
Erwin tersenyum simpul, ternyata Rima dapat membaca niatnya untuk menggoda dirinya, Erwin begitu karena ketika tangan Rima menggerayanginya, walaupun hanya sekedar membantunya melepas pakaian , tapi sentuhan kulitnya dan kulit Rima yang bergesekan meminumkan desiran panas dalam diri Erwin, tanpa di sadari sang junior pun sudah berdiri tegak dengan sempurna.
"Astaga …." Seru Rima, ia memalingkan wajahnya dan ingin segera pergi. Karena melihat Junior Erwin yang sudah menegang dengan ukuran yang lumayan besar.
Namun Erwin mencengkeram tangan Rima, menghalau dengan berdiri di hadapan Rima agar Rima tidak dapat keluar dari sana.
Rima sangat terkejut atas perlakuan Erwin yang seperti itu, bukan karena Rima tidak mau melayaninya sebagai istri. namun karena Rima merasa tidak enak hati jika melakukan olahraga pagi di saat sekarang ini.
Karena di luar kamar mandi ada beberapa orang yang sedang menunggu mereka, menurut Rima rasanya tidak etis berhubungan sedangkan di luar ditunggu orang maka dari itu Rima menolaknya.
Namun Erwin ingin memaksa Rima untuk melakukan pemanasan olahraga pagi,
"Sayang sebentar saja"
"Nanti ya, kalau sudah sampai di rumah lihat di sini ada Sisil, aku tidak bisa melakukan hal ini sementara ada Sisil menunggu." Rima memberi alasan.
Erwin sedikit kesal mendengar penolakan dari Rima, "kamu tidak mencintaiku, makanya kamu menolak dan meninggalkan ku."
Rima yang sudah akan melakukan keluar dari kamar mandi itu, kembali berbalik dan melihat wajah suaminya yang cemberut, Rima kembali menghampirinya, tapi Erwin membuang wajahnya menghindari tatapan istrinya.
"Tuan, ngambek ya? dih udah kaya Sisil aja, pake acara ngambek segala," Rima dengan santainya menggoda suaminya, tapi Erwin tetap diam dan memalingkan wajahnya.
"Hey, sini dong," Rima memalingkan wajah Erwin agar menghadap ke arahnya.
Namun Erwin tetap berpaling dan akhirnya Rima menjinjit-kan kakinya, untuk mencium pipi suaminya, yang sedang merajuk.
Setelah mendaratkan satu ciuman di pipi suaminya Rima tersenyum malu, tapi itu siasat untuk merayu suaminya yang sedang bersikap manja seperti layaknya anak kecil.
Memang berhasil siasat yang di pakai oleh Rima, sebab Erwin segera menoleh menghadap ke arah Rima, dan menatap wajah Rima yang bersemu merah.
Tanpa membalas senyuman atau pun berkata, Erwin menyodorkan sebelah pipinya lagi, sebagai isyarat bahwa meminta kecupan yang sama di sana.
Rima mengerti dan langsung melakukan, tak sampai di situ Erwin juga sedikit menekuk lututnya, mensejajarkan tinggi badannya dengan istrinya agar Rima dapat mencium keningnya.
Meskipun tanpa kata, Rima paham apa yang diinginkan suaminya, jika hanya sekedar Kiss Rima masih bisa melakukannya, tapi kalau lebih dari itu, Rima menolak karena merasa kurang pantas melakukan hal itu di sana saat ini.
Erwin malah membalas Rima dengan menghujani wajah Rima dengan ciuman menggemaskan darinya, bukan cuman penuh nafsu, karena Erwin juga mengerti apa yang Rima pikirkan, Erwin begitu karena sengaja ingin menggoda Rima, ternya Rima memang bukan wanita gampangan yang tidak mengenal tempat waktu atau situasi untuk bercinta.
Rima mendorong tubuh polos suaminya, agar sedikit menjauh darinya, karena Erwin Terus saja nyosor menciuminya.
"Eeh, ini kapan mau mandinya, keburu ada dokter loh, nanti malah lama gak pulang-pulang." Rima mengingatkan suaminya.
__ADS_1
"Abisnya kamu menggemaskan ternyata, lebih menggemaskan daripada Sisil."
"Ya, sudah ayo ku bantu mandi!" Rima mulai memandikan bayi besarnya, mengguyur perlahan, menyabuni-nya, sampai area sensitifnya, "Ya Tuhan, aku tidak pernah mengira ternyata menjadi babysitter, aku tidak hanya memandikan anaknya, ternyata aku juga harus memandikan Papinya" gumam Rima dalam hatinya.
Padahal jika Erwin tau Rima sangat gugup melakukan hal itu, sebab ini pertama kalinya bagi Rima memandikan pria dewasa, apalagi pria dewasa ini adalah orang yang telah ia taksir sejak pertama melihatnya.
Perasaannya ia hiraukan, ia tetap fokus dengan pekerjaannya, ia selalu menepis setiap debaran jantungnya ketika sedang bersama Erwin kala itu, karena Erwin pun tidak pernah menganggapnya penting.
Semua, hanya sebuah khayalan dan angan-angan semata, sebab Rima sadar diri siapa dirinya, sepertinya semua itu mustahil terjadi Erwin akan membalas cintanya dan menjadi miliknya, mengingat status sosial mereka berbeda jauh.
Tapi apa yang terjadi saat ini, Rima bisa menyentuh tubuh pria yang ia dambakan selama ini, sesuka hatinya.
"Lihat nanti, kamu harus tanggung jawab." tiba-tiba suara Erwin mengejutkan Rima yang tengah asik memandikan didinya, dengan wajah bersemu merah, karena malu dan gugup.
Erwin menatap Rima tidak henti saat itu, membuat Rima semakin salah tingkah, tapi Rima berusaha untuk tetap tenang.
Setiap ia membalas tatapan Erwin, Rima selalu melontarkan senyuman meskipun terlihat kaku, tapi itu cara Rima menyingkirkan rasa gugupnya.
Rima menghentikan pergerakannya ketika mendengar ucapan Erwin yang tiba-tiba, kali ini ia merasa sangat cemas, Rima takut dirinya telah melakukan kesalahan sehingga Erwin menuntut tanggung jawab darinya.
"Kenapa Tuan, a-apa ada y-yang salah?" Rima terlihat ketar-ketir karena merasa takut.
"Iya, lihat juniorku, di menegang sedari tadi karena ulahmu."
"Haruskan kita benar-benar melakukannya, disini?" Rima tidak yakin, karena perasaannya ingin menolak sebab situasinya tidak tepat.
Dan belum juga Erwin menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, tok … tok … tok!
"Wey, buruan Dokter sudah datang nih!" Ternyata Gian yang mengetuk pintu.
"Iya, sebentar lagi. Tuan!" Rima yang menjawabnya.
"Sial …!" umpat Erwin kesal.
"Sudah Ku bilang juga apa!" Rima menimpali, karena sedari tadi Rima sudah mengingatkan Erwin akan hal itu.
Andai tidak ada Sisil disana, sudah habis Erwin dan Rima menjadi bulan-bulanan bahan bully-an Gian, Gian akan mengejek mereka habis-habisan, karena Gian tau Erwin sudah pasti memiliki hasrat yang menggebu, berada berdua dengan seorang wanita cantik, dalam keadaan polos dan mendapatkan sentuhan dari wanitanya.
Karena Gian juga sudah pengalaman dengan situasi seperti itu, membuat hasratnya menggebu jika dalam situasi seperti itu.
…
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Erwin dan Rima keluar dari kamar mandi, Erwin sudah terlihat lebih segar, dokter memang sudah terlihat hadir di sana sedang duduk berbincang dengan Gian.
Erwin tidak menghampiri mereka ia malah kembali ke bed-nya, padahal ia sudah leluasa bergerak karena selang infus sudah di buka dari semalam, cairan infus terakhirnya sudah habis dari semalam, tinggal jarum infusnya yang masih menancap di pergelangan tangannya, dan karena itulah Rima membantu memandikannya.
Gian dan Dokter segera menghampiri Erwin yang telah duduk di bed-nya, di ikut oleh suster dari belakang mereka.
"Selamat pagi, Tuan!" sapa sang dokter dengan ramah.
"Pagi!" jawab datar Erwin. Karena masih menyimpan kekesalannya, hasrat yang sudah menggebu sudah di ubun-ubun tidak tersalurkan. Dan hanya menyisakan rasa dongkol dihatinya.
Gian dapat merasakan apa yang sedang terjadi pada kakaknya, dia dapat melihat aura kekecewaan pada diri Erwin, lalu Gian berbisik di telinganya.
"Sabar dong bro, lu harus lihat situasi, kalau mau bulan madu ke hotel sana, biar gak ada yang ganggu, tapi menurut ku, lu harus cari pengasuh dulu deh buat Sisil biar lu bisa leluasa bulan madu dengan tenang," bisik Gian di telinga Erwin mengingatkannya sekaligus memberikan sarannya.
Erwin tidak menjawab ia hanya mendelikkan matanya menatap Gian dengan tatapan menusuk, tapi Gian malah tersenyum dan memainkan alisnya dengan menurun dan menaikannya alisnya, membuat Erwin makin kesal di buatnya.
Setelah itu Erwin terus saja bermuka masam, sampai dokter selesai melakukan tugas terakhirnya, ia memberikan pesan-pesan terkait kesehatan Erwin, selepas itu dokter segera pamit, tetapi tidak dengan suster Eka, sebab tugasnya belum selesai.
Iya harus mengantarkan Erwin sampai depan rumah sakit karena itu prosedur rumah sakit itu sendiri.
Suster Eka, segera mengambil kursi roda untuk mengantarkan Erwin, padahal Erwin sudah bisa berjalan tapi sekali lagi itu prosedur rumah sakit yang harus di taati jika tidak suster Eka akan mendapat teguran dari pimpinannya.
Awalnya Erwin memang menolak saat di minta untuk menaiki kursi rodanya, tapi suster memohon dengan sangat kepada Erwin agar dapat mematuhi peraturan, dengan terpaksa Erwin akhirnya mengikuti apa yang di minta oleh suster Eka.
Gian membantu membawakan barang-barang yang akan di bawa pulang, Rima juga ikut menenteng separuh barang bawaannya, sedang Akira menuntun tangan Sisil, merek berjalan perlahan mengikuti, dan mengimbangi pergerakan Akira yang memang sangat lamban dalam bergerak karena kehamilannya.
Sesampainya di lobby rumah sakit, mereka berpapasan dengan Sarah bersama suaminya serta anaknya. Awalnya Sisil yang melihatnya.
"Cika …!" panggilan Sisil, ketika melihat sahabatnya.
Orang yang di panggil langsung menoleh ke arah Sisil, ia menatap Sisil dengan wajah sendu dan mata yang terlihat sayu, sepertinya Cika sedang tidak sehat.
Sisil yang menghampirinya, karena Cika hanya melihat ke arah Sisil tanpa bergerak dan tanpa menyapa Sisil kembali.
"Cika, kamu sedang apa disini?" tanya Sisil.
"Eeh Sisil sayang!" belum juga Cika menjawab, Sarah lebih dulu menyerobot dengan menyapa Sisil dengan sangat manis.
Tapi Sisil malah tidak meresponnya karena Sisil sudah tau sipat aslinya seperti apa, bermuka dua, sangat baik di depan umum, tapi sangat jahat jika sedang berduaan dengan Cika.
Karena Sisil berlari ke arah Cika, terpaksa para orang dewasa pun mengikutinya, Sarah menatap semua orang, lalu melihat Erwin di kursi roda, Sarah sudah dapat menebak jika Erwin telah sakit.
__ADS_1
"Mas Erwin, kamu kenapa? Kamu sakit ya, kok gak ngabarin saya sih! kalau saya tau kan, saya bisa menjenguk-mu." Sarah berbasa-basi dengan manisnya.
Tapi Erwin memalingkan wajahnya, ia merasa muak melihat sikap Sarah yang sok basa-basi seperti itu.