Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 43


__ADS_3

...Lanjut...!...


"Ante!" seru Sisil.


Akira dan juga Gian langsung melihat ke arah Sisil.


Akira langsung menyambut kedatangan Sisil dengan merentangkan tangannya.


"Sini sayang…!" Akira meminta Sisil untuk mendekat.


"Ante sakit?" tanya Sisil.


Gian yang menjawab dan menjelaskan kalau Akira butuh istirahat, dan meminta Sisil untuk jangan mengganggunya terlebih dahulu.


Sisil pun mengerti dengan penjelasan Gian, lalu pamit keluar dan menemui babysitternya.


"Ya sudah, selamat istirahat." ucap Erwin yang juga akan keluar dari kamar itu.


"Iya tuan, terimakasih." sahut Akira.


Tapi Erwin protes dengan sebutan Akira kepadanya, "Jangan panggil aku tuan, aku Kakak iparmu, jadi panggil aku kakak." Erwin merasa keberadaan dipanggil tuan oleh Akira.


"Oo iya, maafkan aku kak." Akira begitu karena belum terbiasa berinteraksi dengan Erwin.


"Oke…!" Erwin berlalu dari sana.


Kini tinggallah akira dan Gian berdua.


"Kamu beneran gak pa-pa?" Gian kembali memastikan keadaan Akira.


Akira mengangguk, "Iya aku tidak apa-apa kok." jawab nya.


"Apa kita perlu ke dokter untuk memeriksakan keadaan mu." Gian begitu khawatir.


"Oo… tidak usah, biarkan saja aku istirahat dulu." pinta Akira, secara tidak langsung meminta Gian untuk pergi meninggalkan nya.


Gian paham dengan maksud ucapan Akira, "Oke kalau begitu."


Gian membenarkan selimut Akira, lalu mengecup kening Akira, dan kedua pipinya.


"Selamat istirahat ya sayang…" Kemudian ucap Gian.


"Iya" Akira mengangguk sambil tersenyum sebagai isyarat bahwa ia baik-baik saja.


Sesungguhnya Gian tidak tega untuk meninggalkan Akira sendirian di kamar.


Tapi Akira meminta Gian untuk meninggalkannya, Gian menurut ke ingin Akira karena ingin membuat Akira merasa nyaman.


Sedangkan sesungguhnya Akira sendiri berharap Gian tetap tinggal di sana bersamanya memeluknya dalam kedamaian.


Tapi apa yang di lakukan oleh Akira, ia malah menolak apa yang di katakan oleh hatinya, ia malah meminta Gian untuk meninggalkannya.


Mungkin terlalu gengsi untuk Akira, mengakui bahwa ia memang menginginkan Gian tetap bersamanya, ia tidak ingin di anggap lemah, hanya sedikit perhatian dari Gian dia bisa dengan mudah di luluh kan.

__ADS_1


Maka dari itu Akira pun bersikap jual mahal, salahnya Gian pun tidak peka dengan perasaan Akira, karena Gian takut melakukan kesalahan lagi.


Sementara Akira tidur, Gian menemui kakaknya di ruang kerjanya.


Dia sana mereka berdua berbincang dan bercerita, tentang segala hal.


Sampai malam pun semakin larut, Erwin menyudahi obrolan mereka, dan mempersilahkan Gian untuk beristirahat.


"Rupanya waktu sudah malam, sepertinya kita sudah harus beristirahat, silahkan kembali ke kamarmu masih banyak waktu, kita lanjutkan nanti obrolan kita." Erwin.


Mereka keluar bersama dari ruangan itu, di ruang tengah mereka berpisah menuju kamar masing-masing.


Tapi Gian tidak langsung menuju kamarnya ia malah menuju kamar Sisil untuk memastikan bahwa Sisil sudah beristri dengan tenang.


Setelah dipastikan Sisil dalam keadaan aman, barulah Gian menuju kamarnya.


Saat ia masuk, melihat Akira yang sedang tertidur lelap.


Gian menatap lekat wajah itu, terlihat kedamaian dan ketulusan dan raut wajah itu.


'Akira kenapa perasaan ini baru datang saat ini, padahal dari awal kamu memang sudah sangat tulus, mengorbankan semuanya untuk ku, kenapa aku tidak dapat melihatnya saat itu, kenapa Shakira…?' Gian begitu menyesali apa yang telah terjadi ketika ia menyadari perasaannya.


Gian mulai naik ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Akira yang menghadap dirinya.


Mengingat kondisi terakhir Akira, yang terlihat tidak sehat, Gian berinisiatif mengecek suhu tubuhnya.


Gian meletakkan punggung telapak tangannya di kening Akira, "Adem" gumam Gian.


Lalu ia beralih mengecek seluruh bagian wajah Akira sampai ke lehernya, tapi semua terasa normal dan baik-baik saja.


Kini posisi merek berbaring saling berhadapan, Gian mengecup kening istrinya sebelum ia tidur.


Akira malah melingkarkan tangannya di pinggang Gian.


Respon yang diberikan Akira sungguh membuat Gian sangat senang, saking senangnya Gian tersenyum tipis, ia kembali mengacu seluruh bagian wajah Akira, dengan lembut, sebab ia tidak berniat untuk mengganggunya.


Karena setelah itu Gian pun terlelap dalam tidurnya.


…..


Keesokan harinya, Gian terbangun dari tidurnya, ia melihat Akira sudah tidak ada lagi di tempat tidurnya.


Gian langsung bergegas bangkit dari tempat tidur saat menyadarinya.


Ia langsung berlari ke kamar mandi untuk mencari keberadaan Akira, namun tidak ada.


Gian langsung bergegas keluar kamar menuju kamar Sisil, Gian melihat sisil sedang dimandikan oleh babysitternya.


"Ratna… Sisil!" seru Gian.


"Iya…" sahut keduanya.


"Apa kalian melihat Akira di mana?" Gian menanyakan keberadaan Akira.

__ADS_1


"Tadi sih memang di sini tapi sekarang tidak tau dia mana." Ratna yang menjawab.


"Oo ya sudah." Gian segera berlalu dari sana.


Saat ia keluar dari kamar Sisil, ia melihat Erwin sedang duduk di mini bar di arah dapur.


Gian segera menghampiri kakaknya itu. Tapi apa yang Gian lihat membuat nya begitu terkejut.


Karena ternyata, Erwin duduk memaku seorang diri sambil tersenyum lebar menatap ke arah dapur dan ternyata Akira lah objek yang sedang di tatap oleh Erwin dengan ratu wajah yang aneh.


Sebab Erwin tidak mengedipkan mata saat itu, ia fokus menatap Akira dengan terus tersenyum, sampai-sampai Erwin tidak menyadari kedatangan Gian.


Gian sungguh curiga Erwin menyukai Akira, tapi Akira sendiri tidak menyadari jika ia sedang di perhatikan oleh Erwin.


Tanpa basa-basi lagi dan tanpa pikir panjang lagi, tanpa menyapa Erwin, Gian langsung masuk ke dapur, dan membopong Akira yang sedang memasak untuk sarapan pagi.


Akira sungguh terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Gian,


Akira syok dan terkejut ia sampai berteriak histeris.


"Heey… apa yang kamu lakukan!" teriak Akira.


Semua pelayanan Erwin pun terkejut mendengar teriakkan Akira.


Mereka segera berhamburan menghampiri Akira, namun Gian menyetop mereka semua untuk jangan mendekat.


"Ini urusan ku dengan istri ku, jangan ada yang ikut campur, lanjutkan masakan istri ku." Perintah Gian


Tidak ada satu pun dari mereka yang berani membantah Gian.


Sehingga para pelayan mundur beberapa langkah sambil menundukkan kepalanya.


Karena mereka tau Gian adalah tuan muda di keluarga Mahendra, jadi mereka tidak berani untuk membangkang.


Erwin sendiri begitu terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Gian adiknya.


Tapi ia tidak bisa mengehentikan Gian karena Erwin sadar betul bahwa Gian berhak sepenuhnya atas Akira.


Akira tak henti-henti berteriak meminta Gian untuk menurunkannya dari pangkuan Guan 


"Turunkan aku, kamu apa-apa seperti ini!" Protes Akira.


Tapi Gian tetap membawanya ke kamarnya.


Sesampainya di kamar baru lah Gian menurunkan Akira.


Akira begitu marah dengan perlakuan Gian seperti itu.


"Cukup!" seru Akira kesal.


"Jangan selalu bertindak seenaknya saja, aku bukan boneka mainanmu." Lanjut Akira.


"Siapa yang menggap mu seperti itu, justru aku ingin meratukan mu." Gian tidak terima dengan tuduhan Akira.

__ADS_1


Akira salah paham atas tindakan Gian, niat Gian ingin melindungi Akira malah di salah artikan oleh Akira, sehingga terjadi perselisihan antara Akira dan Gian ketika itu.


__ADS_2