas senyum terbit di bibir Sisil ia begitu gembira, akhirnya orang yang paling berarti dalam hidupnya kini ia kembali lagi.
"Sisil harus sembuh ya nak!" Rima mengelus kepala Sisil dan menciumi tangan mungil Sisil.
__ADS_1
Suster mengecek kondisi Sisil setelah itu, dan semuanya mulai membaik, Sisil malah minta minum setelah bertemu dengan Rima.
Padahal sebelumnya untuk membuka matanya saja ia tidak sanggup.
Erwin membantu Sisil untuk duduk karena Sisil ingin minum, lalu Rima menyodorkan segelas air putih untuk Sisil, ia segera menyedot air minum itu melalui sedotan, dan segelas air putih itu hampir habis, mungkin saking hausnya Sisil.
"Wiiih … ternyata Sisil haus sekali ya?" Rima menggoda Sisil.
Sisil hanya tersenyum lesu, sebab kondisinya masih sangat lemah.
"Sekarang Sisil istirahat lagi ya!" Rima mengintruksi Sisil.
"Tapi mbak jangan pergi." Sisil takut Rima akan pergi meninggalkannya lagi.
"Iya, sayang … mbak janji kok!" Rima selalu berhasil membujuk Sisil.
Ia kembali ditidurkan ke posisi semula, dan mulai terlelap kembali, Rima tetap duduk di sampingnya setia menunggunya.
Karena tangan Sisil juga menggenggam erat tangan Rima. Dan ketika Sisil benar-benar terlelap genggam tangannya mengendur.
Barulah Rima bisa bergerak bebas, Rima berniat untuk merebahkan diri di tempat yang biasa dipakai untuknya beristirahat jika sedang di kamar Sisil.
Karena saat itu keluarga Papa Arga sedang berkumpul di ruang keluarga.
Baru saja Rima meletakkan kepalanya di atas bantal, baru saja merasakan kenyamanan bisa meregangkan otot-ototnya, dengan merebahkan tubuhnya.
Tiba-tiba Erwin masuk dan memintanya untuk keluar berkumpul bersama keluarganya yang lain.
"Rima …." seru Erwin
Dan itu membuat Rima kembali bangkit dari tidurnya. "Iya Tuan …." sahut Rima gugup.
"Bisa keluar sebentar, Mama dan Papa ingin bicara denganmu!"
Deg … jantung Rima serasa di hantam benda keras, karena merasa syok akan menghadapi Nyonya besar dan Tuan besarnya.
Dan kini sudah beralih menjadi mertuanya.
"Apa yang akan mereka bicarakan ya, kira-kira?" Rima cemas dan membatin.
Tapi Rima tetap berusaha untuk tenang menghadapinya, "Iya, baik Tuan." Rima patuh, lalu bangkit dan mengekor di belakang Erwin yang lebih dulu berjalan di depannya.
Saat tiba di ruang keluarga, semua sudah berkumpul termasuk Akira dan juga Gian.
Rima kini sudah berada di hadapan mereka.
Rima sungguh tegang, ia juga sampai kesulitan menelan salivanya karena rasa yang ia rasakan begitu gugup.
"Apa lagi salahku hingga aku akan di sidang seperti ini." batin Rima yang merasa sangat lelah.
Rima berdiri di hadapan seorang, sedangkan mereka tengah duduk di sofa.
Semua mata tertuju kepadanya.
"Rima, ayo duduk." perintah Mama Nirmala .
"Tidak usah Nyonya, saya berdiri saja." Rima menolak, ia merasa tidak enak hati jika harus duduk bersama mereka, karena memang sebenarnya ada jarak antara Rima dan majikannya.
Rima orang sangat sadar diri, meskipun para majikannya baik hati tapi Rima tau untuk bersikap.
Dan saat Mama Nirmala mimpinya untuk duduk Rima engga menurutinya, karena sudah kebiasaan dari awalnya.
Gian menatap Erwin, dan dibalas oleh Erwin dengan kembali menatap Gian.
Gian memberi isyarat kepada Erwin agar menggiring Rima ikut duduk bersama mereka.
Erwin mengerti dan kemudian ia bangkit dan menggiring Rima duduk di sebelahnya.
"Tidak usah sungkan Rima, sekarang kami ini keluargamu, bukan lagi majikanmu." Mama Nirmala menegaskan agar Rima lebih rileks berkumpul bersama mereka.
__ADS_1
Dan ternyata Gian dan Erwin sudah menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya perihal pernikahan Erwin dengan Rima.
Dan itu alasannya mengapa keluarga memanggilnya, mereka ingin membahas pernikahan yang mendadak tersebut antara Rima dan Erwin.