
Sementara putra sedang berbahagia, sementara itu juga ada seseorang yang sedang patah hati, sudah tentu Juna lah orangnya.
Ketika Akira masuk ke dalam ruangan Arjuna ia melihat, putra angkatnya sedang duduk di sofa di ruangan sambil menyandarkan kepalanya yang ia biarkan terlentang dengan menutup matanya seperti orang yang sedang tertidur.
Padahal tidak, Juna sedang merasa putus asa, ia sedang menenangkan dirinya yang sedang kacau balau.
"Juna …!" sapa Akira ketika menghampiri putra angkatnya.
Mendengar ada suara yang sudah tak asing lagi menyebut namanya, Juna segera membuka matanya, dengan gerakan refleks ia segera melihat ke arah sumber suara.
"Ibu …!" Juna menyahuti ibunya dengan ekspresi wajah syok, ia sedikit terkejut saat menyadari kedatangan ibu angkatnya.
"Kamu sedang apa, kok tidak menemui ibu di ruangan dokter Yuri?" tanya Akira kemudian.
Juna terlihat gugup ketika ibu angkatnya bertanya seperti itu.
"Oo iya, Bu! ini aku baru mau kesana menemui ibu, aku baru selesai bertugas jadi aku istirahat dulu sebenta," itu hanya alasannya saja padahal kebenarannya Juna sudah akan menemui mereka, ia sudah sampai di depan pintu ruangan dokter Yuri.
Namun, karena mendengar pernyataan dokter Yuri, Juna mengurungkan niatnya.
"Eeh kemana anak ibu yang super tampan rupawan itu? (yang Juna maksud adalah Putra)" Juna sengaja ingin mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan Putra.
"Oo Putra! dia sedang berbahagia bersama kekasihnya." jawab Akira penuh kebahagiaan.
Juna merasa ketar-ketir mendengarnya, "Kekasih?" Juna mengulang kata itu dengan nada bertanya ia kurang meyakininya.
"Iya kekasih, ternyata Putra itu hebat juga ya, dia bisa membuat dokter Yuri yang menyatakan perasaan nya sendiri dan dengan gentle nya dia juga langsung melamar dokter Yuri saat itu juga." Akira bicara dengan membanggakan Putranya.
Tanpa Akira sadari, hati Juna merasakan rasa perih bagai di sayat sembilu ketika mendengar apa yang diceritakan oleh ibu angkatnya.
"Masa sih Bu … hebat sekali Putra, sekali bergerak langsung tepat sasaran, aku bisa kalah olehnya," Juna bicara seakan ikut memuji Putra padahal hatinya merasa tidak rela dengan kemenangannya.
"Iya, sekarang mereka sedang merayakan hubungan mereka, besok baru kita adakan acara makan-makan keluarga, untuk merayakan hubungan mereka, Ibu akan umum kan bahwa Putra telah menemukan jodohnya dan akan segera menikah." Akira bicara dengan antusias, ia sangat berharap Putra dan Yuri akan segera melangsungkan pernikahan.
"Menikah Bu? Apa tidak terlalu cepat berpikiran sampai kesana, hubungan mereka kan baru dimulai!" Protes Juna.
"Lebih cepat lebih baik!" Tegas Akira.
"Ya, semoga semua berjalan sesuai rencana." Juna ikut mendoakan, agar Akira tidak curiga dengan apa yang sedang ia rasakan.
Namun, Akira bisa merasakan ada sesuatu dengan putra angkatnya rasakan, meskipun Juna hanya putra angkatnya bagi Akira, tapi ia yang merawatnya dan mendidiknya sedari ia masih bayi, jadi Akira sudah mengenal Juna dengan baik, dia juga memiliki ikatan batin dengan Juna, jadi Akira bisa merasakan dan ia juga bisa tau jika Juna sedang tidak baik-baik saja, meskipun Juna berusaha menyembunyikan nya.
"Juna … apa kamu baik-baik saja?" Akira merasa curiga melihat Juna yang terlihat sangat berbeda dari biasanya.
"Iya Bu, aku sehat!" Juna segera menjawab dan dia berusaha terlihat baik-baik saja.
"Oo iya, Juna, mumpung ibu sedang di sini, kenalin dong wanita yang membuatmu semangat akhir-akhir ini," pinta Akira ingin berkenalan dengan wanita yang pernah Juna bahas dengan keluarganya di meja makan tempo hari.
Juna tertegun mendengar keinginan ibunya. Ia bingung harus memberikan alasan apa kepada ibunya, karena wanita yang di maksud saat itu adalah dokter Yuri.
"Jangan bahas dia lagi Bu, ternyata dia sudah punya pacar." jawab Juna dengan nada lesu, penuh rasa kecewa.
"Oo ya?" Akira Merasa terkejut dan ikut merasakan kekecewaan yang Juna rasakan.
Juna tidak menjawab dengan kata-kata ia hanya menganggukkan kepalanya, sebagai isyarat mengiyakan pertanyaan ibu angkatnya.
"Tapi mereka baru pacaran kan belum menikah?" Akira bertanya kembali untuk lebih meyakinkannya.
"Iya Bu!" Kali ini Juna bersuara.
"Sebelum janur kuning melengkung dia masih milik bersama, jika dia jodohmu dia tidak akan lari kemana, ibu doakan semoga saja dia berjodoh denganmu!" Akira berdoa seperti itu karena ia tidak tahu, padahal wanita itu adalah Yuri kekasih dari putra kandungnya.
Juna tercenung mendengar doa ibu angkatnya, ia berfikir andai Akira tau, wanita itu adalah Yuri apa Akira akan berdoa seperti itu.
"Bu, jika itu terjadi, putra kandungmu yang akan menangis kalau tidak pasti akan terjadi sesuatu kepadanya hingga Yuri harus bersama ku!" Juna membatin, ia termenung ia tidak mengamini doa yang ibunya panjatkan untuknya.
"Loh kok kamu malah bengong …!" tegur Akira
"Eeh iya Aamiin …!" Kemudian Juna terpaksa mengamini doa ibunya.
"Ya sudah Bu, Ayo kita pulang!" Juna mengajak Akira untuk pulang.
….
Disisi lain, Putra mengajak Yuri untuk makan malam sebelum mengantarkannya pulang ke rumah kontraknya.
Putra membawa Yuri makan di restoran mahal, kelas elite, tamu yang hadir disana sudah pasti para orang kaya.
__ADS_1
Yuri merasa minder melihat keadaan di sekelilingnya saat itu, sebab tamu di sana di lihat dari pakaian atau penampilan mereka sudah terlihat bahwa mereka orang-orang berkelas.
Sedangkan dirinya hanya memakai celana bahan Atau celana Slacks,
Slacks yang pertama kali dipakai oleh wanita pada tahun 20an merupakan nama umum untuk celana sports. Namun, saat ini celana jenis ini umum disebut dengan celana setelan yang merupakan celana casual, namun lebih formal dari celana denim. Biasanya juga disamakan dengan celana “bahan” atau celana formal yang digunakan ke kantor, namun tidak berpasangan dengan blazer. Celana ini cocok untuk di gunakan sehari-hari ke kantor untuk memberikan kesan formal dan elegan.
Sedangkan untuk atasannya Yuri hanya memakai baju kemeja lengan panjang, penampilannya sangat sederhana, akan tetapi yang berada di sana berpenampilan modis bahkan glamor. Karena itu Yuri merasa minder, ia tidak nyaman berada di sana.
Melihat gelagat Yuri yang terlihat risih, Putra bertanya ada apa dengannya.
"Yang! Kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Putra merasa ada yang aneh dengan kekasihnya.
Yuri tersenyum kaku, karena senyumnya terlihat sangat di paksakan, "Tidak, ayang! Aku baik-baik saja, hanya saja aku merasa tidak nyaman berada di sini!" kemudian terang Yuri.
"Tempat ini cocok nya, kalau untuk pasangan yang ingin Dinner romantis, untuk acara formal atau semacam itu." lanjut Yuri memberi nilai tentang tempat itu.
"Loh, Memangnya kenapa dengan kita? kita juga sah-sah saja berada di sini," Putra merasa aneh mendengar ucapan Yuri.
"Apa salahnya kita juga dinner romantis saat ini!" Sambung putra.
Yuri hanya tertunduk mendengar Putra berbicara, kemudian Putra meraih tangan Yuri lalu menggenggamnya.
"Ada apa sebenarnya denganmu?" kemudian tanya Putra lembut, karena Putra tau Yuri punya alasan atas tingkah lakunya.
Yuri kembali tersenyum, lalu menjawab, "Iya aku merasa tidak Nyaman berada disini, lihat mereka semua begitu modis dengan penampilannya, sedangkan aku seperti ini!" terang Yuri yang tidak percaya diri dengan penampilannya.
Putra mengerutkan keningnya, mendengar penuturan kekasihnya, "Kenapa dengan dirimu? Kamu cantik bahkan lebih sepesial dari pada orang-orang yang berada di sini, aku lebih suka penampilanmu dari pada penampilan mereka, kamu sederhana tapi terlihat sangat anggun, memangnya kenapa jika makan malam romantis dengan penampilan seperti ini?" Putra menimpali dan memberi kepercayaan dari kepada Yuri.
Yuri menggelengkan kepala, "Jika ingin makan malam romantis, kita bisa janjian dulu, setidaknya aku sudah mandi atau sedikit ber-make up, tidak kucel seperti ini." ucap Yuri dengan nada menggumam.
Putra tersenyum mendengar penuturan Yuri, dia baru menyadari Yuri merasa tidak nyaman berada disana, "Lalu kita mau makan dimana." Kemudian tanya Putra.
Yuri langsung berubah ekspresi ketika Putra bicara seperti itu, matanya terlihat berbinar penuh semangat.
"Biar aku yang pilih tempatnya ya!" Yuri ingin dia yang menentukan tempat untuk mereka makan malam kali ini.
"Oke!" Putra menyetujuinya.
Kemudian keduanya keluar dari sana, tapi sebelum pergi Putra menyelipkan selembar uang berwarna merah di buku menu yang sempat pelayanan restoran berikan kepada mereka.
…
Tiba-tiba di Yuri menyetop mobil yang sedang Putra kendarai, "Stop, stop!"
Putra segera menginjak rem mobilnya untuk menghentikan lajunya.
Cekiiit … suara rem mobil yang direm mendadak.
"Kenapa?" tanya Putra karena Yuri minta berhenti.
"Kita makan disini saja." Tunjuk Yuri kesebuah bedeng warung makan di pinggir jalan.
"Di sana?" tunjuk Putra untuk memastikan.
Yuri mengangguk dengan cepat penuh semangat, sebab warung itu tempat langganannya makannya jika pulang dari tugasnya.
"Makanan di sana rasanya enak-enak loh!" terang Yuri.
Putra yang seorang tuan muda, tidak pernah merasakan menikmati makan makanan pinggir jalan, ia merasa tidak yakin dengan apa yang Yuri katakan.
Namun demi untuk menghargainya Putra terpaksa mengikuti apa yang Yuri kehendaki.
Mereka berdua turun dari mobil lalu memasuki bedengan tersebut, yang dimana menu makanannya sudah tertera jelas di bedeng ikut sendiri.
Yang bertuliskan, pecel lele, pecel ayam dan lain-lain.
Yuri mengajak duduk Putra di bangku panjang disana, kebetulan pengunjung lumayan ramai, Putra merasa tidak bisa makan di tempat itu, berdesakan-desakan dengan orang lain.
"Apa kita harus makan di tempat ini?" Putra masih merasa tidak yakin.
"Iya dong, sekali-kali lah nyoba makan di tempat seperti ini?" kekeh Yuri.
Putra melihat sekelilingnya ia meras syok melihat orang-orang yang sedang makan di sana, makan dengan lahapnya sambil bercucuran keringat dan bahkan ada yang bersendawa, dan ada juga yang sedang membersihkan gigi dengan menggunakan tusuk gigi, di tempat itu tanpa menutupnya dengan tangan.
Kali ini Putra yang merasa risih dengan lingkungan sekitar.
"Yang, apa gak ada tempat yang lebih privat daripada ini?" bisik Putra di telinga Yuri.
__ADS_1
Yuri melihat sekeliling mencari meja yang lebih sepi, ya kemudian Yuri menemukan tempat yang lebih sepi di pojokkan.
Yuri segera mengajak Putra untuk pindah tempat duduk, yang ia pikir bisa membuat Putra lebih nyaman.
"Ayo kita pindah!" ajak Yuri sambil beranjak dari tempat duduknya, dan menarik lengan Putra.
Awalnya Putra merasa senang, Yuri mengerti apa yang Putra pikirkan. Namun pada kenyataannya, Yuri hanya mengajarkannya pindah tempat duduk.
"Yaelah … ini mah sama aja bohong!" batin Putra.
Kemudian datang seorang pelayan laki-laki menghampiri mereka berdua.
"Mau pesen apa mbak?" tanya pelayanan itu.
"Seperti biasa aja bang!" ucap Yuri, karena Yuri sudah langganan makan di sana, jadi pelayan itu sudah tau apa pesanan yang bias Yuri pesan.
"Oke, paha apa dada?" tanya nya lagi untuk memastikannya.
"Hah!" Putra terkejut mendengar pertanyaan pelayan itu.
"Apa maksudnya? tidak sopan!" gumam Putra dengan nada bertanya.
Yuri menatap putra, lalu bertanya kepadanya, "Kamu suka dada, apa paha?"
"Hah!" Putra semakin terkejut mendengar pertanyaan Yuri, karena pertanyaan itu terlalu vulgar menurutnya.
Putra tidak menyangka Yuri yang terkesan kalem ternyata bisa punya kepribadian seperti itu. Putra tercengang begitu ia menyadarinya.
"Hey, ayo jawab, ayang! Kamu suka dada apa paha?" Yuri bertanya kembali dengan dengan menyentuh tangan Putra, dan itu membuat Putra terhenyak.
Ia terkejut karena sentuhan Yuri, "Mengapa gadis ini bisa agresif seperti ini?" batin Putra, yang merasa Yuri sedang menggodanya.
"E- eh, i- iya! A- aku su- suka pa- paha!" Putra terpaksa menjawab dengan gelagapan, sambil memandang Yuri, dari bagian dada dan pahanya, ia memilih paha yang lebih tertutup.
"Oke," ucap Yuri menyetujui pesanan Putra yang memilih paha.
"Mas, paha aja dua, tapi menu lengkap ya sama 3T !" Kemudian ucap Yuri kepada pelayan peria itu.
Tenggorokan putra terasa kering mendengar transaksi Yuri dan pelayanan tersebut, Putra merasa sangat gugup ia sampai susah payah untuk menelan saliva nya.
Keringet dingin bercucuran, dalam hatinya terus berkata-kata, "Apa itu 3T, apa gadis ini gadis bar-bar, apa aku salah pilih, oo Tuhan harusnya aku tidak secepat ini mengambil keputusan untuk menjadikanya istri ku!" Putra merasa telah salah menilai Yuri, setelah mendengar transaksinya dengan pelayan tadi. Putra berpikiran kotor tentang Yuri.
Namun setelah beberapa waktu, pelayanan kembali datang dengan membawa pesanan Yuri.
"Ini dua paha, dengan menu 3T lengkap." Pelayanan menghidangkannya di atas meja di hadapan Yuri dan Putra.
Yuri tersenyum sumringah pesannya sudah sampai, karena jujur saja Yuri merasa sangat lapar, saat istirahat ia hanya sempat makan buah-buahan saja karena membludaknya pasien hari ini, membuat Yuri sedikit sibuk dan melewatkan waktu makan siangnya.
Putra tercengang melihat hidangan yang disuguhkan di hadapannya.
Iya menatap dua paha di piring miliknya dan piring milik Yuri, dan ternyata 3T itu, tempe, tahu, telur, lengkap dengan sambal dan lalapannya, karena sebenarnya menu yang Yuri pesan itu menu pecel ayam.
Yuri sangat suka makan disana, selain harganya yang ekonomis, masakannya enak sesuai seleranya, tempatnya serta pelayanannya juga membuat pelanggan nyaman, maka dari itu Yuri mengajak Putra makan di sana, Yuri yakin Putra akan menyukainya.
Tapi pada kenyataannya Putra hanya ternganga melihat semua hidangan, ini pengalaman pertama bagi Putra makan di tempat makan seperti itu, jadi dia tidak biasa dengan bahasa yang mereka gunakan saat memesan makanan.
Yuri sudah siap untuk menyantap makanannya, sedangkan putra terlihat masih sangat syok dia terlihat kebingungan.
"Ayo makan, ini paha pesananmu!" ucap Yuri.
"Jadi, maksudnya paha itu paha ayam?" Putra bertanya menegaskan.
Yuri mengangguk, "Iya, emang kamu pikir apa?"
"Oo … iya, iya," Putra baru mengerti.
Dan ia malah tersenyum geli mengingat pikiran kotornya. Yuri menatapnya penuh kecurigaan.
"Hayo! kamu mikir apa? Pasti pikirannya kotor!" Yuri menebak apa yang dipikirkan oleh Putra.
"He, he, he …!" Putra malah cengengesan karena tebakan Yuri benar.
"Iih dasa otak mesum! benar kata ibumu otakmu kotor harus di laundry!" Kemudian ketus Yuri.
Putra hanya terkekeh dengan pemikiran mesumnya yang sempat travelling ke arah sana, jelas ia telah salah paham.
"He, he, he, sorry!"
__ADS_1