Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 120


__ADS_3

Matahari pagi telah menyingsing, sinar yang terpancar terasa hangat menyentuh kulit, cahaya keemasan yang menerobos masuk dari celah jendela menyilaukan mata. Ketika Erwin masih lelap dalam tidurnya


Gorden jendela yang tertiup semilir angin, bergerak tertutup dan terbuka sehingga cahaya matahari yang menyilaukan itu, terhalau saat gorden tertutup, tapi masuk kembali menyorot tepat di wajah Erwin ketika gorden itu kembali tersingkap sehingga sinar matahari itu mengusik tidur lelapnya.


Posisi tidur Erwin berbaring miring menghadap ke arah jendela, ketika ia terbangun, matanya tepat terkena sinar sang raja pagi, Erwin mengerjakan matanya, lalu meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, Erwin membalikkan badannya, tapi tiba-tiba Erwin terkejut sebab ia mendapati seorang gadis tengah terbaring di sampingnya menghadap ke arahnya.


"Astaga, siapa dia?" celetuknya, 


Namun Erwin menatap lekat wajah itu, wajah yang tidak asing lagi ia tetap, sedang terpejam begitu damai.


Erwin sungguh terpesona melihat wajah itu , karena Erwin baru menyadari bahwa gadis itu telah menjadi istrinya, setelah menyadari hal itu hati Erwin terasa berbunga-bunga, rasa bahagia menguasai dirinya, seulas senyum terbit di bibir Erwin.


Ketika Erwin bergerak, berganti posisi duduk bersandar di kepala ranjang. sinar matahari yang awalnya mengganggu tidurnya, kini sinar itu bersinar tepat di wajah Rima, membuat kulit wajahnya terasa panas, dan sinarnya menyilaukan matanya,  Rima mulai tersadar dari tidurnya, tapi Erwin dengan sigap menghalau sinar itu dengan kedua tangannya agar tidak menyentuh wajah sang istri.


Karena silau itu terhalau tangan Erwin, keadaan terasa nyaman, dan membuat Rima terlelap kembali masih dalam posisi yang sama.


Erwin mengerutkan keningnya ketika melihat Rima malah terlelap kembali dan menghiraukannya. Erwin juga teringat kejadian semalam.


Erwin sungguh merasa kesal karena begitu lama menunggu Rima masuk ke kamarnya. Sebab Rima harus menemani Sisil yang semalam lumayan rewel dan susah tidur.


Dan akhirnya tanpa Erwin sadari ia terlelap begitu saja sampai pagi menjelang. Rasa kesal Erwin kembali muncul ketika mengingat hal itu, hingga muncul ide jahil di benaknya untuk mengerjai Rima.


Erwin bermain-main dengan cahaya matahari yang menyerobot masuk yang kini menyinari wajah Rima, Erwin mengalu dan menyingkirkan tangannya dari sinar itu. Sehingga cahaya itu kembali bersinar menerpa wajah Rima , lalu tertutup kembali ketika Erwin menghalaunya, dan begitu seterusnya.


Rima merasakan hal itu sehingga dirinya merasa risih atau tidak nyaman, dan membuatnya terbangun. Perlahan Rima membuka matanya, remang-remang indera penglihatannya menangkap sosok pria tanpa yang tengah duduk di sampingnya.


Dengan ekspresi wajah malas Rima memaksakan diri untuk bangun dan tersadar dari tidurnya.


"Morning, honey!" sapa Erwin, menyambut istrinya.


"Tu-tuan, anda sudah bangun?" tanya Rima dengan suara seraknya khas bangunan tidur.


Erwin yang awalnya menatapnya dengan seulas senyum, langsung memalingkan wajahnya dengan ekspresi malas pula, seakan membalas Rima.


Rima bangkit dari tidurnya, "Maafkan saya, semalam saya masuk tanpa sepengetahuan tuan," ucap Rima.


Erwin kembali menoleh ke arah istrinya yang tidak peka dengan perasaannya, Erwin menatap wajah Rima dengan sorot mata tajam, "Bukankah Kamu sudah diingat oleh mama, jangan panggil aku tuan." Erwin mengingatkan Rima.


Rima langsung menundukkan wajahnya melihat raut wajah Erwin yang kesal kepadanya.


Bagaimana tidak kesal, sudah semalam ia dibiarkan lama menunggu sampai ketiduran, saat pagi Erwin berharap mendapat sapaan penuh cinta, Rima malah berekspresi seperti itu, berbeda jauh  dengan almarhum istrinya, yang selalu tahu cara untuk membuat hati Erwin senang, dan semua itu membuat rasa kecewanya bertambah, dan hilang moodnya.


Erwin langsung beranjak dari tempat tidurnya meninggalkan Rima begitu saja, Rima hanya menatap sendu punggung suaminya sampai menghilang di balik pintu kamar mandi.

__ADS_1


Rima, merapikan tempat tidurnya, lalu pamit kepada suaminya untuk keluar menemui Sisil.


"Ma-mas, mas Erwin, aku pamit keluar untuk menemui Sisil ya!" Rima masih canggung mengucapkan sebutan baru untuk suaminya, semetara Erwin masih didalam kamar mandi.


"Pergilah." jawab Erwin mempersilahkan Rima untuk keluar, dengan suara datar.


Setelah telah mendapatkan jawaban dari Erwin, Rima segera keluar dari kamar itu.


Erwin benar-benar kesal kepada Rima yang tidak mengerti dirinya, "Bagaimana aku bisa mencintainya, lihat sikapnya sendiri seperti itu, dia tidak peka terhadapku, Sisil selalu dia jadikan alasan." gerutu Erwin, sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.


Ketika itu terbesit ingatannya tentang almarhum istrinya, yang selalu tersenyum manis, tampa menghiraukan rasa lelahnya, rasa sakitnya, hanya demi terlihat bahagia di mata Erwin, dan senyuman itu selalu mampu jadi penyejuk hati Erwin, mampu meredam amarahnya, rasa kecewanya, bahkan rasa lelahnya ketika pulang bekerja.


'Sayang, aku berharap Rima mampu menggeser posisimu di hatiku, ternyata tidak, kau tetap permaisuri di hatiku, kau masih bertengger sebagai pemenang atas hati ini, tapi, sayang. Hatiku sakit sekali jika merindukanmu seperti saat ini.' Erwin meratapi kesedihannya, ia mengingat almarhumah istrinya yang belum ada satupun wanita yang bisa menggantikannya di hati Erwin.


Erwin keluar dari kamar mandi setelah ia selesai membersihkan dirinya. Ia melihat kamarnya dan tempat tidurnya telah rapi mungkin Rima sudah memberikannya.


Erwin juga melihat pakaian yang telah disediakan oleh Rima untuk Erwin berganti pakaian, tapi Erwin hanya meliriknya, sebab pakaian yang disediakan oleh Rima tidak sesuai dengan yang Erwin kehendaki.


Kemudian Erwin keluar setelah rapat dan bersiap untuk pergi bekerja. Erwin langsung menuju meja makan, di sana sudah ada kedua orang tuanya, Gian beserta istrinya.


Tidak lama Rima dan Sisil juga datang menghampiri semuanya, Sisil dan Rima telah siap untuk pergi ke sekolah, tapi kali ini Rima tidak mengenakan seragam babysitternya sesuai perintah mama Nirmala.


Rima memang terlihat sangat cantik, tapi Erwin tidak melihatnya sama sekali, karena rasa kecewanya dan rasa sendu di hatinya, Rima bisa tau melihat sikap Erwin yang seperti itu kepadanya. Tapi Rima tetap menyapanya.


"Tu~  mas, ka-kamu mau kerja."  Tanya Rima, yang masih canggung karena belum terbiasa, Rima melihat penampilan Erwin dari ujung kaki hingga kepalanya. Erwin tidak mengenakan pakaian yang ia siapkan.


"Iya." Jawab singkat Erwin tanpa melihat ke arah Rima.


Rima segera mendudukkan Sisil di kursinya. Kemudian Rima mengambil obat Erwin untuk Erwin minum, meskipun sikap Erwin sangat dingin kepadanya pagi ini, tapi Rima tetap melakukan apa yang harus ia lakukan.


"Mas!" seru Rima.


"Hmm!" sahut Erwin.


"Bukannya, Mas, harus banyak istirahat." Rima mengingatkan Erwin, dengan perasaan ragu.


"Iya, Win. Kamu istirahat saja dulu." Gian ikut bicara.


"Tidak usah, aku sudah kelamaan istirahat, jadi aku harus berangkat kerja pagi ini," ucap Erwin kukuh.


Saat itu datang Bi Sumi membawa seorang gadis berusia sembilan belas tahun, ia baru lulus sekolah SMA, gadis itu lumayan cantik dan modis penampilannya.


"Permisi semuanya," sapa Bi Sumi sambil membungkukkan badan, untuk menghormati para tuan rumah.

__ADS_1


Semua menghentikan aktivitas makan mereka, semua menatap ke arah Bi Sumi, Tapi bukan Bi Sumi yang menjadi pusat perhatian mereka melainkan kepada seorang gadis yang datang bersama Bi Sumi.


"Iya, Bi." Mama Nirmala yang menjawab lalu mengalihkan pandangannya menatap Bi Sumi.


Bi Sumi menyampaikan bahwa ia membawa seorang gadis yang akan menggantikan Rima sebagai babysitter Sisil.


"Silahkan, Nyonya, di interview dulu." 


Nyonya Nirmala menatap lekat gadis itu dari ujung kaki hingga ujung rambutnya. Dia cantik, tapi penampilannya sungguh bar-bar, ia memakai rok ukuran sepaha, dengan atasan kemeja kotak-kotak dengan kancing yang dibiarkan terbuka dari atas sampai bawah, sehingga tank top berwarna hitam yang ia kenakan sebagai dalaman bajunya terlihat nyata, tank top itu begitu  ketat membentuk sempurna lekuk tubuh bagian dadanya, gunung kembar yang terlihat montok dan belahan dada yang putih mulus, membuat mata para mata keranjang tergoda melihatnya.


Gadis itu menatap semua orang, dan tersenyum manis. Papa Arga, Erwin dan Gian sebagai lelaki normal sungguh tertarik melihatnya.


"U'hum …." Akira berdehem memecahkan suasana, dan berhasil mengalihkan perhatian mereka semua.


Gadis itu menyerahkan CV-nya kepada Nyonya Nirmala.


(CV adalah dokumen memuat informasi data diri pelamar kerja, riwayat pendidikan, pengalaman kerja, pengalaman magang, keahlian atau keterampilan, pelatihan atau sertifikasi yang pernah diikuti.)


Nyonya Nirmala melihatnya, dan semua data sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh nyonya Nirmala, namun, nyonya Nirmala kurang srek dengan penampilannya yang tidak sopan.


"Boleh saya bertanya?" Nyonya Nirmala ingin melakukan interview, ia ingin mengajukan beberapa pertanyaan sebelum mengambil keputusan.


"Silahkan Nyonya," jawab Gais itu.


"Kamu taukah akan melamar kerja di sini sebagai apa?"  tanya nyonya Nirmala.


Gadis itu mengangguk, sebagai jawaban iya. Lalu Nyonya Nirmala kembali melanjutkan pertandingannya lagi.


"Kamu tau kan tata cara berpakaian yang sopan, dan apa pantas menurutmu melamar pekerjaan dengan penampilan seperti itu." Mama Nirmala langsung ke intinya sebab itu sangat mengganggu pandangannya.


Meskipun semua data diri gadis itu sesuai dengan kriteria, tapi penampilannya patut di pertimbangkan.


"Iya, Nyonya, saya tau pakaian saya kurang pantas nyonya, tapi saya sungguh terpaksa memakai pakaian yang ada, karena tempat tinggal saya kebanjiran tadi malam, sehingga semua baju-baju saya basah (itu alasan nya). Iya jika saya tidak diterima karena pakaian saya, tidak apa-apa kok, saya menerimanya walaupun saya sangat membutuhkan pekerjaan ini." Gadis itu menjelaskan apa alasannya, dan ia sok berlapang dada atas keputusan Nyonya Nirmala.


Mama Nirmala terlihat berpikir, dia memang sangat membutuhkan pengasuh untuk Sisil, agar Rima bisa fokus kepada suaminya, sebab pagi ini sudah terlihat jelas mood Erwin yang bete, karena kurang perhatian dan pengertian dari Rima.


Maka mama Nirmala harus segera mengambil keputusan untuk itu.


"Menurutku, kalau hanya sekedar penampilan itu tidak masalah mah, dia juga kan akan mengenakan seragam yang kita sediakan," saran Erwin.


"Iya sih! asal dia mau mengikuti semua peraturan di rumah ini, penampilan tidak menjamin seorang itu baik atau buruk iya kan, sayang?" Akira ikut memberikan masukan, sekaligus meminta pembenaran dari suaminya.


Gian menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan istrinya.

__ADS_1


Karena masukan dari anak dan menantunya akhirnya Mama Nirmala sudah bisa mengambil keputusan, ia menerima masukan dari anak dan menantunya untuk menerima gadis itu yang diketahui dari  CV-nya bernama Mila Anggraini.


"Oke, saya terima kamu kerja disini sebagai babysitter cucu saya, tapi kamu bekerja atas pengawasan menantu saya, Rima." Ucap Mama Nirmala sambil menunjuk Rima, dan memperkenalkannya.


__ADS_2