
Aira menangis sejadi-jadinya, ia menyesali apa yang terjadi dalam hidupnya, ia menyadari ia berat berpisah dengan Gian, tapi ia juga berat jika meninggalkan Riza,
Selama dalam masa hilang ingatan Akira dapat merasakan betapa dalamnya cinta Riza kepadanya, apa lagi setelah Akira mendengar percakapan antara Riza dan ayahnya Akira semakin mengiba terhadap Riza.
Akira mengerti betapa sakitnya hati Riza, Riza juga sangat tersiksa dengan perasaannya, maka dari itu Akira memilih untuk berpura-pura tetap lupa ingatan, dan sekarang statusnya bukanlah milik siapapun.
Lisa memeluk Akira untuk menenangkannya, "Oke , menangislah jika itu bisa membuatmu lebih tenang sesudahnya, tapi jangan berlarut-larut." Lisa berbicara sambil mengelus punggung Akira yang sedang ia peluk.
"Sa, aku gak tau lagi harus bagaimana, aku merasa berat kepada keduanya hiks, hiks, hiks …!" Ucap Akira sambil terisak-isak.
Lisa malah tersenyum mendengar Akira sudah mengingatnya, "Alhamdulillah ya Allah …!" ucap Lisa.
"Kamu malah berucap syukur!" gumam Akira kesal kepada sahabatnya.
"Ya, aku seneng lah ingatanmu sudah kembali!" sahut Lisa.
Lalu Lisa mengajak Akira untuk ke apartemennya, agar Akira merasa lebih tenang.
Akira memang butuh waktu untuk menenangkan diri, untuk menghadapi dilemanya, rasanya sungguh berat harus memilih Cinta antara dua pilihan.
Sesungguhnya hati kecilnya Akira tidak ingin berpisah dengan Gian, ia memikirkan tentang masa depan putranya, tapi Akira juga memikirkan perasaan Riza.
Ia akan merasa lebih sakit, kejiwaannya akan semakin terguncang, ia bisa berbuat lebih gila lagi dari sebelumnya.
Di apartemen Lisa, Akira hanya bisa berdiam diri, ia bingung dengan perasaannya, Lisa terus menemaninya dengan setia di sana, Lisa juga tidak banyak bicara ia sengaja melakukan itu karena ingin memberikan ruang dan waktu untuk Akira berpikir.
Lisa menyuruh Akira untuk istirahat di kamar apartemennya, sedangkan dirinya tetap duduk di sofa di ruang tamunya, Lisa menghubungi Suaminya agar ia memberitahu Orang tua Akira jika Akira sedang bersamanya dengan tujuan agar mereka jangan merasa khawatir.
Setelah beberapa waktu, Akira keluar dari kamar dan menghampiri Lisa, Akira menatap Lisa dengan ekspresi wajah sendu, Lisa mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh Akira, Lisa tersenyum untuk memberi semangat kepada sahabatnya.
Dan kini Akira telah bisa berbicara, ia mencurahkan seluruh isi hatinya kepada Lisa, semua rasa bingung yang sedang ia rasakan.
Seperti biasa Lisa selalu bisa menenangkan Akira, memberinya solusi agar ia bisa menghadapi semua dengan tenang.
"Aku pengen pergi meninggalkan semuanya, Sa! tapi aku berat untuk meninggalkan putra ku," Akira ingin lari dari masalah.
"Masalah itu bukan untuk dihindari tapi untuk dihadapi, karena prosesnya memberi pelajaran untuk kita bisa bersikap dan mengambil keputusan, memberi pelajaran agar kita bisa lebih dewasa dalam bersikap."
Akira hanya diam, dalam hatinya ia membenarkan ucapan Lisa, dan saat itu, handphone Akira berbunyi ia melihatnya dan ternyata bi Atun yang menghubunginya.
Akira mengerutkan keningnya ketika melihat Bi Atun yang melakukan panggilan, ia berpikir pasti ada yang penting yang ingin Bi Atun sampaikan.
Akira segera mengusap panel hijau di layar ponselnya untuk menerima panggilan dari BI Atun.
Padahal sebelumnya handphone Akira berbunyi berkali-kali namun ia enggan menerima atau membalas panggilan maupun chat dari siapapun.
Tapi ketika Bi Atun yang menghubunginya Akira segera menerima panggilan darinya.
"Halo bi! Assalamualaikum," Akira menyapa Bi Atun yang berada di ujung telepon.
"Halo Non, waalaikumsalam!" jawab Bi Atun.
__ADS_1
Kemudian mereka saling bertanya kabar masing-masing untuk berbasa-basi.
Dan pada akhirnya Akira langsung bertanya kepada intinya, apa yang membuat bi Atun menghubunginya.
Bi Atun segera berbicara melaporkan apa semua informasi yang ia tahu, tentang Anjai, bahwa Anjai sering melukai dirinya ketika emosi, ia seperti memiliki dua kepribadian. Iya, Akira sudah tau tentang itu, Anjai atau Riza memang mengalami gangguan kejiwaan. Jadi karena itu ia melukai dirinya saat ia merasa emosi.
Dan ada informasi yang lebih penting lagi yang ingin Bi Atun sampaikan, "Apa itu bi?" tanya Akira penasaran.
"Non, sebelum tuan Ajai berangkat menyusul Anda, saya sempat mendengar tuan Anjai sedang menelepon seseorang, ia bertanya apakah anda tahu sudah tau tentang putri anda, yang diasuh oleh orang yang sedang melakukan panggilan itu." terang bi Atun.
"Maaf Bu apa maksudnya?" Akira kurang mengerti dengan maksud Bi Atun.
Kemudian bi Atun menjelaskan bahwa Akira memang melahirkan sepasang anak kembar, salah satunya perempuan dan dia tidak meninggal, sebab jelas terdengar Anjai menyebutnya putri Akira.
Dan sepertinya anak itu berada di kota dimana Akira berada di sana, sebab bia Atun mendengar Anjai dan orang tersebut seakan saling mengingatkan agar Akira jangan sampai mengetahui jika putri Akira masih hidup.
Akira begitu tercengang mendengar penjelasan dari BI Atun, yang memberikan fakta baru tentang putrinya.
"Apa, Bi? Jadi salah satu putri saya tidak meninggal?" tegas Akira.
"Iya, Non! yang saya dengar memang seperti itu." Jelas bi Atun.
Bi Atun memang merasa prihatin kepada Akira, ia merasa kasian kepadanya karena hidupnya di permainkan oleh orang lain.
"Nona Akira, anda harus cari tau sendiri tentang itu, anda bisa mengoreksi informasi dari tuan Anjai langsung," saran Bi Atun.
"Oke bi terima kasih atas informasi yang telah bibi berikan, aku tidak tahu harus membalasnya seperti apa!" Akira sangat berterima dan merasa berhutang Budi kepada Bi Atun.
"Tidak perlu berterima kasih Non, sayang akan membantu jika saya biasa, ya sudah Nona hati-hati di sana ya non!" Kemudian bi Atun menyudahi panggilannya.
"Siapa, Ra?" tanya Lisa.
Akira menceritakan tentang informasi yang baru saja ia dapat tentang putrinya.
Ia terdiam memaku, menyambungkan semua kejadian.
Lisa bertanya, "Apa kamu mencurigai seseorang?"
"Iya, aku curiga dengan kak shafira!" sahut Akira, dan kecurigaannya sama dengan Lisa.
"Karena putri angkat kak shafira mirip sekali dengan Gian ayah dari bayi-bayi ku!" Akira bicara dengan nada sendu.
"Aku bingung, Sa! Sekarang aku harus bagaimana?"
Lisa mengatakan, agar Akira tetap berpura-pura lupa ingatan, tapi ia harus rela berpisah dengan Gian, karena memang sebentar lagi sudah putusan perceraian mereka berdua akan diputuskan. Akira juga menyetujui saran Lisa.
Karena memang itulah rencananya, "Baiklah Lisa, aku sudah tau apa yang harus aku lakukan, aku ingin menemui putra - putriku, karena demi mereka aku harus kuat, aku tidak ingin kehilangan mereka." Akira seakan punya semangat baru, ia sudah memutuskan akan tetap berpura-pura hilang ingatan agar Riza tidak curiga jika ia ingin mengorek kebenaran tentang putrinya.
Setelah itu Akira meminta Lisa untuk mengantarkannya pulang. Lisa segera menurutinya.
Sampai di rumah kedua orang tuanya baru saja Akira turun dari mobil Lisa di saat itulah juga Gian datang untuk menemuinya.
__ADS_1
"Akira …!" seru Gian.
Akira tertegun melihatnya, tapi Akira segera menyadarinya, kemudian ia segera menunduk kan pandangannya.
Tanpa Akira berbicara, Gian tau Akira sedang merasa sesuatu, matanya terlihat sebab bukti bahwa ia habis menangis.
"Akira, aku sudah berulang kali menghubungimu, chat ku tidak kamu balas, panggilanku tidak kamu terima, maaf jika semua itu meresahkanmu, tapi aku hanya ingin memberitahumu, putra kita masuk rumah sakit." Gian menghubungi Akira dan mencari-carinya Karan ingin mengabarinya tentang putranya,
Yang tiba-tiba badannya Demam tinggi dan mengalami kejang-kejang, dan segera dilarikan ke rumah sakit, dan untungnya acara tujuh bulan Rima sudah selesai.
Akira membelalak matanya dengan mulut terbuka, ia terperangah mendengar kabar tentang putranya.
"Apa, apa yang terjadi kepada putraku?" Kemudian Akira bertanya.
Gian menjelaskan apa yang terjadi kepada putra mereka.
Dan tanpa di sadari Akira menangis, mendengar cerita Gian.
"Aku sengaja datang kemari untuk mencarimu dan akan mengajak mu untuk menemui putra kita.
"Baiklah, tolong antar aku menemui putraku!"
Lalu Gian mempersilahkan Akira untuk masuk kedalam mobilnya.
Tapi baru saja Akira mau naik ke dalam mobil Gian, tiba-tiba Anjai datang dan menarik paksa lengan Akira.
"Kamu mau kemana, ngapain kamu ikut dia, apa kamu sudah lupa kalau di orang yang sangat jahat," Riza masih berusaha mempengaruhi Akira.
"Za, anakku sakit, dia masuk rumah sakit jadi aku mau ikut dengannya ke rumah sakit," terang Akira.
"Tidak usah ikut dengannya aku bisa mengantarmu ke rumah sakit."ucap Riza.
Namun Gian merasa geram dengan tindakan Riza, yang terus-menerus menjelek-jelekkan dirinya di hadapan Akira.
Gian sudah berusaha bersabar menghadapi setiap situasi, tapi kali ini ia tidak dapat menahan emosinya Gian naik pitam, ia segera menghampiri Riza, dan menarik Akira, menjauhkannya dari Riza.
"Aku bukan pengecut sepertimu, yang bisanya merampas hak orang lain, dia masih istri ku dan ibu dari anak ku."
"Sementara dirimu, siapa dirimu? Hah!" Gian begitu geram.
Riza sendiri merasa Gian menantang dirinya, ia tidak mau kalah dan malah menyerang Gian terlebih dahulu, dan terjadi perkelahian antar Gian dan Riza,
Akira berusaha memisahkan mereka berdua, Akira berdiri di antara keduanya, dan menantang keduanya, untuk memukulnya, kalau mereka sanggup Akira meminta salah satu dari mereka untuk membunuhnya.
"Ayo hajar aku, bila perlu bunuh saja sekalian, aku sudah lelah sekali hidup seperti ini, ayo bunuh aku, bunuh …!" teriak Akira.
Sehingga, baik Gian maupun Riza mereka sama-sama mundur, karena mereka berdua tidak ingin menyakiti Akira.
Lisa masih berada di sana, ia segera menghampiri Akira lalu menggiring Akira untuk naik ke dalam mobilnya dan dia lah yang akan mengantarkan Akira untuk pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi putranya.
Selepas kepergian Akira dan Lisa, Gian segera berlari ke arah mobil ia segera mengikuti mobil Lisa, di Sisil juga oleh Riza di belakang mobil.
__ADS_1
Di dalam mobil Akira terus saja menangis, pikirannya hanya memikirkan tentang putranya, karena ke egoisnya yang meratapi nasibnya, ia sampai menelantarkan putranya.
Akira menangis karena menyesal perbuatannya, ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu kepada putranya.