
Tapi tetap apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Erwin tidak berpengaruh sama sekali, dan tidak menggoyahkan sedikit pun keyakinan Gian bahwa Akira dan anak-anaknya masih hidup
….
Perdebatan belum selesai sampai disitu, Gian tetap bersikukuh bahwa istri dan anak-anak masih hidup .
Semua orang mencoba membujuk Gian agar ia bisa tenang, Sahfira yang turut serta dalam acara ingin ikut mendoakan adiknya, sengaja hadir dalam acara tahlilan tersebut, meninggalkan sejenak kedua orang tuanya yang sedang di rawat di rumah sakit.
Shafira berada di sana juga memang atas permintaan ayah, dan ibunya untuk mewakili mereka berdua yang tidak biasa hadir dalam acara mengenang tujuh hari Akira.
Shafira mencoba untuk membujuk Gian, siapa tau Gian mau mendengarkannya karena dirinya pernah menjadi orang yang berarti dalam hidup Gian.
"Gian, coba tenangkan dirimu, setidaknya sampai acara ini selesai terlebih dahulu!" pinta shafira yang ingin acara tahlilan itu segera selesai, karena ia memikirkan kedua orang tuanya di rumah sekit jika ia tinggalkan terlalu lama dikhawatirkan akan terjadi sesuatu kepada mereka.
Alih-alih Gian mau mendengarkannya Gian malah leih emosi mendengarnya. Gian beralih bicara kepada Shafira ia lebih emosi kali ini,
“Diam kau! kaulah dalang dari semua permasalahan,” tunjuk Gian kepada Shafira.
Shafira begitu tercengang dengan tuduhan gian, “Kenapa kamu menjadikan aku kambing hitam dari permasalahan ini,” Shafira tidak terima dengan tuduhannya.
“Iya, memang, Kamulah yang jadi dalangnya karena kamu adalah orang munafik tidak dapat di percaya, kamu penghianat, kamu mampu mengkhianati kekasihmu dan juga sahabat mu, bisa saja sekarang juga sedang bersandiwara bermuka dua , karena kamu yang telah merampas akira dari tangan ku malam itu, dan bodohnya aku malah mempercayaimu.” Gian malah mengungkit semua masa lalu kelam Shafira dan mengaitkannya dengan ini.
Lisa yang merasa bersalah atas semua ini merasa tertampar ketika mendengar Gian menyalahkan Shafira.
Shafira sendiri merasa sangat terluka atas semua perkataan Gian padahal ia sudah berusaha untuk mengubur masa lalu kelamnya dan berusaha untuk memperbaiki semuanya.
Melihat semua itu, Lucky suami Shafira, tidak terima melihat perlakuan Gian kepada istrinya, ikut menderita dan membela istrinya.
Di situlah terjadi perselisihan antara Lucky dan Gian, terjadi adu mulut di antara keduanya.
Gian juga memakai Lucky sebagai sampah masyarakat, yang telah ia tolong dan dia angkat lagi martabatnya yang telah hancur karena perbuatannya sendiri dengan Shafira.
Ucapan Gian sungguh pedas di dengar, sehingga terasa pedih di hati bagi setiap orang yang mendengarnya, terutama bagi orang yang bersangkutan, seperti lucky dan shafira.
Lisa tidak tahan mendengar perdebatan yang semakin sengit, tidak ada yang mau mengalah dan malahan saling menimpali.
Lisa maju menghadapi Gian dengan derai air mata yang terus saja mengalir membanjiri pipinya.
Dengan menyatukan kedua telapak tangannya Lisa memohon maaf kepada Gian, "Tolong, hentikan Gian, semua ini salahku, akulah yang patut disalahkan dalam masalah ini, hukum aku Gian jangan mencari kambing hitam lagi, karena akulah yang bersalah." Dari awal Lisa memang telah merasa bersalah.
Gian beralih menatap Lisa dengan tatapan dipenuhi api kebencian, "Iya semua salahmu, kalian semua telah berkonspirasi dalam kasus ini, kalian bawa kemana istriku dan anak-anakku … katakan." Gian sudah hilang kendali, semua orang ia musuhi, ia anggap semua orang telah bersalah dan penyebab dari hilangnya Akira.
Gian meneriaki semua orang, dia sudah seperti orang gila, sorot matanya mengumbar kemarahan dan kebencian kepada setiap orang, wajahnya memerah karena amarah, otot-ototnya menonjol di permukaan kulitnya.
Semakin di tenangkan ia semakin brutal. Papa Arga berusaha merangkul putranya. Namun Gian malah menatapnya dengan tatapan tajam menghunusnya. Membuat papa Arga merasa merinding mendapat tatapan seperti itu.
Kyai haji Husein, melihat semua kejadian itu, jiwa Gian seperti sudah dikuasai setan, lalu Kyai haji Husein mengambil segelas air dan memberi kan sebuah doa yang ditiupkan di segelas air tersebut.
__ADS_1
Kyai haji Husein, menghampiri Mama Nirmala dan memberi air itu kepadanya untuk agar diminumkan kepada putranya. Dan usapkan ke wajahnya untuk meredam emosinya yang sedang meluap-luap.
Mama Nirmala menerima segelas air putih itu dari tangan kyai haji Husein, lalu mendekati putrinya dengan langkah ragu karena Jujur saja, Mama Nirmala juga merasa takut kepada Gian.
Tapi kyai haji Husein, ikut mendekat untuk mendampingi mama Nirmala agar dirinya tidak usah takut.
Setelah mendekat mama Nirmala menyodorkan segelas air putih tersebut, "Nak, kamu pasti haus, Ayo minum dulu ya, Nak!"
Gian langsung melihat ke arah Mamanya dan menatapnya. Mama Nirmala menampilkan raut wajah yang sangat sedih sebab ia memang sedang merasa hal seperti itu.
Melihat wajah Gian sorot mata yang tadinya begitu tajam menusuk setiap orang yang ia tatapannya, perlahan sorot mata itu meredup dan terlihat melemah.
"Ayo minum dulu, Nak! " bujuk Mama Nirmala.
Tanpa berkata apa-apa Gian mengangguk patuh, mama Nirmala tersenyum lega, lalu menghampiri putranya lebih dekat lagi, dan membantunya untuk meminum air putih yang ia sodorkan.
Dengan sekali tegukan air itu nyaris hampir habis, tapi mama Nirmala segera menarik gelas itu agar Gian menyisakannya.
Kemudian, mama Nirmala menuangkan sisa air itu di tangannya lalu mengusapkannya ke wajah putra bungsunya.
Seketika itu, emosi Gian memang mereda, mama Nirmala menggandengnya dan membawanya ke kamarnya, ' Yuk, istirahat dulu ya , Sayang." Ajak mama Nirmala.
Seperti terhipnotis Gian begitu patuh kepada Mama Nirmala lalu mengikutinya. Tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya, orang-orang yang sempat ia maki satu persatu.
Papa Arga dan Erwin meminta kyai Haji Husein untuk meneruskan acara tahlilan yang sempat tertunda.
…
Di pagi hari, Karena hatinya resah gelisah tidak bisa tenang, terus-menerus teringat sosok sang istri, membuat Gian tidak bisa terlelap sama sekali.
Sehingga di pagi-pagi buta ia sudah terlihat duduk memaku seorang diri di teras belakang, di bangku besi panjang yang telah tersedia di sana, dulu tempat itu menjadi saksi bisu saat terjadinya perselisihan antara Gian dan Akira , saat mereka membahas hubungan mereka dan terjadi kesalah pahaman antara Akira dan dirinya.
Awalnya, para ART yang ingin melakukan aktivitas paginya, mereka merasa kaget melihat seseorang tengah duduk seorang diri di sana, mereka menelisik dan saling bertanya siapa gerangan orang tersebut, tapi mereka enggan mendekat karena takut.
Sampai matahari mulai bersinar baru terlihat jelas siapakah sosok tersebut dan ternyata adalah Gian lah orangnya.
Saat itu Mama Nirmala masuk kedalam kamar Gian untuk melihat kondisinya, dan ternyata tidak ada di sana, Mama Nirmala langsung panik dan mencari-carinya.
Seorang ART segera memberi tahu Mama Nirmala bahwa Gian tengah duduk di teras belakang sedari tadi bahkan dari semalam mungkin.
Mama Nirmala segera melihatnya dan menghampirinya.
Ketika sudah di sampingnya, Mama Nirmala mengelus pundak putranya, dan itu membuat Gian terhenyak, karena ia tidak menyadari kedatangan mamanya, saking larutnya iya dalam lamunannya.
"Nak! Sedang apa kamu di sini?" tanya Mama Nirmala penuh perhatian dan kasih sayang.
Gian menoleh ke arah Mama-nya, lalu ia bercerita bahwa ia tersiksa dengan perasaannya, ia merasa bersalah, ia merasa kehilangan, " Aku benci hidupku mah."
__ADS_1
"Sssst …" mama Nirmala menghentikan ucapan Gian dan menaruh telunjuknya di bibirnya.
Gian menoleh ke arah Mama-nya dan Mama Nirmala menggelengkan kepalanya Secara perlahan. Sebagai isyarat agar Gian jangan berbicara seperti itu.
Gian diam dan tertunduk, iya tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini, keyakinannya mengatakan bahwa istri dan anak-anaknya masih hidup, sedang pada kenyataannya semua bukti menyatakan Akira dan anak-anaknya telah meninggal.
Gian ingin mencarinya, tapi kemana mencarinya. Ia hanya bisa larut dalam dukanya.
Disaat itu Erwin datang menghampiri mama Nirmala dan juga Gian. Erwin berniat untuk pamit keluar dari rumah itu, Erwin membawa istri dan anaknya.
Erwin beralasan ingin mandiri, ingin membina keluarga kecilnya sendiri, setelah berbicara dengan Rima, Rima bersedia mengikuti maunya Erwin keluar dari rumah papa Arga, tapi dengan catatan Rima tidak ingin Mila ikut dengan mereka. Entah mengapa Rima merasa risih dengan kehadiran Mila yang sok kenal dan sok dekat itu,
Ya, memang Mila terlihat tidak tahu batasan ia kadang main masuk kamar orang tanpa permisi, dan selalu ikut campur dalam urusan keluarga tanpa di ajak bergabung,
Jauh sekali dengan siapa Rima yang sangat tau diri, ia tidak pernah berani masuk ke dalam kamar majikannya tanpa seizin dari yang punyanya, Rima juga tidak pernah ikut campur dalam masalah keluarga.
Ia lebih suka menjauh pergi membawa Sisil, jika terjadi insiden dalam keluarga. Sedang Mila, ia ikut masuk kedalam keadaan menyimak dengan antusias, itu yang membuat Rima tidak suka dengan Mila, dan tidak ingin Mila ikut bersama dengan mereka.
Sedang Sisil, anak baik ia selalu mengikuti apa yang terbaik untuknya.
Sesungguh Mama Nirmala merasa keberatan dengan keputusan Erwin, Mama Nirmala tetap ingin keluarganya tetap berkumpul.
Tapi itu sudah jadi keputusan Erwin, ya merasa tersinggung atas perlakuan Gian kepadanya, ia merasa tidak dihargai dan tidak dihormati sebagai seorang kakak.
Sebenarnya mama Nirmala tau akan hal itu, maka mama Nirmala meminta Erwin untuk mempertimbangkannya lagi, tapi keputusan Erwin sudah bulat ia tetap akan pergi.
"Gian, minta maaflah kepada kakakmu!" Mama Nirmala mengelus dan membujuk Gian agar mau meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
"Apa salahku harus meminta maaf kepadanya?" Gian tidak terima harus meminta maaf kepada Erwin, karena ia merasa benar dan yakin bahwa istrinya memang masih hidup.
"Sudahlah, Mah! Biarkan dia dengan keyakinannya itu." Erwin tidak ingin berdebat lagi dengan Gian, yang masih menyulut emosi.
"Tapi ingat ya, awas saja kamu kalau sampai kamu menyakiti mama, aku tidak akan tinggal diam." lanjut Erwin, dan memberi peringatan kepada Gian.
"Apa, mau apa kamu?" Gian malah menantang Erwin dengan membusungkan dadanya dan melangkah maju dihadapan Erwin, membuat Erwin terdesak dan mundur beberapa langkah.
Mama Nirmala segera mengambil tindakan, menarik Gian agar mundur dengan maksud memisahkan mereka, tapi dengan cara itu tidak berhasil, kemudian Mama Nirmala berdiri di tengah-tengah antara dua putranya.
Satu tangannya ia lingkaran di pinggir Gian dengan maksud memeluknya dan menenangkannya.
Dan satu tangannya lagi ia sodorkan ke belakang, menggenggam tangan Erwin, agar kedua anaknya yang sedang berselisih tetap merasa mamanya tidak memihak siapapun.
Untuk menghentikan perselisihan mama Nirmala meminta Erwin untuk pergi karena Gian memang sedang dalam keadaan kalut semua orang salah di matanya.
Jadi percuma melawannya, hanya akan membuat perdebatan makin sengit saja.
Erwin mengerti dengan maksud Mamanya, hanya saja Erwin merasa terpancing emosinya mendengar setiap ucapan Gian maka dari itu Erwin memutuskan untuk keluar dari rumah.
__ADS_1
Untuk menghindari perseteruannya dengan Gian akan terjadi terus-menerus jika Erwin tetap tinggal di sana.