Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 130


__ADS_3

Pekat malam semakin kelam, seiring berjalan waktu malam yang semakin larut.


Kini pesta telah usai, Gian baru menghubungi seluruh keluarga, meminta mereka semua untuk berkumpul di ruangan khusus untuk pertemuan penting yang terdapat di hotel itu, setelah semua berkumpul, Gian dengan suara gugup dan dengan nada bergetar, mengatakan kebenaran tentang Akira yang telah hilang di ambil orang.


Saat mereka semua diminta untuk berkumpul, mereka sudah curiga, pasti ada sesuatu yang terjadi.


Ditambah ketika mereka melihat penampilan Gian yang berantakan, ia terlihat sangat frustasi.


Mama Nirmala, segera memeluk putranya dengan maksud menenangkannya, padahal sebenarnya mama Nirmala belum tau apa yang telah terjadi.


"Nak, ada apa, Sayang?" tanya mama Nirmala ketika melihat putranya.


Mendapat pelukan mamanya dan mendapat pertanyaan yang terlontar dari mulut mamanya, Gian sangat rapuh, ia membenamkan wajahnya di pundak sang Mama, ia menangis tersedu.


Semua orang yang menyaksikannya merasa terenyuh sekaligus merasa aneh dengan sikap Gian, tidak bisanya Gian bersikap seperti itu, tapi semua orang merasa cemas pasti telah terjadi sesuatu kepada Akira.


Tidak mungkin Gian serapuh itu jika tidak terjadi sesuatu, dan juga Akira tidak terlihat bersamanya. Itu Menambah kecurigaan mereka semua.


Saat melihat Gian menangis dalam pelukan sang mama, perasaan semua orang sangat panik menyaksikannya mereka mengkhawatirkan keadaan Akira.


"Gian, ada apa, Nak, Kenapa kamu menangis, apa yang terjadi dengan Akira?" pertanyaan Bu Yuli langsung menjurus ke arah sana.


Mama Nirmala merasakan tubuh putranya bergetar, dan terasa cairan hangat di bahunya tembus menempel di kulit bahunya. Mama Nirmala bisa merasakan betapa rapuhnya putra bungsunya.


Mama Nirmala, mengelus punggung putranya, rasanya sudah lama sekali Gian tidak pernah bersikap seperti itu, terakhir Gian seperti itu, mungkin saat ia masih TK dulu, ketika ia mengadukkan keluh kesahnya kepada sang Mami dan meminta pembelaannya serta perlindungannya.


Mengapa setelah sekian lama, dan setelah dewasa Gian mengulang sikap masa kecilnya. Sungguh semua itu membuat Mama Nirmala penasaran.


Setelah cukup lama Gian memeluknya, Mama Nirmala mengurai pelukannya, "Tenangkan dulu dirimu, Nak."  Mama Nirmala menenangkan putranya.


Papa Arga menarik pundak Gian dan membawanya untuk duduk, ayah Ayus menyodorkan air minum untuknya agar lebih tenang.


"Ada apa, Gian, apa yang terjadi kepada Akira?" Bu Yuli sudah tidak sabar lagi ingin tahu tentang putrinya.


Wajah Gian yang tadinya sudah terlihat datar, kembali berwajah sendu, sekuat tenaga ia menahan kesedihannya.


Membuat semua orang semakin penasaran. "Kenapa, Nak, kenapa?" tanya Mama Nirmala penuh kesabaran.


"Akira, Mah." Ucap Gian dengan nada sendunya.


"Iya, kenapa Akira?" tegas Mama Nirmala.


"Akira, hilang," 


Semua diam tidak ada yang bereaksi ketika mendengar ucapan Gian, mereka masih mencerna ucapannya.


Ucap Gian seakan sedang bercanda, mereka rasa tidak percaya masa Akira bisa hilang, Dia kan bukan anak kecil yang bisa tersesat lalu hilang.


"Ha ha ha," Erwin malah tertawa.


Gian menatapnya dengan tajam, "Kenapa kamu menertawakan ku?, ini bukan lelucon, istriku hilang Riza yang membawanya pergi." 


Barulah semua orang tercengang mendengarnya, sebab semua orang melihat keseriusan dari wajah Gian.

__ADS_1


"Gian, maksudnya bagaimana?" Pertanyaan papa Arga mewakili pertanyaan semua orang.


Melihat Gian, yang tidak mampu berkata-kata, akhirnya Lisa yang menjelaskan semuanya Lisa menceritakan dari awal kejadian.


Lisa juga memohon maaf kepada seluruh keluarga, karena semua itu karena kesalahannya.


Setelah mendengar semuanya dengan jelas, semua di yakinkan oleh Lisa dengan memperlihatkan rekaman CCTV yang sudah foto dicopy di ponselnya .


Mama Nirmala dan bu yuli merasa syok tubuhnya terkulai lemas dan hilang kesadaran.


Begitu juga dengan ayah Ayus, ia mengalami reaksi sama halnya dengan istrinya. Namun, ayah ayus masih memiliki kesadaran.


Papa Arga dan Erwin tidak tinggal diam mereka juga ikut mengerahkan semua anak buah mereka untuk membantu mencari Akira.


Kondisi Gian saat ini sudah tidak bisa di ukir-kan dengan kata-kata, ia benar-benar hancur, 


Papa Arga membubarkan semua keluarga karena semua sudah lelah setelah seharian beraktivitas dan telah sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Erwin, dan sampai tergelarnya acara hingga selesai.


Tentunya semua orang butuh untuk istirahat, dan memang begitu kenyataannya.


"Sebaiknya kita istirahat dulu, Papa dan Erwin sudah mengerahkan semua anak buah kami untuk ikut membantu pencarian Akira, jadi jangan khawatir, Akira pasti di temukan berdoa saja ya, semoga tidak terjadi apa-apa kepada Akira dan calon anak-anaknya.” papa Arga menenangkan semua orang.


Setelah dibubarkan oleh papa Arga semua keluar dari ruangan itu, Shafira memapah ibunya yang terlihat masih terkulai lemas, lucky memapah ayah mertuanya, yang sama lemahnya seperti istrinya.


Papa Arga dan Erwin membantu Gian serta mama Nirmala membawanya ke kamarnya, "Gian yang sabar ya, ini ujian untukmu." Erwin mencoba menenangkan Gian .


Tapi mendengar itu Gian berbalik melihat Erwin dengan tatapan menghunus, ia tidak terima Erwin bicara seperti itu.


Gian langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu ia menyerang Erwin, ia mencekal leher Erwin dengan gerakan yang sangat cepat penuh emosi.


Papa Arga dengan sigap merelai putranya, "Gian, jangan gila Kamu, tahan emosimu."


"Iya, Nak, ini tidak menyelesaikan masalah, malah memperkeruh keadaan."  Nama Nirmala ikut menenangkan Gian.


Erwin juga berusaha melepaskan diri dibantu papa Arga, dan akhirnya Erwin  bisa terlepas, Erwin dan papa Arga mendorong dengan kuat tubuh tinggi besar Gian dengan tenaga yang luar biasa kuatnya, ketika ia menyerang Erwin.


Tubuh itu terpelanting ke belakangnya sampai menabrak dinding dengan cukup kuat.


BRAK ….!


Wajah Gian memerah, dengan urat-urat menonjol, sorot mata yang tajam menghunus ke arah  Erwin. Ia mengepalkan tinjunya, lalu mengeraskan rahangnya. Ia ingin melampiaskan semua amarah dan kekesalannya.


Erwin tidak takut melihat Gian seperti itu, ia malah makin meledek Gian dengan membuang muka, sambil tersenyum mencibir.


"Dasar gila, Apa-apa dia!" gerutu Erwin.


"Kau (Gian menunjuk Erwin dengan telunjuknya) mudah dalam berbicara, padahal kau pernah kehilangan istrimu, dan kondisimu lebih rapuh dariku, kau bisa bicara se-enteng itu kepadaku, aku mengkhawatirkan keadaan istriku!" Gian bicara dengan lantang dengan emosi yang meluap-luap.


"Dia sedang hamil besar untuk berjalan saja dia kesulitan, aku lihat dia dalam rekaman CCTV, dia kesakitan, dia tidak sadar kan diri, si b i a d a b itu membawanya, apa aku bisa tenang, hah! Memikirkan ini semua, bagaimana kondisinya saat ini, apa yang terjadi kepadanya." Gian benar-benar tidak bisa tenang dia mengkhawatirkan istrinya, sehingga ia menjadi sangat sensitif.


Tapi Erwin seakan tidak peduli dengan kegundahan hati Gian , ia malah membalasnya dengan kata-katanya, "Itu karma dari tuhan untukmu, karena kamu pernah menyia-nyiakannya, kamu tidak mengharapkan keberadaan, maka tuhan kasih hukuman kamu seperti ini." kata-kata Erwin membuat Gian semakin murka.


"B e d e b a h, Kau! Ku b u n u h, Kau!" pekik Gian , dan kembali ingin menyerang Erwin. Namun, dengan sigap papa Arga memeganginya.

__ADS_1


"Erwin, jaga ucapanmu!" Mama Nirmala mengingatkan Erwin.


"Tapi itu memang kenyataannya, Mah!" 


"Cukup, Erwin, lebih baik kamu keluar, istirahatlah sana." perintah mama Nirmala.


"Keluar, Kau, keluar … b e r e n g s e k!" teriak Gian mengusir Erwin, yang hanya mencibir keadaannya.


Tanpa berkata lagi Erwin segera meninggalkan kamar itu dengan perasaan kesal dan kecewa kepada Gian, mengapa dia tidak mampu menjaga istrinya.


Di tempat keramaian seperti itu, tidak seharusnya Akira menghilang, sedang suami dan para keluarganya semua hadir di sana, lalu untuk apa setiap hari berusaha menjaganya dari segala macam bahaya jika akhirnya kesehatannya dan keselamatannya tidak dapat dicegah. Erwin malah membenci sikap Gian.


Ia malah bersikap rapuh dan menangis seperti anak kecil, itu yang membuat Erwin mencibir Gian.


‘Akira andai kau memilihku takan ku biar kan orang lain menyentuhmu dan menyakitimu.’ Batin erwin menyayangkan apa yang telah menimpa Akira.


Sesampainya Erwin di kamarnya, ia melihat Rima telah bersiap dengan memakai pakaian tidurnya, yang super tipis yang bisa tembus pandang, menampakan kemolekan tubuhnya.


Sebagai pria normal dan sebagai suaminya, Erwin sungguh tertarik melihatnya, ia sampai menelan salivanya. Namun, dalam keadaan seperti ini Rrwin harus menepis hasratnya.


“Mas apa yang terjadi?” tanya Rima. sebab Rima tidak turut serta dalam pertemuan keluarga tadi. karena Rima sibuk membersihkan dirinya dari make up dan segala pernak pernik yang menempel di tubuhnya.


“Akira, hilang,” jawab singkat Erwin.


Rima mengerutkan keningnya ketika mendengar jawaban dari sang suami.


“Apa maksudnya, hilang kemana?” tanya Rima tidak mengerti.


“Mantan kekasihnya tadi datang ke pesta pernikahan kita bersama Lisa. Dan ketika Lisa lengah Riza membawa Akira.” terang Erwin.


Rima belum begitu jelas untuk memahaminya, “Kok bisa, apa Akira tidak berontak, apa tidak ada yang melihatnya?” Rima mencecar Erwin dengan pertanyaannya.


Erwin menggelengkan kepala sebagai responnya. lalu ia menjelaskan secara perlahan seperti apa kejadiannya. agar istrinya tidak merasa penasaran. dan tak lagi banyak bertanya.


“Ya Ampun kasihan sekali, Akira,”  gumam Rima terkejut mendengar semua cerita suaminya. 


“Lalu bagaimana sekarang, Mas?” tanya Rima lagi.


“Masih dicari keberadaannya.” jawab Erwin, lalu melihat ke arah istrinya.


Mendapat tatapan dari suaminya Rima menggeser posisi duduknya lebih mendekat kepada suaminya , bahkan merapat, Rima menyandarkan kepalanya di bahu suaminya lalu tangannya meraih tangan Erwin dan menggenggam jemarinya,


“Sayang, ini sudah malam, apa tidak sebaiknya kamu membersihkan dirimu lalu beristirahat.” Rima merayu suaminya.


Erwin mengerti dengan maksud istrinya, ia menengok ke samping menelisik wajah istrinya yang terlihat sangat kelelahan.


Erwin mengelus pipi istrinya, “Sayang, maafkan aku ya, kita tunda dulu ya, kegiatan  panas kita untuk malam ini” Erwin juga mengerti jika Rima menginginkan hal ini, sebab terlihat dari penampilan Rima sendiri sudah siap dengan penampilan menantang hasratnya, lalu menggoda dan rayuannya.


Ya, Rima memang sengaja berpenampilan seperti itu untuk menggoda suaminya, tapi itu karena ia tidak tahu apa yang tengah terjadi menimpa keluarganya, bahwa ternyata Akira menghilang di bawa orang.


Setelah Rima tahu duduk permasalahannya, akhirnya Rima pun mengerti tidak mungkin iya memaksakan diri disaat situasi sedang genting seperti sekarang ini.


“ Rima, tidurlah dulu ini sudah malam kelihatannya kamu juga sudah sangat kelelahan.” ucap erwin menyuruh istrinya untuk tidur lebih dulu.

__ADS_1


Rima mengangguk patuh dan segera beranjak ke posisi tidurnya, Erwin menyelimuti tubuhnya lalu mencium keningnya, “Tidurlah, Sayang.” ucap Erwin, Rima sungguh bahagia dengan perlakuan lembut suaminya, meskipun ada rasa sedikit kecewa dalam hatinya karena suaminya tidak dapat menyalurkan hasratnya.


__ADS_2