
Kata-kata memang mampu, memecahkan keheningan, dari kata-kata juga orang bisa menilai karakter orang lain.
Kata-kata mampu membuat suasana menjadi lebih ceria atau sebaliknya, karena itu kita harus pandai bermain kata, karena diam tidak selamanya lebih baik.
Erwin dan Rima mulai menikmati pesanan makanan mereka, yang sempat tertunda karena insiden yang dibuat oleh Sarah.
Di sela-sela itu, Erwin banyak berbicara bertanya kepada Rima, awalnya mereka berbicara tentang Sarah, Erwin bercerita bagaimana dia mengenal Sarah, bagaimana Sarah meninggalkannya.
Rima hanya menyimak dengan antusias, Rima juga tidak menyangka jika Erwin akan menceritakan tentang Sarah kepadanya.
Setelah Erwin selesai berbicara, Rima menyambung cerita Erwin tentang Sarah, sesuai sepengetahuannya.
Bahwa Sarah seorang ibu tiri, yang sangat baik, penyayang dan ramah di depan orang, ternyata itu hanya sebuah pencitraan, setelah mendengar semua cerita Sisil yang menceritakan temannya, yang bercerita tentang ibu tirinya yang jahat.
Erwin merasa beruntung tidak berjodoh dengan Sarah, yang memiliki sifat bermuka dua seperti itu.
Setelah bercerita tentang Sarah, beberapa detik situasi kembali hening di antara Erwin dan Rima.
Erwin menatap lekat wajah Rima, membuat Rima salah tingkah dan grogi, wajahnya bersemu merah karena merasa malu.
"Rima, apa kamu baik-baik saja?" tanya Erwin.
"Seperti yang Anda lihat, saya baik-baik saja kok." jawab Rima.
Suasana kembali tegang, karena arah pembicaraan sudah mulai serius dengan berkata, " Rima, sebenarnya aku mengajakmu kesini ada yang inginku bicarakan, mengenai kejadian semalam."
Jantung Rima seperti berhenti berdetak ketika mendengarnya, ia sungguh malu mengingat kejadian itu.
Wajah Rima semakin berona merah, ia tertunduk, matanya hanya menatap lantai, Rima tidak sanggup melihat ke arah Erwin.
"Rima, tolong lihat Aku, karena Aku sedang bicara kepadamu." ucap Erwin merasa tidak dianggap oleh Rima.
"Iya, Tuan." Dengan ragu Rima mulai menegakkan wajahnya.
Sehingga netra keduanya saling beradu pandang, jantung Rima berdetak kencang tidak karuan, ia merasa sesak dan sulit bernafas ketika itu,
Entah perasaan malu, takut, atau apalah, Rima sendiri tidak mengerti dengan diri sendiri.
Dan ternyata apa yang dirasakan oleh Rima, dirasakan juga oleh Erwin, saat beradu pandang.
Sampai beberapa menit lamanya mereka dalam situasi seperti itu, dan pada akhirnya Erwin mulai menyadari bahwa dirinya larut dalam suasana.
__ADS_1
Erwin membuang pandangan dan berdehem, "U'humm,"
Sehingga Rima tersentak, lalu berusaha mengontrol dirinya, agar lebih tenang.
"Rima …!" seru Erwin.
"Iya, Tuan," sahut Rima.
Dengan perasaan ragu Erwin berusaha mengutarakan penyesalan karena telah menjamah Rima, dan ia ingin sekali meminta maaf atas apa yang telah terjadi.
"Tolong maafkan saya, Rima, atas kejadian semalam, Saya tidak dapat mengendalikan diri saya, Saya sungguh menyesali telah menodaimu." ucap Erwin penuh penyesalan.
"Tidak, Tuan, tidak usah meminta maaf Anda tidak bersalah, itu memang sudah hak anda sebagai suami. Itu memang sudah kewajiban Anda melakukan hal itu." ucap Rima malu-malu.
"Tapi, Rima, aku telah membuatmu menangis, aku sungguh menyesali perbuatanku." Erwin pikir Rima menangis saat itu karena dirinya telah memaksanya.
Karena ia dalam keadaan setengah sadar, jadi Erwin tidak tahu persis kejadiannya, ia hanya mengingat samar-samar.
Dan yang paling ia ingin ketika Rima menitikkan air mata, lalu Erwin mengusapnya dengan telapak tangannya.
Sehingga itu menjadi penyesalan terbesar dalam diri Erwin.
Rima sendiri begitu sedih, hatinya terasa remuk ketika mendengar Erwin menyesali perbuatannya, padahal saat itu mereka melakukannya sama-sama suka.
Mereka hanya bisa memendam perasaan masing-masing, seandainya salah satunya bisa lebih terbuka tentang perasaannya mungkin kesalahpahaman itu bisa teratasi.
Tapi keduanya hanya diam setelah itu, Rima malah ingin menyudahi pembicaraan dan mengajak Erwin kembali ke sekolah Sisil untuk mengantarkannya.
Sebab Rima merasa sudah tidak sanggup lagi berlama-lama dengan Erwin sambil menahan perasaan kecewanya.
Rima melirik jam tangan yang ada di pergelangan tangannya. Ia melihat sepuluh menit lagi jam istirahat Sisil, itu suatu kebetulan bagi Rima untuk dijadikannya sebagai alasan agar bisa menyudahi percakapannya dengan Erwin.
Erwin juga mengiyakan ajakan Rima, untuk kembali ke sekolah Sisil, sebab Erwin sudah berjanji kepada Sisil bahwa Rima akan sudah kembali di jam istirahatnya.
Tapi bukan hanya karena itu, karena Erwin juga ada meeting penting setelah jam istirahat, jadi Erwin juga harus bergegas untuk menemui Keliannya.
Waktu begitu singkat bagi keduanya, hanya beberapa kata saja yang sempat terucap, dan tanpa mendapat akhir yang menyenangkan.
Obrolan mereka menggantung, sehingga jarak di antara keduanya pun terasa semakin menjauh, karena adanya salahpaham dari obrolan yang belum terselesaikan.
Sepuluh menit waktu perjalanan dari cafe menuju sekolahan Sisil, hanya ada keheningan, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut kedua.
__ADS_1
Sesampainya di sekolah Sisil kebetulan sekali bel istirahat berbunyi, sudah pasti Sisil keluar dari dalam kelasnya.
Karena itu Erwin menyempatkan diri untuk menemui putrinya sebentar, untuk berpamitan bahwa dirinya akan pergi bekerja.
Dari kejauhan terlihat Sisil sedangkan berdiri di depan kelas bersama ibu gurunya.
Sisil tersenyum ketika melihat dua orang yang ia tunggu telah tiba.
"Papi … Mbak Rima …!" seru Sisil menghampiri keduanya yang sedang berjalan ke arahnya.
Erwin yang langsung berjongkok menyambut putrinya, Erwin langsung menciumi pipinya yang masih wangi bedak khas balita, membuat Erwin semakin candu untuk menciumnya dengan gemes.
"Sayang, papi sudah menepati janji, mengembalikan mbak Rima di jam istirahatmu," ucap Erwin.
Sisil mengangguk dengan antusias.
"Sekarang, Papi pamit ya! mau pergi kerja dulu Papi ada meeting sebentar lagi," lanjut Erwin.
"Iya, Papi, hati-hati ya dijalan, semoga pekerjaan Papi lancar." Sisil Mendoakan Papinya seraya mengangkat kedua tangannya, layaknya orang sedang berdoa.
"Aamiin …." sahut Rima dan Erwin serentak.
"Oke, Rima aku permisi pergi dulu ya." Erwin bergegas pergi.
…
Erwin sudah berada di tempat meeting di sebuah restoran mewah dan ternama, karena ini meeting penting dengan klien penting juga, karena klien ini sangat berpengaruh kepada kontribusi perusahaan.
Sehingga Erwin tidak bisa mengelak untuk tidak hadir dalam meeting tersebut.
Dan ternyata Gian juga sudah ada di sana, padahal meeting ini adalah tanggung jawab Erwin dalam menanganinya.
Tapi mengapa Gian juga hadir di sana, itu menjadi pertanyaan Erwin, karena setahu Erwin dalam jadwal Gian tidak termasuk dalam list orang yang akan hadir.
Ya, tentunya Gian punya alasan mengapa dia bisa hadir di sana.
Erwin segera menghampiri Gian yang sedang asik ngobrol dengan klien lainnya, karena meeting juga belum dimulai masih menunggu, klien pentingnya.
"Gian … kamu ikut meeting juga?" sapa Erwin.
"Ya, bagaimana Aku tidak hadir, ini meeting penting, aku hadir untuk mengantisipasi takutnya kamu mangkir lagi seperti tadi pagi," terang Gian.
__ADS_1
Ia tidak dapat mempercayai Erwin sepenuhnya, setelah kejadian tadi pagi yang hampir merugikan perusahaan, kerugian besar di perusahaan bisa terjadi, karena Erwin mangkir dari jadwal meeting, untung Gian segera datang untuk menggantikan Erwin.