
Karena Sisil berlari ke arah Cika, terpaksa para orang dewasa pun mengikutinya, Sarah menatap semua orang, lalu melihat Erwin di kursi roda, Sarah sudah dapat menebak jika Erwin telah sakit.
"Mas Erwin, kamu kenapa? Kamu sakit ya, kok gak ngabarin saya sih! kalau saya tau kan, saya bisa menjenguk-mu." Sarah berbasa-basi dengan manisnya.
…
"Terimakasih, tapi itu tidak perlu," Jawa Erwin datar. Lalu Erwin mengajak Sisil untuk segera pergi dari sana, "Sisil, sayang. Ayo kita harus segera pulang."
Sisil melihat kepada Papi-nya dan tanpa berkata apa-apa, ia segera berbicara kepada Cika, "Cika, kamu sakit ya?"
Cika menganggukkan kepalanya sebagai jawaban iya, "Cepat sembuh ya, Cika," Sisil mendoakan kesembuhan Cika.
Cika hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, terlihat jelas gadis itu penuh tekanan, dari raut wajahnya terlihat dipenuhi kesedihan, ingin sekali dia bicara tentang kondisinya, namun ancam Sarah membuatnya tetap bungkam.
Sehingga ayah kandungnya pun tidak tahu apa yang ia rasakan dan yang telah ia alami semenjak Sarah menjadi ibu sambungnya.
Awalnya Erwin tidak peduli, dan tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang, tapi melihat gadis kecil itu, Erwin merasa sangat kasih kepadanya, karena tertekan ditindas, bahkan dianiaya membuat gadis kecil itu menderita dan bungkam seribu bahasa.
"Iya, Sisil terima kasih sudah mendoakan, Cika." Sarah yang menyahuti ucapan Sisil.
"Ya, sudah aku pergi dulu ya Cika," Sisil pamit.
Cika kembali menganggukkan kepalanya, lalu terlihat air mata berlinang di kelopak matanya. Gadis kecil itu seakan menahan tangisnya, karena jika ia salah sedikit saja ia akan menerima siksaan dari ibu tirinya.
Sisil, Erwin dan Rima yang sudah tau permasalahan yang dihadapi oleh gadis kecil itu, sungguh merasa tidak tega melihatnya.
"Kami pergi dulu." Erwin pamit kepada Sarah.
Sarah bersikap manis sekali seperti orang yang sangat baik, "Oo iya, silahkan, mas Erwin, kami masih harus di sini menunggu Papinya Cika sedang mengambil sesuatu yang ketinggalan di mobilnya." terang Sarah tanpa ada yang bertanya.
Kembali Erwin segera bergegas dari sana bersama rombongannya, sesampainya di depan pintu utama Rumah sakit mereka berpapasan dengan Papi Cika yang hendak masuk ke dalam.
Papi Cika bernama Hendri, karena ia telah mengenal Sisil dan Rima, pak Hendri duluan yang menyapa Sisil.
"Hay, Sisil!"
"Eeh, om!"
Hendri menatap satu persatu orang-orang yang sedang bersama Sisil, ia melempar senyum kepada semuanya sambil menunduk hormat.
Tapi ketika ia menatap Rima ia menyapanya, sebab Hendri memang sering bertemu dengan Rima ketika sedang mengantar jemput putrinya.
"Hay, mbak Rima!" sapa Hendri dengan senyum ramahnya.
"Hay juga, Tuan."
"Kalian di sini?" tanya-nya.
"Iya, ini kenalkan Papi Sisil, beliau telah dirawat di rumah sakit ini." ucap Rima, memperkenalkan Erwin kepada Hendri.
__ADS_1
"Oya, saya Hendri ayah Cika, temannya Sisil," Hendri memperkenalkan diri kepada semua orang.
"Oo, jadi Anda Papi gadis malang itu!" ucap Erwin to the point.
Sontak ucapannya membuat Hendri bingung dan mengernyitkan keningnya, lalu bertanya, "Apa maksud ucapan Anda, siapa yang Anda maksud dengan gadis malang?" Hendri meminta penjelasan.
"Iya, putri Anda-lah yang saya maksud, Cika." Ucap Erwin sambil tersenyum kecut.
Hendri sungguh heran mengapa Erwin orang yang baru dia kenal bisa berkata seperti itu tentang putrinya.
"Maaf, Tuan tidak usah berteka-teki, to the point aja, apa maksud dari ucapan anda?" Hendri mendesak penjelasan dari Erwin.
"Oke, sekarang begini saja, saya tidak mau bicara panjang lebar tentang keluarga anda, takutnya ucapan saya dianggap fitnah, usul saya, anda harus pasang CCTV di beberapa titik di rumah anda, terutama di kamar putri anda, tapi harus tanpa sepengetahuan istri anda, anda akan tau sendiri dari rekaman CCTV itu." Ucap Erwin, memberi saran, kemudian ia pamit untuk segera pergi dari sana.
Karena mobil Gian sudah terparkir di depan mereka, untuk membawa mereka pulang.
Ucapan Erwin sungguh membuat Hendri berpikir dan penasaran ada apa sebenarnya, apa yang terjadi dengan istri dan putrinya.
Ketika semua rombongan Erwin beserta Erwin sudah masuk kedalam mobil, tinggal Rima yang hendak masuk, lalu dihentikan oleh Hendri yang masih mematung mencerna ucapan Erwin.
"Maaf, Mbak Rima, apa anda tau sesuatu?" tanya Hendi ingin mencari informasi.
"Maafkan saya, Tuan. Menurut saya lakukanlah saran dari Papi-nya Sisil, sampai anda bisa menemukan jawabannya sendiri." Jawab Rima, yang juga tidak dapat berkata apapun, lalu Rima segera masuk kedalam mobil karena dirinya sudah ditunggu.
…
Di dalam perjalanan, Susana terasa canggung sebab Sisil dan juga Erwin sejak tadi lebih banyak diam, Erwin berubah mood dari sejak keluar dari kamar mandi.
"Sisil kenapa sayang, kok diem aja dari tadi, Sisil marah sama Mbak?" Rima menegur Sisil.
Sisil menggelengkan kepalanya, enggan menjawab, "Kalau Mbak punya salah sama Sisil, mbak minta maaf ya!" Sambung Rima.
"Sisil kesal sama, Papi!" ucap Sisil kemudian.
"Loh, kok! Kesalnya sama Papi?" Erwin menyatui.
"Iya, karena Papi mau ngambil mbak Rima dari Sisil, ingat ya mbak Rima itu punya Sisil ya pih!" Sisil memperingatkan Papi-nya.
"Loh, kok begitu sih sil," Erwin ingin protes.
Lalu Akira yang menengahinya, sebab antara Sisil dan Papinya telah terjadi perselisihan.
"Sisil, sekarang Sisil panggil mbak Rima ini dengan panggilan Ibu, terserah Sisil mau manggilnya apa, mau maommy, mama, ibu, atau bunda, terserah Sisil nyamannya manggil apa." Akira ingin memberi pengertian kepada Sisil,
"Kenapa harus begitu anteu?" tanya Sisil, menanyakan apa alasannya.
"Karena, Mbak Rima sudah menikah dengan Papi Sisil otomatis, Mbak Rima ini jadi ibu Sisil sekarang," terang Akira.
"Menikah!" seru Sisil, seperti tidak mengerti dengan kata itu.
__ADS_1
Akira kembali Menjelaskan "Iya, Sayang, seperti anteu dan om Gian menikah dan hidup bersama, Pernikahan adalah proses pengikatan janji suci antara seorang laki-laki dewasa dan seorang perempuan yang sudah cukup umur. Pernikahan merupakan ibadah yang mulia dan Suci. Pernikahan tidak boleh dilakukan sembarangan karena ini merupakan bentuk ibadah terpanjang dan dapat dijaga hingga maut memisahkan." Terang Akira.
"Maut memisahkan?" Sisil mengulang kata itu.
"Iya, seperti mami Sisil dan papi Sisil sudah menikah, punya anak secantik dan sepintar Sisil, tapi dipisahkan oleh maut, maut itu kematian atau meninggal jadi dipisahkan oleh maut " Akira terus saja memberi pengertian kepada Sisil.
"Jadi, sekarang mbak Rima itu tidak hanya milik Sisil, tapi milik Papi juga, Sisil harus berbagi Mbak Rima dengan Papi, mbak Rima harus membagi waktunya antara Sisil dan juga papi." Erwin ikut memberi pengertian kepada putrinya.
Sisil yang duduk di tengah di antara Rima dan Papinya di bangku penumpang, iya mendongakkan kepalanya melihat wajah Rima, karena posisi Sisil sedang bersandar di dada Rima.
Rima membalas tatapan mata Sisil lalu mengusap lembut wajah Sisil dengan penuh kasih sayang, Sisil memasang ekspresi wajah meringis manja, ia seakan protes tidak rela harus berbagi Rima dengan Papinya. Sisil khawatir Rima akan lebih sibuk dengan Papinya dan mengabaikannya.
"Kenapa kalian menikah tidak meminta izin dulu padaku?" Kemudian ucap Sisil, sepertinya ia enggan memberikan restunya jika peraturannya seperti itu.
"Saat itu kamu sedang sakit, Nak. Papi dan om Gian sengaja menjemput mbak Rima di kampungnya demi kamu, dan saat itu juga mbak Rima akan menikah dengan orang lain, jika Papi tidak segera menikainya saat itu, ya, Mbak Rima jadi milik orang lain dan tidak bisa kembali bersama kita." Terang Erwin, masih memberikan penjelasan, agar rasa kecewa di hati Sisil hilang.
Sisil menundukkan wajahnya ia merasa sedih, dia mengerti dengan penjelasan Papinya , tapi dia juga tidak ingin berbagi Rima dengan Papinya.
"Sisil sayang, Mbak tidak akan berubah untuk menyayangi Sisil, Mbak akan tetap mementingkan Sisil, Mbak akan selalu ada untukmu Sisil jangan bersedih dan jangan khawatir ya, sayang." Rima menenangkan Sisil sambil mengelus rambutnya kemudian membawa tubuh mungil Sisil kedalam pelukannya.
Seulas senyum terbit di bibir Erwin, Rima memang selalu bisa mengambil hati Sisil.
"Nah, sekarang Sisil panggil Mbak Rima dengan sebutan Ibu atau apapun itu yang artinya ibu." Perintah Erwin. Lalu ikut mengelus rambut sang putri dengan kelembutan dan kasih sayang. Sisil mengangguk mengerti, dan mematuhinya.
…
Kini mereka telah sampai di rumah, semua segera turun dari mobil, tapi Gian meminta Akira tetap duduk karena dia akan membantu Akira turun dari mobilnya.
Gian membukakan pintu untuk istrinya lalu mengulurkan tangannya membantu Akira keluar dari mobil, sedang tangan satunya melindungi kepala Akira agar tidak terbentur.
Gian memapah Akira sampai tempat yang lebih aman untuknya. Sesuai janjinya Rima lebih memprioritaskan Sisil daripada Erwin, karena itu Rima lebih dulu membantu Sisil keluar dari mobil dan baru ia membantu suaminya, memapahnya untuk masuk kedalam rumah.
Kini pekerja Rima menjadi dua kali lipat dari sebelumnya, karena tidak hanya ngemban kewajibannya terhadap Sisil babysitternya dan kini telah menjadi ibunya, sekarang Rima juga berkewajiban mengabdikan dirinya kepada Erwin sebagai suaminya.
Perlahan Mereka berjalan mengimbangi Erwin dan akira, yang sama-sama lambat dalam bergerak karena keadaan mereka.
Belum sampai ke ruang tamu mereka disambut oleh mama Nirmala dan Papa Arga, yang ternyata sudah berada di rumah dari sejak subuh tadi. Awalnya mereka berdua (Mama Nirmala dan Papa Arga) akan menjenguk Erwin di rumah sakit setibanya di rumah, karena ketika itu rumah sangat sepi, bahkan Sisil pun tidak ada di rumah.
Mama Nirmala dan Papa Arga, mencari keberadaan mereka dan bertanya kepada ART-nya, "Bi, ini orang-orang pada kemana?" Mama Nirmala menanyakan anggota keluarganya.
ART segera memberitahukan bahwa Erwin sakit, dan tengah dirawa di rumah sakit, Rima yang menemaninya selama Erwin di rawat, jadi karena Rima menemani Erwin, sementara itu Sisil di titipkan di rumah orang tua Akira, mereka yang merawat Sisil, Akira dan Gian yang bertanggung jawab atas Sisil selama di sana.
Mendengar semua itu mama Nirmala merasa syok dia terlihat panik, dan memutuskan akan segera kerumah sakit untuk melihat kondisi putra sulungnya.
Namun sang ART, juga memberikan informasi bahwa Erwin akan segera di bawa pulang, mama Nirmala segera menghubungi Gian untuk menanyakan semua kebenarannya.
Semua informasi yang Mama Nirmala tanyakan kepada Gian di jawab dengan membenarkan semua informasi itu, Gian juga meminta agar Mama Nirmala dan Papa Arga tidak usah kerumah sakit.
"Udah Mama tenang aja, Erwin sudah tidak apa-apa, dia sudah boleh pulang kok, mama istirahat saja di rumah, Sisil juga baik-baik saja bersama kami, nanti biar aku dan Akira serta Sisil yang menjemput Erwin dan Rima di rumah sakit, lalu membawa mereka pulang, mamah dan papa tetap tunggu di rumah aja." Gian menerangkan, untuk menenangkan Mamanya dari sambungan telepon.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dari Gian, barulah hati mama Nirmala merasa sedikit tenang. Dan ia mengikuti saran dari Gian agar tetap menunggu di rumah sambil beristirahat.