Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 104


__ADS_3

Tiba-tiba Erwin menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Rima, membuat Rima terkejut.


"Tuan anda tidak, apa-apa?" Rima takut terjadi sesuatu kepada Erwin.


Meskipun awalnya Rima terpaksa melakukan hal itu, tapi ada rasa kecewa yang Rima rasakan jika Erwin tidak menyelesaikan permainannya.


….


Erwin malah tersenyum dengan mata terpejam, dan itu menambah nilai ketampanan semakin sempurna.


Membuat hati Rima bergetar, lebih dari semula, Rima menjatuhkan kepalanya, di dada Erwin, dan tangannya ia lingkungan di perut Erwin, "Maaf Tuan, saya tidak dapat menahan diri, saya sangat mencintai Anda Tuan." 


"Benarkah …?" Erwin malah menimpali ucapan Rima.


"Iya, Tuan." Tegas Rima.


"Jika begitu bantu aku untuk menyesakkan permainan ini." 


Sebenarnya Erwin dalam keadaan setengah sadar, hanya kepadanya terasa sangat pusing.


Jadi Erwin juga masih aga ragu melakukan hal itu kepada Rima, Erwin takut melukai perasaan dan pisik Rima, dan  karena perbuatannya Rima bisa pergi meninggalkan sisil, Erwin masih memikirkan tentang putrinya.


Tapi setelah mendengar semua pernyataan Rima, Erwin menjadi lebih bersemangat.


Erwin menggenggam tangan Rima yang Rima lingkar di perutnya, lalu Erwin membalikkan kembali posisi mereka berdua.


Erwin telah bangkit ia kembali di posisi di atas tubuh Rima, tapi sebelum memulainya Erwin sudah merasa kegerahan, sehingga ia membuka satu persatu kancing kemejanya, Erwin melepaskan pakaian dan  melemparkannya ke sembarang arah, kini dada bidang dan perut sispeknya terekspos sempurna.


Dan itu membuat Rima makin menggila dan tergoda, "Oh tuhan begitu sempurnanya ciptaan mu ini." Rima bangkit dari posisi tidurnya.


Rima yang memulai duluan, mulai mengecupi seluruh leher Erwin membuat Erwin merinding kegelian, Erwin sampai m e n d e s a h merasakan sensasi yang lama tidak ia rasakan.


Rima berpindah mengecupi dada bidang Erwin bahkan sempat m e l u m a t buah dada Erwin yang sangat menggoda yang seperti roti sobek. 


Erwin begitu menikmatinya bahkan Erwin menginginkan lebih dari itu, Erwin mulai membuka celana, mengeluaka tombak tumpulnya yang sedari tadi sudah berontak memaksa ingin keluar, sehingga membuat Erwin merasa sesak dan mengeluarkannya.


Rima merasa gugup dan canggung ketika melihat tombak timbul milik Erwin, pasalnya ini pertama kalinya ia melihat benda itu.


Rima sampai kesulitan menelan salivanya, saking gugupnya, Erwin menuntut tangan Rima agar memegangi tombak tumpul miliknya, tapi tangan Rima kaku ia enggan melakukannya.


Terlihat jelas dari raut wajah Rima begitu tegang, mungkin karena syok melihatnya,


Erwin tersenyum dan mengerti dengan apa yang dirasakan oleh Rima,  lalu Erwin mengambil alih permainan, ia menciumi leher Rima, dan berbisik di telinga Rima.


"Jangan takut sayang, aku tidak akan menyakitimu," bisikan Erwin membuat Rima merinding dan terbuai, tangan Rima melemas dan mulai bergerak mengikuti sesuai arahan Erwin.


 Sambil m e l u m a t bagian atas tubuh Akira dengan berpindah-pindah, dari seluruh wajah, terutama bibir, berpindah ke leher, lalu ke bagian dada Akira yang menonjol dan sangat menggoda.


Erwin mengarahkan tangan Rima untuk mengelus-elus tombak tumpul miliknya, dan merasakan geli-geli n i k m a t.


Erwin menjadi semakin menggila begitu juga dengan Rima, ia begitu menikmati setiap sentuhan tangan dan bibir Erwin yang membuatnya candu, Rima melupakan semua kegelisahannya, keraguannya.


Rima malah menuntut lebih dari pada itu, saat Erwin memainkan jemarinya di lembah basah miliknya, Rima semakin bergairah, suara erotis mulai keluar dari mulut, e r a n g a n demi e r a n g a n, membuat suasana semakin panas dan semakin bergairah.

__ADS_1


Kini keduanya sudah dalam keadaan on, di antara keduanya tidak ada lagi yang mengenakan busana, tidak ada sehelai benang pun yang jadi pembatas antara merek, gesekan kulit mereka, sentuhan lembut namun terasa hangat, menjadi pemicu h a s r a t keduanya semakin memuncak.


"Aku ingin melakukannya sekarang." Ucap Erwin memberi aba-aba.


Wajah Rima memerah, menahan semua rasa. Dan dengan malu-malu Rima mengangguk.


Erwin tersenyum ketika mendapat respon dari Rima, dengan sigap Erwin tidak menyia-nyiakan kesempatan, secara perlahan Erwin mulai mengarahkan tombak tumpulnya di area lembah basah milik Rima.


Tubuh Rima terasa menegang karena was-was akan rasa sakitnya.


"Tenang sayang, tahan sebentar, semua akan baik-baik saja." Erwin berucap untuk memenangkan Rima agar lebih rileks.


Rima tidak mampu berkata-kata, ia hanya menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban iya.


Tapi Rima sempat menjerit saat tombak tumpul Erwin menerobos masuk.


Karena lembah basah itu, terlalu sempit sehingga mengharuskan Erwin untuk sedikit menekannya agar tombak tumpul bisa masuk sempurna.


Karena ukurannya pun lumayan lebih besar dari ukuran rata-rata pada umumnya.


"Ssst … aaaaw … sakit sekali." Rima berteriak sambil menangis, karena terjadi robekan yang cukup besar di lembah basahnya.


Seketika Erwin menghentikan pergerakannya, memberi kesempatan untuk Rima agar bisa lebih rileks.


Untuk menjeda aktivitasnya memainkan tombak tumpulnya, di lembah basah milik Rima, Erwin kebalik bermain di gunung kembar Rima dengan mulutnya.


Beralih ke leher dan bibir Rima, meskipun m e n d e s a h, dan m e n g e r a n g, tapi Rima masih mengeluarkan air matanya, sebab tombak tumpul itu masih menancap di lebah basahnya, Erwin sengaja membiarkannya hanya untuk menjeda, agar Rima bisa lebih rileks.


Meskipun masih menangis tapi Rima tetap mengangguk.


"Aku mulai ya, pelan-pelan kok, kamu jangan khawatir, sakitnya hanya sebentar."


Rima hanya bisa pasrah, karena semuanya juga sudah terjadi, gawang pertahanannya sudah di jebol oleh Erwin. ia sudah tidak mampu berbuat apa-apa selain pasrah dan menikmatinya.


Erwin mulai menggerakkan pinggulnya dengan gerakan turun, naik perlahan, tubuh Rima masih memberikan reaksi tegang, ia mencengkram seperti dengan kasar menahan rasa sakit dan perih di bagian bawahnya.


Tapi lama-lama, mulai terasa licin, dengan begitu, perlahan tubuh Rima pun melemas, terasa lebih rileks, dan mulai menikmati permainan Erwin.


D e s a h a n dan e r a n g a n mulai terdengar kembali, dan Susana mulai memanas dan bergairah kembali.


"Aku percepat ya, sayang." Erwin memberi aba-aba saat akan melakukan pelepasan.


Keduanya telah mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


Tubuh Erwin ambruk di samping tubuh Rima, setelah melakukan pelepasan, keduanya terngah-engah, dan menyisakan peluh sisa-sisa percintaan mereka.


Karena keduanya cukup lelah akibat permainan panas merek, waktu pun sudah sangat larut, sehingga tanpa sadar keduanya terlelap tanpa mengenakan kembali busana mereka.



Sebelum subuh Rima terbang, ia merasakan tubuhnya terasa berat, perlahan Rima membuka mata lalu menyapu pandangnya.


Rima masih setengah sadar, ia merasa asing dengan keadaan sekitar, Rima menajamkan pandangannya lalu mengingat-ingat dirinya sedang berada di mana.

__ADS_1


Kemudian ingatannya terlintas bayangan saat ia melakukan adegan haredang dengan Erwin.


Rima langsung menyadari kini ia berada di mana, matanya melirik ke arah tubuhnya yang terasa berat.


Ternyata Erwin sedang mendekapnya layaknya mendekap sebuah guling, membuat Rima sulit bergerak dan tubuhnya terasa berat dan kaku.


Rima ingin bangkit dan keluar dari kamar itu, Rima bergerak perlahan, melepas diri dari dekapan Erwin, Rima mengangkat tangan Erwin yang melingkar di perutnya dan  kaki Erwin yang menghimpit kedua kakinya, dengan sangat hati-hati Rima melakukannya, agar pergerakannya tidak membangunkan Erwin.


Rima bisa mati kutu jika Erwin melihatnya tanpa busana, saat Erwin sudah benar-benar sadar dari mabuknya.


Setelah berusaha sebisanya, akhirnya Rima bisa melepaskan diri dengan selamat, ia segera memungut pakaiannya, dan tergesa memakainya secara asal-asalan, CD dan kacamata gunung kembarnya tidak sempat ia pakai, karena saking tergesa-gesa-nya dia. Lalu Rima melangkah dengan cara mengendap-endap.


Menekan handle pintu secara perlahan, agar tidak mengeluarkan suara yang mengejutkan Erwin.


Dan akhirnya Rima berhasil keluar tanpa di ketahui oleh Erwin.


Rima segera mengecek keadaan Sisil di kamarnya, dan Sisil masih tertidur pulas karena jam menunjukkan pukul empat subuh, belum waktunya untuk Sisil bangun.


Setelah melihat Sisil masih tertidur, Rima segera ke kamarnya ia segera mengambil peralatan mandinya berniat untuk membersihkan diri.


Sesampainya di kamar mandi Rima malah memaku di depan cermin, setelah ia membasuh mukanya di wastafel.


Rima menatap pantulan wajahnya di cermin, ia tidak habis pikir dengan apa yang terjadi terjadi antara dirinya dan Erwin tadi malam.


Rima juga merasakan rasa perih dan sakitnya lembah basah miliknya.


"Ini bukan mimpi, ini nyata, aku ikhlas dan rela telah melakukannya, karena itu memang sudah seharusnya terjadi, aku tidak menyesalinya, tapi aku rasanya malu sekali jika nanti berhadapan dengan Tuan Erwin, apa katanya nanti, dia akan semakin beranggapan buruk tentangku nanti." Rima bicara dengan gambar dirinya sendiri di cermin.


"Apa dia akan mengingat semuanya? ya Tuhanku aku berharap dia tidak mengingat kejadian semalam, karena dia sedang mabuk." lanjut Rima.


Setelah lama termenung tapi tidak dengan pikirannya yang terus saja mengira-ngira kemungkinan yang akan terjadi nanti saat ini bertemu dengan Erwin.


Tidak lama terdengar suara azan berkumandang, Rima segera menyesakan niatnya membersihkan diri, lalu menunaikan kewajibannya, dan tugasnya sebagai babysitter Sisil.


Rima membangunkan Sisil, memandikannya, dan mendandaninya untuk segera bersiap pergi ke sekolah.


Rima juga menyiapkan sarapan dan bekal Sisil, tapi Rima terlihat pucat dan sangat gelisah, Sisil bisa merasakannya.


"Mbak, kenapa?" tanya Sisil yang melihat pergerakan Rima yang tidak seperti biasanya.


Rima terlihat gugup saat Sisil bertanya, "O- oo tidak, Mbak tidak apa-apa ko." Jawab Rima gugup sambil tersenyum kaku, untuk menghilangkan rasa gugupnya.


Sebenarnya Rima takut bertemu dengan Erwin ia belum siap untuk itu.


Sisil anak pintar, ia tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang diucapkan oleh Rima, karena ucapan Rima tidak sesuai dengan kenyataannya.


"Apa Mbak Rima, sakit?" tanya Sisil lagi.


"Tidak sayang, Mbak baik-baik saja, hanya semalam Mbak gak bisa tidur inget sama ibunya Mbak." Rima mencari alasan, agar Sisil percaya kepadanya.


"O'y …." respon singkat Sisil kurang yakin dengan jawaban Rima.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2