Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 16


__ADS_3

Sisil dan pengasuhnya mengatakan Sisil tidak apa-apa cuma demam biasa, setelah minum obat dan beristirahat Sisil akan sembuh.


Tapi Sisil minta untuk tidur bersama bersama Gian dan Akira di kamar Gian.


....


Karena memang sebelumnya juga Gian tidak pernah bisa menolak ke ingin Sisil, akhirnya Gian mengiyakannya.


"Tapi benar kan, Sisil tidak apa-apa?" tanya Gian kepada babysitter untuk meyakinkan dirinya.


Babysitter mengatakan, "Iya tuan, tenanglah, dan percayalah, non Sisil hanya butuh istirahat saja.!"


"Oke kalau begitu kamu boleh keluar, apa kamu mau tidur di sini juga?" ucap Gian kepada babysitter Sisil.


"Tidak tuan, kalau begitu saya permis dulu...!" ia lalu berlalu.


Kini Sisil berbaring di antara Akira dan Gian.


Sisil juga meminta keduanya untuk memeluk nya yang berada di tengah-tengah keduanya.


Kemudian Akira dan Gian sama-sama melingkarkan tangannya di tubuh Sisil tapi  berjarak sehingga tidak bersentuhan sama sekali.


Namun Sisil menarik tangan keduanya dan mendekatkannya.


Sehingga menjadi tumpang tindih, tangan Akira, berada di atas di bawah tangga Gian, tapi masih sama-sama di atas tubuh Sisil.


Akira mencoba menarik tangannya secara perlahan, tapi Sisil tidak membiarkannya sehingga tangan kedua tangannya ia letakkan di atas tangan ke duanya.


untuk mencegah Akira dan Gian melepas pelukannya dari tubuh Sisil.


Karena rasa lelah dan rasa ngantuk akhirnya ketiganya pun terlelap tidur.


Tapi di tengah malam Sisil terbangun. kondisinya sudah membaik, ia merasa ingin buang air kecil.


Sisil melihat Akira dan Gian sedang tertidur pulas, masih dengan posisi yang sama, saling memeluk tubuh nya.


Sisil ingin membangunkan salah satu di antara mereka untuk menemaninya, tapi Sisil mengurungkan niatnya, karena merasa tidak tega kepada keduanya.


Akhirnya Sisil bangun perlahan, agar posisi Gian dan Akira tidak berubah dan mereka tidak merasakan pergerakannya.


Sisil pun keluar dari kamar Gian dan menghampiri pengasuhnya yang tidur di kamarnya.


Sisil membangunkan pengasuhnya lalu mengatakan ia ingin buang air kecil.


Pengasuh Sisil segera bangun dan mengantarkan Sisil ke kamar mandi.


Setelah itu, pengasuh nya bertanya, "Apa non Sisil ingin kembali ke kantor tuan Gian?"


Sisil menjawab tidak ingin kembali ke kamar om nya, ia takut malah akan mengganggu omnya dan Tante nya, lalu Sisil memilih untuk tidur di kamarnya bersama pengasuhnya.


Sementara Gian dan Akira, mereka makin erat berpelukan setelah Sisil pergi dari sana, karena tidak ada batas penghalang diantara keduanya.


Secara tidak sadar Akira semakin membenamkan wajahnya di dada bidang milik Gian dan dalam pelukannya, karena secara tidak sadar juga Gian menarik Akira untuk lebih mendekat kepadanya dan mempererat pelukannya.


Mereka tidur seperti itu ranjang malam, terlihat begitu nyenyak dan nyaman.

__ADS_1


Sebelum subuh Gian terbangun, ia baru menyadari, ia tidur memeluk Akira.


Dengan ekspresi wajah yang masih ngantuk Gian menatap wajah, Akira yang sedang terlelap begitu tenangnya, tentunya masih dalam pelukannya.


Entah mengapa tiba-tiba hati Gian terenyuh melihat wajah itu, seketika itu hatinya terasa sakit sebab Gian teringat semua perlakuannya kepada Akira.


Gian berpikir, Akira begitu baik ia rela dikorbankan menjadi tumbal sebagai pengantin pengganti, padahal Akira punya cintanya sendiri yaitu Riza.


Akira juga begitu tulus kepada Sisil, tapi apa yang ia lakukan? Ia malah selalu menyakitinya dan tidak menghargainya.


"Ya ampun wanita ini, mengapa wajahnya terlihat begitu polos membuat hati ku terasa sakit melihat wajah ini." Gumam Gian dalam hatinya, ada rasa penyesalan terdalam dalam hatinya.


Kemudian ia malah mengecup kening Akira, dan memeluk tubuh Akira erat, membuat Akira semakin merasa nyaman dan semakin membenamkan wajahnya.


Tapi tiba-tiba Gian teringat, Sisil mengapa Sisil tidak ada di tempat tidurnya, kemana perginya Sisil, pertanyaan di benak Gian.


Ia menjadi Panik, dan melepaskan pelukannya secara perlahan ia pun tidak ingin Akira terbangun, dan menyadari dirinya tidur dalam pelukan Gian.


Setelah berhasil, Gian keluar dari dalam kamarnya dan mencari keberadaan Sisil.


Gian melihat ternyata Sisil sudah berada di kamarnya, Gian menghampiri Sisil yang sedang terlelap, ia mengecek suhu tubuhnya, dan memang demamnya sudah turun, kondisi Sisil sudah stabil.


"Ya ampun kok aku sampai gak tau sih kalau kamu keluar dari kamarku" gumam Gian dengan suara berbisik, lalu Gian mencium kening Sisil.


Dan ternyata pengasuh Sisil yang terbangun karena merasakan kehadiran Gian di sana.


"Tuan anda di sini…,!" tanya nya.


Tapi Gian tidak menjawab Gian malah memberi isyarat dengan menaruh telunjuk di bibirnya agar baby sitter itu jangan berisik.


Menerima isyarat dari Gian, ia mengerti lalu mengangguk kepalanya.


Baby sitter takut Gian salah paham jadi dia harus memberitahukan yang sebenarnya.


Ya, Gian mengerti lalu pergi, tapi Gian tidak kembali ke kamarnya.


Ia malah pergi ke ruang kerjanya, di ruang kerja, ia bingung mau ngapain.


Padahal hari masih malam, subuh pun belum tiba. Ia duduk di kursi kerjanya, lalu menyandarkan kepalanya di sana sambil memejamkan mata, ia berharap bisa terlelap.


Tapi entah mengapa bayangan wajah Akira selalu muncul di benaknya.


Membuat batin nya sungguh tidak tega membayangkan semu perlakuan kasarnya kepada Akira.


Apalagi ketika ia mengingat kejadian malam pertama yang sengaja ia lakukan sangat kasar kepada Akira, tanpa perasaan iba, apalagi perasaan cinta.


Gian sungguh menyesali semuanya, batinnya merasa tersiksa ketika itu.


"Apa ini… kenapa seperti ini, kenapa batin ku lemah seperti ini?" ucap Gian bicara sendiri ketika ia menyadari perasaannya.


"Ingat Gian rasa sakit yang kakaknya berikan kepadamu,,, sungguh sakit rasanya, aku tidak boleh lemah, aku harus balas semua rasa sakit ini…!" Gian mengintruksi dirinya sendiri.


Namun timbul lagi pertanyaan di benaknya, "Tapi dia (Akira) tidak melakukan kesalahan, apa pantas di menerima semua perlakuan ku yang tidak baik kepadanya…?" Hati Gian bimbang karena hatinya mulai merasakan satu getaran entah getaran apa itu, yang ia sendiripun tidak bisa menyadarinya.


"Aaaa….!" Teriak Gian sambil menjambak rambutnya karena prustasi.

__ADS_1


….


Sampai di pagi hari, Akira terbangun ia melihat sekelilingnya, ia baru tersadar ia tinggal sendiri, sedangkan ia mengingat semalam ia tidur bersama Gian dan Sisil.


"Kemana perginya mereka?" Ia bertanya sendiri.


"Wah, jangan-jangan…!" Akira berpikir telah terjadi sesuatu kepada Sisil.


Ia begitu khawatir saat menyadari pemikirannya, Akira begitu panik, bangun dengan tergesa-gesa untuk mencari kebenarannya.


Tapi saat Akira akan membuka pintu, tiba-tiba.


BRAK…! Daun pintu menghajar kepala Akira dengan begitu kencang.


Dan ternyata di saat yang bersamaan Gian dari arah luar yang lebih dulu membuka pintu itu.


Karena Gian membuka pintu dengan seenaknya ia pikir tidak ada orang yang hendak keluar, sehingga hantam itu benar-benar keras membuat Akira sempoyongan dan keningnya pun sampai memar dan benjol.


"Aaw…!" rintih Akira kesakitan sambil sempoyongan memegangi kepalanya menahan rasa sakit.


Gian pun begitu terkejut menyadari apa yang terjadi, ia segera menghampiri Akira ingin memastikan kondisinya.


"Hey… apa kamu tidak apa-apa?" tanya Gian basa-basi.


Padahal Gian tau Akira sangat kesakitan, sebab ia memang begitu kencang membuka pintu.


"Tidak apa-apa matamu…!" Ketus Akira yang masih menahan rasa sakit.


Gian terus mendekati Akira dan berusaha meraih tangan Akira yang menutupi keningnya yang benjol dan memar.


Namun Akira tetap menghindarinya, sampai akhirnya Gian menangkap tubuh Akira dan memeluk. 


Otomatis perlakuan Gian membuka Akira histeris ketakutan, mengingat semua perlakuan buruk Gian kepadanya.


Apa lagi kini Akira dalam kondisi kesakitan.


"Lepaskan…!" Pekik Akira, meminta Gian melepaskan pelukannya.


"Coba aku lihat dulu keningmu…!" ucap Gian khawatir karena merasa bersalah.


Lalu Gian memaksa untuk melihat luka di kening Akira.


Alangkah terkejutnya Gian melihat benjolan di kepala Akira yang sebesar bola kasti.


"Wah… gila untung kamu gak pingsan, hebat… tanggung juga ya kamu.!" seru Gian, terdengar seperti meledek, di telinga Akira.


Jelas Akira makin kesal di buatnya, dan itu membuat Akira makin histeris, "Awas… lepaskan aku…!" pekik Akira lagi.


Gian bukannya melepaskan ia malah memangku Akira dan membawanya ke ruang tengah.


Membuat Akira makin curiga dan merasa takut Gian akan bertindak lebih melukainya.


"Heey… kamu mau bawa aku kemana… lepaskan aku…!" Teriak Akira dalam gendongan Gian.


Dan suara Akira terdengar sangat gaduh, sehingga para penghuni rumah dapat mendengar nya dan merasa heran dan curiga, apa yang terjadi dengannya.

__ADS_1


Sehingga semua orang atau pekerjaan berlarian untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.


 


__ADS_2