Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
BAB - 161


__ADS_3

Selesai berbicara dengan Lisa, Shilla kembali bergabung dengan ayah dan ibunya, ketika itu Shilla mengambil putranya yang sedang di gendong Bu Yuli, dan saat dalam pangkuan Shilla tidak lama Anjas tertidur, mama Nirmala melihatnya dan menyuruh Shilla untuk menidurkannya di kamar Gian.


"Akira, acara belum selesai sebaiknya kamu, tidurkan dulu putramu di kamar itu." Mama Nirmala tidak menyebutkan kamar itu kamar Gian, ia hanya menunjuknya saja.


Mama Nirmala sengaja tidak menyebutkan kamar itu kamar Gian, sebab Mama Nirmala tau jika Shilla tau kamar itu milik Gian ia tidak akan mau menidurkan putranya di sana, bahkan mungkin ia akan membawa pergi dari sana, sedangkan jika Anjas sedang bersama keluarga Mahendra ia biasa tidur di kamar Gian peralatan tidurnya pun ada di kamar itu.


Karena Shilla tidak tau kalau kamar itu kamar Gian, maka Akira segera membawa putranya ke kamar itu.


Di sana Akira melihat sudah tersedia tempat tidur bayi ( semacam box bayi) beserta boneka berkarakter untuk anak laki-laki serta banyak juga mainan untuk anak laki-laki di sana.


Setelah Shilla berhasil menidurkan bayinya, ia berniat untuk keluar dari kamar itu, tapi tiba-tiba ia menyadari sebuah gambar dalam pigura besar di kamar itu, Shilla menatapnya dengan seksama.


Ternyata gambar yang terdapat dalam pigura itu adalah gambar dirinya bersama Gian, di Foto itu mereka terlihat sangat  mesra dua-duanya menampilkan senyum bahagia, dirinya terlihat sangat cantik di foto itu, begitu juga dengan Gian ia terlihat sangat gagah.


Shilla tertegun melihat gambar itu, lalu ia mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan, iya, Akira melihat ada beberapa foto lain di kamar itu  selain foto besar itu, Shilla juga melihat meja rias, yang terdapat banyak makeup disana milik Akira.


Gian memang sengaja tidak membuang semua itu, semua peninggalan Akira masih tersimpan rapi di kamar itu, termasuk kursi roda Akira, tapi kursi roda itu Gian berikan kepada Rima untuk Rima pakai.


Sebab Gian pikir lebih baik dimanfaatkan oleh orang lain daripada disimpan tidak ada manfaatnya, sebab Akira sendiri memang sudah tidak membutuhkannya.


Dan entah mengapa, ketika ia melihat meja rias itu, ia tertarik untuk duduk di sana, sehingga duduklah Shilla di sana sambil menyisir rambutnya secara perlahan dengan tatapan kosong.


Dan ketika itu Shilla menangkap bayangan ketika Gian menyisir rambutnya, dan ketika Gian memakaikannya pakaian, serta ketika Gian mengelus perut buncit, suka cita, kegembiraan, kebahagiaan,  bayangan yang bisa Shilla tangkap bersama Gian di kamar itu, yang pernah Akira lalui.


Ekspresi wajah Shilla terlihat sendu seakan ia terharu atas kebahagiaan yang ia tangkap bersama Gian dulu.


Biasanya jika Shilla melihat bayangan buruk tentang Gian Shilla akan merasa tegang, syok dan tertekan. Kepalanya berdenyut, keringat dingin bercucuran, bahkan Akira bisa kehilangan kesadarannya karena itu semua.


Tapi berbeda dengan kali ini, Shilla memang meneteskan air mata tapi tangisnya tangis bahagia.


Dan ketika itu, Gian keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya tanpa memakai baju.


Sehingga tubuh putih mulusnya terpampang nyata di depan mata Shilla. Baik Gian mau pun Shilla mereka sama-sama merasa syok karena terkejut, Gian merasa terkejut karena ia tidak pernah menyangka akan ada Shilla di kamarnya.


Begitu pula dengan Shilla tidak pernah mengira jika Gian ada di kamar mandi di kamar itu, sebab sebenarnya Shilla tidak menyadari jika kamar itu adalah kamar Gian.


Keduanya terlihat terperangah, lalu Gian memecah suasana dengan bertanya, "Kamu di sini?" 

__ADS_1


Melihat penampilan Gian yang t e l * n j *ng dada, dengan rambut basah dan acak-acakan, Shilla mengingat bayangan ketika adegan Anjai memandikannya, ia menangkap bayangan ketika itu tapi bayangan itu tidak jelas sehingga Shilla berusaha untuk mengingatnya dan mengakibatkan kepalanya pusing lalu ia hilang kesadaran saat itu.


Namun saat ini Shilla dapat mengingat bayangan itu, dan ternyata bayangan itu adalah bayangan Akira yang sedang dimandikan oleh Gian, jelas terlihat olehnya saat ini.


Shilla memejamkan mata sambil berpegangan di meja rias itu, untuk menjaga keseimbangannya.


"Shilla! kamu baik-baik saja? Apa kamu mengingat hal buruk lagi tentang aku?" Gian bertanya untuk memastikan.


Tapi Gian tidak berani mendekat, ia tetap menjaga jarak dengan Shilla sebab Gian takut Shilla akan histeris jika Gian mendekat.


Kini Shilla mengingat semuanya ia mengingat bahwa Gian tidak seburuk yang Anjai ceritakan, Shilla sudah mengingatkan bahwa Gian sangat mencintai Akira.


"Shilla …!" seru Gian sangat menghawatirkan Shilla, karena Shilla tidak memberinya respon.


Dan ketika Gian memberanikan diri untuk mendekatinya, Shilla segera menyetop pergerakan Gian dengan mengangkat satu tangannya, agar Gian tidak mendekat kearahnya.


Akira begitu karena ia belum siap dengan kebenaran yang baru saja ia ketahui dari bayangan yang baru saja ia tangkap.


"Stop, aku baik-baik saja, aku tidak apa-apa, maaf aku masuk tanpa permisi." ucap Akira lalu ia tersenyum getir dan segera keluar dari sana dengan tergesa-gesa.


"Akira …." Gumam Gian ketika Shilla sudah keluar dari sana, Gian merasa wanita yang baru saja ia hadapi bukan Shilla melainkan Akira istrinya, Gian dapat melihat dari gerak geriknya, dari sorot matanya dan dari senyumnya itu semua jelas menggambarkan sosok wanita yang selama ini ia rindukan.


Kemudian Gian menatap putranya yang tertidur di tempat tidurnya, "Nak, maafkan ayah tidak dapat mempertahankan keutuhan keluarga kita." Gian kembali membatin.


Kemudian Shilla kembali bergabung dengan ayah ibunya, serta yang lainnya, tapi ekspresi wajah Shilla terlihat sendu, berbeda ketika ia akan menidurkan putranya, Shilla terlihat biasa saja, meskipun telah berbincang dengan Lisa.


Sementara yang lain fokus dengan berbagai ritual atau upacara adat tujuan bulan yang sedang Rima dan Erwin jalankan, sementara itu Akira terus saja menundukkan kepalanya, sebab di kepalanya, dalam memorinya terus saja berputar-putar bayangan silih berganti berdatangan mengingat Akira akan masa lalunya, ia juga mengingat  saat ia jadi Shilla ia diperdaya oleh Anjai yang tidak lain dan tidak bukan adalah kekasihnya di masa lalu.


Bu Yuli menyadari Akira sedang merasa sedih, karena  Akira terlihat meneteskan air mata dan sesekali menyeka air matanya, tapi Bu Yuli tidak tahu entah mengapa dan apa yang membuat putranya berubah sikap seperti itu.


Bu Yuli meraih tangan Akira, lalu menggenggamnya, "Nak, kamu kenapa?" tanya Bu Yuli.


Akira hanya melihat sekilas ke arah ibunya, tanpa berkata apapun, matanya terlihat memerah menahan tangisnya, ia pun tersenyum getir, ingin sekali rasanya Akira menangis sejadi-jadinya saat itu, tapi ia berusaha untuk menahannya.


Untuk menghargai acara yang sedang berjalan dengan khidmat, Akira tidak ingin merusak acar dengan sikapnya (dengan tangisannya), sesungguhnya Akira juga ingin pergi dari sana tapi ia menghargai semua orang yang mengundangnya.


Ini sikap dan sifat asli Akira, akan selalu memikirkan orang lain dan menghargai orang lain meskipun dirinya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Dan ternyata Gian yang sudah berbaur dengan para tamu, tatapannya tidak henti menatap ke arah Akira, ia sungguh merasa ada yang aneh dengan Akira, ia merasa Akira telah kembali.


Melihat sikapnya sekarang ini, Gian jelas merasakan wanita itu benar-benar Akira.


Ketika itu Akira sudah tidak dapat lagi menahan air matanya ia ingin sekali menangis, ia pamit untuk pergi ke kamar mandi mandi, tapi kamar mandi di sana ada orang lain  di dalamnya, akira terpaksa lari ke kamar Gian karena Akira juga sempat melihat Gian sudah keluar dari kamarnya dan sedang berbaur dengan para tamu.


Akira masuk perlahan dan menangis sesenggukan tapi ia berusaha menahannya agar tangisnya tidak mengeluarkan suara, agar tidak menganggu putranya yang sedang terlelap tidur.


Namun, ketika itu Gian kembali masuk ke dalam kamarnya, entah ia sengaja ingin menemui Akira atau karena alasan lain  seperti yang ia katakan ingin melihat putranya yang sedang tidur takut terbangun.


Namun, Gian melihat Akira yang sedang menangis di kamarnya sambil memeluk pigura yang berisi foto dirinya dengan Akira, yang awalnya terletak di atas nakas di kamar itu.


Gian terperangah melihatnya, "Akira apa ingatanmu sudah kembali, apa kamu sudah mengingatku?" tanya Gian memastikan.


Akira sendiri begitu syok melihat Gian masuk, ia segera menyeka air matanya, padahal ia masih terisak-isak.


"Aku tidak mengingat apapun, aku juga tidak tahu kenapa aku merasa sangat sedih melihat foto ini." Ucap Akira menyangkal sangkaan Gian.


Akira sengaja melakukan hal itu, karena Akira juga masih memikirkan kejiwaan Riza, jika Akira mengakui ingatnya sudah kembali, Gian pasti akan tetep bertahan ingin mempertahankan pernikahannya, dan Riza akan terpukul jika Akira meninggalnya begitu saja.


Riza bisa berbuat lebih nekad lagi dari sebelumnya, yang Akira takut Riza akan melukai putranya.


Meskipun ia sudah menganggapnya sudah seperti putranya sendiri dan sangat baik kepada putranya, tapi itu hanya karena ia ingin bersama Akira.


Entah apa yang akan Riza lakukan jika tau Akira akan kembali dengan Gian, Akira yakin Riza akan berbuat lebih nekad dari sebelumnya.


Akira benar-benar menyangkal sangkaan Gian, dan ia segera keluar dari sana, tanpa pamit Akira segera pergi meninggalkan  tempat acara.


Lisa melihat pergerakan Akira dia segera mengejarnya, tapi sebelum itu ia pamit kepada suaminya (Hendri).


Lisa segera menghampiri Akira, ketika melihat Akira berdiri di pinggir jalan untuk menunggu kendaraan lewat, Lisa membuka kaca mobilnya lalu meminta Akira segera masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa berpikir lagi Akira segera masuk ke dalam mobil Lisa. Di dalam mobil Akira menangis sejadinya.


Lisa segera menepikan mobilnya, ia berniat untuk menenangkan sahabatnya yang terlihat sangat kalut.


"Ra, lu kenapa, apa lu udah ingat semuanya?" Kecurigaan Lisa sama dengan kecurangan Gian.

__ADS_1


Akira tidak dapat menjawab pertanyaan Lisa ia hanya menganggukkan kepalanya 


__ADS_2