
Dan ketika Akira memasuki kamar rawat inap Riza, keringat dingin mulai bercucuran ia terlihat panik, Gian memahami apa yang Akira rasakan, Gian menggenggam tangan Akira, untuk menenangkannya.
Agar Akira kembali kepada Akira yang dulu, selalu tenang dalam segala hal.
…
Dan alangkah terkejutnya Akira ketika melihat Riza dengan keadaannya yang mengenaskan tubuhnya tinggal kulit dan tulang begitu kurusnya, dengan banyak luka di sekitar tubuhnya akibat ulahnya, yang melukai diri sendiri.
Akira terperangah melihatnya keadaan Riza, ia sampai menghentikan langkahnya yang sempat berat untuk melangkah.
"Riza … dia benar Riza?" Akira tidak yakin dengan penglihatannya.
Polisi yang mendampingi Akira dan Gian mengiyakannya, "Iya, Bu dia Riza …!" ucapnya meyakinkan Akira.
Perlahan Akira mendekat tapi ia tetap menjaga jarak.
Riza, menyadari ada seseorang yang datang, Riza melihat orang itu di ujung matanya untuk memastikan siapakah orang yang datang, dan alangkah senangnya ia ketika menyadari Akira lah yang datang.
"Akira …," gumam Riza dengan suara pelan nyaris tak terdengar.
Karena kini keadaannya lemah tidak berdaya, bahkan ia hampir kehilangan kesadarannya.
"Iya ini aku Riza, orang yang telah kamu perdaya, aku tidak pernah menyangka dirimu akan sejahat ini padaku!" ucap Akira penuh penekanan.
Riza sudah tau ingatan Akira sudah kembali, maka dari itu ia menentang dirinya, dengan bermesraan di rumah sakit bersama Gian, dan karena itulah Riza merasa cemburu dan hilang kendali ia sampai tega untuk menampar Akira.
Karena itu juga menjadi suatu penyesalan bagi Riza, dan membuatnya semakin depresi ketika di penjara dan menyebabkan kondisinya seperti sekarang ini.
"Akira, maafkan aku, aku hilang kendali dan sampai menamparmu, aku sungguh menyesali, Akira." Riza mengakui kesalahannya dan meminta maaf atas itu semua.
Sedang Gian tetap berada di sana untuk mendampingi Akira berjaga-jaga untuk melindungi Akira ia tidak ingin sesuatu di luar dugaan terjadi lagi kepada Akira.
"Kesalahanmu tidak hanya itu." Suara Akira bergetar ia mengingat kejadian saat-saat dirinya bersama Riza di atas ranjang, Akira ingin sekali marah dan mencaci maki Riza saat ini, tapi ia tahan karena tempatnya dan keadaannya tidak tepat. Saking emosinya Akira dan berusaha untuk menahannya suaranya sampai bergetar.
"Aku, benci sekali dirimu atas apa yang telah kamu lakukan kepadaku, puas kau setelah memperdaya ku, membawa ku dalam dosa besar berziarah denganmu," Akira semakin emosi.
__ADS_1
"Akira, kita tidak berziarah, aku menikahimu, hubungan kita halal, kita juga saling mencintai," Riza berusaha menepis perkataan Akira.
"Tapi itu dulu …!" bantah Akira,
"Mungkin saat kamu belum memperdayaku, aku masih memiliki rasa simpati terhadapmu, tapi sekarang tidak lagi, aku sangat membencimu sekarang, kamu menikahiku sementara statusku masih istri orang lain, kamu bawa paksa aku dari keluargaku kamu membuatku kehilangan segalanya!" Akira tidak dapat menahan emosinya lagi ia bicara dengan nada tinggi sambil menangis.
Gian merangkulnya lalu mengelus punggungnya untuk menenangkannya, sambil berbisik, "Tenang sayang …."
Iya, Akira berusaha untuk menenangkan dirinya dengan menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Aku mencintaimu, Akira!" Tegas Riza.
"Jika kamu mencintaiku kamu tidak akan membuatku menderita, apa lagi sampai tega memisahkan ku dengan putriku." Akira sudah lebih tenang dan kini ia bicara dengan nada rendah.
"Iya maafkan aku juga tentang ini, aku terpaksa melakukannya karena Shafira mengancamku,"
"Jadi benar putriku di adopsi oleh Shafira?" Akira bertanya untuk meyakinkan dirinya. Dan Gian Mereka saat pembicaraan itu.
"Iya, Akira, putrimu di rawat oleh Shafira kakakmu sendiri,"
"Katakan, kemana dia membawa putriku?"
"Aku tidak akan pernah melakukanmu sampai kau mati sekalipun, jika terjadi sesuatu kepada putri ku dan sebelum ia kembali bersamaku, aku bersumpah aku sangat membencimu Riza." Akira bicara seperti itu dengan maksud mengancam Riza.
Ya, Riza menangis ketika mendengar ucapan Akira seperti itu, "Maafkan aku Akira, aku sungguh tidak tahu kemana Shafira membawa putrimu, Akira tolong maafkan untuk yang terakhir kalinya dan untuk selamanya." Riza memohon ampun kepada Akira agar kepergiannya bisa bebas dari beban.
Tapi Akira, tidak tahan lagi untuk menahan emosinya ia ingin sekali mencekik Riza saat itu juga karena ia bicara dan meminta maaf dengan mudahnya tanpa memikirkan perasaannya yang telah mengalami banyak kerugian atas ulahnya.
Tanpa permisi Akira keluar dari ruang rawat inap Riza dengan tergesa-gesa.
"Riza, kamu akan mendapatkan ganjaran atas semua perbuatanmu!" Gian berbicara, sebelum ia mengejar istrinya.
"Hmm …?" Riza malah terlihat tersenyum sinis penuh kepuasan.
"Kau Giantha Mahendra yang akan tersiksa dengan semua ini, karena tujuan ku dan Shafira memang ingin menghancurkanmu, melalui istri dan anak-anakmu!" balas Riza bicara dengan nada meremehkan Gian.
__ADS_1
"Kalian memang B i a d a b, kalian akan menerima akibatnya." Tegas Gian.
Tapi Riza malah tertawa jahat "Ha, ha, ha …! meskipun aku mati sekarang aku sudah puas, aku sudah mengambil semua milikmu, aku sudah mencicipi kenikmatan bersama Akira, dan aku sudah berhasil memisahkanmu dengan putri kandungmu.!" Riza bicara mencibir Gian ia merasa menang atas dirinya.
Mendengar itu semua jelas Gian terpancing emosinya, ia kehilangan kendali karena dia segera menyergap Riza dengan gerak cepat berniat ingin m e n c e k i nya, tapi polisi yang mendampinginya, segera melerainya.
Dan menyeret Gian untuk keluar dari ruangan itu, untuk mengamankan Gian agar tidak melakukan tindakan yang malah akan merugikan dirinya sendiri.
"B e d e b a h …!" Gerutu Gian saking kesalnya.
Akira yang sedang duduk di bangku di luar ruangan terkejut melihat suaminya diseret, ia segera bangkit dari duduknya.
"Ada apa, yang?" tanya Akira.
"Dia (Riza) memang sudah gila!" Gimana masih saja mengerut.
"Iya, dia memang sudah gila." Sahut Akira.
Kemudian mereka saling menenangkan satu sama lain dan segera pergi dari sana.
Tapi setelah kepergian Akira dan Gian, kondisi Riza semakin memburuk, kesadarannya pun menghilang, sampai berhari-hari ia melewati sakaratul mautnya dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya dengan susah payah dan sangat menderita.
Tapi Akira tidak pernah menemuinya lagi karena rasa kecewanya kepada Riza.
…
Siang ini Akira dan Gian sedang makan siang di sebuah restoran.
Dan di saat yang bersamaan Mila juga sedang makan siang di tempat yang sama.
Mila menyadari kehadiran Gian dan Akira di sana, dan melihatnya sedang bersama dengan Akira, awalnya ia merasa terkejut melihat Akira, ia merasa tidak yakin dengan penglihatannya dan terus mempertajam penglihatannya.
Karena rasa penasarannya Mila menghampirinya, dan benar saja wanita yang sedang bersama dengan Gian itu adalah Akira.
"Wah, ini bener Akira?" tiba-tiba Mila, bicara seperti itu tanpa menyapanya lagi.
__ADS_1
Gian segera bangkit dari tempat duduknya ketika melihat Mila berada di hadapannya.
Gian merasa khawatir, Mila akan membuat masalah dengannya dan dengan Akira.