Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 136


__ADS_3

Erwin mengerti dengan maksud Mamanya, hanya saja Erwin merasa terpancing emosinya mendengar setiap ucapan Gian, maka dari itu Erwin memutuskan untuk keluar dari rumah.


Untuk menghindari perseteruannya dengan Gian akan terjadi terus-menerus jika Erwin tetap tinggal di sana.


….


Rima menghampiri Mama Nirmala yang sedang bersama Gian, ia sedang menenangkan Gian dan menasehatinya, untuk saat ini hanya Mama Nirmala yang dapat menahan emosi Gian.


Rima berpamitan kepada mama Nirmala, dan juga kepada Gian.


"Mah, aku pergi ya, mama jaga kesehatan ya!"


"Iya, Sayang, kamu juga hati-hati ya, jaga kesehatanmu dan keluargamu, semoga kalian selalu bahagia." Pesan Mama Nirmala, lalu memberikan doa.


"Iya, mah." Balas Rima lalu cipika, cipiki.


"Mas, Gian, saya permisi," Pamit Rima.


Tapi tidak mendapat jawaban sama sekali dari Gian, bahkan Gian menoleh pun tidak.


Mama Nirmala mengelus pundak Rima lalu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat, bahwa jangan mempedulikan sikap Gian. Sebab Gian sedang sensitif jadi biarkan saja dia seperti itu.


Setelah kepergian Erwin dan istri serta anaknya, kini giliran Mila yang menghampiri mereka, Mila meminta penjelasan bagaimana sekarang dengan nasibnya, dengan pekerjaannya.


"O'y, Mila. Sekarang tidak ada lagi tugas mu di rumah ini, jadi tugas mu selesai, tapi Saya tetap akan membayar mu sesuai perjanjian kontrak kerja."


"Tapi Bu, aku sangat butuh pekerjaan ini Bu, tolong jangan pecat aku, Bu! ku mohon." Mila memohon , sambil menyatukan kedua telapak tangannya.


Gian berbalik dan melihat ke arah Mila dengan raut wajah kesal, dengan kasar Gian mendorong kedua bahu Mila, dengan kedua tangannya, Mila sampai terjengkang kebelakang.


BRAK … bokong Mila mencium lantai.


"Aaaw …!" Mila mengaduh kesakitan.


"GIAN …!" Mama Nirmala terkejut dengan perlakuan kasar Gian.


Sedang Gian sendiri berlalu begitu saja meninggalkan mereka tidak menggubris apa yang terjadi pada Mila.


"Ya Tuhan, Gian …, kenapa kamu bisa seperti itu, Nak!" gerutu Mama Nirmala, sambil membangunkan Mila.


Mila sangat kesal, sekaligus sakit hati dengan perlakuan Gian kepadanya, 'Awas saja kau!' ancam Mila dalam hatinya.


"Kamu, tidak apa-apa kan, Mila?" Mama Nirmala bertanya untuk memastikan keadaannya.


"Bokongku sakit sekali, Bu." Ketus Mila sambil memegangi bokongnya lalu meringis kesakitan.


"Maafkan dia ya, Mil, Gian memang sedang sensitif sekali saat ini." 


"Iya, mau bagaimana lagi." jawab Mila pasrah.


"Tapi maaf ya, Mila. Kamu tetap saya berhentikan karena memang pekerja di rumah ini memang suda penuh." Ucap Mama Nirmala,


Bukannya apa, Mama Nirmala juga sebenarnya merasakan apa yang di rasakan oleh Rima, padahal jika Mila bisa menjadi sikap, atau tau batasannya mungkin mama Nirmala bisa saja mempertahankannya untuk tetap bekerja di sana.


Tapi dari sikapnya yang terlihat centil, membuat mama Nirmala khawatir Mila akan berbuat yang tidak senonoh kepada anggota keluarganya.


"Baiklah, Bu saya akan segera pergi dari rumah ini,"  akhirnya Mila terpaksa menerimanya.


"Padahal baru saja aku mau kerja, udah di pecat lagi aja nasib-nasib." Gerutu Mila sambil mengemasi barang-barangnya.


Setelah itu ia berpamitan kepada tuan rumah, dan seperti tadi Gian sama sekali tidak peduli dengan apapun Gian seperti sudah mati rasa.


'Sombong sekali dia( Gian), dasar … monster.' Gerutu Mila dalam hatinya sambil berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Mila telah memesan taksi online, untuk mengantarkannya ke apartemennya,



Netizen : eeh kok Mila baby sitter punya apartemen sih?


Othor : Iya, ini baru mau othor cerita'in



Ternyata Mila berasal dari keluarga berada, ayah dan ibunya sudah lama bercerai, Mila ikut dengan ayahnya, tapi ayahnya menikah lagi, dan Mila tidak pernah akur dengan ibu tirinya.


Dia anak yang pembangkangan dan brutal, karena dikekang oleh orang tuanya Mila kabur dari rumah, dan tinggal di apartemen milik ayahnya, tapi ayahnya memutus semua fasilitas mewah yang ia berikan jika Mila tidak mau menuruti peraturan Ayahnya.


Maka dari itu Mila mencari pekerjaan, untuk menyambung hidupnya, saat itu Mila hendak hangout bersama teman-temannya, Mila tidak sengaja bertemu dengan bi Sumi di halte bus.


Ketika itu Mila sedang  duduk menunggu bus yang lewat untuk ia tumpangi, dan saat ini juga bi Sumi sedang melakukan hal yang sama, karena sifatnya yang SKSD, maka Mila menyapa Bi Sumi lebih dahulu, lalu dari situlah terjadi percakapan diantara mereka berdua.


Mila bercerita, bahwa ia sedang mencari pekerjaan, dan kebetulan kata bi Sumi majikannya sedang memeluk bebysitter.


Kemudian bi Sumi menyarankan untuk Mila melamar pekerjaan sebagai babysitter di keluarga majikannya, siapa tau Mila bisa di terima di sana.


Dengan senang hati Mila menerima saran itu, karena ia memang sangat membutuhkan pekerjaan, dan tidak menunggu waktu lama Mila langsung ikut bersama Bi Sumi saat itu juga dengan penampilan bar-barnya.



Kini Mila sudah berada di apartemennya, saat ini ia memang punya sedikit uang dari upahnya yang baru sebentar bekerja.


Mila harus memutar otak lagi untuk mencari cara agar bisa menghasilkan uang. Saat Mila tengah duduk di kamar apartemennya tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.


Mila mengerutkan keningnya merasa heran siapa yang datang bertamu, sedangkan dirinya saja baru sampai di apartemennya.


Daripada penasaran, Mila memilih bangkit dari duduknya lalu membuka pintu kamar apartemennya.


Mila sangat kesal dengan perlakuan lelaki itu, Mila berusaha melepaskan diri dan mendorongnya dengan kuat agar terlepas dari tubuhnya.


"Hey, apa-apa sih kamu!" seru Mila kesal.


"Aku, sangat merindukanmu … honey." 


Ternyata lelaki itu adalah Jimi, kekasih Mila, mereka sudah lama berhubungan tapi Jimi masih jauh untuk berkomitmen, ia masih kuliah, dan keluarganya tidak mengizinkan untuknya menikah muda, karena usianya pun masih belia, umur Mila lebih tua daripada Jimi.


Akhir-akhir ini Jimi kehilangan Mila, karena Mila pergi dari apartemen dan tinggal di rumah keluarga Papa Arga, dan tidak memberinya kabar.


"Kamu kemana saja sih, honey, Aku mencari mu kemana-mana!" 


Tanpa menjawab Mila  langsung berjalan masuk kembali, jimi mengekor di belakangnya.


Mila menceritakan bahwa dirinya, telah bekerja menjadi babysitter, Jemi terkejut mendengar.


"Mengapa kamu harus bekerja, honey? Apa tidak cukup uang yang ku berikan untukmu?" Jimi merasa kecewa, karena selama ini Jimi telah memenuhi kebutuhan Mila, asal Mila melayani libidonya.


"Mau sampai kapan kita seperti ini, berhubungan tanpa ikatan, ayahku selalu mendesak ku untuk segera menikah, sehingga aku harus melarikan diri disini dan rela kehilangan semua fasilitas mewahku," keluh Mila.


Jimi juga anak keluarga kaya, ia satu tipe dengan Mila, sama bar-barnya dan terjerumus dalam pergaulan bebas, mereka berhubungan sudah seperti suami isteri, Jimi sering menginap di apartemen Mila.


Jimi juga yang membiayai kehidupan Mila sehari-harinya.


Dan setelah beberapa waktu tidak bertemu, kerinduan Jimi memuncak, ketika bertemu kali ini, sehingga ia tidak dapat lagi menahan h a s r a t nya.


Iya memulai permainan panas yang biasa mereka berdua lakukan, Mila tidak dapat menolak setiap Jimi menginginkannya, ia selalu terbuai dalam setiap permainannya dan ia pun selalu mendapatkan kepuasan dari kenikmatan sampai akhir permainan.


Cukup lama mereka tidak bertemu, dan tentunya tidak melakukan hal itu, sehingga permainan mereka sungguh menggila.

__ADS_1


Meskipun sudah terjadi pelepasan secara bersamaan, mencapai k l i m a k s, tetap saja rasa candu tak dapat ditepis , sehingga seharian mereka bersama, sampai malam pun mereka terus saja mengulang dan mengulang lagi adegan panas mereka.


Sampai pagi menjelang, saat Mila terbangun dari tidurnya, seluruh badannya terasa pegal dan berat untuk di gerakkan.


Tapi Mila ingin pergi ke kamar mandi, ia ingin melakukan kegiatan paginya. Ia berjalan dengan rasa malas menuju kamar mandi, tiba-tiba saja ia merasakan rasa mual yang sangat hebat.


"Oe … oe… oe…!" Mila mengelukan semua itu perutnya sampai tubuhnya lemas tidak bertenaga, muntahan yang ia keluarkan sampai terasa sangat pahit di tenggorokan dan mulutnya.


Mendengar suara Mila, Jimi sampai terbangun dan segera menghampiri Mila di kamar mandi, terlihat Mila sedang terduduk di lantai kamar mandi karena lututnya tidak dapat lagi menopang tubuhnya.


"Honey, kamu kenapa?" 


"Sepertinya aku masuk angin, tubuhku sangat lemas!" 


"Ya sudah Ayo kita ke rumah sakit sekarang juga." 


Karena rasa panik mereka hanya mencuci muka tidak membersihkan diri terlebih dahulu. Jimi memapah Mila yang sangat lemas dan pucat pasih menuju parkiran mobil dimana mobilnya berada.



Di klinik terdekat, Mila segera diperiksa oleh dokter yang berjaga saat itu.


Sesaat setelah Dokter itu melakukan pengecekan, dokter itu terlihat mengulum senyum, lalu dokter meminta susternya untuk mengambilkan testpack. Lalu memberikannya kepada Mila.


Dokter memberikannya kepada Mila, dan memberi pengarahan bagaimana cara penggunaannya, agar Mila melakukan tes urine untuk pemeriksaan lebih lanjut, untuk memastikan hasilnya.


Mila segera melakukan apa yang Dokter perintahkan kepadanya, Jimi juga terus saja mendampinginya, sampai ia ikut masuk ke dalam kamar mandi bersama Mila.


Tidak lama Mila keluar dari kamar mandi di ikut oleh Jimi.


Dokter melihat nya namun belum ada hasil, kemudian dokter meminta mereka untuk menunggu sebentar.


Tidak lama , dokter melihat kembali, dan barulah hasilnya terlihat jelas, Dokter tersenyum lebar. Setelah melihatnya.


"Selamat ya, Anda sedang hamil." Ucap dokter, sambil menyodorkan tangannya dengan maksud memberi selamat kepada mereka berdua.


Namun keduanya terlihat syok mendengar kabar itu, tidak ada respon apapun dari keduanya. Melihat ekspresi wajah keduanya, dokter mengerti bahwa mereka belum siap menerima kehadiran sang bayi.


Dokter curiga jika mereka adalah pasangan ilegal. Ya, benar saja Jimi malah bertanya tentang hal menggugurkan kandungan.


Mila lebih syok lagi mendengarnya, tapi dokter segera memberi jawaban tentang bahayanya menggugurkan kandungan, nyawa bisa jadi  taruhannya, agar mereka berdua tidak ada pemikiran ke arah sana.


Mila merasa ngeri mendengar keterangan dokter tentang bahayanya menggugurkan kandungan, setelah selesai Dokter memberikan resep vitamin untuk mereka tebus di apotik.



Kini mereka berdua sudah kembali dan berada di apartemen Mila.


"Ini cek silahkan kamu carikan untuk menggugurkan kandunganmu," Kata Jimi.


"Apa! Apa kamu tidak dengar apa yang dikatakan oleh dokter tadi, aku bisa mati karena itu, aku tidak mau melakukan hal itu," tolak Mila


"Oke, terserah kamu, tapi aku tidak bisa bertanggung jawab atas bayi itu, karena kamu tau sendiri keluarga ku juga pasti akan menolaknya, dan akan menyarankan hal yang sama, jadi percuma kamu mempertahankan bayi itu juga." Jimi ingin lepas dari tangga jawab.


"Kurang ajar ya kamu, setelah melakukannya dengan begitu nikmatnya, tapi kamu menolak untuk bertanggung jawab." Mila geram dengan sikap jimi.


"Itu bukan salahku, sudah ku ingatkan berulang kali untukmu memasang alat kontrasepsi kenapa  malah sampai kebobolan seperti ini, hah!" Jimi tidak kalah emosinya.


"Iya, aku lupa untuk mengulang KB.'" Mila mengakui kesalahannya.


"Iya jadi itu semua salahmu, dan tanggung sendiri akibatnya." Jemi pergi tidak mau ambil pusing.


"Jimi … kurang ajar ya kamu, kamu harus bertanggung jawab atas bayi ini!" teriak Mila, tapi tidak di gubris oleh Jimi karena Jimi tetap berlalu pergi.

__ADS_1


"Bangsat, sialan, brengsek." Umpat Mila, dalam keadaan kalut, kini bebannya makin bertambah.


__ADS_2