Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 177


__ADS_3

Suara hatiku …


Hari-hari ku jalani, penuh derai air mata.


Bagaimana tidak, hariku penuh dengan segala rasa.


Ku kecewa, ku merindu, ku selalu gantungkan beribu harapan akan kembalinya yang tersayang.


Meskipun hanyalah sebuah angan-angan.


Dia dimana? Bagaimana? entahlah ia seakan hilang ditelan bumi.


Tapi, di setiap doaku selalu ada harapan akan kembalinya ia pulang.


….


Dua puluh lima tahun berlalu …


Putra dan Juna tumbuh bersama menjadi seorang pemuda yang tampan rupawan.


Banyak wanita yang tergila-gila pada mereka dua, tapi keduanya seakan anti wanita, bahkan putra lebih memilih sifat seperti ayahnya sedikit sombong dan akuh.


Beda dengan Juna ia lebih ramah, dan humble, sebab itu Juna lebih banyak memiliki teman wanita tapi dari sekian banyaknya teman wanita yang Juna miliki, tidak satupun yang bisa memikat hati Juna.


Kini putra tumbuh menjadi pengusaha sukses sesuai dengan apa yang orang tuanya inginkan, menjadi penerus perusahaan keluarga sebagai tuan muda.


Sedangkan Juna, ia tidak ingin bersaing dengan putra dan memilih untuk menjadi Dokter, kini ia telah menjadi Dokter muda dan bertugas di salah satu rumah sakit terbesar di kotanya tinggal.


Mengapa Juna memilih menjadi seorang Dokter? karena Juna terinspirasi dari Tante dokter yang selalu menemuinya, dan menyanginya, yaitu dokter pribadi almarhuma Mila, yang sudah seperti saudara bagi Mila.


Juna sering mendengar cerita tante Dokter tentang ibu kandungnya, yang hidup seorang diri dan selalu berjuang sendiri memberikan yang terbaik untuk Juna putranya, sampai ia harus meninggal di tangan kekasihnya yaitu ayah kandung Juna.


Juna sudah tau tentang itu semua, dia tau bahwa ia bukan anak kandung Akira dan juga Gian, tapi dari mereka Juna bisa merasakan kasih sayang orang tua lengkap.


Karena sejak dari insiden Juna mencelakai putra, dari sejak itu sikap Gian berubah kepada Juna, ia menjadi lebih tulus kepada Juna.


Dan karena itu, Juna lebih sering mengalah kepada putra dalam segi hal apapun, karena ia lebih tau diri, ia hanyalah seorang anak angkat.


Dengan demikian kehidupan mereka begitu rukun, meskipun ada sedikit perselisihan bisa dengan mudah di atasi, putra dan Juna pun saling menghargai dan saling menyayangi.

__ADS_1


Namun dalam batinnya Akira selalu menangis ia selalu teringat kepada putrinya yang sampai detik ini belum ditemukan, tapi tidak dipungkiri dua jagoan nya memang mampu jadi penghibur dan penguat baginya.


Hingga sampai detik ini juga ia bisa menjalani hidupnya, meskipun jiwanya tidak sebahagia rupanya.


….


Pagi ini, suasana rumah ramai sebelum mereka pergi beraktivitas masing-masing, mereka berkumpul bersama di meja makan untuk sarapan.


Bibir Akira selalu terlihat mengembangkan senyumnya, sebab ia sangat bahagia dan bangga melihat dua jagoannya, yang sangat tampan rupawan dan sangat menyayangi dan menghormatinya.


"Bu, aku berangkat dulu ya, pagi ini aku ada jadwal operasi pasien, jadi harus berangkat lebih awal." Juna pamit berangkat duluan.


"Lu mau cari muka ya, berangkat awal, atau lagi punya gebetan, jadi semangat berangkat." Putra menyambung dengan nada berguyon.


"Kok lu tau sih! Kalau aku lagi naksir seseorang!" Juna malah membenarkan ucapan Putra.


"Wah! iyakah?" Putra merasa terkejut mendengarnya.


"Kenalin dong sama Ibu!" Akira pun ikut menyambung pembicaraan.


"Aku minta doanya ya, Bu! Semoga gadis itu memiliki perasaan yang sama denganku," ucap Juna.


"Wah, wah, gak bener ini … lo mau ngelangkahin gw," Putra merasa tersaingi.


"Ya, makanya cepetan cari pendamping kalau gak mau aku langkahi," Juna menimpali


"Wah, gak bisa dibiarkan ini kalau seperti ini." Putra sepertinya panik.


"Bu! bantuin doa juga dong supaya aku cepat dapat pasangan," lanjut putra.


"Sebenarnya, kamu tinggal pilih mau yang seperti apa, wanita di sekelilingmu ada banyak yang tergila-gila padamu, hanya dirimu saja terlalu kaku orangnya." Juna kembali menyambung.


"Ibu, selalu berdoa yang terbaik untuk kalian, semoga mendapatkan jodoh yang terbaik sesuai keinginan kalian," tegas Akira.


"Sebenarnya aku carinya yang seperti, ibu. Cantik, perhatian, pengertian tapi tegas demi kebaikan," terang Putra mengidolakan ibunya sendiri.


Gian yang sedari awal hanya diam menyimak kini ikut bicara, "Wanita yang seperti ibumu hanya dia seorang, dia spesial, makanya  kita sayang sekali sama Ibu." Gian malah ikut menyanjung Akira.


"Aah, ibu jadi meleleh ini!" Akira menanggapi suami dan putra-putranya dengan candaan.

__ADS_1


Sehingga mengundang gelak tawa dari semua para lelaki tampannya.


Juna memeluk Akira karena ia sudah harus pergi, sembari pamit undur diri, lalu bergilir pamit kepada papa nya dan juga kakak angkatnya.


Setelah kepergian Juna tidak lama Putra juga ikut pamit, karena ia ada pertemuan penting dengan klien, jadi ia tidak boleh telat karena sesuai didikan Akira, para jagoannya menjadi pribadi yang disiplin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan mereka.


Kini tinggal Akira dan Gian yang masih berada di meja makan, saat di depan kedua putranya Akira selalu terlihat bahagia, tapi setelah keduanya pergi Akira tertunduk sendu. Namun Gian sudah tau apa penyebabnya Akira bersikap demikian, tentu saja ia teringat putrinya.


Gian menggenggam tangan Akira, sebagai bentuk supportnya, ia selalu menghibur Akira di saat sedang seperti itu.


Karena Gian juga dapat merasakan kesedihan yang Akira rasakan.


"Sayang …!" tegur Gian.


Akira segera mendongakkan kepalanya melihat wajah suaminya, lalu tersenyum lesu, tergambar jelas senyum itu, senyuman yang di paksakan.


"Aku tau apa yang sedang kamu pikirkan, dan apa yang kamu rasakan, tapi kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mencari putri kita, namun, sampai detik ini kita belum bisa menemukan keberadaannya, kita doakan saja dimanapun ia berada semoga ia selalu dalam lindungan yang maha kuasa!" ucap Gian untuk menghibur Akira, agar tidak terlalu memikirkan masalah yang berlarut-larut belum terselesaikan.


"Dia pasti cantik, pintar sepertimu." Lanjut Gian.


Biasanya, jika mendengar apa yang diucapkan oleh Gian untuk menghiburnya, itu selalu berhasil mengurangi kesedihannya. Namun, saat ini Akira malah menangis tersedu-sedu.


Ia menundukkan wajahnya kembali, lalu menutupinya dengan kedua telapak tangannya.


Gian merasakan kesedihan yang teramat sangat dalam di hati istrinya.


Sehingga ia mendekatinya, lalu mengelus punggung Akira.


Posisi Akira masih duduk di kursi meja makan, Gian yang awalnya terduduk kini bangkit dan berdiri di samping Akira.


Akira segera menghadap kearah Suaminya lalu merangkul pinggang suaminya memeluknya, sambil menangis mencurahkan kesedihannya yang tidak dapat dibendung lagi.


"Setidaknya, kita tau kabar tentangnya, pah!" ucap Akira di sela-sela tangisnya.


"Harapanku, sebelum aku menutup mata, aku ingin melihatnya, meskipun aku tidak merawatnya, tapi aku tetap ibunya aku ingin melihatnya, dan mendengarnya memanggilku ibu, seperti Putra dan Juna memanggilku!" Akira mengungkapkan keinginannya, dan itu seperti sebuah amanat bagi Gian yang harus Gian penuhi.


"Kurang apa selama ini usaha kita mencarinya, sudah hampir seluruh pelosok negeri ini anak buah kita mencarinya, sampai keluar negeri, tapi sampai detik ini juga kita belum mendapat hasil apapun." Gian mengingatkan istrinya.


"Sekarang kita pasrahkan saja kepada yang maha kuasa, jika yang maha kuasa mentakdirkan kita untuk bisa bertemu dengannya, Tuhan pasti akan kasih kita jalan tanpa kita duga-duga!" Gian berusaha untuk menenangkan istrinya.

__ADS_1


Iya, mendengar ucapan Gian, hati Akira menjadi lebih kuat dan mencoba pasrah dan merelakan apa yang terjadi dalam hidupnya.


__ADS_2