
"Aku ingin bicara dengan mu, aku ingin membuat perhitungan denganmu!"
"Apa maksudnya?" Akira makin bingung mendengar ucapan Gian yang ingin membuat perhitungan dengannya.
…
Gian bangun dari duduknya lalu menghampiri Akira.
Aura kemarahan terpancar dari wajah Gian, Matanya merah, tatapan tajam setajam pisau, urat-urat di wajah menonjol.
Akira merasa sangat takut melihat ekspresi Gian seperti itu.
Akira sampai merasa gugup, ia sampai sulit menelan Salivanya.
"Waah gawat, celaka aku…! Tapi kenapa dia?" batin Akira.
"Gara-gara kamu aku rugi besar, aku kehilangan tender besar." Kemudian ucap Gian setelah mendekat di hadapan Akira.
"Aku,,,!" sahut Akira sambil menunjuk dirinya.
"Apa yang aku lakukan?" tanya Akira bingung.
"Karena kamu dan tim mu, yang menghambat perjalanan ku menuju pertemuan penting, aku jadi terlambat datang, dan mengalami kerugian, sebab tender besar bernilai milyaran yang seharusnya jatuh ke tangan ku lepas begitu saja karena aku datang terlambat." Terang Gian penuh penekanan.
"Loh,,, bukan salah kami dong, kami sedang menjalankan tugas demi keamanan masyarakat." Akira membela diri.
" Tapi itu merugikan ku…!"
"Aku sebagai suamimu, aku ingin kau berhenti dari tugas atau profesi mu itu." lanjut Gian dan mengambil keputusan untuk Akira.
"Wah mana bisa begitu, itu tidak masuk akal!" Akira merasa keberatan.
"Ini sudah keputusanku dan ini perintahku. Aku sudah menyuruh anak buah ku untuk mengurus masalah ini, pengajuan pensiun dini untuk dirimu." tegas Gian.
"Apa-apa ini, mana bisa begitu, aku tidak mau! aku akan tetap melaksanakan tugas ku, ini profesi ku, impian ku, ingin jadi seperti ini Aku butuh banyak pengorbanan." terang Akira tidak mau kalah.
"Lalu apa-apaan kamu, dengan mudahnya kamu minta aku untuk untuk pensiun dini begitu saja…!"
"Silahkan membangkang, tapi ingat kesehatan dan keselamatan orang tuamu kamu itu yang akan jadi taruhannya, Aku tidak main-main dengan ucapan ku." Ancam Gian agar Akira mengikuti semua apa katanya.
Mendengar ancaman Gian Akira tidak bisa berkutik lagi, ia tidak mampu melawan lagi.
"Apa untung untuk mu berbuat seperti ini kepada ku?" Tanya Akira dengan nada lirih.
Akira sangat sedih dipaksa untuk pensiun dini.
Padahal untuk mencapai cita-citanya ingin menjadi polwan bukan sedikit rintangan yang harus Akira lewat.
__ADS_1
Tapi dengan mudahnya Gian melakukan hal itu kepadanya.
Gian memang sengaja melakukan hal itu, karena ini membuat Akira merasa sedih dan tertekan.
"Aku tidak mencari keuntungan darimu, aku hanya ingin mencari kepuasan dari rasa kecewa mu, dan rasa sedih mu!" Gian menjawab pertanyaan Akira.
"Apa salahku sehingga kamu berbuat seperti ini kepada ku, sehingga kamu ingin menyiksaku?" tanya Akira penuh kesedihan.
"Salah mu, telah menjadi adik si penghianatan Shafira, dan dia dengan suka rela memberikan mu sebagai tumbalnya." Ketus Gian.
"Hhmm (senyum sinis Gian) dengan senang hati aku menerimanya, dan aku tidak ingin menyia-nyiakan hal itu, tidak mungkin aku akan menjadikanmu ratu setelah apa yang telah kakakmu lakukan kepada ku." terang Gian.
"Tapi itu tidak adil bagi ku…!" Suara Akira melemah penuh kesedihan dia pun menahan tangisnya.
Mendengar kata-kata Gian yang menyakitkan, hati Akira bagaikan di iris sembilu,,, sudah luka tersiram air garam.
Sudah sakit karena di paksa pensiun dini harus mendengar kata-kata pedas pula dari mulut Gian.
Tapi Akira berusaha untuk tetap tegar walaupun itu semua sungguh sangat menyakitkan baginya.
Jika Akira terlihat rapuh Gian akan merasa senang dan sangat puas.
Jadi sebisa mungkin Akira tidak mengeluarkan air mata sedikit pun.
Di saat yang bersamaan Sisil berlari ke arah Akira sambil menyerukan panggilannya untuk Akira.
Akira langsung berbalik melihat ke arah Sisil, lalu berakting seperti tidak ada masalah dengan nya.
Karena Akira tersenyum kepada Sisil dan menyambut kedatangan Sisil yang berlari menghampirinya.
Akira merentangkan kedua tangannya, lalu memeluk tubuh mungil sisil menciuminya dan menggendongnya.
"Sisil sayang udah makan belum?" tanya Akira penuh perhatian.
Belum juga Sisil menjawab, baby sitter nya lah yang menjawab pertanyaan Akira, "Belum non…! Sisil belum makan."
"Loh kok! ini kan dah sore kok Sisil belum makan siang?" Akira menegaskan pertanyaannya kenapa Sisil.
Kali ini Sisil yang menjawab, "Aku tidak lapar anteu.!"
Baby sitter nya pun angkat bicara, "Nah itu non alasannya dia sama sekali gak mau makan meskipun sudah saya bujuk berulang kali." Sang pengasuh menjelaskan, karena ia takut di salah kan.
Akira mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang pengasuh.
Akira menatap wajah Sisil dengan raut muka yang ditekuk, sebab tidak suka dengan sikap Sisil yang tidak mau makan.
"Anteu kenapa…?" tanya Sisil, melihat wajah Akira, yang sebenarnya memang sedang merasakan kesedihan bukan karena hal itu saja melainkan sedih atas sikap om nya, yaitu Gian.
__ADS_1
"Anteu gak suka Sisil telah makan seperti ini, nanti kalau Sisil masuk angin terus sakit gimana, anteu sama yang lainnya kan jadi sedih kalau Sisil sakit," Akira memberi pengertian.
Sisil langsung memahami apa yang diucapkan oleh Akira, "Iya anteu Sisil minta maaf, Sisil nakal." Sisil menyadari kesalahannya.
"Oke sekarang ayo kita makan…!" Ajak Akira.
"Tapi anteu yang suapin Sisil makan." Pinta Sisil.
"Oke, siapa takut…!" Jawab Akira, berlalu sambil mengendong Sisil dalam pelukan nya, meninggalkan Gian yang masih memaku di sana.
Gian sedikit takjub melihat sikap Akira, kepada Sisil yang sama sekali tidak menunjukkan kesedihannya atas tindakan yang telah ia lakukan.
Gian pikir Akira akan bersikap cuek dan tidak mempedulikan Sisil karena sedang merasakan kesedihan dan rasa sakit hati atas tindakannya.
Tapi pada kenyataannya Akira malah bersikap begitu baik, penuh kasih sayang dan perhatian kepada gadis kecil yang ia sayangi itu.
…
Di meja makan, Gian melihat Akira sedang menyuapi keponakannya, sambil bercerita mengundang tawa ceria dari gadis kecilnya.
Tapi sesekali Akira termenung, menapak wajah sendunya, ia tidak dapat menyembunyikan seratus persen kesedihannya.
Gian melihat itu semua, ketika Gian Hendak masuk ke kamar nya ia melintasi Akira dan Sisil di meja makan.
Kemudian Sisil memanggilnya, "Om…!" seru Sisil berhasil menghentikan langkah Gian.
Lalu Gian berbalik ke arah Sisil, "Ada apa sayang…!" sahut Gian.
Sisil langsung berlari menghampiri om nya, lalu menarik tangan Gian menuju meja makan.
"Kenapa saya, ada apa?" tanya Gian yang enggan mengikutinya.
"Sini om… temenin Aku makan,,,!" Sisil tetap memaksa dengan terus menarik tangan Gian.
"Om lagi sibuk sayang, lagian kan sudah ada anteu baik yang menemani mu…!"
"Aku ingin om juga ikut menemaniku…!" kali ini sisil bicara penuh emosi, sepertinya ia mulai ngambek, karena Gian mencoba untuk menolak keinginannya.
Karena melihat gelagat Sisil yang seperti itu, akhirnya Gian mengalah agar Sisil tidak merajuk, "Oke, oke… om akan menemani mu.
Lalu Gian duduk di sebelah Sisil yang berada di antara Akira dan Gian.
Akira begitu gugup, rasa kecewanya dan sakit hatinya makin terasa di hatinya ketika Gian duduk bersamanya.
Dengan ekspresi wajah yang sendu dan penuh kebencian terhadap Gian, Akira berusaha membuang muka dan pandangannya, menghindari kontak mata dengan Gian, agar ia tidak terpancing emosi.
Gian pun begitu canggung ketika itu, karena ia harus berakting sok baik dan sok manis di depan Akira, untuk menghindari pandangan Sisil tentang hubungannya dengan Akira yang sebenarnya seperti apa.
__ADS_1
Tapi ketika Sisil bicara kepada keduanya mereka pura-pura tersenyum dengan senyuman yang dipaksakan agar Sisil tidak merasa curiga dengan perseteruan antara mereka berdua.