
Semua orang yang ada di ruangan ikut histeri menyaksikan apa yang terjadi pada shafira apalagi ketika melihat darah yang bercucuran mengenai sprei berwarna putih, terlihat sangat kontras, dan terkesan sangat mengerikan.
Gian langsung menarik Akira untuk mundur, dan melindunginya, karena ia takut Akira akan jadi sasaran amukan Shafira.
Ketika dokter dan suster tiba-tiba di sana mereka segera menangani Shafira, dokter terpaksa memberikan suntikan penenang kepada Shafira.
Tidak menunggu waktu lama, tubuh shafira langsung melemah tapi masih tersadar ia tetap ngoceh tidak karuan dengan suara yang makin lama makin menghilang dan ia langsung terlelap tidur karena pengaruh obat yang Dokter suntikkan.
Setelah Shafira tidak sadar kan diri karena tertidur. Barulah semua merasa lega, karena Shafira tidak sempat melukai orang lain.
Akira sendiri sangat ketakutan, melihat semua itu.
"Tenang sayang semua sudah aman." Gian menenangkan istrinya.
Ibu Yulia dan ayah Ayus yang lebih merasa hancur melihat kondisi Shafira seperti itu.
Ibu Yulia menangis meratapi nasibnya putrinya, ia tidak pernah menyangka kalau putri sulungnya menderita seperti itu.
"Hiks… hiks… hiks… ayah apa yang sebenarnya terjadi pada putri kita mengapa dia menjadi seperti itu." Keluh ibu Yulia kepada suaminya.
Ayah Ayus mengelus punggung istrinya, sambil memeluknya. "Tenang Bu… kita doakan saja semoga putri kita tidak apa-apa, dan cepat pulih dari kondisinya yang sekarang ini." Ayah Ayus mencoba menenangkan istrinya.
Ibu Yulia makin terisak mendengar penuturan suaminya.
Akira hanya menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sendu, ia merasa kasihan dan tidak tega melihatnya.
Akira juga merasa sangat bersalah karena ia tidak dapat membantu kedua orang tuanya disaat seperti itu, ia malah merasa dirinya lah yang menjadi penyebab Shafira seperti itu.
Andai saja ia bisa memilih untuk pergi, pasti sudah Akira lakukan demi kakak dan kedua orangtuanya.
Tapi apalah dayanya, ia tidak mampu berbuat apa-apa.
'Apa aku Egois, bertahan demi diriku sendiri, sedangkan mereka menderita karena aku?' Akira bertanya pada dirinya sendiri.
'Ya tuhan lalu apa yang harus aku lakukan?' Akira dirundung kebingungan.
Dokter menemui keluarga Shafira menjelaskan tentang kondisi Shafira, bahwa Shafira tidak hanya mengalami gangguan radang otak, dokter juga mengatakan Shafira mengalami depresi.
Jadi saran dari dokter untuk keluarga memberi dorongan atau dukungan semangat untuk sembuh kepada shafira.
Semua keluarga hanya bisa diam mendengarkan apa yang sedang Dokter jelaskan.
Setelah kepergian dokter, "Sekarang kita harus bagaimana ayah," tanya ibu Yuli.
"Ya Bu, kita pasrah saja semua pada yang mahakuasa semua ini atas kehendaknya, kita rawat Shafira sebisa kita." Ayah Ayus memang seorang yang bijak.
Akira mendekati ayahnya dan memeluknya, sebagai bentuk supportnya kepada sang ayah.
"Ayah…" gumam Akira, sebagai isyarat bahwa ayah nya tidak sendiri, bawa ada dirinya yang akan selalu menemani, membantunya.
Ayah Ayus menyambut pelukan putrinya lalu merapatkan kepalanya dengan kepala Akira, ayah Ayus juga mengelus-elus tangan Akira.
__ADS_1
Ibu Yulia mendekat dan menyibakan rambut Akira yang menutupi wajahnya, lalu mengelus rambutnya.
"Nak, kamu juga harus jaga kesehatanmu dan juga bayi mu, jangan memikirkan masalah ini, jangan jadikan ini beban bagimu nak." Nasehat ibu Yulia.
"Sekarang pulanglah dan istirahat lah nak, biar di sini ayah dan ibu yang menemani kakak mu." Perintah ayah Ayus.
Awalnya Akira menolak untuk pulang, tapi semua keluarga memintanya untuk pulang dan beristirahat karena kondisinya memang sedang hamil muda, mereka takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi kepada Akira dan juga bayi.
Sebab mengingat kejadian Akira pingsan pada saat lalu, itu mengapa mereka lebih ekstra menjaga memperingati dan mengingatkan Akira akan kondisinya karena mereka tidak ingin hal itu terulang lagi.
Karena disana sudah ada ayah Ayus dan ibu Yulia sebagai orang tua Shafira, yang menemani Shafira di rumah sakit.
Maka papa Arga, Mama Nirmala dan putranya pamit untuk pergi dari sana, sebab mereka ada urusan yang harus mereka urus, seperti pekerjaan yang sudah menunggu mereka yang sengaja mereka tunda demi untuk menolong Shafira membawanya ke rumah sakit.
Ayah Ayus dan Bu Yuli mengerti dengan urusan mereka memang orang-orang sibuk, dan mempersilahkan mereka untuk pergi.
"Terimakasih untuk semuanya besan." Ayah Ayus berterima kasih atas kepedulian keluarga besan nya kepada putranya, yang sebenarnya telah membuat masalah dengan mereka.
Tapi mereka tetap mau menolongnya, meskipun hanya untuk sebuah rasa kemanusiaan atau hanya untuk sekedar menghargai Akira sebagai menantu dan mereka sebagai besan nya.
"Iya itu sudah jadi kewajiban kita saling membantu dan menolong." Papa Arga yang menjawab mewakili seluruh keluarganya.
Kemudian setelah berpamitan mereka melangkah untuk pergi dari sana.
Namun baru saja sekitar dua langkah Shafira terdengar mengigau menyebutkan nama Gian.
"Gian… maafkan aku Gian… tolong jangan tinggalkan aku… aku sangat mencintaimu." Igauan nya sungguh jelas sehingga mereka yang hendak pergi pun masih sempat untuk mendengarnya.
Akira menghentikan langkahnya ia menoleh melihat ke arah kakaknya yang sedang mengigau.
Otomatis Gian yang sedang berjalan berdampingan dengan nya dengan merangkul pundaknya harus ikut terhenti.
"Kenapa sayang?" Gian berlaga tidak peka dengan keadaan, padahal Gian sendiri tau Shafira mengigau kan namanya, dan Gian juga tau perasaan Akira seperti apa.
Hanya saja Gian bersikap seperti itu untuk menghindari apa yang tidak ia inginkan, Gian tidak mau terjebak dalam situasi, bukan Gian tidak perduli dan tidak punya hati, sesungguhnya hati kecil Gian juga merasa simpati atas apa yang terjadi pada Shafira.
Hanya saja Gian tidak ingin menunjukkan rasa itu demi untuk menghargai perasaan Akira yang ingin ia bahagiakan.
Akira tidak menjawab pertanyaan Gian karena Akira yakin Gian sudah tau jawaban dari pertanyaannya tersebut.
Akira melempar pandangan nya kepada ayah dan ibunya.
Untuk sebagai isyarat ia tidak ingin pergi dari sana, ayah dan ibunya pun mengerti apa yang akira inginkan tapi mereka lebih memikirkan kondisi Akira, mereka tidak ingin kedua putrinya dalam masalah.
Sudah jelas-jelas Shafira memang sakit, mereka tidak ingin Akira juga ikut-ikutan sakit karena harus memaksakan diri tetap berada di sana.
Ayah dan ibunya segera mendekati akira lalu mengelusnya lagi seperti yang selalu mereka lakukan memberi nasehat dan pengertian dengan cara lembut dan penuh kasih sayang.
"Nak pulang lah istirahat dulu, nanti kamu bisa kesini lagi, jangan khawatirkan kakak mu, disini ada tim medis yang akan menangani kakakmu, jika terjadi sesuatu ibu dan ayah akan segera menghubungimu." Ibu dan ayah merayu Akira , seperti Akira merayu Sisil.
"Baiklah ayah, Ibu, tapi kalian janji ya kalau ada apa-apa segera hubungi aku." Pinta Akira yang sangat mengkhawatirkan keadaan mereka.
__ADS_1
Ayah dan ibunya nya mengangguk sambil tersenyum.
"Ya sudah ayah , ibu, kami permisi dulu." Gian kembali berpamitan.
…
Di perjalanan pulang Akira dan Gian menggunakan mobil pribadi Gian karena saat mengantar Shafira ke rumah sakit keluarga papa Arga menggunakan dua Mobil, karena jika satu mobil tidak cukup untuk mengangkut mereka semua.
Dan papa Arga dan mama Nirmala memilih untuk mengikuti mobil Gian dari belakang saat itu.
Kini akira dan Gian hanya berdua, karena Mama Nirmala, papa Arga dan juga Erwin sudah pergi terlebih dahulu dengan menggunakan mobil papa Arga.
Akira hanya diam seribu bahasa, meskipun Gian sudah berusaha untuk menghiburnya.
Akira dalam hati dan pikirannya ingin pergi seperti niat awalnya sebelum ia tahu bahwa dirinya sedang hamil, tapi hati nya juga takut kehilangan Gian .
Jangan kan meninggalkan Gian, merelakan Gian untuk bersama shafira saja rasanya akira tidak rela untuk saat ini.
'Ya, tuhan berikan kami jalan, aku tidak bisa seperti ini selamanya.' Akira berdoa dalam hati, karena merasa dirinya sangat Egois.
Dan berperasaan jika terjadi sesuatu pada Shafira itu karena ke egoisan nya, dan itu tidak bisa membuat hati dan pikirannya tentang.
"Sayang kamu kenapa sih Dari tadi diam aja, apa kamu lapar, apa pengen shopping?" Gian sengaja memancing respon dari Akira dan berusaha mencairkan suasana.
Ya, Akira memberikan respon dengan menoleh ke arah Gian dan menatap wajahnya dengan raut wajah sendu.
Karena Gian sedang fokus berkendara Ia melirik Akira sekilas lalu tersenyum dan kembali melempar pandangannya fokus ke arah jalanan.
"Ayo dong sayang… jangan seperti ini!" Sepertinya Gian jengah melihat kesedihan Akira.
"Yang… apa kamu tidak memikirkan Kakakku yang sangat mencintaimu?" tanya Akira karena Gian terlihat Happy-happy aja.
Gian memutar bola matanya dengan ekspresi wajah malas, karena Gian sudah bisa menebak apa yang Akira pikirkan dan pasti Akira akan membahas tentang ini.
Gian menepikan mobilnya untuk membahas masalah yang lumayan sangat mengganggu hubungan mereka.
"Kita mau bicara disini?" tanya Gian memastikan apa yang akira inginkan.
Akira tertunduk karena Gian menatapnya dengan raut wajah yang serius tidak seperti belum nya terlihat santai, sambil memajukan wajahnya tepat di depan muka Akira.
Sehingga Akira tidak sanggup menerima tatapan dari Gian karena merasa takut Gian akan emosi jika membahas masalah itu.
Karena sedari tadi Gian memang berusaha menghindar masalah ini.
Akira berpikir jika bicara di tengah jalan seperti itu rasanya kurang pantas, apalagi Mereka akan berbicara tentang perasaan, Akira takut Gian atau dirinya tersinggung dan memicu emosi dari mereka lalu akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, intinya tempat itu tidak etis dan terlalu banyak resiko kemungkinan yang akan terjadi.
"Oke kita lanjutkan saja perjalanan nya, kita bicara di rumah saja nanti." kemudian jawab Akira.
Gian tersenyum yang dipaksakan sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, sebagai isyarat bahwa ia menyetujui apa yang akira inginkan.
Mood Gian berubah setelah itu, karena memang sesungguhnya Gian pun memikirkan hal yang sama dengan Akira, yaitu memikirkan kondisi Shafira.
__ADS_1
Ia juga merasa sangat egois jika tidak memperdulikannya, karena Gian pun merasa Shafira seperti itu karenanya.