
Pertemuan itu begitu hangat, setelah sekian lama tidak berjumpa.
Ternyata Erwin begitu merindukan adiknya dan putrinya.
Erwin menatap babysitter Sisil, dari penampilannya Erwin sudah bisa menebak jika wanita itu babysitter Sisil.
Tapi Erwin tetap tersenyum ramah kepadanya, sebut saja namanya Ratih, umurnya tidak beda jauh dengan Akira hanya selisih beberapa tahun saja.
Ratih seorang janda, yang di tinggal TKI oleh suaminya, Ratih di ajak bekerja keluar negri oleh suaminya, tapi Ratih menolak karena tidak bisa meninggalkan jauh ibunya yang sudah tua dan sudah sering sakit-sakitan.
Bekerja sebagai babysitter Sisil pun ia sering meminta izin pulang karena ibunya sakit.
Erwin tetap menghormatinya Ratih dan berterimakasih telah merawat putrinya.
"Anda pasti pengasuh Sisil," ucap Erwin menebak.
Ratih mengangguk lalu membungkuk hormat, "Iya tuan." Kemudian jawabnya.
"Terimakasih telah merawat putri saya." Erwin berterimakasih atas jasanya.
Membuat Ratna tidak enak hati, "Tidak usah berimakasih tuan, itu memang sudah tugas saya, saya bekerja dan di bayar memang untuk itu." Sahut Ratna .
"Iya saya tau, tapi tetap saya ingin berterimakasih karena anda telah membantu merawat putri saya." Tegas Erwin.
Ratna tidak dapat berkata-kata lagi, ia hanya bisa mengangguk, "Oo sama-sama jika begitu."
Kemudian tatapan Erwin teralihkan, melihat sosok Akira yang terlihat begitu santai dan tenang.
Erwin begitu tertarik melihatnya, "Kamu pasti istri Giantha Mahendra!" Kemudian seru Erwin menebak siapa Akira.
Akira tersenyum kepada Erwin, lalu menunduk hormat.
"Anda benar sekali tuan." sahut Akira mengiyakan.
"Sudahku dugaan, anda cantik sekali nona."Erwin memuji Akira.
Gian langsung memperkenalkan istrinya.
"Namanya Shakira, biasa di panggil Akira." ucap Gian sambil merangkul istrinya, di hadapan Erwin.
Erwin hanya tersenyum, karena Erwin bisa merasakan kejanggalan dari sikap keduanya.
Kemudian Erwin mempersilahkan mereka semua untuk duduk di meja makan, sebab para pelayannya sudah menyiapkan makan malam untuk mereka.
Tentunya dengan menu makanan Indonesia, sebab itu lah Erwin mempekerjakan orang-orang dari Indonesia, ia ingin tetap merasakan suasana seperti di Indonesia, dari bahasa yang mereka gunakan saat berada di kediaman nya, dan makan yang ia nikmati.
"Loh kita gak istirahat dulu nih?" Protes Gian.
"Nanti istirahatnya kalau sudah makan, karena semua pelayanan ku sudah mempersiapkan semua nya." Tegas Erwin.
__ADS_1
Ya, semu makan sudah dihidangkan di meja makan dan untuk menghargai tuan rumah mereka semua mengikuti instruksinya.
Semua sudah duduk di posisi mereka masing-masing.
Dan dipersilahkan untuk mengambil menu makanan sesuai selera mereka.
Ratna mengambilkan Sisil makan dengan menu ayam goreng dan sayur soto kuah santan, karena memang itu menu sayurnya.
Selebihnya makan yang pedas dan berminyak.
Saat semua sudah mulai sibuk menyantap makanan mereka masing-masing.
Namun apa yang terjadi pada Akira, hanya diam dengan menu makanan nasi dan hanya ayam goreng di piringnya.
Ia seperti tidak berselera dengan semua makanan yang tersaji di meja makan saat itu.
Gian menatap Akira dengan seksama, lalu menggenggam tangan Akira yang berada di posisi di atas meja.
"Sayang… kamu kenapa, kok gak makan?" selidiki Gian .
Akira Terhenyak dan begitu gugup ketika Gian menegurnya.
"Ah, tidak apa-apa kok." jawabnya gugup.
"Apa makannya tidak ada yang kamu suka?" tanya Erwin memastikan.
"Oo tidak-tidak, aku suka kok!" Sergah Akira.
Gian melihat pirang Akira hanya berisikan nasi dan ayam goreng.
"Kamu gak pake sayur makannya?" Gian merasa aneh dengan sikap Akira.
Gian curiga Akira sedang merasakan sesuatu, sehingga ia seperti itu, setau Gian Akira orang yang tidak pernah neko-neko dalam segala hal apalagi soal makanan.
"Iya, nanti ku ambil sayurnya." Kemudian jawab Akira.
Tapi Gian malah mengambilkannya, lalu menaruhnya di piring Akira.
"Eeh..!" seru Akira ingin proses.
Tapi Gian terlanjur menaruhnya di atas nasi di piringnya.
"Ayo makanlah." Erwin
"Iya…" jawab Akira lagi.
Semua mulai menyantap makanannya lagi.
Dan dengan terpaksa Akira pun menyuapkan makanan di piringnya.
__ADS_1
Tapi baru saja satu suapan Akira benar-benar merasa mual.
Akira segera bangkit untuk mencari kamar mandi sambil menutup mulutnya menahan rasa mual agar tidak mengganggu orang lain yang sedang menikmati makanya.
Semua orang terhenti melihat Akira yang tiba-tiba bergegas bangkit dan berlalu ke arah dapur.
"Akira…!" seru Gian, karena kaget melihat reaksi Akira yang seperti itu.
Sesampainya di dapur Akira masih menutup mulutnya, menghampiri para pelayan Erwin yang berjumlah empat orang.
Mereka pun merasa kaget dengan kedatangan Akira yang tergesa.
"Ada apa nona?" tanya para pelayan.
Dengan mulut yang berisikan makan, dan ditutup tangannya Akira menanyakan letak kamar mandi.
Memang artikulasi dari ucapan Akira terdengar tidak jelas, namun mereka bisa menebak dari gelagat Akira bawah ia sedang mencari toilet.
Kemudian salah satu dari mereka segera mengantarkan Akira ke toilet, yang terletak di dapur.
Akira langsung masuk ke dalam toilet tanpa menutup pintunya, karena ia sudah tidak tahan lagi ingin muntah.
"Owek… owek..!" Akira tidak hanya memuntahkan makanan di mulutnya tapi ia juga memuntahkan semua isi perutnya.
"Akira… kamu kenapa?" Ucap Gian kaget melihat Akira sedang muntah-muntah, ternyata Gian mengikuti Akira di belakangnya.
Tapi Akira belum bisa menjawab pertanyaan Gian, karena rasa mual yang ia rasakan belum sirna.
Kemudian Gian membantu menenangkan Akira, dengan memijat tengkuk Akira, sampai istrinya benar-benar merasa lega.
Setelah rasa mual itu hilang, Akira berhenti muntah, tapi wajahnya terlihat begitu pucat pasih, nafasnya tersengal-sengal, matanya merah karena ia juga mengeluarkan air mata saat muntah dan masih menyisakan air mata itu di wajahnya.
Gian mengusap wajah Akira dengan penuh kasih sayang, "Kamu kenapa sayang?" tanya Gian lagi penuh perhatian dan kelembutan.
"Aku tidak tahu, mungkin aku butuh istirahat sebentar." kali ini Akira sudah bisa menjawab pertanyaan Gian.
"Oke kamu istirahat dulu ya!" Kemudian Gian memapah Akira untuk menemui Erwin dan yang lain di meja makan.
"Apa kamu sakit?" tanya Erwin setelah Akira dan Gian kembali.
"Seperti nya Akira masuk angin." Gian yang menjawab.
"Aku cuma butuh istirahat sebentar." Sergah Akira.
"Oo baik, ayo istirahatlah mari aku antar ke kamar kalian." Erwin menyudahi makan nya lalu menunjukkan kamar untuk Gian dan Akira tempati.
Diikut oleh Gian Sambil memapah Akira yang terlihat sangat lemas.
Erwin langsung membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Gian dan Akira untuk masuk.
__ADS_1
Gian membantu Akira untuk berbaring di tempat tidur, kemudian Sisil masuk menghampiri Akira dan juga Gian, di ikut Erwin yang awalnya hanya berdiri di depan pintu kamar.