
Akhirnya akira memanggilnya, "Kak Erwin …."
Seketika itu Erwin langsung berbalik dan melihat ke arah sumber suara yang sudah tidak asing lagi suara, siapa yang memanggil namanya.
"Akira …." gumam Erwin, seakan tidak percaya melihat Akira ada di sana.
….
Erwin menghentiu langkahnya, dan menunggu Akira yang berjalan ke arahnya.
Tanpa disadari Erwin tersenyum lebar merasa senang dengan kedatangannya.
"Akira … kamu di sini?" Erwin bertanya saat Akira sudah ada di hadapannya.
Akira menganggukkan kepalanya, sambil tersenyum.
Melihat senyuman Akira Erwin malah salah tingkah, 'Ya tuhan senyumannya membuat perasaanku meleleh, manis sekali.' Erwin malah bergumam dalam hati.
Semakin hari cinta Erwin semakin membara di hatinya.
Erwin terlihat bengong tidak merespon Akira, saat menyapanya, ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Kak Erwin … apa kakak mendengarku." Akira melambai-lambaikan tangannya tepat di wajah Erwin untuk mendapat perhatian darinya karena berbicara dengannya tapi tidak mendapat respon darinya.
Dan akhirnya Akira menyentuh pundaknya, untuk menyadarkan Erwin dari lamunannya, "Kak Erwin … kakak baik-baik sajakan?"
Akhirnya Erwin terhenyak, "Eeh, iya aku baik." Kemudian sahut Erwin gugup.
"Maaf aku sedang memikirkan pekerjaanku."
"Oo iya, maaf aku mengganggumu, aku ingin bertemu dengan kak Gian apa dia ada di ruangannya."
Erwin begitu kecewa ketika mendengar ucapan Akira yang datang untuk menemui Gian bukan dirinya.
'Kamu mikir apa, Erwin! Mana mungkin Akira datang untukmu, ya sudah pasti dia datang untuk menemui suaminya.' Erwin bicara dalam hati, menepis rasa kecewanya.
"Oo Gian ya? Harusnya dia ada di ruangannya." dengan nada yang sedikit kecewa Erwin menjawab.
"Oo ya, baguslah kalau begitu." sahut Akira merasa lega karena ia tidak perlu mencarinya lagi, atau menunggunya jika Gian tidak ada di ruangannya, atau sedang ada urusan di luar ruangannya.
"Ya sudah mari saya antar." Erwin menawarkan diri untuk mengantar Akira ke ruangan Gian.
Sebab lumayanlah pikirannya bisa bersama Akira walaupun hanya sebentar.
Akira mengiyakan tawaran Erwin untuk mengantarnya, tanpa memiliki pemikiran apa-apa terhadap Erwin, Akira tidak curiga sama sekali jika Erwin menyukainya, ia hanya berpikir Erwin orang baik dan sangat peduli kepadanya.
Saat masuk lift, di sana hanya mereka berdua, hati kecil Erwin mendorongnya untuk ia melakukan sesuatu kepada Akira, sebab ia lelaki normal berada satu ruangan dengan wanita yang ia cintai jadi timbul perasaan atau keinginan untuk melakukan sesuatu menyalurkan hasratnya.
Erwin terlihat bercucuran keringat dingin, jantungnya berdetak kencang, saat sesekali Akira melihat ke arahnya.
…
Erwin tidak dapat menahan perasaannya, dan mengikuti kata hati.
Ia mulai menggenggam tangan Akira, Akira langsung menoleh ke arahnya sambil tersenyum.
Membuat hasrat di hati Erwin semakin terpacu untuk melakukan sesuatu.
Perlahan Erwin medekat dan terus mendekat ke arah Akira, Akira mundur beberapa langkah sampai terpentok dinding lift.
Mereka saling menatap, Akira seakan terhipnotis oleh tatapan Erwin yang menatapnya penuh gairah.
Erwin mulai mendekatkan wajahnya di wajahnya, tidak ada penolakan sama sekali dari Akira, sebab ia sudah tidak dapat menghindar lagi.
Erwin mulai mengecup sekilas bibir Akira yang selalu tersenyum manis kepada, membuat dirinya ingin merasakan rasa manisnya.
Karena tidak ada perlawanan, Erwin kembali mengulang mengecupnya sampai berkali-kali, ia menjadi candu lalu mengulanginya lebih dari sekedar mengecup, ia mulai m e l u m a t t nya lebih lama dan lebih dalam lagi.
Nafasnya bergemuruh jantung berpacu lebih cepat dari biasanya, Erwin makin liar dengan nafsunya.
__ADS_1
Tapi di Tengah-tengah pergulatannya hasratnya tiba-tiba Erwin dikejutkan oleh pintu lift yang terbuka dan suara Akira yang mengajarkannya keluar dari sana.
"Kak Erwin, ayo kita sudah sampai di lantai sepuluh." ya di lantai itulah terletak ruangan Gian.
Dan semua itu membuyarkan lamunan Erwin, 'Ah, sial aku sampai berhayal yang tidak-tidak.' gerutu Erwin dalam hatinya, karena telah membayangkan dirinya mencumbu Akira.
Jika benar Erwin nekat melakukan hal itu, sudah pasti Akira tidak akan pasrah begitu saja, Akira akan memberontak sebab Akira bukan tipe perempuan murahan, dan tindakannya bisa membuat Akira menjauh darinya untuk menjaga jarak.
Erwin berpikir seperti itu juga, maka dari itu ia menahan hasratnya dan menyalurkan dalam khayalannya.
Akira menyadari Erwin mandi keringat saat itu.
"Kak Erwin, kakak tidak apa-apakan, kok berkeringat seperti itu?" tegur Akira, yang merasakan keanehan atas sikap Erwin.
"Oo … tidak apa-apa kok, mungkin karena aku belum sarapan jadi sedikit berkeringat." Erwin mencari alasan.
Tapi alasan yang diberikan oleh Erwin terasa tidak masuk akal, Akira hanya mengerutkan keningnya sebagai respon bingung atas jawaban Erwin, tapi Akira memilih diam tidak memperpanjang pembicaraan.
Kini keduanya berjalan berdampingan menuju ruangan Gian .
Lalu Erwin berhenti di depan salah satu pintu ruangan yang ada di lantai itu.
Erwin mulai mengetuknya, tok … tok… tok suara pintu diketuk.
Tidak lama ada seorang wanita yang membukakan pintu.
"Selamat pagi pak Erwin … !" sapa wanita itu sambil, tersenyum hormat.
"Pagi, Giannya ada?" tanya Erwin.
Iya, ruangan itu memang ruangan Gian dan yang membuatkan pintu adalah sekertaris Gian yang sedang memberi membahas pekerjaan dengan Gian.
"Ada tuan." jawab tegas wanita itu.
"Beritahu dia saya ingin bertemu dengannya." perintah Erwin.
"Baik." jawab wanita dengan tegas, lalu segera masuk dan menghampiri Gian.
"Silahkan masuk tuan."
Erwin mengajak Akira untuk ikut masuk bersamanya.
"Ayok Akira."
Akira mengangguk mengiyakan ajakan Erwin, tapi tatapan mata Akira tidak berkedip menatap sekertaris Gian, yang cantik dan seksi, bertubuh sintal dengan buah dada yang menonjol menantang hasrat lelaki mata keranjang bila menatapnya.
Merasa di perhatikan seperti itu oleh Akira, ditatap dari ujung kaki hingga ujung rambutnya, membuat wanita itu salah tingkah, dan hanya mampu menundukkan kepalanya.
Erwin masuk di ikut oleh Gian, "Selamat pagi, Tuan Giantha Mahendra." sapa Erwin ketika sudah berada di ruangan Gian.
Gian sendiri sedang fokus menatap layar laptopnya, ia sedang sibuk memeriksa laporan-laporan pekerjaan yang baru saja sekretarisnya sodorkan kepadanya.
Awalnya Gian tidak menggubris sapaan kakaknya, ia tetap fokus dengan pekerjaannya.
Tanpa dipersilahkan Erwin langsung duduk di sofa yang ada di sana.
Sekilas Gian memang melihat ada wanita bersama Erwin, tanpa berniat menatapnya Gian pikir wanita itu adalah sekretarisnya, yang memang sedari tadi bersamanya di ruangan itu.
Tapi ternyata wanita itu adalah istrinya-akira, Akira merasa Gian tidak peduli dengan kehadirannya.
Ia benar-benar merasa kecewa, awalnya ia begitu antusias ingin memberi kejutan untuk suaminya, tapi respon Gian malah seperti itu.
'Kenapa dia, apa dia benar-benar marah sehingga bersikap dingin seperti ini kepadaku?' Akira membatin.
Ia melangkah perlahan menghampiri meja di depan Erwin lalu meletakkan paper bag yang sedari tadi ia tenteng, yang berisikan makan untuk suaminya.
Akira tetap berdiri, karena Gian tidak mempersilahkannya, bahkan Gian tidak menyambut kedatangannya.
Hati Akira begitu sedih, matanya berkaca-kaca melihat sikap Gian sedingin salju kepadanya, rasanya Akira ingin lari dari ruangan itu dan menangis sejadinya, karena merasakan rasa kecewa dan sakit hati.
__ADS_1
Akira juga berburuk sangka kepada Gian dan sekretarisnya, mereka pria dan wanita dewasa berduaan berada di ruangan yang sangat tertutup, Akira berpikir yang tidak-tidak.
Itu juga yang mengusik hati Akira sehingga perasaannya menjadi resah dan mellow.
Tapi tiba-tiba di ujung pandangan Gian ia sekilas menangkap ada sosok wanita lain berjalan ke arahnya dari belakang wanita yang sedang berdiri.
Seketika Gian berpikir sikap wanita yang satunya, jika sekertaris berjalan ke arahnya.
Gian yang sedang menatap laptopnya langsung mendongakkan wajahnya melihat ke arah wanita yang sedang berdiri untuk memastikan siapa wanita itu.
Alangkah terkejutnya Gian ketika yang dilihatnya ternyata adalah sang istri, dengan raut wajah yang hampir menangis.
"Sayang, kamu di sini?" Gian sungguh tidak menyangka jika wanita itu adalah istrinya.
Ia segera bangkit dari kursi kebesarannya, lalu menghampiri istrinya itu.
Gian kemudian menggiring Akira untuk duduk di sofa.
"Kenapa hanya berdiri ayok duduk, sayang." ucapnya.
Erwin hanya menatap kelakuan adiknya, dan merasa Gian sedang bersikap lebay.
Tapi Gian juga menghiraukan Erwin, tetap bicara pada istrinya.
"Apa yang membawamu kemari, tumben sekali kamu mau berkunjung ke sini?" Gian bertanya alasan Akira menemuinya.
"Alasannya kamu?" Jawab singkat Akira.
"Aku, Kok aku?" Gian menunjuk dirinya.
"Iya, kalau bukan karena kamu, untuk apa aku repot-repot datang kesini, udah gitu aku harus tau kalau suamiku sedang berduaan bersama wanita lain." Akira sedikit memberikan sindiran.
Gian tau apa yang di maksud oleh Akira, ia menatap sekertarisnya, dan menyuruh untuk keluar.
Setelah sekertaris itu keluar Gian juga menoleh ke arah kakaknya yang masih anteng duduk di sana.
"Kenapa?" tanya Erwin karena Gian menatapnya dengan tatapan tajam.
"Kamu tidak ingin keluar?"
"Aku, apa aku harus keluar?" Erwin malah mengajukan pertanyaan bodoh.
"Perlu kamu tau ya, jika diantara sepasang kekasih ada orang ketiga maka orang ketiga itu adalah setan." Gian menjelaskan.
"Apa!" Pekik Erwin, karena secara tidak langsung Gian menyebutnya setan.
"Ya, banyak orang yang bilang seperti itu." tegas Gian.
"Gak usah ngatain aku gitu, kalau mau ngusir aku." Ketus Erwin sambil berjalan keluar.
Gian sedikit tersenyum melihat tingkah kakaknya.
Kemudian ia fokus kembali kepada istri cantiknya hanya diam dengan wajah cemberutnya.
"Kamu kenapa, kamu cemburu sama Siska?" Gian bertanya kepada istrinya.
Akira tetap diam, tidak menggubris pertanyaan Gian, hatinya masih sangat kesal dengan pemikirannya tentang Suaminya.
Yang padahal tidak melakukan hal apapun dengan sekretarisnya.
Iya, Gian dan sekretarisnya atau dengan pegawai lainnya sering berada di dalam satu ruangan di ruang kerjanya, tapi hanya membahas tentang pekerjaan.
Memang terkesan tidak pantas apa lagi dengan penampilan wanitanya seperti Siska, mungkin juga banyak para atasan bermain gila dengan bawahannya, atau pera atasan memanfaatkan jabatan atau kekuasaannya untuk menggaet bawahan seperti Siska.
Namun tidak semua para atasan bersikap demikian, ada juga yang berpegang teguh dan setia dengan satu pasangan, dan menganggap perempuan seperti Siska itu terlalu mudah didapatkan jadi levelnya bukan wanita seperti itu.
....
Akankah Akira mempercayai Gian dengan semua penjelasannya, atau akan tetap cemburu buta karena salah paham?
__ADS_1
Simak kisahnya di cerita selanjutnya ...!