
"Tidak usah berbohong Mbak, saya juga perempuan, jadi saya tau seperti apa perasaanmu meskipun kamu menyangkalnya, menurut saya itu hal yang wajar ko." Ternyata Akira malah mendukung Rima.
Mendengarnya Rima merasa sedikit lega, jadi Akira tidak berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
Tapi Rima merasa malu pasalnya ia jadi ketahuan kalau dirinya memang menyukai Erwin, Akira bisa melihat dari sikap Rima yang terlihat gugup, dan ketika Rima memandangi Erwin dan Lisa, terlihat sekali jika Rima sedang merasa cemburu.
"Tidak usah malu Mbak, dia itu suamimu jadi wajar dong Mbak merasa cemburu juga," Akira bicara memberi dukungan kepada Rima.
Tapi Rima semakin gugup dibuatnya, ingin menyangkal tapi tidak bisa, dan akhirnya dia hanya bisa diam.
"Mbak jangan diam saja, lakukan sesuatu, buat suamimu terkesan denganmu, jika dirimu diam dan menjaga jarak dengannya, mana tau suamimu jika dirimu mencintainya." Akira sebenarnya sedang memancing jawaban dari Rima, ia ingin tahu mengapa Rima bersikap menutup diri, menjaga jarak dengan Erwin yang jelas-jelas sudah menjadi suaminya.
Apakah Rima benar-benar tidak mencintainya? Apa Rima menyesali pernikahannya dengan Erwin.
Akira bukan ingin ikut campur, ia hanya tidak mengerti melihat sikap Rima yang sampai berani menentang mertuanya.
Padahal Mama Nirmala sudah bicara secara baik-baik dan mendukung pernikahan mereka.
Mama Nirmala, sempat meminta Rima untuk bersikap selayaknya istri bagi Erwin, dengan tidur di kamar Erwin, dan tidak usah lagi jadi babysitter untuk Sisil, cukup memperhatikannya saja.
Karena Mama Nirmala akan mencari pengganti Rima menjadi babysitter Sisil, tapi tetep atas pengawasan Rima.
Saat itu Rima menolak semua ucapan Mama Nirmala, dan tetap bersikap sebagai babysitter Sisil.
Ya, Rima seperti itu bukan tanpa alasan, karena Erwin dari sendiri tidak pernah ada pernyataannya seperti yang diucapkan oleh Mama Nirmala, dan Erwin malah menolak saat Gian memerintahkan koper Rima di bawa ke kamar Erwin.
Itu yang membuat Rima bersikap seperti itu, ia menjadi patah hati dan sadar diri, lalu bisa memahami apa sebenarnya tujuan dari pernikahannya, mengapa Erwin menikahinya.
Akira juga ingin membantu Rima, jika Rima ingin berpisah atau ingin bersama dengan Erwin, karena Akira merasa kasihan kepadanya.
Sebab Akira melihat Rima seperti tersiksa dengan keadaan, ia terlihat lebih pendiam dan murung.
Ucapan-ucapan Akira akhirnya bisa memancing Rima.
Rima tertunduk, dan terlihat sendu, membuat Akira merasa lebih kasihan dari sebelumnya, "Hey, Mbak! Kamu kenapa kok sedih begitu?"
"Sebenarnya saya minder Nona," kemudian jawab Rima dengan nada sendu.
__ADS_1
Akira dapat mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Rima, tapi Akira jadi tau apa yang harus ia lakukan.
"Mbak Rima boleh bicara berdua?" Akira ingin bicara lebih serius dengan Rima.
Rima mengangguk, menyetujui keinginan Akira. Karena Sisil juga sedang bersama kakek, dan neneknya, jadi Rima tidak usah mengkhawatirkan Sisil, jika butuh sesuatu baik Sisil dan kakek, Neneknya bisa memanggilnya.
Akira mengajak Rima bicara di teras depan rumah.
"Mbak, kita bicara sebagai saudara ipar atau sebagai teman, jangan sungkan, dan tolong jangan panggil saya Nyonya," Akira mengingatkan Rima sebelum ia bicara lebih lanjut.
"Tapi saya tidak bisa Nona, saya sudah terbiasa memanggil anda dengan sebutan Nona," Rima merasa canggung.
"Lah, itu sebabnya kita tidak bisa akrab sebagai ipar, atau sebagai teman jika seperti itu." ucap Akira.
Rima hanya mengangguk memahami, lalu ia terdiam kembali.
"Mbak Rima cobalah untuk merubah semua sesuai porsinya, sebelum Mbak merasa menyesal setelah kehilangan kesempatan sebelum Mbak mencobanya." Akira kembali berbicara membujuk Rima.
"Ya, lalu saya harus bagaimana?" Rima meminta pendapat Akira.
"Maaf aku mau nanya dulu, Mbak Rima lulusan apa?" Akira ingin tau kepribadian Rima.
"Oo … baiklah, kalau begitu Mbak Rima harus buang dulu rasa minder Mbak Rima."
"Mbak, harus percaya diri dulu, bikin kak Erwin tertarik sama Mbak, dan nyaman ketika bersamamu, setelah itu cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika Mbak sudah bisa membuatnya nyaman," saran dari Akira.
"Tapi apa pantas aku jadi pendampingnya, dia terlalu sempurna untukku, bagaikan langit dan bumi, jadi aku tidak pernah berharap terlalu tinggi, aku takut jatuh," Rima bicara dengan nada sedih.
Akira mengerti dengan apa yang dirasakan dan yang dipikirkan oleh Rima.
Tapi Akira tetap berusaha untuk membangun kepercayaan diri Rima.
Akira juga memberikan terik-terik kepada Rima untuk berubah, mulai dari cara berpakaian, agar Rima membiasakan diri untuk melepaskan atau untuk tidak lagi menggunakan seragam babysitternya sesuai dengan apa yang pernah mama Nirmala perintahkan.
"Iya, tapi apa mungkin tuan Erwin akan tertarik kepadaku, hanya dengan itu?" Rima tidak yakin.
"Oke, pelan-pelan saja Mbak, tidak hanya itu Mbak Rima bisa berubah dengan cara ber-make up juga," Akira menambahkan sarannya.
__ADS_1
"Aah, aku tidak berani untuk itu, nanti aku disangka keganjenan lagi," Rima tidak ingin Erwin salah paham kepadanya.
Akira tersenyum mendengar ucapan Rima, "Ya, tidak usah menor-menor juga Mbak, bersikap sewajarnya saja, kalau terlalu over ya siapapun bakal ilfil-lah, mbak!" Akira menimpali.
"Tapi aku bingung harus seperti apa?" Rima merasa serba salah.
"Nanti aku bantu Mbak." Akira mendukung hubungan Rima dan Erwin."
Di Tengah-tengah perbincangan mereka, tiba-tiba hadir Erwin dan Lisa, memutus perbincangan mereka, Lisa hendak pamit jadi dia memang mencari Akira, ia akan berpamitan terlebih dahulu kepadanya.
Dan memang kebetulan Akira ada di teras luar, "Ra, aku pulang dulu ya."
"Loh ko, buru-buru banget!"
"Nggak juga, ini malah kelamaan, nanti lah aku nginep kalau dah jadi sama mas Erwin." Lisa sengaja berbicara seperti itu ingin memancing reaksi dari Erwin dan Rima.
Erwin tersenyum senang merasa terhibur dengan gurauan Lisa, tapi beda halnya dengan Rima, ia malah terlihat kepanasan wajahnya merah padam, tapi ia tetap diam tanpa ekspresi.
Akira merasa tidak enak hati kepada Rima, mendengar gurauan Lisa.
"Eeh, gak boleh ngomong begitu, sekarang kak Erwin sudah ada yang punya," Akira mengingatkan Lisa dengan nada bercanda pula.
"Uuups, (Lisa menutup mulutnya) eeh, story Mbak Rima aku cuma bercanda, selamat ya atas pernikahan kalian, di jaga ya suaminya! soalnya banyak yang mengincar loh, lengah sedikit kamu bisa kecolongan." Lisa makin menggoda Rima, dengan sindirannya.
Tapi Rima sendiri tidak bisa marah, ia tetap diam tapi kali ini Rima terlihat tersenyum meskipun senyumnya terlihat di paksakan.
'Ini waktunya, aku bersikap seperti yang Nona Akira maksudkan." Rima bicara dalam hati dan berniat menimpali Lisa dengan cara elegan.
Iya, Rima memberanikan diri untuk itu, "Ooo iya, Nona Lisa, jika tidak bercanda pun tidak apa-apa, saya malah merasa bersalah merasa telah merebut mas Erwin dari anda,"
Lisa dan Erwin tercengang akhirnya Rima bersuara juga.
"He … he … he …!" Lisa malah cengengesan.
"Jadi maksudnya apa nih? Kenapa mbak Rima minta maaf kepada saya?" Lisa malah mendesak Rima.
"Ya, jika kalian saling mencintai, silahkan saja, saya tidak ingin jadi penghalang di antara kalian berdua." terang Rima.
__ADS_1
"Waw … istri yang baik, mengizinkan suaminya berdekatan atau menjalin hubungan dengan wanita lain?" Lisa malah membuat hati Rima memanas.
"Apa itu artinya kamu tidak mencintai atau tidak menginginkan mas Erwin? tapi menurutku itu mustahil, kamu munafik kalau kamu bicara seperti itu, lihat mas Erwin ini! dia tampan, ber-uang, baik hati pokoknya dia lelaki sempurna dipandang wanita dari arah manapun, jadi mustahil kamu tidak menyukainya." Lisa bicara seakan merendahkan Rima yang hanya seorang babysitter bisa menjadi pasangan Erwin.