Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 20


__ADS_3

Ditambah Gian malah makin merangkulnya, lalu mengelus-elus bahu Akira agar Akira merasa tenang dan nyaman.


…..


Mendapat perlakuan seperti itu dari Gian Akira bukan nya merasa senang dan nyaman.


Ia malah merasa ilfil, dan makin merasa resah.


"Apa-apa ni orang, bersikap seperti ini hanya untuk pencitraan…" dalam batin Akira mencibir sikap sok manis Gian.


Tapi Akira memang hanya bisa pasrah mengikuti apa yang Gian inginkan, dengan tetap bersandar di pundak Gian, karena Gian pun merangkul pundak Akira.


Ya, memang terlihat mesra dan romantis, di mata para rekannya.


Tapi dalam hati Akira rasanya ingin muntah saja melakukan hal seperti itu, dengan orang yang selalu menyakitinya, dan hanya sekedar untuk pencitraan saja.


Akira merasa kegerahan, ia mencari cara agar terlepas dari situasi seperti itu, karena lama kelamaan Akira memang ingin muntah beneran.


Akhirnya Akira menemukan cara, ia izin untuk ke toilet dulu.


"Yang…!" Suru Akira sambil tersenyum suaranya lemah lembut terdengar merdu dan syahdu di telinga Gian.


Membuat Gian terlena dibuatnya, apa lagi senyum Akira yang sangat manis yang jarang sekali Akira nampak kan di depan mata Gian, membuat Gian benar-benar merasa senang melihatnya.


Entah mengapa? Gian sendiri tidak mengerti dengan perasaannya sendiri.


Mengapa malah ia merasa sangat senang dan nyaman dengan sandiwara yang ia buat sendiri.


"Apa sayang…!" Sahut Gian, mengimbangi Akira.


Akira makin tersenyum lebar mendapat respon baik dari Gian, seolah ia pun merasa bahagia, padahal dalam hatinya ia sungguh muak dengan semua sandiwara yang Gian ciptakan itu.


"Boleh aku ke toilet sebentar, aku ingin buang air kecil dulu." Alasan Akira.


"Ooo tentu boleh dong sayang, apa perlu aku antar?" tawaran Gian.


"Ooo tidak usah repot-repot, aku bisa sendiri kok!" tentu saja akira menolaknya, karena Akira memang ingin menghindar dari Gian.


"Baiklah jika begitu, hati-hati ya sayang…!". Kemudian ucap Gian, membuat telinga Akira terasa geli mendengarnya, tapi Akira hanya tersenyum menanggapinya.


Sebelum pergi ke toilet Akira pun pamit terlebih dahulu kepada Sisil karena akira akan meninggalkannya.


"Apa Sisil mau ikut sama ante? " tanya Akira untuk meyakinkan Sisil.

__ADS_1


"Tidak ante, Sisil tunggu disini saja bersama om." jawab Sisil.


"Oke kalau begitu, anak manis." ucap Akira sambil mengecup pipi Sisil, kemudian berlalu pergi.


Tapi Sisil malah menarik tangan Akira, untuk menghentikannya.


"Kenapa sayang…?" tanya Akira bingung bukankah ia sudah meminta izin dan Sisil sudah mengizinkannya.


"Anteu jangan lama-lama ya…!" pinta Sisil karena takut ditinggalkan oleh Akira.


Akira tersenyum, "Tidak sayang… ante hanya sebentar kok… percaya deh sama ante." Akira meyakinkan Sisil.


Lalu Sisil menganggukan kepalanya tanda mengerti.


Gian sendiri merasa ada kejanggalan, ada sesuatu yang ingin Akira lakukan.


'Apa dia mau kabur…?'Pikir Gian merasa curiga.


Gian sampai mempunyai ide untuk membututi Akira ke toilet, tapi itu tidak mungkin. Gian berpikir kembali.


Dia seorang pria tidak mungkin bisa masuk ke toilet wanita.


Tapi Gian benar - benar curiga dengan apa yang akan di lakukan oleh Akira.


Gian juga berpikir tidak mungkin bisa meninggalkan sisil di sana tanpa Akira atau pun dirinya.


Gian langsung bangkit dari tempat duduknya, untuk menghampiri official girl tersebut, tapi sebelum itu Gian pamit terlebih dahulu kepada Sisil, dan mengintruksi Sisil agar tetap di tempat duduknya.


"Sisil om ada perlu sama official girl itu dulu sebentar, Sisil tetap duduk di sini ya, om janji akan segera kembali." ucap Gian kepada Sisil agar tidak merasa takut di tinggalkan.


Sisil melihat ke arah office girl yang berada tidak jauh dari tempat itu.


Lalu Sisil menganggukan kepalanya sambil berucap, "Iya Om, tapi jangan ya." Sisil seperti tidak ingin di tinggalkan oleh Om dan Tantenya.


"Iya sayang." ucap Gian meyakinkan Sisil.


Kemudian Gian langsung bergegas menghampiri official girl tersebut.


Gian terlihat berbincang dengan official girl.


"Eeeu... permisi nona." Gian berbasa-basi menegur office girl tersebut.


office girl langsung menoleh ke arah sumber suara, ia begitu terkejut ketika melihat Gian lah orang yang menegurnya.

__ADS_1


"I- iya tuan." jawabnya gugup. karena ia merasa takut di anggap telah melakukan kesalahan sampai di tegur olehnya.


"Maaf ada apa ya tuan?" tanya office girl.


Gian malah memberi nya penawaran untuk bekerja sama dengannya.


….


Di toilet…


Akira berdiri di cermin, menatap wajahnya sendiri, dengan wajah yang begitu sendu,


Akira seakan mengasihi diri nya sendiri.


"Ya tuhan Akira, mengapa nasibmu malang sekali saat ini, seharusnya kamu sedang berbahagia bersama cintamu, Riza adalah orang yang selalu mengerti keadaanmu, ia yang mencintaimu dengan tulus, tapi kenapa kamu harus menikah dan hidup dengan pria seperti Gian, yang tidak punya hati, selalu seenaknya sendiri." Akira meratapi nasibnya.


Dan ia malah teringat Riza, teringat masa-masa indah bersamanya.


Karena jauh di dalam lubuk hatinya Akira masih sangat mencintai Riza, tapi ia terpaksa menghindarinya karena keadaan.


Akira malah membandingkan Riza dengan Gian yang berbanding jauh,  sembilan puluh derajat perbandingannya.


Itu yang membuat Akira merasa sedih, karena ia teringat cintanya. Dan selalu diperlakukan seenaknya oleh Gian.


Akira juga mengingat semua perbuatan Gian saat-saat menyakitkan baginya, membuat luka terdalam di hatinya.


Bahkan jika sembuh pun luka itu, akan mengakibatkan bekas luka yang cukup teramat dalam, tidak akan mulus seperti sediakala.


Jika pun Gian benar-benar berubah baik dan mencintai Akira dengan tulus seperti Riza bahkan melebihi Riza, belum tentu Akira akan dapat menerima Gian dengan baik.


Akira terlihat begitu sendu, belum lagi luka memar di dahinya belum benar-benar sembuh memang sudah tidak begitu nampak karena Akira menggunakan obat luar dalam yang termahal dan sudah pasti ampuh, ditambah tertutup makeup sehingga luka itu tidak begitu nampak.


Tapi rasa sakitnya masih sangat terasa, apalagi jika tersentuh.


Di wastafel di depan cermin, Akira tertunduk lesu, lalu menyanggah kepala nya dengan kedua tangannya, ia membenamkan wajahnya di atas kedua telapak tangannya, Akira terlihat sangat prustasi.


Namun ternyata saat itu, Gian meminta office girl untuk membuntuti Akira dan merekam semua kegiatan Akira di sana.


Karena saat itu, Akira berada di luar toilet jadi office girl itu bisa dengan leluasa mereka kegiatan Akira.


Office girl tersebut berputar-putar sedang mengumpulkan sampah di tempat sampah di toilet itu.


Sehingga Akira tidak mencurigainya sama sekali, ternyata orang itu sedang merekamnya.

__ADS_1


Lalu mengirimkan rekaman itu kepada Gian sesuai dengan permintaan Gian.


Office girl itu mematuhi semua perintah Gian karena ia dibayar cukup mahal untuk tugasnya itu.


__ADS_2