
Rombongan pengantin wanita kini telah sampai di kantor KUA, pasangan Rima mendapat giliran yang kedua, jadi mereka harus menunggu terlebih dahulu, karena pasangan pengantin yang mendapat giliran pertama masih sedang menjalankan prosesi ijab qobul nya.
Setelah beberapa waktu menunggu dengan gelisah, kini giliran Rima dan calon suaminya yang masuk dan menjalankan prosesi ijab kabul.
Rima masuk lebih dulu di giring oleh kedua orang tuanya.
Kemudian Rima sudah didudukkan di kursi yang seharusnya di peruntukan untuk mempelai wanita.
Pak penghulu sudah siap untuk menikahkan Rima dengan calon suaminya.
Namun sampai saat prosesi akan di mulai, calon mempelai pria belum juga memasuki ruangan.
Penghulu segera bertanya, "Mana calon mempelai prianya, ayo kita akan segera mulai, karena pasangan lain sudah menunggu gilirannya." tegas penghulu ingin mempercepat acara.
Karena memang masih ada tiga pasangan lagi yang menunggu giliran mereka.
Orang-orang dari pihak pengantin wanita celingukan, mencari calon suami Rima.
Sebab sebelumnya, calon suami Rima dan keluarganya sudah terlihat lebih dulu sampai di sana.
Tapi mengapa saat mendapatkan giliran mereka lama sekali untuk bersiap.
"Bagaimana, ini mau di lanjutkan atau mau di tunda dulu, dan biarkan calon pengantin lain yang duluan?" tegur penghulu lagi.
Karena calon mempelai pria tidak kunjung masuk, atau tidak kunjung ada.
Rima memandang ke arah kedua orang tuanya dengan perasaan cemas, sebab jika pernikahan itu gagal Rima akan lebih menanggung malu, dan akan lebih di cemooh oleh warga.
"Bu, pak, gimana?" tanya Rima kepada kedua orang tuanya.
Kemudian bapak Rima meminta pak Salim untuk memanggil calon suami Rima beserta keluarganya.
Pak Salim segera keluar untuk memanggil calon suami Rima sesuai perintah bapak Rima.
Tidak lama pak Salim masuk kembali dan di ikut oleh tiga orang pria.
Dan mereka segera duduk di posisi mereka masing-masing.
Namun alangkah terkejutnya Rima dan keluarganya, Sebab yang masuk dengan pak Salim bukan lelaki yang Bapak dan Ibu Rima siapkan untuk jadi calon suami Rima. Melainkan orang lain.
Wajah Rima terlihat menegang, ia sungguh terkejut ketika seseorang duduk di sampingnya dan akan jadi calon suaminya.
"Tuan Erwin, kenapa anda duduk disini?" tanya Rima, gugup karena Erwin yang duduk di sebelah Rima.
"Lalu, aku harus duduk di mana?" Erwin malah sengaja membuat Rima salah tingkah.
"Kursi ini untuk calon mempelai pria, Tuan." Rima mengingatkan.
"Iya, saya tau, karena sayalah yang akan jadi calon mempelai prianya." tegas Erwin memberi tau.
"Apa …?" pekik Rima dan Ibu - Bapaknya serentak.
"Mengapa bisa begitu?" Rima dan orang tuanya meminta kejelasan.
"Sudah, sudah … jangan banyak bicara pernikahannya akan di teruskan atau di tunda dulu, silahkan putuskan, karena yang lain sedang menunggu." Pak penghulu ingin segera menyingkat waktu, ia tidak ingin mendengar perdebatan apapun.
"Oke, lanjutkan saja pak …." permintaan Erwin.
"Loh, mana bisa begitu!" Bapak Rima merasa keberatan, karena itu tidak benar.
Ia bisa kena masalah jika seperti itu, keluarga calon besannya akan menuntutnya setelah itu, sebab kesepakatan dengan mereka telah di buat.
"Pak, nanti kami akan jelaskan sekarang biarkan pernikahan ini berjalan lancar terlebih dahulu." ucap Gian dengan maksud menenangkan Bapak Rima.
__ADS_1
Sedangkan Rima sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, padahal dalam otaknya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia lontarkan kepada Erwin dan juga Gian mengenai itu semua.
Karena pak penghulu terus saja mendesak untuk menyingkat waktu, dan Gian juga mendesak meminta pernikahan segera dilakukan.
Meskipun Bapak Rima menolak atau protes dengan calon mempelai prianya.
Tapi tiba-tiba pak Salim berbisik di telinga Bapak Rima dan membisikan sesuatu, entah apa yang dia bisikin.
Tapi itu berhasil membuat Bapak Rima Luluh, dan menyetujui pernikahan segera dilaksanakan.
Penghulu segera memulai acaranya, dan Bapak Rima segera menikahkan putranya dengan Erwin.
Dan dengan satu tarikan nafas Erwin mampu menyelesaikan ijab qobul nya.
Sehingga para saksi pun serentak mengucapkan kata "Sah." pada saat pak penghulu bertanya kepada para saksi akan Sah-nya ijab qobul yang diikrarkan oleh Erwin.
"Alhamdulillah …" semua mengucapkan syukur dan merasa lega akhirnya proses itu berjalan dengan lancar.
Dan kini Rima dan Erwin telah sah menjadi pasangan suami - istri.
Karena pasangan lain sudah menunggu gilirannya, maka rombongan Rima dan yang lainnya segera keluar.
Di situlah Bapak Rima meminta kejelasan tentang apa yang telah di lakukan oleh Erwin, kemana calon mempelai pria Rima.
Mengapa bisa Erwin yang menggantikannya.
Flashback on.
"Oke, kalau begitu, aku punya ide untuk itu." Gian memiliki ide untuk menggalakkan pernikahan Rima, dan tetap menjadikan Rima sebagai pengasuh untuk Sisil.
"Ide apa itu, bagaimana caranya." tanya Erwin penasaran.
"Tapi ini perlu pengorbanan darimu." Gian merasa ragu Erwin mau melakukannya.
Gian tersenyum puas mendengar jawaban Erwin.
"Oke jika begitu …"
….
Gian telah mencetuskan idenya ketika itu agar Rima tetap menjadi babysitter Sisil, dan menyelamatkan nyawa Sisil yang sekarang kondisinya sedang kritis.
"Hanya ada satu cara, win." cetus Gian ketika itu.
"Apa itu … ?" Erwin pemasaran.
"Kamu yang harus menikahi Rima."
"Apa …?" Erwin memekik ketika mendengar ide konyol yang Gian katakan.
"Iya, hanya dengan cara itu Rima akan selamanya menjadi pengasuh Sisil, dan tidak ada lagi alasan untuk Rima dan keluarganya mengelak, untuk Rima kembali bersama kita." terang Gian.
"Tapi aku tidak mencintainya bagaimana bisa aku menikahinya." keluh Erwin.
"Ha … ha … ha … Dasar b o d o h …" Gian malah terkekeh dan kini malah dirinya yang mengumpat sang kakak setelah sebelumnya Erwin lah yang telah mengumpatnya dengan umpatan yang sama.
"Kenapa kamu seperti, itu apa yang lucu aku bicara apa adanya!" protes Erwin dengan nada kesal karena ia telah ditertawakan lalu di Katain b o d o h pula.
"Iya, aku merasa lucu dengan pernyataanmu, kamu bilang akan berkorban nyawa demi Sisil, tapi diminta menikahi Rima kamu malah bilang seperti itu." Gian benar-benar mengejek Erwin.
"Tapi ini pernikahan Gian, bagaimana kami bisa bertahan jika tidak ada cinta di antara kami." Erwin memberi alasan.
"Ini yang aku ragukan, kamu akan keberadaan untuk melakukannya, tapi cuma itu jalan satu-satunya, aku sudah bilang kan ini perlu pengorbanan darimu, seperti Rima rela berkorban demi kedua orang tuanya."
__ADS_1
Erwin berpikir, Rima saja bisa berkorban demi kedua orang tuanya, ia mau menerima perjodohan yang ditentukan orang tuanya.
"Anggap saja pernikahan ini hanya untuk formalitas, saling menguntungkan antara dirimu dan juga Rima." Gian kembali berbicara mempengaruhi Erwin.
"Maksudnya ?" tanya Erwin belum mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Gian.
"Ya, kamu menyelamatkan Rima dari pernikahan tanpa cinta bersama pemuda pilihan orang tuanya, dan Rima menyelamatkan kondisi Sisil, kalian tidak perlu menjalankan pernikahan yang sesungguhnya, buat saja perjanjian seperti itu, agar kalian tidak merasa keberatan dengan pernikahan kalian." Usul Gian.
Dan itu memberi pencerahan kepada Erwin sehingga Erwin yakin bersedia menikahi Rima.
"Lalu bagaimana mana caranya aku bisa menikahi Rima, bagaimana dengan calon suaminya dan orang tua Rima, apa mereka mau melakukan sesuai rencanamu?" Erwin menanyakan caranya.
"Tenang saja, kalau itu urusanku, serahkan saja semuanya kepada ku."
Kemudian saat mereka sampai di kantor KUA, dan saat mereka menunggu giliran, untuk masuk dan melakukan prosesi pernikahan.
Tanpa diketahui oleh semua orang Gian mendekati calon mempelai pria.
Gian juga mengatakan bahwa, Erwin kekasih Rima selama di kota, bahkan mereka sudah tinggal satu rumah.
Ya, memang benar mereka tinggal satu rumah, tapi bukan sebagai pasangan kekasih, melainkan sebagai majikan dan pegawainya.
Gian mengatakan bahwa Erwin akan menikahi Rima bagaimanapun caranya.
Dan saat pemuda itu terpengaruh omongan Gian, Gian memberikan tawaran untuk pemuda itu.
Daripada ia tetap melakukan pernikahan dan akhirnya tetap gagal, lebih baik ia mengundurkan diri dengan bayaran sepuluh kali lipat dari jumlah yang telah ia keluarkan untuk pernikahan tersebut.
Tanpa pikir panjang, pemuda itu langsung bersedia menerima bayaran dan mengundurkan diri untuk menikahi Rima.
Maka saat dipanggil masuk pemuda itu menarik kedua orang tuanya dan membatalkan pernikahan dengan pergi begitu saja.
Karena mereka sudah terhasut oleh omongan Gian.
...Flashback off...
Erwin menjelaskan kepada kedua orang tua Rima bahwa ia sangat mencintai Rima.
Maka dari itu ia datang jauh-jauh untuk menikahi Rima.
Tapi itu semua hanyalah sekedar alasan untuk meyakinkan kedua orang tua Rima, bahwa anaknya menikah dengan orang yang tepat.
Agar merelakan Rima dibawa kembali oleh mereka, karena sebenarnya pernikahan yang mereka kehendaki hanyalah untuk status.
…
Rima sendiri sudah tidak bisa berkata apa-apa, dari awal dia sudah pasrah dengan pernikahannya.
Sepertinya Rima sudah tidak peduli siapapun yang akan jadi suaminya.
Kini mereka kembali ke rumah Rima, dan meminta Rima untuk segera berkemas karena mereka akan membawa Rima saat itu juga bersama mereka.
Mengingat kondisi Sisil yang sedang kritis saat ini.
Rima segera mengganti pakaiannya, dan melepaskan riasan yang menempel di tubuhnya, dan membersihkan make-up di wajahnya.
Setelah selesai Rima segera keluar, dan membawa kopernya. Ia telah bersiap untuk pergi.
Kini Rima kembali dengan tampilannya yang sederhana.
Gian dan Erwin segera bangkit dari duduknya ketika melihat Rima sudah siap untuk pergi, untuk menyingkat waktu mereka segera berpamitan kepada kedua orang tua Rima.
Tapi sebelum pergi Erwin memberikan sejumlah uang kepada orang tua Rima.
__ADS_1
Entah sebagai mahar, atau apa pun, yang jelas Erwin memberikannya tulus kepada mereka.