
"Ya, kalau tidak dijodohkan kapan saya menikahnya tuan, orang tua saya sudah tidak sabar lagi ingin melihat saya menikah, sedangkan saya sendiri sampai saat ini tidak punya teman lelaki apa lagi pacar he … he …" Rima malah cengengesan menutup perasaannya yang kacau balau saat itu, tapi ia berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Agar ia bisa pergi dengan mudah dari sana, ia ingin melupakan semua, perasaannya kepada Erwin yang semakin hari semakin membuatnya serba salah, dan pada akhirnya ia akan tetap sakit hati bahkan akan lebih parah rasa sakit hatinya.
Maka untuk itu Rima memilih untuk pergi dan menuruti keinginan kedua orang tuanya.
…..
"Baiklah Rima jika itu sudah menjadi keputusanmu, kami tidak bisa mencegah-mu lagi, tapi seharusnya kamu memberi sedikit waktu, setidaknya sampai kami mendapat penggantimu terlebih dahulu." Akhirnya dengan terpaksa Mama Nirmala dan Papa Arga memberikan izin untuk Rima pergi.
Tapi ketika itu, hati Rima terasa sangat sakit, ternyata ini akhir kebersamaannya bersama keluarga papa Arga.
Dengan berat hati Rima harus meninggalkan Sisil, anak yang telah ia rawat sedari bayi dengan penuh kasih sayang, harus ia tinggalkan untuk selamanya, entah bisa bertemu kembali atau tidak.
Rima pamit kepada semuanya, Rima memeluk dan mencium Sisil, untuk yang terakhir kalinya.
"Maafkan mbak Rima ya, Sisil sayang … Sisil harus janji sama mbak Rima gak boleh nakal ya, mbak pamit ya sayang …." Itu kata-kata terakhir Rima untuk Sisil.
Sisil menangis sejadi-jadinya, ia memberontak berusaha berlari untuk mengejar Rima.
Rima segera pergi karena ia pun tidak sanggup untuk melihat Sisil menangis meronta-ronta tidak ingin ia tinggalkan.
Padahal Rima sendiri tidak pernah berpikir akan berpisah secepat itu dengan Sisil.
"Maafkan mbak ya Sisil sayang …." gumam Rima ketika dalam perjalanannya.
Tiba-tiba Rima teringat Akira, hanya Akira yang bisa menangani Sisil menurut Rima.
Dan ia segera menghubungi Akira ketika mengingat hal itu, sebab Rima tahu betul kebiasaan Sisil, jika sudah seperti itu Sisil pasti akan jatuh sakit.
Rima segera merogoh tasnya untuk mengambil ponselnya, lalu segera menghubungi Akira.
Akira masih bermanja-manja dengan suaminya, tiba-tiba terdengar ponselnya berdering.
Gian langsung meraih ponsel itu dan memberikannya kepada Akira.
"Rima …. " ucap Akira ketika terlihat nama Rima yang tertera di layar ponselnya.
Tanpa menunggu waktu lama, Akira segera mengangkat panggilan telepon dari Rima.
"Halo, mbak Rima." sapa Akira tanpa basa-basi lagi, karena Akira memiliki firasat buruk mengenai masalah kemarin.
Dan benar saja apa yang di khawatir oleh Akira, belum juga Rima menjawab sapaannya, Akira sudah bisa mendengar kalau Rima sedang menangis.
Dan itu membuat Akira penasaran, dan merasa resah apa sebenarnya yang terjadi, sedangkan Rima belum juga menjawab dan terdengar terus saja menangis.
"Halo … mbak Rima, kamu kenapa?" Akira mengulanginya lagi.
Rima menarik nafas panjang lalu menghempaskannya secara perlahan untuk mengontrol emosinya yang sedang merasa sangat sedih.
__ADS_1
"No-na A-kira …." kata-kata Rima terbata Sebab saking pilunya ia menangis hingga ia Sulit untuk berkata-kata.
"Iya, ini saya ada apa, apa yang terjadi?" Akira menjadi panik.
"No-na, saya hanya ingin menitipkan Sisil kepada anda, tolong jaga dia, dan bujuk dia agar tidak lagi menangisi-ku." ucap Rima makin membuat Akira tidak mengerti.
"Iya, sebenarnya ada apa, saya belum mengerti, apa yang kamu maksudkan?" tegas Akira.
"Nona saya, sudah resign jadi babysitter Sisil, saya juga sudah keluar dari rumah, tapi Sisil menangis dan meraung-raung mencegah kepergian saya, saya sungguh tidak tega melihatnya, tapi saya tetap harus pergi." Rima menjelaskan dengan deraian air mata.
"Astaghfirullah … kenapa harus resign dan pergi mbak, kan bisa dibicarakan dengan baik-baik." Akira sudah dapat menebak apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf Nona, saya sudah tidak bisa bertahan lagi, mohon maafkan saya, Nona jika saya memiliki kesalahan tolong maafkan saya, tolong sampaikan juga permohonan maaf saya kepada Tuan Gian, saya pamit undur diri." Lalu Rima mengakhiri sambungan teleponnya.
Akira hanya mematung setelah Rima menutup teleponnya.
"Kenapa, yang … ada apa dengan Rima dan Sisil?" Gian mencecar Akira dengan pertanyaannya sebab ia juga merasa penasaran sedari tadi.
"Kita harus segera ke rumah Mama sekarang juga, untuk menemui Sisil." jawab itu yang keluar dari mulut Akira.
"Iya, tapi kenapa, ada apa, apa yang terjadi kepada Sisil, yang." Gian ingin jawab yang lebih detail.
"Rima tiba-tiba resign, dan Sisil tidak siap untuk ditinggalkan olehnya, Sisil meraung-raung mencegah kepergian Rima tapi Rima tetap pergi, itulah mengapa Rima menghubungiku, memintaku untuk menangani Sisil." Akira menjelaskan kepada Gian.
"Apa penyebab Rima resign?" tanya Gian lagi.
"Ya, sudah ayo kita segera kesana …." kemudian ajak Gian.
Lalu Gian membantu Akira untuk bersiap kemudian barulah mereka pergi untuk menemui Sisil.
Tapi sebelum itu seperti biasa Akira dan Gian pamit terlebih dahulu kepada orang rumah.
Orang rumah mengizinkan Akira untuk pergi, tapi mereka berpesan agar akira hati-hati untuk tetap menjaga kondisinya.
….
Selang beberapa waktu, Akira dan Gian sampai di rumah orang tua Gian, mereka segera masuk dan mengucap salam.
"Assalamu'alaikum …."
"Waalaikumsalam …. " sahut mereka serentak.
Mereka masih membujuk Sisil yang masih menangis histeris.
"Sisil …!" Seru Akira.
Sisil segera berlari ke arah Akira ketika melihatnya.
"Antue …." Sisil langsung memeluk Akira dan mengadu kepada Akira tentang Rima yang telah pergi meninggalkannya.
__ADS_1
Padahal Akira sudah tau semuanya, bahkan Akira juga tau apa penyebabnya.
Tapi Gian yang malah merasa cemas dan ketakutan , ketika melihat sisil berlari dan menubruk tubuh Akira.
Gian takut Sisil akan menyakiti Akira dengan pergerakannya.
"Sisil hati-hati ya, lihat perut antue …" Gian mengingatkan Sisil sambil menunjuk perut Akira yang membuncit.
Gian merasa ngeri-ngeri sedap ketika ada yang mendekatinya, Gian merasa takut ia teringat balon yang gampang meledak.
Padahal perut Akira baik-baik saja dan memang seperti itu lah perut ibu hamil.
Akira tidak dapat menggendong Sisil, ia hanya mengelus kepalanya.
Dan menggiringnya ketempat duduk, barulah Akira memeluknya, dan menenangkannya.
"Sisil sayang … tidak boleh menangis seperti ini, nanti Sisil kecapean loh, terus sakit lagi."
"Biarin Sisil sakit, mbak Rima juga gak sayang sama Sisil dia pergi ninggalin Sisil, hiks … hiks …."
"Kan masih banyak yang sayang sama Sisil, ada antue, om Gian, kakek, nenek sama papi juga semua sayang sama Sisil."
"Dah jangan nangis ya." Akira membujuk Sisil.
Perlahan Sisil mulai bisa dikendalikan, tangisnya juga perlahan mereda.
Setelah sekian lamanya ia menangis tiada henti, menguras energinya, sehingga Sisil merasa lemas kecapean, lalu ia pun tertidur dalam pelukan Akira, dengan air mata yang masih tersisa di kelopak matanya, dan di sudut matanya.
Dengan wajah dan hidung yang memerah menyisakan bekas tangisnya.
"Kasih sekali Sisil …" gumam Akira tidak tega melihat kondisinya seperti itu.
Gian segera mengambil Sisil untuk memindahkannya dan menidurkannya di kamarnya.
Sedangkan yang lainnya masih berkumpul untuk membahas tentang masalah ini.
Mama Nirmala meminta Akira dan Gian untuk sementara waktu agar tinggal di sana menemani Sisil.
Karena Sisil akan sangat terpuruk merasa kehilangan Rima, yang sudah seperti ibunya sendiri bagi Sisil, karena telah merawat Sisil sejak ia masih bayi, seperti sudah mendarah daging.
....
Bagaimana kisah selanjutnya?
simak terus ya di cerita selanjutnya....
Jangan lupa dukungannya ya, tinggalkan jejakmu dengan cara like, vote, komen, subscribe, serta bintang limanya ya ...
Terimakasih 🫰🫰🫰
__ADS_1