
Rima merasa tidak dianggap di sana, karena Sarah yang banyak bicara dan menguasai keadaan.
….
Tapi Erwin langsung peka dengan apa yang Rima rasakan. Maka dari itu Erwin menawarkan atau mempersilahkan Rima untuk menikmati makanan yang ia pesan.
"Rima, ayok silahkan dimakan!" ucap Erwin memancing pembicaraan dengan Rima.
"Oh iya, Tuan. Anda juga dilakukan dimakan." Rima membalas.
Sontak Sarah menatap ke arah Rima, yang sedari tadi tidak ia anggap.
Dengan tatapan tajam, Sarah memperhatikan Rima dari ujung kaki hingga kepalanya, membuat Rima semakin gugup, tapi Rima berusaha untuk bersikap setenang mungkin.
"Sepertinya, saya tidak asing lagi denganmu." Sarah menyapa Rima.
"Iya, kita memang sering bertemu," jawab Rima.
"Oo iya…! Di mana kita bertemu?" Tanya Sarah memastikan.
"Saya babysitter Sisil, teman Cika putri anda," jawab Rima lagi.
"Oo iya, saya baru ingat."
"Lalu sedang apa kamu bersama Mas Erwin?" Sarah curiga.
"Kalian, sudah saling kenal?" tanya Erwin, sedikit heran.
"Nona inilah yang diceritakan oleh Sisil, Ibu tiri dari temannya." Rima mengingatkan Erwin, tentang cerita Sisil yang menceritakan tentang ibu tiri yang jahat. Dan Sarah-lah ibu tiri itu
"Oo … begitu!" Erwin tercengang.
Merasa dirinya dibicarakan Sarah, merasa terpojokkan, dan berusaha menjatuhkan Rima.
"Oo saya mengerti, kamu sedang merayu mas Erwin, agar bisa hidup enak, iya kan?" Sarah menuduh Rima tanpa alasan.
"Tolong jaga bicara anda." Ketus Rima tidak terima dituduh seperti itu.
"Ha … ha … ha … lagian, Mas Erwin, tidak akan tertarik denganmu, hanya seorang babysitter, aku saja yang lebih segalanya dari kamu, Mas Erwin tidak tertarik apalagi sama kamu," Sarah merendahkan Rima.
Sesungguhnya Rima sangat kesal, dadanya panas berapi-api, ia ingin sekali meluapkan emosinya, Rima ingin sekali menimpali perkataan Sarah yang merendahkannya di depan Erwin.
Tapi Rima berpikir dua kali untuk melakukan hal itu, Sebab itu hanya akan membuat keributan saja dan Erwin juga akan menilainya lebih buruk.
__ADS_1
Maka dari itu Rima memilih diam, dan berusaha untuk tidak terpancing emosi.
Tapi tidak sampai di situ, Sarah semakin merajalela ia semakin berapi-api juga untuk merendahkan Rima, dengan tujuan agar Rima tau diri agar tidak mendekati Erwin.
"Meskipun kamu berdiri t e l a n j a n g di depan Mas Erwin, perempuan sepertimu tidak akan mampu membuat Mas Erwin tertarik kepadamu, walaupun itu terjadi, mungkin itu karena mas Erwin sedang tidak sadarkan diri, bisa karena pengaruh magic, atau pengaruh minuman beralkohol saja, intinya mas Erwin masuk dalam perangkapmu" Sarah masih saja menuju Rima yang tidak-tidak.
Deg … jantung Rima merasa terhantam, karena apa yang diucapkan oleh Sarah memang benar ada, tapi dia tidak terima jika dirinya menjebak yang menjebak Erwin.
Hati Rima bergetar, ketika menyadari kebenaran dari ucapan Sarah, Rima merasa seperti orang bodoh, melakukan hal yang tidak pernah lelaki itu harapkan.
Sekuat tenaga Rima menahan tangisnya, ia berusaha untuk tegar, dan tenang.
Tapi Erwin melihat perubahan Rima dari raut wajahnya yang memerah, dan matanya yang berkaca-kaca.
Sepertinya Rima tersinggung dengan ucapan Sarah, memang sudah sangat merendahkan Rima.
Karena itu Erwin mulai berbicara, untuk membela Rima.
"Apa yang, Kamu, ucapkan itu semua tidak benar." ucap Erwin.
"Sekarang aku malah merasa bersyukur tidak berjodoh denganmu," ketus Erwin.
"Kenapa begitu?" Sarah merasa diremehkan.
"Mas Erwin, jaga ucapanmu." Sarah tidak terima dengan apa yang diucapkan oleh Erwin.
"Memangnya kenapa saya? hah!" Pekik Sarah bertanya kepada Rima.
Rima menggelengkan kepala untuk mengelak.
"Oo, jadi kamu menjelek-jelekkan aku di depan Mas Erwin, kamu tidak mengenalku dan tidak tahu siapa aku, kenapa kamu lancang sekali menjatuhkan ku di depan Mas Erwin," sambung Sarah dengan nada emosi.
"Dasar perempuan tidak tahu diri!" Pekik Sarah.
Saat berkata seperti itu Sarah hampir melayangkan tangannya, ingin menampar Rima .
Rima tidak dapat berbuat apa-apa, ia hanya diam, siap tidak siap di akan menerima sebuah tamparan dari Sarah.
Rima juga sudah mengangkat kedua tangannya menutupi kepalanya, dengan tubuh yang gemetar ketakutan, keringat dingin bercucuran membasahi tubuhnya, kedua matanya ia pejamkan karena tidak sanggup melihat tangan Sarah melayang menghantam wajahnya, dan untuk menahan rasa sakit yang ditimbulkan karena tindakan yang akan dilakukan oleh Sarah.
Namun, lama menunggu tangan Sarah tidak kunjung mengenai wajahnya, atau tidak menyerangnya.
Dalam hatinya Rima bertanya, 'Apa Sarah mengurungkan niatnya?'
__ADS_1
Perlahan Rima membuka matanya, untuk mengintip apa yang terjadi, dan ternyata dengan sigap Erwin menangkap tangan Sarah, untuk menghalau serangannya.
Setelah melihat itu, Rima merasa lega, ia juga menurunkan tangannya secara perlahan, karena Rima sempat mengangkat kedua tangannya untuk melindungi dirinya dari serangan Sarah.
Dengan rasa kesal Erwin menghempaskan tangan Sarah dan berucap, "tolong jaga sikapmu, Jangan coba-coba kamu menyentuh Sisil dan Rima, karena saya tidak akan diam jika kamu melakukannya."
Erwin mengancam Sarah, dan ancaman itu cukup membuat Sarah tercengang, ia tidak menyangka Erwin akan bersikap kasar seperti itu kepadanya, karena setaunya Erwin tidak pernah kasar kepada wanita.
"Mas, sekarang kamu sudah berubah, kamu bukan Mas Erwin yang ku kenal." Sarah bicara dengan nada sendu ia sepertinya syok dengan tindakan Erwin kepadanya.
"Aku memang bukan Erwin yang dulu lagi, Erwin yang tergila-gila kepadamu, dan aku begini karena sikapmu sendiri yang mengkhianati ku," terang Erwin.
"Tapi, Mas! Andai saja dulu kamu tidak bersikap dingin kepadaku, aku tidak akan pernah berpaling darimu." Sarah juga mencoba menjelaskan.
"Kamu selalu menjaga jarak denganku, aku merasa kamu hanya merasa kasihan kepadaku, Kamu tidak pernah mencintaiku, bahkan kamu tidak ingin menikahi ku, lalu sampai kapan aku harus menunggumu?" lanjut Sarah.
"Sudahlah, semua itu hanya masa lalu, Sarah. Aku tidak ingin lagi membahas tentang itu, silahkan pergi tinggalkan kami." Pinta Erwin, dan mengusir Sarah dari mejanya.
"Tapi, Mas …." Erwin memotong ucapan Sarah dengan mengangkat satu tangannya dengan gerakan menyetopnya.
Erwin sudah tidak ingin mendengar apa-apa lagi dari mulut Sarah.
Karena tidak ingin membuat keributan, sebab Erwin bisa saja mempermalukan dirinya, akhirnya Sarah pergi dari sana menuju meja lain.
Dengan perasaan penuh amarah, dan dendam Sarah melangkah, sambil menoleh tatapannya tetap tertuju ke arah Erwin dan Rima.
Tapi Erwin dan Rima tidak mempedulikannya, Erwin kembali duduk setelah sempat berdiri saat menghentikan pergerakan Sarah yang akan menampar Rima.
"Rima, kamu tidak apa-apakan?" tanya Erwin.
Rima menggelengkan kepalanya memberi jawaban.
"Ya syukurlah kalau Kamu tidak apa-apa." Erwin merasa lega setelah melihat respon dari Rima.
Kemudian Erwin mempersilahkan Rima untuk menyantapnya makanannya.
"Maaf ya, Rima. Atas kelakuan Sarah kepadamu, aku sungguh tidak enak hati kepadamu, dia hanya masa laluku," ucap Erwin menerangkan.
"Iya, Tuan, terima kasih sudah membantu saya, sehingga nona Sarah tidak sampai menyerang saya," sahut Rima.
"Itu sudah kewajiban saya, menjagamu dan melindungi mu." Sambung Erwin lalu menyuapkan sepotong sandwich ke mulutnya.
Ucap Erwin bukan hanya sekedar basa-basi, sebab memang benar Rima adalah tanggung jawabnya sekarang, sebagai suaminya.
__ADS_1