Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 84


__ADS_3

"Ah, yang benar kamu, pasti kamu sedang mengagumi ketampanan suamimu ini kan?" Gian malah bangkit dari tempat duduknya untuk mendekati istrinya.


"Waduh, mau ngapain dia malah nyamperin aku." Akira panik.


….


Gian berniat menggoda istrinya, ia langsung menubruk istrinya dengan gerakan ingin menciumi istrinya.


Seketika itu Akira terkejut dengan gerakan suaminya, lalu memberontak karena suaminya sudah mencengkeramnya, Akira sudah berada dalam Kungkungan Gian.


"Aah … apa yang kamu lakukan?" teriak Akira.


Tapi Gian telap melancarkan aksinya, "Yang, lepaskan aku jangan begini." Akira meminta Gian untuk melepaskannya.


"Salah siapa kamu menggodaku, aku jadi ingat janjimu." sahut Gian.


"Janji apa?" Akira bingung.


"Selepas makan siang aku boleh memakanmu." Gian mengingatkan Akira.


"Aah kamu … itu kan hanya bercanda." Akira ingin mengelak.


"Mana bisa gitu, janji ya tetap janji." Gian tetep kukuh menagih janji Akira.


"Oke … oke …  tapi jangan seperti ini, kamu akan menyakitiku dan bayiku jika seperti ini." Akira berniat untuk pasrah.


Seketika Gian menghentikan aksinya. Dan berganti ke posisi duduk.


Akira ya sudah terlentang karena ulah suaminya, ia langsung membenarkan posisinya ke posisi semula.


Kemudian mereka saling menatap, Gian kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Akira, berniat ingin mengecup bibir istrinya.


Tapi Akira menahannya dengan gerakan menyetop dengan satu tangannya dan sedikit menekannya untuk menahan agar Gian menghentikan aksinya.


Gian masih menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.


Akira menggelengkan kepalanya, Gian pun mengerutkan keningnya seakan bertanya, "Kenapa lagi … ?


"Apa kamu beneran pengen anu?" Akira bertanya meyakinkan.


Gian mengangguk cepat, Akira sendiri merasa ragu jika harus berbuat seperti itu di tempat tersebut.


"Disini … ?" Akira kembali bertanya untuk meyakinkan suaminya.


"Kenapa tidak, sayang … ini tempat tertutup hanya ada kita berdua, disini juga tempat privat ku tidak ada yang berani masuk tanpa seizinku." Gian juga meyakinkan istrinya.


Akira hanya bisa diam tanpa kata sebab jujur saja, dia memang ragu untuk bercinta di sana.


Bukan tidak mau melayani sang suami, ia hanya berfikir tepat itu kurang etis untuk bercinta.


Tapi Gian tetap memaksa dengan terus meyakinkannya, Kemudian Gian bangkit dari tempat duduknya, dan berjalan ke arah pintu.


Akira mulai cemas, karena ia pikir Gian pergi meninggalkannya karena Akira enggan melayaninya.


Tapi ternyata Gian hanya ingin mengunci pintu agar Akira tidak perlu ragu lagi, sebab Gian sudah mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi.


"Sekarang sudah aman  …." ucap Gian sambil berjalan untuk kembali menghampiri istrinya.


Setelah duduk kembali berhadapan dengan Akira, Gian mendekat wajahnya kembali di wajah Akira, tapi kali ini tidak mendapat penolakan sama sekali dari Akira.


Akira tetap diam saat bibir Gian sudah berhasil mengecup kening, kedua pipi dan beralih mengecup bibirnya, karena Akira masih saja diam, Gian sampai berulang kali mengecup bibir Akira, ia sampai candu dan makin ketagihan.

__ADS_1


Dan membuat Gian semakin penasaran menuntut lagi dan lagi lebih dari pada itu.


Gian mengecup lebih lama dan semakin dalam, sehingga keduanya seakan kehilangan kesadaran larut dalam permainan.


Mereka berdua beradu mulut dan lidah saling mengecup dan saling m e l u m a t t, karena Akira tidak hanya diam saat ini, ia mulai membalas permainan Gian.


Sehingga permainan semakin memanas, dengan nafas yang semakin bergemuruh dari keduanya, Akira sampai kewalahan mengimbangi permainan Gian, ia sampai terengah-engah kehabisan nafas tapi sangat menikmati permainan Gian.


Saat Gian menyadari istrinya terengah-engah, Gian melepaskan tautan bibirnya, memberi peluang untuk istrinya bernafas.


Sedangkan ia beralih bermain di leher Akira, ia kembali mengecup setiap lekuk di daerah sana, tidak lupa Gian pun meninggalkan mahakaryanya yang tercipta sempurna, yaitu sebuah tanda merah.


Akira memang sudah pasrah dan melupakan keraguannya, ia malah begitu menikmatinya, merasakan sensasi geli-geli nikmat yang diciptakan dari setiap sentuhan suaminya.


Apa lagi saat tangan Gian yang semakin liar, meraba dan m e r e m a s s dua gunung kembarnya milik Akira.


Akira sedikit men D e s a h h h, tapi d e s a h a n itu dia tahan.


Gian sudah membuka beberapa kancing baju Akira yang terdapat di bagian depan bajunya, untuk memudahkannya memainkan dua gunung kembar milik Akira, karena kini Gian ingin memainkannya tak lagi dengan tangannya melainkan dengan bibir dan lidahnya.


Gian mulai m e n n ji l a t tnya mengecupnya, lalu m l u m a * * * nya, hingga suara d e s a h a n n n yang sedari tadi Akira tahan terdengar kembali tapi ini suara d e s a h an itu lebih jelas terdengar di telinga Gian.


"Ssst … aaah …." suara itu berhasil keluar kembali dari mulut Akira.


Membuat Gian semakin bergairah dan lebih liar, sehingga ia seakan lebih rakus saat  m l u m t gunung kembar Akira.


Akira sudah tidak malu-malu lagi untuk m n d s h h. Berkali-kali d s h a a n keluar dari mulutnya.


Sedangkan tangan Gian sudah aktif bermain di bawah sana m e r e m a s bokong Akira, lalu meraba lembut bagian lembah basah milik Akira.


Namun Akira masih mengenakan celananya.


Tapi Gian masih tetap berusaha dengan terus mencumbunya.


Kini Gian sudah membuka seluruh kancing baju Akira, dan bagian depan tubuh Akira sudah terekspos, Gian mulai turun mengecup perut pinggang sampai bawah pusar Akira.


Sehingga Akira sudah tidak bisa lagi menahan sensasi kenikmatannya, tubuhnya menggeliat, erangan demi erangan terdengar pecah di ruangan itu.


Dengan demikian Gian sudah berhasil membuka kancing dan resleting celana Akira permainan semakin memanas, keduanya sudah terbakar  nafsu yang membara.


Tombak tumpul Gian sudah tidak dapat dikendalikan lagi, ia sudah tegak berdiri sedari tadi, sehingga Gian merasa sesak dibawah sana, Gian bermain dengan mulutnya di bagian lembah basah Akira.


seperti memainkan gunung kembar Akira, Gian juga kembali melakukan hal yang sama di lembah basah Akira.


Sehingga Akira mulai liar, dengan reaksi tubuhnya semakin menggeliat, merintih dan m e n d e s a h h menahan sensasi yang luar biasa nikmatnya.


Semetara itu Gian mulai membuka kancing dan resleting celananya dan mengeluarkan tombak tumpul yang sudah berdiri sempurna dan siap dimasukkan di lembah basah milik Akira.


Gian hanya melorotkan celananya tidak membukanya dengan sempurna.


Kini Akira sudah berada dalam Kungkungan tubuh Gian, bibir Gian kembali bermain di wajah dan leher Akira, sedangkan di bagian bawahnya Gian berusaha menusukan tombak tumpulnya, di lembah basah milik Akira secara perlahan.


Karena lemah biasa itu memang sudah biasa sedari tadi, karena Akira sudah sempat melakukan pelepasan beberapa kali, di tabah sudah basah karena Saliva dari mulut atau lidah Gian yang sempat bermain di sana, jadi itu memudahkan Gian menusukkan tombak tumpulnya.


Dan kini tombak tumpul itu sudah di tusukkan sempurna di lembah basah milik Akira.


Tubuh Akira yang awalnya menggeliat saat  proses penusukan tombak tumpul Gian, kini melemas dan terasa lebih rileks, saat tombak tumpul sudah benar-benar masuk sempurna.


Gian melepaskan tautan bibirnya lalu berucap, "Aku mulai sekarang ya, sayang." Gian meminta izin.


Akira menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat bahwa ia mengizinkannya.

__ADS_1


Kemudian Gian mulai menggoyangkan pinggulnya, dengan gerakan turun naik secara perlahan dan sangat lembut.


Keduanya sama-sama merasakan sensasi nikmat yang luar biasa nikmatnya, Gian dan Akira sampai merem - melek saat merasakannya, saking menikmatinya.


"Yang, apa kamu bisa mempercepatnya?" Akira menginginkan lebih dari itu.


Gian tersenyum mendengarnya, ia merasa tertantang dan lebih bersemangat lagi.


"Oke, siapa takut." Gian menyanggupi permintaan Akira.


"Aku percepat ya " Gian memberi aba-aba.


Akira mengangguk sambil tersenyum, dan itu berhasil memberi semangat untuk Gian.


Sehingga Gian lebih bergairah lagi, dan mulai mempercepat permainan.


Namun di tengah-tengah permainan, terdengar suara ketukan pintu, tok … tok … tok ….


Awalnya mereka berdua mengabaikannya, meskipun sama-sama mendengarnya.


Tapi semakin lama suara ketukan pintu itu semakin kencang dan terus menerus berulang membuat keduanya risih.


Akira menahan pergerakan Gian agar menghentikan kegiatannya yang sedang menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan turun naik.


"Tunggu, sayang … itu ada yang datang mengetuk pintu."


Gian langsung terhenti, "Ini tanggung, sayang … sudah biarkan saja dulu, biarkan aku menyelesaikan permainan kita dulu." Gian menolak untuk berhenti dan terus bergerak.


Bahkan Gian mempercepat ritme permainan, untuk menyelesaikannya.


Sehingga Akira tidak dapat menolaknya dan terus menikmati permainan.


Mereka tetap mengabaikan orang yang di luar sana.


Kini gangguan tidak hanya dari ketukan pintu, namun dari deringan ponsel Gian dan Akira juga, yang bergantian berdering menandakan suara panggilan telepon masuk.


Dan itu lumayan mengusik mereka dan memecahkan konsentrasi mereka yang sedang asik bercinta.


Karena itu Akira kembali menghentikan suaminya, "Yang, apa sebaiknya kita akhiri saja dulu, mungkin memang ada yang lebih penting dari pada ini." Akira sungguh risih dan tidak tenang, sudah pasti Akira tidak lagi menikmati permainannya.


"Sial siapa sih yang datang mengganggu, dan menelpon berulang kali." Mood Gian pun jadi berantakan.



Sementara diluar ruangan, ternyata Mama Nirmala, papa Arga dan Erwin yang datang ingin menemui Gian untuk membahas hasil meeting Gian dengan perusahaan Erlangga group.


Mereka berulang kali mengetuk pintu ruangan Gian, padahal Siska sudah memberitahu mereka bahwa ada akra di dalam.


Menurut Siska mereka berdua (Gian dan Akira) sedang tanggung bercinta mungkin, ya memang begitu kenyataannya.


Tapi keluarga Gian malah berpikir yang tidak-tidak, mereka malah khawatir terjadi sesuatu kepada keduanya, saking khawatirnya mereka berpikir telah terjadi sesuatu pada keduanya.


Erwin dan mama Nirmala sampai menghubungi ponsel mereka secara bergantian.


Mereka juga berpikir gian tidak mungkin melakukan hal anu di kantornya, diwaktu bekerja tengah hari bolong, walaupun iya ingin melakukannya, Gian akan memilih tempat yang lebih etis, dengan pergi ke hote, apartemennya dan bisa pulang terlebih dahulu ke rumah.


....


Tindakan apakah yang diambil oleh Gian, apa akan tetap meneruskan permainannya bersama Akira sampai selesai, atau akan menyudahi permainan tanpa mencapai ******* (pelepasan)?


Simak kelanjutan ceritanya ya kawan ...!

__ADS_1


__ADS_2