
Tidak cukup sampai disitu penelusuran Gian untuk mencari keberadaan, ia melakukan pemutar mundur dengan gerakan cepat, sampai di menit saat wanita yang dianggap Akira itu dari pertama ia datang di minimarket tersebut.
"Lihat, Mah - Pah, anak itu sangat mencuri perhatianku, ternyata dia adalah putraku!" ucap Gian menunjuk rekaman video yang menampilkan balita bersama wanita yang mereka anggap Akira.
Gian menekan tombol pause dan memperbesar wajah Anjas dan Akira untuk kembali meyakinkan mereka, dan mereka benar-benar yakin jika wanita itu adalah Akira.
Gian kembali melanjutkan rekaman video CCTV itu kembali berjalan, mereka memperhatikan wanita itu berbelanja.
Melihat barang belanjaan yang wanita itu ambil, Mama Nirmala langsung mengambil kesimpulan.
"Lihat dia berbelanja kebutuhan rumah tangga berarti memang benar dia tinggal di sekitar wilayah sana!" ucap mama Nirmala mengingatkan suami dan putranya.
Ya, mereka paham dengan apa yang mama Nirmala maksudkan.
Sebab Mama Nirmala sempat meragukan ucap Gian jika Akira tinggal di sekitar daerah minimarket tersebut.
Tapi setelah melihat rekaman video CCTV yang memperlihatkan barang belanjaan yang Shilla ambil, itu menandakan bahwa kemungkinan besar ia tinggal di sekitar daerah minimarket tersebut.
Sebab jika, hanya orang yang lewat lalu mampir ke minimarket, orang hanya akan berbelanja seperlunya saja, tidak akan membeli bahan-bahan sembako.
"Iya bener mah!" sahut Gian antusias, dengan begitu Gian merasa sangat yakin ia akan segera bertemu dengan Akira.
Gian segera menghubungi anak buahnya , dan memberikan informasi tentang rekaman video CCTV itu, yang menunjukkan kemungkinan Akira memang berbeda di daerah tersebut.
Agar anak buahnya lebih fokus lagi melakukan pencarian, terutama lebih fokus memantau minimarket itu, karena ada kemungkinan besar wanita itu atau asisten rumah tangganya yang mengasuh putranya suatu saat akan balik lagi ke minimarket tersebut untuk berbelanja.
…
Sepanjang malam Gian tidak tidur, ia tetap fokus menatap layar laptopnya memantau rekaman video CCTV minimarket. Sedangkan Papa Arga dan Mama Nirmala sudah tertidur lelap di kamarnya, setelah menempuh perjalanan cukup jauh membuat mereka merasa sangat kelelahan, di tambah usia mereka tidak lagi muda membuat stamina mereka menurun dan lebih cepat merasa kelelahan.
Sesungguhnya Gian juga merasa sangat kelelahan, tapi ia tidak memperdulikannya ia tetap memaksakan diri untuk terus mengamati rekan CCTV itu.
Dan pada akhirnya pertahanan Gian dikalahkan oleh rasa kantuknya ditambah daya baterai laptopnya pun sudah melemah dan perlu Battery charger.
Dan ini menjadi kesempatan untuk Gian beristirahat sejenak.
"Aku butuh orang untuk membantuku mengamati rekaman CCTV ini." gumam Gian menyadari ia terlalu lelah untuk melakukan hal itu sendiri.
Ia tidak bisa memforsir tenaganya seperti itu, lama kelamaan jika dipaksakan seperti itu ia bisa jatuh sakit, dan itu akan menghambatnya mencari informasi tentang keberadaan istrinya.
…
Pagi hari, kicauan burung yang saling bersahutan terdengar gaduh di telinga Gian sehingga membangunkannya dari tidur lelapnya.
Gian perlahan membuka matanya dan lalu meregangkan otot-ototnya, ia beranjak dari tempat tidurnya, lalu membuka pintu balkon, karena kamar yang Gian pilih memang berada di lantai atas.
Gian berdiri di atas balkon untuk merasakan suasana pagi di villa itu, merasakan udara sejuk yang menyejukkan tubuhnya.
Namun tidak dengan hati dan pikirannya, karena hati dan pikirannya, resah dan gelisah tidak henti memikirkan tentang Akira dan juga putranya.
"Sayang! sebenarnya apa yang terjadi kepadamu?" Sejuta pertanyaan di benak Gian hanya memikirkan tentang hal itu.
__ADS_1
…
Di sisi lain, hari ini adalah hari Bi Atun ambil cuti bulanan, ia meminta izin pamit untuk pulang atau untuk menemui keluarganya selama tiga hari jatah cutinya.
Shilla termenung ketika Bi Atun mengutarakan maksudnya, "Bi! Apa boleh aku ikut bersama bibi?" Kemudian tanya Shilla.
"Apa?" Bi Atun merasa itu tidak mungkin.
"Iya, Bi! Aku tidak bisa melarang bibi untuk pergi karena itu sudah haknya bibi, tapi aku akan sangat kesepian sendiri di rumah ini, aku juga akan merasa takut, Bi!" Shilla pun mengutarakan rasa keberatannya untuk ditinggalkan oleh bi Atun.
Bi Atun terdiam ia seakan berfikir sebab ia juga mengerti dengan apa yang di rasakan oleh Shilla.
"Baiklah Nona, aku tidak jadi Ambil cuti, tapi aku minta izin keluar untuk hari ini nanti sore aku kembali lagi, sebab adik saya yang sedang bekerja sebagai asisten rumah tangga di villa lain sedang membutuhkan bantuan saya." terang bi Atun sekaligus memberikan solusi.
Padahal rencana awalnya Bi Atun sengaja ingin mengambil cuti bulanannya, ingin menemani dan membantu adiknya selama masa cutinya.
Sebab adiknya baru bekerja menjadi Asisten rumah tangga di sebuah villa yang agak jauh dari sana, dan selama adik Bi Atun bekerja baru kali ini villa itu ada yang menyewanya, maka ia sedikit kewalahan dan butuh bimbingan untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Namun sepertinya rencana bi Atun akan gagal karena Shilla tidak ingin ia tinggalkan.
Tapi adik Bi Atun terus saja menghubunginya meminta bantuan darinya dan akhirnya bi Atun mengambil solusi seperti itu.
"Iya Bi! tapi biar aku ikut, sekalian jalan-jalankan, aku tidak akan mengganggu pekerjaanmu dengan adik bibi, aku hanya butuh suasana baru aku jenuh sekali bi, apalagi harus di tinggal sendiri." Shilla terus merengek ingin ikut serta bersama Bi Atun.
Bi Atun bingung harus bersikap seperti apa, karena ia juga tidak ada kewenangan untuk mengajak shilla, sedangkan Anjai sudah mewanti-wanti agar Shilla dan putranya tetap di lingkungan rumah.
Shilla tidak mendapat respon dari BI Atun, ia mengerti jika bi Atun enggan mengajak Shilla pergi bersamanya, karena bi Atun takut disalahkan oleh suaminya yaitu Anjai.
Di hadapan Bi Atun Shilla meraih ponselnya dan melakukan panggilan video call kepada suaminya.
Nampak lah wajah Anjai di layar ponsel Shilla begitu juga sebaliknya.
"Halo sayang selamat pagi …!" sapa Anjai.
"Pagi …," sahut shilla dengan ekspresi wajah cemberut.
"Loh, kok pagi-pagi sudah cemberut seperti itu, jelek tau!" Anjai sengaja menggoda istrinya.
"Biarin, aku memang jelek sampai-sampai kamu juga gak pulang-pulang!" Shilla merajuk.
"Oo … kamu kangen ya sama aku? sama dong! aku juga kangen banget sama kamu, sama Anjas juga, kalian baik-baik sajakan?"
"Aku, gak baik-baik saja, aku menahan rindu dan kamu taukan! menahan rindu itu berat, kamu tega sama aku!" Shilla seakan sangat tersiksa dengan rasa rindunya.
"Oo iya kah? Rindu itu berat?" Anjai semakin menggoda shilla dan semakin membuat Shilla merajuk.
"Kan, kamu yang bilang kalau menahan rasa rindu itu berat,"
"Ha, ha, ha, kamu semakin pintar dan menggemaskan, aku jadi semakin rindu kepadamu!" Anjai yang malah semakin tergoda oleh pesona Shilla.
Dan itu Shilla jadikan kesempatan untuk merayu suaminya meminta izin kepadanya untuk ikut bersama Bi Atun di hadapan Bi Atun sendiri.
Awalnya Bi Atun ingin pergi saat tau Shilla melakukan panggilan video call dengan suaminya, Karena Bi Atun pikir rasanya tidak etis jika ia tetap berada di sana. Namun, Shilla memberikan isyarat untuk Bi Atun agar tetap di sana dan melihatnya menghubungi suaminya.
__ADS_1
Ternyata Shilla memang sengaja melakukan hal itu, agar bi Atun melihatnya langsung saat ia meminta izin kepada suaminya untuk meyakinkan Bi Atun jika Shilla mendapat izin atau tidak dari suaminya.
Kemudian Shilla melanjutkan aksinya untuk merayu suaminya agar mengizinkannya ikut pergi bersama asisten rumah tangganya.
Dengan nada manja seakan mengiba Shilla meminta izin ikut bersama Bi Atun untuk menemui adiknya.
Mendengar dan melihat Shilla yang mengiba memohon agar di izinkan untuk pergi, Anjai menjadi tidak tega melihatnya.
Ia mengerti apa yang dirasakan oleh Shilla ia terkurung dan terkekang bagai burung dalam sangkar emas.
Saat Shilla menjadi Akira, kepribadiannya berbanding terbalik, Akira lebih tegas dan mandiri, sedangkan Shilla lebih manja dan patuh, Anjai lebih suka Akira yang sekarang saat menjadi Shilla.
Lebih manja, patuh dan ketergantungan kepadanya, sehingga ia lebih mudah mengendalikannya.
Tapi Anjai tetap memikirkan perasaannya seperti saat ini, Anjai tau shilla merasa jenuh dan bosan setiap hari berada di lingkungan yang sama, apalagi saat ini Anjai orang yang membuat Shilla nyaman berada jauh dari sisinya.
Dan hanya bi Atun lah orang terdekat Shilla setelah Anjai, kini bi Atun juga ingin pergi, membuat Shilla semakin merasa sendiri.
Karena itu akhirnya Anjai memberikannya izin untuk pergi bersama Bi Atun.
"Ya sudah kamu boleh pergi dengan bi Atun tapi ingat, harus berhati-hati dan tetap waspada kepada orang asing!" tidak lupa Anjai selalu mengingatkan istrinya.
Shilla tersenyum bahagia karena mendapat izin dari suaminya, ia pun memamerkan kebahagiaannya kepada Bi Atun, dengan tersenyum bangga karena telah berhasil mendapat izin dari suaminya.
Bi Atun membalasnya dengan kembali tersenyum kepadanya. Setelah itu Shilla dan Anjai menyudahi panggilan videonya.
"Oke, Sayang! terima kasih ya, selamat bekerja, cepat pulang ya aku dan putramu sangat merindukanmu." kata-kata penutup dari Shilla.
Anjai tersenyum senang mendengar ucapan istrinya yang merindukannya, "Aku dan junior ku juga sangat merindukanmu, aku juga rindu mimi cucu langsung dari sumbernya," Anjai tersenyum genit menggoda Shilla.
Shilla memanyunkan bibirnya, dan langsung bersemu merah karena merasa malu ketika mendengar ucapan Anjai, "Iih … aku geli mendengarnya, kamu genit sekali sih!" gerutu Shilla, kemudian tersenyum malu-malu kucing.
Dan itu membuat Anjai semakin terkekeh melihat tingkah istrinya yang tersipu malu.
"Ya sudah sampai jumpa nanti ya, I love you …." Kemudian panggilan video di tutup dengan perasaan rindu yang sama-sama menggebu.
Tapi Anjai menyambung panggilan teleponnya kepada Bi Atun, menanyakan keberadaan atas apa yang telah istrinya katakan kepadanya tentang Bi Atun.
Bi Atun membenarkan semuanya, karena memang begitu adanya.
Lalu Anjai mengingatkan Bi Atun untuk tetap menjaga keselamatan istri dan anaknya, hindari tempat keramaian, dan hindarkan istrinya dan anaknya berinteraksi dengan orang asing.
"Iya, Tuan. Saya paham." Jawab Bi Atun mengerti dengan apa yang di maksud oleh Tuannya, karena selama ini hanya amanat yang sering Anjai katakan kepada nya bahkan kepada para anak buahnya, sehingga bi Atun sudah hapal betul tentang itu.
Bi Atun juga tidak merasa khawatir, karena mereka hanya pergi ke sebuah villa yang sepi penduduk jauh dari keramaian, ia tidak merasa curiga dengan penyewa villa tersebut yang malah akan jadi masalah bagi mereka semua.
....
*Buat kalian yang sudah sempat baca bab sebelumnya dan merasa bingung karena alur cerita tidak nyambung mohon baca ulang ya, karena author telah melakukan revisi di 2-3 bab sebelumnya, ada perbaikan kata-kata yang typo, dan banyak penambahan kata-kata agar lebih jelas dan menyambung alur cerita**nya*.
Mohon maaf atas ketidak nyamanan nya 🙏sebab author masih belajar banyak perbaikan yang author harus lakukan, Terim kasih atas dukungannya, jangan lupa tinggalkan jejakmu mu dengan cara like, vote, komen, subscribe, serta bintang limanya ya kawan.
__ADS_1
pelukan ciuman othor dari jauh untuk kalian semua ....! 🫂🫂🫂 😘😘😘