
"Aku tau aku bersalah kepadamu, karena selalu mengikuti apa yang Shafira inginkan, aku terkesan mengabaikanmu, jujur Akira aku juga memikirkanmu perasaanmu, aku benci semua ini." Gian mengutarakan apa yang ia rasakan
….
Akira menggelengkan kepalanya sambil menangis, ia tidak mampu untuk berkata-kata.
Gian terus mengelusnya agar Akira bisa lebih tenang, dan tanpa di sadari keduanya memang terlelap bersama.
Di tempat lain …
Lucky sedang menghubungi Shafira, dengan cara sembunyi-sembunyi.
Namun istrinya sudah merasakan kecurangan sejak lama, bahwa lucky sedang bermain gila dengan perempuan lain.
Tapi istrinya tidak dapat menuduhnya begitu saja, sebab ia tidak punya bukti untuk itu.
Kali ini istrinya mengendap-endap menguping pembicaraan suaminya yang sedang menghubungi seseorang.
Ia bisa mendengar lucky memanggilnya dengan sebutan, "Sayang." Dan itu semakin menambah kecurigaan istrinya.
Ia juga mendengar lucky janjian ketemu di sebuah apartemen dengan orang yang lucky panggilan sayang itu.
Istrinya tetap diam mendengarkan meskipun hatinya bergemuruh tidak karuan.
Ia memilih untuk bungkam dan menyelidiki tentang kebenaran atas kecurangannya.
Sampai akhirnya lucky menutup telponnya, lalu bergegas kembali mencari istrinya.
Sang istri ternyata ada di dekatnya bersembunyi, menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tidak mengeluarkan suara.
Namun lucky benar-benar tidak dapat merasakan kehadirannya di sana.
Itu terbukti karena lucky berlalu begitu saja dari sana tanpa melihat atau memperdulikan sekitarnya.
Setelah suaminya berlalu istri Lucky (panggilan saja Vera) ia baru bisa bernafas lega.
(othor lupa nama dari istri lucky ini, jika reader ada yang mengingatnya mohon kasih tau othor, Dengan cara komen ya).
"Sialan … berani-beraninya dia bermain api di belakangku, lihat saja nanti kamu akan menerima akibatnya." gumam Vera penuh kekesalan.
Tapi ia tetap harus bersikap biasa saja supaya lucky tidak curiga kepadanya, agar Vera besok bisa membuntutinya, siap perempuan yang bermain gila dengan suaminya itu.
…
Sampai di pagi hari, Akira dan Gian terbangun, Akira membuka mata dan menatap wajah tampan suaminya khas bangunan tidur.
Akira memandang lekat wajah itu, dan tanpa ia sadari ia tersenyum sendiri.
"Kenapa kamu seperti itu?" tiba-tiba suara Gian Mengejutkannya.
Sebab Akira pikir suaminya sedang tidur dan tidak dapat melihatnya.
Tapi ternyata Gian tau Akira menatapnya lalu tersenyum simpul.
Wajah Akira memerah, ia gugup dan salah tingkah karena tertangkap basa sedang mengagumi wajah tampan suaminya.
"Ah, tidak aku hanya gemas melihatmu." Akira berbicara menepis sangkaan suaminya agar dia tidak besar kepala.
__ADS_1
"Ya sudah, aku mandi dulu ya." Akira pamit untuk ke kamar mandi.
Namun Gian menariknya tangannya dan membawanya kembali ke dalam pelukannya.
"Tunggu dulu dong, inikan masih pagi." Cegah Gian.
"Ini memang masih pagi, kamu lanjut saja tidurmu dan biarkan aku mandi duluan.."
Tapi Gian tidak melepaskan pelukannya, ia masih ingin bermalas-malasan di atas tempat tidur dan bermanja-manja dengan sang istri.
Akira meminta Gian untuk melepaskannya, "Awas ah … kamu bau dari kemarin belum mandi." Akira sengaja mengejek suaminya.
Ya, Gian memang tidak sempat membersihkan diri, bahkan ia tidak sempat berganti pakaian, karena rasa lelah dan kantuknya, sehingga ia ikut terlelap begitu saja dengan sang istri.
Gian malah tertawa mendengar Akira berkat seperti itu, "Hah … hah … hah … kamu aneh semalam aja kamu tidak protes dan malah menikmati Aroma tubuhku." ucap Gian terkekeh mengingat Akira membenarkan bahwanya di dadanya.
"Iya aku memang canda aroma tubuhmu …." Kemudian ia memeluk erat tubuh suaminya.
"Nah, kan!" Gian malah kegelian, sebab Akira senja melakukan gerakan menggelitiki suaminya agar ia bisa melepaskan diri darinya.
Dan caranya berhasil, Akira bisa terlepas dari rangkulan suaminya, ia bergegas bangun dan berdiri, tapi Gian lebih sigap darinya.
Sehingga Gian lebih dulu bangun dan berdiri dari pada dirinya dan segera membopong Akira dan membawanya ke kamar mandi.
Akira berteriak, "Hey … mau ngapain kamu?"
"Kita mandi bersama, sudah lama kita tidak mandi bersama." sahut Gian sambil membawa tubuh Akira ke kamar mandi.
Dan jika sudah seperti itu, mereka tidak akan sepenuhnya mandi bersama, karena Gian akan menyelanginya dengan olahraga pagi yang hot.
Akira tidak dapat menolak jika Gian sudah menginginkan hal tersebut, Akira hanya bisa pasrah dan mengimbanginya.
….
Setelah sarapan pagi seperti biasa Gian berangkat ke kantor, Akira mengantarkannya sampai teras rumah, ciuman tangan, dan Gian ciuman kening istrinya.
Namun pagi ini Shafira terlihat sudah rapi dengan penampilan.
Ayah, Ibu dan juga Akira, merasa curiga melihatnya.
"Ayah, Ibu, hari ini aku ada pertemuan dengan teman-temanku, jadi aku pamit untuk pergi dulu ya." Shakira pamit kepada kedua orang tuanya.
"Tapi kamu mau kemana nak?" Ibu Yulia bertanya, karena ia sangat mengkhawatirkan kondisi putri sulungnya itu.
"Aku, pergi hanya sebentar kok, Bu.'"
Ayah Ayus juga merasa keberatan jika Shafira harus pergi seorang diri.
"Biar Ayah yang mengantarkanmu."
"Tidak, tidak usah Ayah, aku berjanji aku akan segera kembali." Shafira bersikeras ingin pergi sendiri.
Dan akhirnya shafira bergegas pergi tanpa mempedulikan cegahan kedua orang tuanya.
"Ayah , Ibu biar aku mengikutinya untuk memastikannya." Akira merasa curiga bahwa Shafira akan melakukan sesuatu di luar dugaan.
"Mari nak pergi bersama Ayah." Ayah Ayus sendiri memang akan mengikutinya.
__ADS_1
Karena ayah Ayus tidak pernah tahu apa yang dilakukan oleh putranya selama ini, mengapa ia bisa berubah drastis, sampai-sampai Ayah Ayus dan Bu Yuli seperti tidak mengenalnya lagi.
Kini mereka memang sedang membuntuti Shafira yang pergi tergesa-gesa menggunakan taksi online.
Shafira terlihat turun di sebuah gedung apartemen.
Ia segera masuk ke dalam apartemen tersebut.
Akira dan Ayah terus membuntutinya.
Tapi mereka kehilangan jejak Shafira, karena Shafira menaik lift, dan Akira juga ayah Ayus tidak tahu sahafia turun di lantai berapa.
Karena jika mereka ikut naik satu lift dengannya, Shafira akan curiga.
Tapi saat mereka berdiri di depan pintu lift sedang merasa kebingungan, tiba-tiba ada seseorang lelaki yang juga hendak naik lift itu dan menuju lantai lima.
Akira berbalik melihat lelaki itu yang juga hendak menaiki lift.
Akira merasa tidak asing lagi dengan pria itu.
"Sepertinya aku pernah melihat lelaki ini, tapi dimana ya?" Akira mencoba mengingat.
Dan seketika itu Akira langsung teringat, ternyata lelaki ini adalah lelaki yang tempo hari akira lihat besama Shafira di rumah sakit.
"Ayok Ayah cepat naik." Akira mengajak Ayah untuk ikut bersama lelaki yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift ketika lift di buka.
Akira ikut menekan tombol nomor lantai berapa, sesuai dengan yang orang itu.
Akira ikut menekan tombol hanya sekedar pormalitas saja, niatnya hanya ingin membuntuti lelaki itu, karena Akira yakin orang yang ingin kakaknya temui adalah lelaki yang sedang berada di hadapannya.
Untungnya lucky sama sekali tidak mengenali Akira dan juga ayahnya. Sehingga Akira dengan leluasa bisa mengikutinya.
Ya, lelaki itu tidak lain dan tidak bukan adalah lucky.
Sampai di lantai lima mereka sama-sama keluar dari sana, lucky berjalan tergesa-gesa untuk segera masuk ke dalam unit apartemen tempat ia janjian dengan Shafira.
Dari kejauhan Akira memperhatikannya. Di depan salah satu pintu apartemen, lucky menekan tombol bel, dan tidak lama ada seseorang yang membuka pintu dan mempersilahkan lucky untuk masuk.
Akira yakin orang yang di dalam unit apartemen itu adalah kakaknya.
Sedari tadi Ayah merasa bingung dengan semua instruksi yang diberikan oleh Akira kepada dirinya.
Tapi Akira memintanya untuk diam jangan bertanya.
Ya, ayah Ayus hanya bisa diam, meskipun hatinya bertanya-tanya.
Kemudian saat ini Ayah Ayus, tidak sabar lagi untuk menahan diri untuk bertanya.
"Nak, Sayang, sebenarnya kita di sana buat apa?" tanya Ayah bingung.
"Untuk mencari kak Fira, ayah." jawab Akira.
"Lalu di sini, kita carinya bagaimana?" Ayah makin bingung, sedangkan di sana sepi tidak ada orang yang dapat mereka tanya.
Dan juga terdapat pintu kamar, yang rupa dan warnanya sama hanya nomer yang tertera di depan pintu yang membedakan kamar apartemen itu milik siapa.
Sedangkan mereka tidak tahu Shafira, masuk ke kamar apartemen yang mana?.
__ADS_1
....
Bagaimana kisah selanjutnya, simak di bab berikutnya ya kawan 🫰🫰🫰