Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 50


__ADS_3

Akira dan Gian saat ini masih di apartemen Shafira, karena Shafira menahan mereka untuk pergi, khususnya menahan Gian.


Dengan terus bersandiwara pura-pura sakit. Membuat Akira dan Gian tidak tega untuk meninggalkannya, apa lagi Akira sebagai adiknya ia merasa sangat prihatin melihat kondisi kakaknya. Harus menahan sakit sendirian.


Shafira pun terus-menerus meminta Gian kembali kepadanya.


"Gian sekarang kamu tau perginya aku bukan karena aku mengkhianatimu, justru karena perasaan ku terlalu besar dan dalam karena memikirkan mu, aku sampai sakit seperti ini." 


"Gian aku mohon kembali lah kepada ku, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Shafira terus saja memaksa.


"Maaf Shafira aku tidak bisa melakukan hal itu, aku sudah berkomitmen untuk hidup bersama dengan Akira, jadi jangan Terus merengek seperti anak kecil." Pendirian Gian tak tergoyahkan.


Shafira terus saja menangis, mendapat penolakan dari Gian.


"Gian aku yakin kamu masih mencintai ku."  lanjut Shafira.


"Ya memang tapi itu dulu, sekarang kamu hanya masa lalu bagi ku." Tegas Gian.


Hati Shafira sungguh sakit mendengarnya.


Tapi usaha Shafira tidak sampai di situ, hati Gian tidak bisa ia luluhkan karena Gian menjaga perasaan Akira.


Dengan begitu Shafira memohon kepada Akira agar Akira melepaskan Gian dan mengembalikan nya lagi kepadanya.


"Akira… kakak mohon lepaskan Gian, tolong beri aku kesempatan sekali saja untuk bersama Gian." Shafira benar-benar memohon.


"Akira anggap saja itu permintaan terakhirku sebelum aku mati." 


"Kak! kakak tidak boleh bicara seperti itu." Akira mulai terpengaruh oleh sandiwara kakaknya.


"Iya Akira, penyakit ku sudah menggerogoti Tubuhku, mungkin waktuku tak banyak lagi."  Shafira makin mendramatisir sandiwaranya.


Dan membuat Akira benar-benar merasa tidak tega kepadanya.


Akira menggenggam tangan Gian yang duduk di depannya.


"Kak Gian maaf kan aku demi kak Fira tolong lepaskan Aku." Pinta Akira.


"Jangan gila... pernikahan itu sakral, kita menikah secara resmi sah di mata hukum dan agama, jadi jangan dipermainkan seperti ini."


"Lagi pula aku bukan boneka mainan kalian, aku punya hati aku tidak akan sudi kalian lempar sana sini sesuka hati kalian." Gian mulai emosi karena merasa tersinggung atas sikap kedua kakak beradik itu.


Akira mencoba berpikir jika dirinya sendiri ada di posisi Gian seperti apa rasanya, seperti jadi bahan mainan.


Akira pun mengerti atas penolakan Gian.


Akhirnya Akira hanya bisa diam, karena ia berada di posisi yang serba salah.


Padahal itu hanya ketamakan Shafira, ingin menghancurkan hubungan Gian dan Akira.


Posisi Gian sudah menjauh dari Akira dan juga Shafira.

__ADS_1


Dan tiba-tiba Erwin menghubungi Gian, Gian langsung menerima panggilan telepon tersebut.


"Halo win! Ada apa?" tanya Gian tanpa basa-basi lagi saat menerima panggilan telepon dari kakaknya.


Erwin bertanya dimana posisi Gian dan Akira saat ini, karena waktu sudah larut malam mengapa mereka belum kembali.


Sementara Sisil tidak bisa tidur uring-uringan terus saja menanyakan Gian dan Akira.


Mendengar ucapan Erwin, terbersit sebuah ide di otak Gian.


"Win…!" Seru Gian tapi dengan nada pelan.


"Iya, ada apa?" Sahut Erwin.


Lalu Gian Menjelaskan bahwa mereka berada di apartemen kakaknya Akira, yang tidak lain adalah wanita yang meninggalkan Gian di hari pernikahannya.


"Apa!" Perempuan itu ada di negara ini?" Erwin merasa tidak yakin ketika mendengarnya.


"Iya Win,  dan dia menahan aku dan Akira untuk pulang." 


"Oo.. jadi begitu.".


"Win tolong aku." Gian mengajuka sebuah permohonan.


"Baiklah… " ucap Erwin setelah mendengarkan perkataan Gian.


Lalu keduanya menutup sambungan teleponnya.


Gian kembali menghampiri Akira yang masih setia duduk menemani Shafira yang sebenarnya tidak sakit sama sekali.


Melihat kondisi kakak dan adiknya Gian lebih bersimpati kepada adiknya.


Gian sengaja duduk di samping Akira lalu merangkulnya dan menariknya ke dalam pelukannya.


Gian meminta Akira menyandarkan tubuhnya, lebih tepatnya kepadanya di dada bidang miliknya.


Agar posisi Akira lebih nyaman atau rileks, awalnya Akira menolak dengan berusaha lepas dari, tapi Gian tetap mendekapnya.


"Kamu pasti sangat lelah." Bisik Gian.


Ya, Akira memang merasa sangat lelah, maka dari itu akira mengikuti apa yang Gian inginkan menyenderkan dirinya di tubuh suaminya.


Padahal dalam hatinya Akira sungguh Merasa tidak enak hati kepada Shafira.


Iya, Shafira kepanasan melihat itu, dia begitu murka, ' kurang ajar… mereka malah sengaja mau memanas-manasi ku, tenang Shafira… tenang.' Shafira ngedumel dalam hatinya, sambil mencari cara agar bisa memisahkan Gian dan Akira saat itu.


Shafira tiba-tiba mengaduh kesakitan, "Awww… ssst… kepalaku sakit sekali."


Dan itu berhasil mengundang reaksi dari Akira dan Gian.


Akira dan Gian yang sedang memejamkan mata mereka masing-masing hampir terlelap dalam posisi berpelukan karena sama" merasa nyaman dengan posisi seperti itu.

__ADS_1


Tiba-tiba terkejut mendengar seruan Shafira yang sengaja ia lakukan memang untuk membangunkan mereka atau untuk mengganggu mereka.


Akira langsung menarik tubuhnya ingin memeriksa keadaan kakaknya. Tapi Gian mempererat dekapannya, seakan tidak ingin kehilangan.


Tapi Shafira terus saja mengaduh, dan itu sangat mengganggu bagi Akira  dan Gian.


Rasanya Akira tidak bisa membiarkan kakaknya kesakitan.


Akira melihat wajah Gian yang terlihat malas sekali menghadapi tingkah Shafira.


"Sayang… sebentar ya." Gumam Akira pelan, agar suaminya melepaskannya.


Dengan terpaksa dan dengan ekspresi wajah kesal Gian akhirnya melepaskan nya.


Akira langsung menghampiri kakaknya, dan bertanya memastikan kondisinya.


"Kakak sakit lagi, apa yang harus aku lakukan?" tanya Akira bingung.


"Iya, Akira ini sakit sekali, tolong ambilkan aku air minum." Perintah Shafira.


Akira segera berlalu ke arah dapur untuk mengambil airnya minum.


Sementara Shafira meminta Gain untuk memijat kepalanya.


"Gian tolong aku… tolong panjatkan kepada ku ini, aah rasanya sakit sekali." 


Gian hanya menatap, dengan tatapan datar. Tapi karena Shafira terus saja meraung-raung akhirnya dengan terpaksa Gian mendekat lalu duduk di samping Shafira.


"Ini Gian, ini yang sakit sekali." Shafira memegangi tangan Gian lalu mengarahkannya di kepalanya.


Saat itu akira kembali dari dapur dengan membawa air minum untuk Shafira.


Akira begitu canggung ia merasa tidak enak hati, melihat adegan itu, Akira membuang pandangannya.


Kemudian menyodorkan air minum itu kepada Gian agar Gian membantu kakaknya untuk minum.


Shafira sudah senang siasatnya berhasil, ia tersenyum licik karena bisa memisahkan Gian dari Akira, dan malah Gian lebih peduli kepadanya saat ini.


Tapi tiba-tiba, bel pintu berbunyi, Gian langsung bangkit dari tempat duduknya, ia tidak merespon Akira yang menyodorkan Ari minuman kepadanya.


"Sebaiknya kamu saja yang membantunya minum, biar aku yang membukakan pintu." Kemudian Gian berlalu begitu saja.


Dan Akira menggantikan posisi Gian. Raut kesal mulai nampak lagi di wajah Shafira.


'Sial… siapa sih yang datang di jam seperti ini?' gumam Shafira dalam hatinya.


....


Othor : Hay readers bagi kalian yang sudah terlanjur membaca bab ini sebelumnya, othor mohon maaf ya 🙏, sebab sebelumnya bab ini up sebelum othor revisi dan blm lengkap.


itu di sebabkan ke sibukkan othor di dunia nyata. Maka dari itu othor jadi telah up dan terpaksa up kata seadanya.

__ADS_1


Sekali lagi othor mohon maaf ya 🙏, semoga reader sekali bisa memakluminya.


Selamat membaca bab berikutnya ☺️


__ADS_2