
"Apa ini mah?" Tanya Akira bingung saking banyaknya paper bag yang mama Nirmala serahkan kepadanya.
"Ini untukmu, sebelum pulang Mama sama papa belanja dulu buat oleh-oleh orang rumah." terang mama Nirmala.
"Tapi ini~" ucapan Akira terhenti karena mama Nirmala menyelanya.
"Kamu jangan khawatir, buat yang lain juga ada, sudah mama siapkan." ucap Mama Nirmala agar Akira tidak usah merasa tidak enak hati.
Akira hanya bisa diam, karena bingung ingin menolak tapi tidak mungkin.
"Akira… nak! jangan bengong begitu ayo dong di coba! mama pengen melihatnya." Mama Nirmala begitu antusias.
"A-apa…? di coba." Akira merasa canggung.
"Iya dong sayang, mama pengen tau cocok atau tidak kamu kenakan semua ini!" Pinta mama Nirmala.
"I-iya mah…" Akira benar-benar merasa canggung, tapi ia tetap melakukannya.
Akira mulai membuka satu persatu paper bag yang berisikan, bebagai macam barang.
Mulai dari pakaian, sandal dan alat - alat make up, juga perhiasan.
Akira sungguh tercengang melihat itu semua, karena barang-barang itu juga bukan barang murahan, semua barang bermerek yang sudah pasti harganya sangat mahal.
"Mah, apa ini tidak berlebihan?" tanya Akira merasa semua terlalu mewah untuknya.
"Oo tentu tidak, sayang… ini termasuk investasi juga kan, jadi gak ada salahnya dong sebagai perempuan kita memanjakan diri kita dengan barang-barang yang bermerek." Mama Nirmala menepis pemikiran Akira.
Tapi Akira tetap bengong, karena bingung, sebagai seorang wanita seharusnya ia merasa senang dengan semua pemberian mertua nya.
Tapi mengapa Akira malah merasa sebaliknya, ia tidak ingin mendapat image sebagai perempuan matre, karena itu bukan Sifatnya.
Akira lebih suka tampil apa adanya, dan bergaya casual.
Daripada harus memakai pakaian yang mertuanya belikan untuk nya, baju dress dan gaun serta make up, dan perhiasan.
Sebagai perempuan Akira juga memang membutuhkan alat make up, tapi tidak mencolok, ia lebih suka ber make up natural, karena itu lebih membuatnya merasa nyaman.
Karena mama Nirmala terus saja memaksanya untuk mencoba semua yang ia berikan.
Dengan terpaksa akhirnya Akira pun mengikuti keinginannya, untuk menghargai mama mertua nya.
Akira berlalu ke kamar mandi untuk mengganti pakaian yang ia kenakan dengan dress yang diberikan oleh mama mertuanya.
Setelah mengenakan baju dress tersebut Akira keluar dari kamar mandi.
Akira terlihat sangat cantik dengan pakaian itu, karen kesehariannya ia lebih sering memakai pakaian setelan, celana jeans, dan kaos t-shirt.
Mama Nirmala sampai tercengang melihat penampilan Akira.
__ADS_1
"Waw… kamu terlihat sangat berbeda." gumam mama Nirmala.
Lalu mama Nirmala menggiring Akira dan menggiring nya untuk duduk di meja rias miliknya.
"Ayo duduk di sini nak!" serunya dengan lemah lembut.
Setelah Akira duduk mama Nirmala mulai memoles wajah polos Akira.
Tapi Akira sempat protes, "Aduh mah, kenapa harus di make up segala, ini kan udah Malam emang mau kemana?" protes Akira.
"Sayang meskipun gak kemana-mana, perempuan itu harus ber make up di depan suaminya, karena itu termasuk ibadah, supaya terlihat cantik di depan suami." mama Nirmala mengingatkan Akira.
"Tapi mah…" Akira tetap ingin protes.
"Sssst… udah diam gak usah banyak protes."mama Nirmala menghentikan ucap Akira dan menyuruh Akira untuk diam.
Ya, Akira hanya bisa pasrah menerima perlakuan Mama mertuanya.
Di make up, dipakaikan perhiasan Sendal, bergaya wanita feminim.
Mama Nirmala memang sengaja ingin merubah tampilan Akira agar lebih feminim untuk menarik perhatian Gian yang memang lebih menyukai perempuan feminim ketimbang wanita tomboy.
Setelah selesai memake over Akira, mama Nirmala begitu puas dengan hasilnya.
"Luar biasa perfect!" gimana nya memuji hasil make overnya, sekaligus memuji kecantikan Akira.
"Kamu cantik sekali nak."
Dan tiba-tiba handphone Mama Nirmala berbunyi, menandakan panggilan suara masuk.
Mama Nirmala melihatnya dan ternyata panggilan telepon dari suaminya, yaitu papa Arga.
"Iya halo pah"
"Mama di mana, papa sama Gian sudah menunggu di meja makan." papa Arga memberi tahu posisinya.
"Oo iya pah mama dan Akira akan segera ke sana." Jawab Mama Nirmala.
Lalu Mama Nirmala segera mengajak Akira untuk menemui papa Arga dan juga Gian di yang sudah menunggu mereka di meja makan.
Ternyata papa Arga dan mama Nirmala memang telah sekongkol untuk menyatukan Gian dan Akira.
Dan acara makan malam kali ini juga adalah salah satu cara mereka berdua untuk itu.
Semua telah mereka berdua atur dengan rapi, sebab Mama Nirmala dan papa Arga tau hubungan Akira dan Gian seperti minyak dan air.
Mama Nirmala dan Akira berjalan berdampingan menuju meja makan.
Dari kejauhan Gian menatap Akira yang berpenampilan berbeda.
__ADS_1
Gian sungguh tidak menyangka, Akira bisa berpenampilan seperti itu, dan terlihat sangat cantik.
Sehingga Gian terlihat terperangah melihat Akira.
'gila… dia sungguh gadis tomboi itu, kenapa dia bisa secantik ini' batin Gian memuji kecantikan Akira.
Sedangkan Akira hanya bersikap cuek dan sangat dingin kepada Gian.
Gian dapat memaklumi atas sikap Akira kepadanya, itu semua karena ulah nya Juga.
Mama Nirmala mempersilahkan Akira untuk duduk bersebelahan dengan Gian.
" Gimana Gian penapisan istrimu?" Mama Nirmala meminta pendapat dari Gian mengenai penampilan Akira.
Gian menatap Akira, "Ya, dia sangat cantik." Gian jujur dengan penilaiannya.
"Ya, nak kamu terlihat sangat berbeda!" papa Arga ikut menimpali.
"Terima Kasih…" ucap Akira singkat, sambil tersenyum kaku kepada papa mertuanya.
Sedangkan Akira tidak menimpali pujian Gian kepadanya, karena Akira, berfikir Gian hanya sedang bersandiwara di depan kedua orang tuanya.
Mendengar pujian dari Gian dan papa Arga, Mama Nirmala lah yang merasa sangat senang, sebab make overnya berhasil.
"Gian kamu suka dengan penampilan Akira yang seperti ini?" Mama Nirmala kembali bertanya untuk memastikan jawaban dari Gian.
"Iya mah, tapi sesungguhnya aku suka Akira berpenampilan seperti apapun, baik casual, maupun feminim." Tegas Gian.
"Dia tetap Akira yang baik hati, Akira memiliki inner beauty!" Gian malah makin memuji Akira.
Maman Nirmala dan papa Arga begitu puas dengan jawaban Gian.
Karena jarang sekali Gian mau memuji seorang wanita. Kecuali ia benar-benar menyukainya.
Mama Nirmala tersenyum lebar, dan memberi tau Akira, kalau Gian jarang memuji wanita kalau dia tidak menyukainya.
Akira tetap tidak percaya, itu hanya siasat mereka untuk membuat Gian terkesan baik di hadapannya fikir Akira.
Akira hanya tersenyum terpaksa, untuk menghargai kedua mertuanya.
"Eeh kamu kan sudah di puji sama suamimu, ucapkan sesuatu kepadanya." Mama Nirmala menegur Akira.
Dan itu membuat Akira terpaksa harus berakting senang dan bahagia dengan pujian Gian padahal dalam hatinya tidak begitu.
Kemudian Akira menghadap ke arah Gian yang posisinya berada di sampingnya.
Akira menatapnya lalu tersenyum setulus mungkin dan mengucapkan kata, "Terimakasih…!"
Senyum itu menjadi pemanis dari kecantikannya sehingga membuat Gian terlena melihatnya.
__ADS_1
Hati Gian berdebar kencang ketika itu, entah perasaan apa yang Gian rasakan ia sungguh tidak mengerti dan tidak bisa mengendalikan perasaannya sendiri.