
Kalau boleh saya tau, kapan terakhir kalian berhubungan sebagai suami istri?" Pertanyaan dokter membuat Gian mati kutu, sebab kedua orang tuanya dan kedua mertuanya mendengar pertanyaan dokter.
Semua tertunduk mendengar pertanyaan dokter karena merasa malu, apalagi Gian sendiri begitu malu, sampai gugup karena salah tingkah.
…….
"A- apa maksudmu dokter bertanya seperti itu, itu masalah pribadi tidak perlu di umbar di depan umum" Gian gugup dan emosi ketika menjawab pertanyaan dokter.
Tapi dokter malah tersenyum mendengarnya.
"Sorry… sorry… saya lupa tidak semua keluarga bisa terbuka satu sama lain apa lagi berkata tentang masalah ini." Dokter Eva, baru menyadari bahwa tidak semua keluarga bisa berbicara terbuka dalam segala hal, seperti dirinya dengan anggota keluarganya, yang biasa bergaya santai dan terbuka.
"Maksud saya, kapan terakhir nona Akira mendapatkan tamu bulanannya, sebagai seorang suami tentunya anda tau dong kapan waktu tamu bulanan istri anda datang?" Masih dengan gaya santainya dokter eva berbicara sambil sedikit berguyon.
Tapi Gian seperti sudah terlanjur kesal dan moodnya sedang berantakan sehingga ia sedang tidak bisa untuk diajak bercanda.
"Eeh dokter apa maksud dari ucapan mu, jangan berbelit-belit mana saya tau tamu bulanan istri saya siap, saya bukan orang kepo seperti anda, yang ingin tau urusan pribadi orang lain, sampei nanya-nanya tamu bulanan segala." Gian malah mencibir sang dokter.
Tapi dokter Eva malah terkekeh mendengar celotehan Gian yang salah paham kepadanya.
Dua pasang orang tua di sana pun terlihat mengulum senyum mendengar ucapan Gian, yang memang tidak mengerti dengan apa maksud dan tujuan dari pertanyaan-pertanyaan yang dokter Eva ajukan kepadanya.
Gian malah merasa dokter Eva terlalu lemes dan terlalu kepo dengan urusan pribadinya dengan sang istri.
Merasa dirinya ditertawakan jelas Gian semakin emosi.
"Kalian sedang mengolok-olok saya…!" Gian tidak terima karena merasa di tertawakan.
"Eeh tentu tidak…!" Sergah dokter Eva mulai serius karena melihat wajah Gian yang sudah sangat emosi.
"Lah itu apa? Kalian malah mengulum senyum seperti itu?" Gian mengingatkan mereka.
"Coba anda tenaga dulu tuan, mari saya jelaskan sejelas-jelasnya, apa maksud dari pertanyaan saya " dokter Eva mengajak Gian untuk duduk.
Lalu kemudian dokter mengutarakan tentang kecurigaannya tentang kondisi Akira.
"Saya bertanya tentang masalah pribadi anda tentunya ada maksud dan tujuan nya, setelah melakukan pengecekan tekanan darah dan detak jantung memang tidak stabil, dan gejala seperti ini sering terjadi pada ibu hamil."
"Maka sebelum melakukan pengecekan atau tindakan lebih lanjut saya menanyakan tentang riwayat kesehatan nona Akira, kita bisa simpulkan apa penyebab beliau bisa drop seperti ini, untuk melakukan langkah awal dalam menanganinya."
__ADS_1
"Di khawatir beliau sedang hamil jadi kami bisa mengantisipasi kemungkinan yang akan terjadi, supaya tidak membahayakan janin di dalam kandungan jika beliau memang sedang hamil."
"Karena kondisinya sangat lemah maka kami pasang infus dulu setelah infusan habis dan belum juga ada reaksi apapun maka kita akan melakukan tindakan selanjutnya." Dokter Eva menjelaskan dengan cara santai tapi cukup tegas.
Sehingga mudah di mengerti oleh Gian, meskipun moodnya masih dalam mode Panik.
"Jadi istri saya hamil dok?" tanya Gian meyakinkan dirinya.
Dokter Eva kembali tersenyum, "Itu baru dugaan kami, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat harus melakukan tes kehamilan, maka dari itu akan keluar hasilnya nanti, nona akira hamil atau tidak." dokter Eva terus menjelaskan.
"Ayok cepat lakukan dok, supaya semuanya jelas." Gian malah semakin penasaran dan tidak sabaran.
"He… he… he… kita akan melakukannya tapi kita lihat perkembangan nona Akira dulu, Menunggu beliau siuman, jadi kita cukup melakuk tes dengan tespek saja." Penjelasan dokter Eva dan malah merasa lucu melihat tingkah Gian yang tidak sabaran.
Selang beberapa waktu Akira mulai siuman, ia mulai menggerakkan anggota tubuhnya.
"Eeh Akira sadar..!" Seru mama Nirmala antusias.
Semua mendekat ke arah Akira termasuk dokter Eva.
Akira mulai membuka mata, dan menyapu pandangnya, terlihat di sana orang terkasihnya sedang mengerumuninya.
"Ada apa ini?" tanya Akira mencoba mengingat apa yang telah terjadi.
"Kamu tidak pingsan nak." Ibu Yulia yang menjawab.
Mama Nirmala segera menyodorkan segelas air putih untuknya Akira minum.
"Ini minum dulu." Seru Mama Nirmala.
"Kamu tidak apa-apa kan yang?" Tanya Gian yang sebenarnya masih sangat mengkhawatirkan keadaan istrinya.
Akira mengangguk.
"Apa yang kamu rasakan yang sampai kamu pingsan seperti ini?" tanya Gian lagi.
"Aku tidak apa-apa hanya sangat lemas seperti tidak bertenaga, dan tiba-tiba pandanganku buram lalu gelap begitu saja." Akira menceritakan apa yang ia rasakan.
Dokter mendak, karena papa Arga meminta nya untuk segera mengecek kembali kondisi Akira.
__ADS_1
"Maaf boleh saya periksa lagi nona Akiranya." Dokter Eva meminta izin agar dua ibu dan sang suami memberinya ruang dan waktu karena mereka bertiga tidak memberikan celah kepada orang lain untuk mendekati akira.
Sementara papa Arga dan ayah Ayus hanya menyaksikan dari belakang mereka, bukan tidak khawatir dengan kondisi Akira, mereka hanya menahan diri untuk memberikan kesempatan kepada Gian dan dua ibu yang terlihat sangat panik dan ingin memastikan kondisi Akira.
Setelah dirasa cukup baru lah papa Arga meminta dokter Eva untuk segera memeriksa kondisi Akira.
Lalu dokter meminta izin untuk mereka mengizinkannya memeriksa kembali kondisi Akira.
Lalu kedua ibu itu mundur dan mempersilahkan dokter untuk memeriksa kembali.
Setelah melakukan pemeriksaan kembali, dari tekanan darah dan detak jantung Akira sudah mulai setabil.
"Nona Akira maaf boleh saya bertanya?" Dokter kembali menanyakan kapan terakhir Akira mengalami menstruasi.
Karena ini Cara paling umum dan sering digunakan oleh bidan serta dokter kandungan untuk mengetahui usia kehamilan, adalah dengan menentukan berdasarkan tanggal menstruasi terakhir sebelum terjadi kehamilan.
Rumus ini lah yang dipakai oleh para bidan atau ilmu dokter kandungan.
Bagi calon ibu ini, bisa dipakai rumus HPHT Parikh, yakni HPHT + 9 bulan + (siklus haid-21 hari). Misalnya HPHT 20 Mei 2020 dengan siklus haid calon ibu 33 hari. Maka hitungannya 20 Mei 2020 + 9 bulan + (33-21) \= 8 Februari 2021.
Akira mengerutkan keningnya, mengingat kapan terakhir kali ia mendapat tamu bulanannya.
"Ya ampun aku melupakan hal itu." gumam Akira.
Lalu menatap lekat wajah Gian, Akira mengingat kejadian malam pertamanya tiga bulan lalu, dan pada saat itu sehari setelah menstruasi Akira selesai, terjadi lah pernikahan antara dirinya dan gian. itu terakhir kali Akira mendapatkan tamu bulanannya.
Sedangkan sejak saat itu Akira dan Gian tidak lagi berhubungan badan, jarak di antara mereka begitu renggang, hubungan mereka membaik hanya baru-baru ini selama liburan.
Wajah Akira terlihat tegang saat mengingat semuanya.
"Apa aku sungguh hamil dok?" Akira ragu dengan hal itu.
"Ya itu tentu saja, makanya saya ingin memastikannya."
"Terakhir aku datang bulan tiga bulan yang lalu itu sudah sangat lama sekali."
"Apa tamu bulanan mu tidak datang secara teratur sebelumnya sehingga kamu tidak menyadari nya."
Akira mengangguk, karena memang jadwal tamu bulanan Akira tidak normal atau tidak teratur seperti wanita pada umumnya.
__ADS_1
"Boleh saya periksa perut anda jika usia kandungan tiga bulan sudah terasa di perut?" ujar dokter ingin memeriksa dengan cara meraba perut Akira.