
Pagi menjelang cuaca nampak cerah pagi hari ini, suara kicau burung menambah ramai suasana pagi di daerah terpencil di mana Shilla dan Anjai tinggal.
Daerah pedalaman yang luas hamparan perkebunan berbagai tanaman, yang Anjai kelola bersama para pekerjanya.
Di daerah itu masih sepi penduduk, terdapat beberapa villa dengan jarak yang lumayan cukup jauh antara villa satu dengan villa yang lainnya.
Seperti villa yang dihuni oleh Shilla jauh dari pemukiman penduduk, hanya ada beberapa para kerja yang tinggal di beberapa kamar mees sekitar villa tersebut, itu pun untuk waktu sekitar dua Minggu atau satu bulan para pekerja mengambil cuti pulang untuk berkumpul bersama para keluarganya, begitu juga dengan Bi Atun.
Hari ini adalah jadwal keberangkatan Anjai pergi keluar kota untuk keperluan bisnisnya untuk beberapa hari.
"Sayang, kamu hati-hati ya disini jaga kesehatan dan keselamatan mu serta putra kita, jangan sembarangan menerima orang asing atau berkomunikasi dengannya." Sesungguhnya Anjai sangat berat hati untuk meninggalkan istri dan putranya.
Tapi sebenarnya ini bukan kali pertama Anjai melakukan hal itu, tapi entah mengapa kali ini ia merasa tidak rela meninggalkan mereka.
Seperti biasa Shilla selalu patuh dengan apa yang dikatakan oleh Anjai. Ia mengerti lalu menganggukan kepalanya.
Kini mereka berdiri di teras rumah, Shilla mengendong putranya untuk melepas kepergian sang suami.
Setelah mengucapkan amanatnya, Anjai mencium kening istrinya, lalu beralih menciumi wajah putranya Anjas yang sudah ia anggap seperti putranya sendiri.
"Hati-hati ya, Sayang," ucap Shilla.
"Kamu juga hati-hati ya!" balas Anjai lalu mengelus rambut sang istri.
Beberapa langkah Anjai berjalan menjauh dari Shilla dan putranya menuju mobilnya. Namun ia kembali berbalik dan kembali menghampirinya lagi.
Shilla tersenyum melihat tingkah Suaminya itu, "Sayang, kapan mau berangkatnya kalau kamu seperti ini!" Shilla menegur Suaminya.
"Entah mengapa aku merasa sangat berat meninggalkan kalian di sini," ucap Anjai terus terang.
"Aku dan Anjas akan balik-balik saja kok, percayalah, ini juga bukan yang pertama kalinya kamu meninggalkan kami." Shilla menimpali.
"Iya aku tau itu, tapi perasaan ku berkata tidak enak, seakan ada sesuatu yang akan terjadi kepada kita." Anjai Memiliki firasat buruk.
Shilla mengerutkan keningnya mendengar ucapan Suaminya, ia pun merasa takut akan hal itu, kemudian datang Bi Atun, dan mendengar percakapan keduanya.
__ADS_1
"Tenang saja Tuan, saya akan menjaga Nona Shilla dan Dede Anjas." Bi Atun meyakinkan Anjai.
"Iya bener aku kan tidak sendiri di sini, ada Bi Atun dan para pekerja yang lainnya, lagian selama ini juga aman-aman aja kan." Shilla ikut meyakinkan Anjai.
"Baiklah, Bi Atun, aku titip istri dan anakku ya! jaga mereka berdua, pastikan keselamatan mereka tetap aman, bibi tidak sendiri jika ada sesuatu bibi bisa meminta bantuan kepada pekerja lain." Ternyata Anjai sudah memerintahkan anak buahnya untuk menjaga keselamatan Shilla dan putranya.
Setelah itu kemudian, Anjai bergegas pergi meninggalkan istri dan anaknya, meskipun berat hati ia tetap harus pergi karena ini untuk perkembangan bisnisnya, ia mengemban tanggung jawab yang diberikan oleh temannya untuk mengurus usaha perkebunannya.
…
Di sisi lain.
Satu Minggu kemudian. Gian dan kedua orang tuanya juga sedang ada urusan bisnisnya di luar kota, mereka akan meninjau lokasi proyek baru untuk mendirikan cabang perusahaan di luar kota.
Pagi ini mereka berangkat bersama, berangkat menggunakan satu mobil dan supir pribadi Gian, karena perjalanan kali ini cukup jauh jadi mereka memutuskan untuk berangkat bersama, untuk bergantian mengendarai mobilnya.
Setelah menempuh jarak tempuh beberapa jam mereka sudah memasuki kawasan tempat tujuan mereka. Namun, masih butuh beberapa waktu lagi untuk sampai di tempat tujuan mereka.
Di salah satu minimarket, Mama Nirmala meminta berhenti, untuk membeli beberapa bahan makanan untuk stok mereka selama di tempat peninjauan nanti.
Sebab mereka sudah pasti akan bermalam di sana, karena jarak tempuh untuk bolak - balik itu sangat jauh, jadi tidak memungkinkan untuk mereka langsung kembali lagi saat itu Juga.
Di saat yang bersamaan Shilla juga sedang berada di minimarket tersebut, ternyata beberapa kebutuhan rumah tangga mereka sudah habis, susu formula Anjas yang lebih penting juga telah habis.
Sebelum berangkat ke minimarket, Shilla menghubungi Anjai menanyakan kapan Anjai akan pulang?
Tapi Anjai masih harus menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai di sana.
Shilla melaporkan semua kebutuhannya sudah habis terutama susu formula Anjas, yang tidak bisa di tunda lagi.
Anjai mengerti dan meminta Bi Atun untuk berbelanja membeli semua kebutuhannya.
Tapi Shilla meminta izin untuk ikut bersama Bi Atun, awalnya Anjai tidak mengizinkan Shilla untuk pergi.
Tapi Shilla terus memaksa dengan alasan ia merasa jenuh setiap hari di rumah, apa lagi sejenak Anjai pergi Shilla merasa sangat kesepian.
__ADS_1
Jika ada Anjai, sekali-kali Anjai memang mengajak Shilla untuk pergi keluar sekedar pergi jalan-jalan ke kota untuk berbelanja semua kebutuhan, atau sekedar pergi makan di luar.
Tapi jika Shilla pergi tanpa dirinya Anjai sedikit ragu untuk mengizinkannya. Karena Shilla terus saja memaksa, akhirnya Anjai mengizinkan Shilla untuk pergi.
Shilla merasa senang dan sangat bersemangat untuk pergi, ia segera bersiap lalu segera mengajak Bi Atun, untuk pergi menemaninya, setelah semuanya siap, Shilla dan Bi Atun segera pergi, diantar anak buah Anjai, yang sudah di utus oleh Anjai untuk menjaga keselamatan istri dan anaknya.
Sesampainya di minimarket, dengan antusias Shilla segera masuk dan mulai berbelanja memilih semua bahan makanan dan kebutuhan yang ia perlukan.
Sedangkan Bi Atun mendorong troli belanjaannya, dan putra Shilla Anjas di letakkan di tempat duduk khusus balita di troli belanja tersebut.
Setelah cukup lama dan semua keperluan sudah Shilla dapatkan. Shilla segera membawa belanjaannya ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Sedangkan Bi Atun bersama dengan Anjas menunggu Shilla di depan minimarket tersebut sambil menemani Anjas memainkan permainan anak yang mengunakan koin untuk mengoperasikannya.
Tidak lama Shilla segera keluar setelah melakukan pembayaran, dan menyuruh anak buah Anjai yang saat ini menjadi sopir pribadi Shilla untuk mengangkut semua belanjaannya ke dalam mobil.
"Nona, sudah selesai?" Tanya bi Atun ketika melihat Shilla menghampirinya.
"Sudah, Bi!" jawab singkat shilla.
"Tapi bibi, tunggu sebentar di sini ya aku mau ke toilet dulu sebentar, aku kebelet pengen p i p i s dulu." Shilla pamit ingin buang air kecil.
Bi Atun mengangguk, sebagai isyarat mengizinkannya.
Saat Shilla di toilet, Mama Nirmala Gian dan juga Papa Arga sampai di minimarket tersebut.
Mama Nirmala dan papa Arga segera masuk kedalam untuk membeli beberapa barang yang mereka akan butuh, papa Arga ingin mengambil minum untuk dirinya minum dan juga untuk putranya Gian serta untuk pak sopir, setelah mencari apa yang ia butuhkan papa Arga kembali ke luar, tidak menemani Mama Nirmala berbelanja sampai ia selesai berbelanja.
Sedangkan Gian sendiri ia malah duduk di bangku teras yang tersedia di minimarket tersebut.
Sementara itu, di sebelah Gian ada Bi Atun yang sedang mengasuh Anjas, sambil menunggu Shilla yang sedang pergi ke toilet.
Gian, yang selama ini berhati dingin, tidak perduli hal-hal kecil di sekitarnya. Namun, kali ini ia sungguh tertarik melihat Anjas, menurutnya Anjas sangat menggemaskan.
Melihat Anjas ia jadi teringat Akira, entah mengapa wajah Anjas sangat mirip Akira menurut Gian, karena rasa yang Gian milik terhadap Anjas membuatnya sangat tertarik kepada balita berumur satu tahun itu.
__ADS_1
Akhirnya Gian merasa penasaran dan menghampirinya. Ia tersenyum lebar saat mendekati Anjas.
"Hay, baby boy!" sapa Gian.