
Akira mendekatinya dan menguatkannya, "Jangan sedih mbak Rima kalau kamu memang tidak salah, kak Erwin seperti itu karena merasa kecewa." Akira mengelus pundak Rima.
"Nona Akira … tolong percaya kepada saya." pinta Rima sambil memelas.
"Saya bisa jelaskan yang sebenarnya." Lanjut Rima.
…
Karena Akira tidak dapat mengelak lagi permohonan Rima Yang memintanya untuk mendengarkan apa yang sebenarnya.
Akira pun mengiyakan, lalu mengajak Rima untuk berbicara di tempat yang lebih sepi.
Rima mulai bercerita, dengan nada lirih sambil menahan tangisnya, Sebenarnya Rima tidak menghasut Sisil agar jangan mau memiliki Ibu tiri.
"Lalu mengapa Sisil bisa punya pemikiran seperti itu, bahwa Ibu tiri itu jahat dan seperti trauma dengan ibu tiri ." Akira memperjelas.
"Ya, saya memang pernah membahas tentang itu, saat membacakan dongeng cinderella, dan Rapunzel. Di kisah itu kan ada sosok ibu tiri yang jahat, dari situ mungkin Sisil beranggapan ibu tiri itu jahat, tapi saya juga menjelaskan itu hanya kisah dalam dongeng, di dunia nyata tidak semua ibu tiri itu jahat." Panjang lebar Rima menceritakan yang sebenarnya.
"Percayalah kepada saya Nona Akira, saya tidak pernah meracuni pikiran Sisil." Rima memohon kepercayaan diri Akira.
"Iya, mbak Rima saya percaya ko, sama mbak Rima." Tegas Akira menenangkan Rima.
"Terimakasih Nona." Rima sedikit merasa lega.
…
Sementara Sisil bersama Erwin dan juga Lisa, mereka mengatakan Lisa pulang.
Sisil duduk di belakang bersama Lisa, sedangkan Erwin yang mengemudi mobilnya.
Sisil Duduk membelakangi Lisa, ini kali pertama bagi Lisa dihadapkan dengan situasi seperti ini.
Menghadapi sikap anak kecil yang tidak ramah seperti Sisil saat ini.
Dan itu membuat Lisa bingung harus menghadapinya seperti apa.
Tapi Lisa anggap ini suatu tantangan bagiannya, satu perjuangan baginya untuk menaklukkan hati seorang anak kecil.
Suasana hening tanpa kata, lalu lintas mencoba membuka suara. Untuk berinteraksi dengan Sisil.
"Sisil …." seru Lisa berharap mendapat tanggapan baik dari Sisil.
"Boleh Tante bertanya?" Lisa melanjutkan kata-katanya tanpa jawaban dari Sisil.
"Mau tanya apa?" ketus Sisil.
Lisa tersenyum mendapat respon dari Sisil meskipun terdengar sangat ketus.
__ADS_1
"Memang menurut Sisil ibu tiri itu seperti apa sih?" Lisa bertanya dengan ragu.
Sisil diam, ia tidak mau menjawab. Erwin melirik ke belakang melalui kaca spion, dan Lisa menyadarinya, kemudian Lisa memberi isyarat kepada Erwin agar tetap diam, agar dirinya yang membujuk Sisil.
Erwin menganggukkan kepalanya tanda bahwa ia mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Sisil.
"Sebenarnya Tante juga seperti Sisil, Loh." Lisa masih berusaha mendapatkan respon dari Sisil.
Tapi Sisil tetap diam dan tidak menggubris Lisa.
"Tante juga sudah ditinggalkan oleh ibu Tante dari kecil."
Mendengar itu Sisil mulai memberi respon dengan membalikkan badan ke arah Lisa.
Tapi Lisa tetap bercerita, "Tante, tiga bersaudara, Tante anak pertama, dan saat ibu Tante meninggal, kami masih sangat kecil-kecil, sebagai anak yang paling tua, Tante harus membantu Ayah Tante mengurus dan menjaga adik-adik Tante, sementara ayah Tante bekerja." Lisa menceritakan kisah hidupnya yang lebih malang dari pada Sisil.
Dan itu berhasil menarik perhatian Sisil sehingga Sisil menjadi penasaran dan ingin mendengarkan.
"Ibu Tante, kenapa meninggal?" Ya, karena Sisil penasaran akhirnya ia bertanya, Lisa tersenyum lebar akhirnya Sisil mau meresponnya.
"Ibu Tante sakit keras setelah lama bertahan, dan pada akhirnya dia pergi juga."
"Apa Tante punya ibu tiri?" tanya Sisil lagi.
Lisa menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban ia tidak punya ibu tiri.
"Jahat." Jawab singkat Sisil dengan nada ketus.
"Eemm … dulu juga Tante pikirannya seperti kamu begitu, makanya Tante juga tidak mengijinkan ayah Tante menikah lagi, tapi setelah Tante besar Tante lihat ayah Tante kesepian, sebab anak-anaknya sudah besar-besar, punya urusan sendiri-sendiri, ayah Tante gak punya temen." Lisa sedang memberi pengertian kepada Sisil.
Dan Sisil mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Lisa dalam diamnya.
"Sisil, lihatkan Nenek sama kakek Sisil, mereka kemana-mana bersama ada temannya lagi sakit ada yang nemenin ada yang ngurusin." Sambung Lisa.
"Emang menurut Sisil Tante ini jahat kalau Tante jadi ibu tiri Sisil?" Lisa ingin tahu pendapat Sisil.
Sisil diam dan seperti sedang berpikir, lalu ia menggelengkan kepalanya. Sebagai isyarat bahwa dirinya tidak tahu.
"Oke, kalau Sisil beranggapan Tante jahat, Tante tidak akan mau jadi istri papi Sisil, karena Tante juga gak mau hidup dimusuhi sama orang lain, apa lagi sama anak sendiri." Lisa sedang meyakinkan Sisil.
Erwin mendelikkan matanya ketika mendengar ocehan Lisa seperti itu, Erwin seperti sedang protes merasa keberatan dengan apa yang dikatakan oleh Lisa.
"Anak sendiri?" Sisil mengulang kata itu.
"Iya, kan kalau dah nikah anak sambung jadi anak sendiri."
"Jadi Sisil gak usah benci sama Tante, Sisil tenang aja Tante tidak akan jadi ibu sambung buat Sisil kalau Sisil tidak suka sama Tante, Tante lebih memilih jadi teman Sisil daripada jadi musuh Sisil." Lisa terlalu banyak berbicara.
__ADS_1
Sedangkan Sisil masih diam, ia masih ragu dengan ucapan Lisa .
"Sisil mau kan jadi teman Tante?" sambung Lisa ingin berteman dengan sisil.
Kemudian Sisil menganggukkan kepalanya.
"Iya Tante …." Tegas Sisil.
Lisa tersenyum lebar, karena berhasil membuat Sisil mau menerimanya meskipun hanya sebagai temannya.
"Boleh Tante minta peluknya …." Lisa ingin memeluk Sisil tapi ragu takut Sisil menolaknya.
Sisil mengangguk kan kepalanya mengiyakannya.
Lalu Lisa langsung menyambar tubuh mungil Sisil dengan sebutan pelukan hangat.
"Terimakasih sudah mau jadi teman Tante." Entah mengapa Lisa begitu bahagia.
Erwin terlihat tersenyum juga, dari kaca spian Lisa bisa melihat Erwin tersenyum.
Keduanya saling menatap lewat kaca spion lalu tersenyum bersamaan.
Kini mereka telah sampai di rumah sederhana Lisa .
Lisa pamit turun kepada Sisil, lalu mencium kening dan kedua pipi mungil Sisil.
"Sebenarnya Tante ingin mengajak Sisil mampir tapi ini sudah malam, Sisil pasti capek ingin istirahat, jadi lain kali aja ya mampir ke rumah Tantenya, ya, Tante berharap kita bisa ketemu lagi." Lisa sengaja berbasa-basi.
"Iya Tante Sisil capek ingin istirahat." Sisil berkata jujur.
"Oke, selamat beristirahat ya sayang." Kemudian Lisa keluar dari mobilnya.
Dan Sisil pindah ke depan bersama papanya.
"Mas Erwin terimakasih ya." Lisa juga berbasa basi kepada Erwin.
"Iya Lisa aku juga terimakasih." Sahut Erwin yang enggan turun.
Lalu Erwin melajukan mobilnya setelah itu.
Lisa tersenyum sendiri, ketika mengingat ucapannya kepada Sisil.
"Ya ampun aku ngomong sama Sisil seperti beneran aja mau jadi istri dari papinya, boro-boro nikah pacar aja nggak." Lisa bicara sendiri.
Dan ia mengirimkan chat kepada Erwin, memberi alasan mengapa ia berbicara seperti tadi di mobil kepada Sisil.
Lisa juga meminta maaf kepada Erwin karena ia telah berbicara seakan mereka benar-benar akan menikah.
__ADS_1