Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 146


__ADS_3

Shilla, mendengar gumaman Anjai yang menyebutkan nama Akira, dan dengan masih setengah sadar, Shilla juga menggumam, "Akira … Akira …" Shilla berulang kali mengulang menyebut nama itu, sebab ia tidak asing dengan sebutan itu.


Anjai mengerutkan keningnya merasa panik dan merasa ketar-ketir di buatnya.


"Apa, Akira sudah bisa mengingat semuanya?" pikir Anjai dan merasa sangat ketakutan.


….


"Sayang, apa kamu mendengar ku?" tanya Anjai.


Shilla membuka matanya, tapi tatapannya masih sayu. Ia juga masih mengulang menyebut nama, "Akira …!" 


Saat melihat Shilla membuka mata Anjai menangis memohon maaf.


"Maafkan aku, aku mengaku salah, aku memang penyebab semua ini, aku terpaksa melakukan semua ini, karena aku sangat mencintaimu, tolong maafkan aku, hukum aku sesukamu, tapi jangan pernah tinggalkan aku, kumohon." Anjai memelas berucap seperti itu sambil menangis.


Shilla mengangkat tangannya, Anjai memejamkan matanya, ia pikir Shilla akan menamparnya, tetapi ternyata Shilla menyentuh wajah Anjai dengan lembut.


"Sayang, kamu kenapa menangis?" ucap Shilla dengan nada lirih.


Anjai begitu terkejut mendengarnya, dan ia merasakan sentuhan tangan Shilla.


"Sayang, kamu tidak apa-apa, apa yang kamu rasakan?" tanya Anjai dengan ekspresi wajah khawatir sekaligus terkejut.


"Kepalaku pusing sekali, aku melihat bayangan, di memoriku sepasang pria dan wanita sedang mandi bersama, seperti yang kita lakukan tadi," terang Shilla.


Wajah Anjai menjadi pucat pasih mendengar apa yang dikatakan oleh Shilla, dengan begitu, ingat Shilla bisa berangsur pulih.


"Apa lagi yang kau ingat, Sayang?" tanya Anjai lagi ingin memastikan.


"Entahlah, aku berusaha melihat bayangan siapa itu, tapi semua tidak jelas seperti bayangan dalam klise foto, hanya bayangan seperti itu yang ku tangkap" Shilla kembali menerangkan.


Anjai bisa sedikit bernafas lega, setelah mendengar penjelasan Shilla.


"Sayang, bayangan itu pasti kita berdua, karena dulu juga kita sering melakukan hal yang sama." Anjai sengaja mengarang cerita, agar Shilla tidak penasaran dan terus berusaha mengingatnya.


"Aku mohon lupakanlah semuanya, kita sudah cukup bahagia dengan kehidupan kita yang sekarang, jadi tidak perlu mengingat masa lalu lagi." Anjai berusaha mencuci otak Shilla lagi.


Shilla mengangguk patuh mendengar apa yang di katakan oleh Anjai.


Lalu datanglah Dokter yang sempat Anjai hubungi untuk memeriksa kondisi Shilla.


Tidak menunggu waktu lama, Dokter segera melakukan tugasnya, memeriksa tekanan darah dan detak jantung Shilla.


Kemudian Dokter barulah bisa mengambil kesimpulan, bahwa Shilla hanya sedang kecapean.


"Nona Shilla butuh banyak waktu untuk beristirahat, tekanan darahnya rendah, detak jantungnya sangat lemah, jadi saya sarankan agar Nona Shilla harus banyak istirahat, dan minum air putih yang banyak, serta konsumsi makanan yang bergizi, seperti sayuran dan buah-buahan." Terang Dokter, lalu dokter meresepkan obat untuk ditebus di apotek untuk di minum Shilla.

__ADS_1


Setelah itu Dokter pamit untuk pergi, Anjai mengikuti dokter keluar, untuk bertanya lebih lanjut tentang ingatan Shilla.


"Sayang, aku tinggal dulu sebentar ya, aku akan mengantar dokter sampai teras dulu ya!" Anjai pamit kepada Shilla untuk meninggalkannya.


Shilla hanya bisa mengangguk patuh, mengiyakan ucapan Anjai.


Dokter dan Anjai berjalan berdampingan,  menuju teras rumah, dan barulah Anjai berkonsultasi tentang apa yang terjadi kepada Shilla mengenai ingatnya.


"Bagaimana Dok, setelah apa yang dialami istri saya, apa dia bisa mengingat kembali semua ingatannya," tanya Anjai ingin memastikan.


"Mendengar cerita anda, mengingatkan saya kasus yang pernah saya hadapi, memang seperti itu, perlahan ingat pasien akan kembali, melalui semua kejadian yang ia alami di masa sekarang atau ia bertemu dengan orang-orang dimasa lalu, itu bisa membantu ingatannyal pulih secara perlahan, tapi ingat jangan dipaksakan, karena jika dipaksakan akan membuat tekanan kepada istri Anda dan bisa jatuh pingsan lagi." panjang lebar dokter menerangkan.


"Oo begitu ya, Dok! Jadi kapan pun ingatan istri saya bisa kembali?" 


"Iya, sepertinya begitu, meskipun ingatan tidak kembali seluruhnya, tapi ia akan bisa mengingatnya meskipun hanya sebagian atau saat momen-momen tertentu, itu tergantung bagaimana Anda membantunya untuk mengingatnya, dan keinginan dari istri anda sendiri berusaha untuk mengingatnya." terang Dokter lagi.


"Oke, Dok! Terima kasih atas penjelasannya." Ucap Anjai sambil menyalami dokter dan mempersilahkannya untuk pergi.


Selepas kepergian Dokter, Anjai terlihat lebih pendiam ia seakan berpikir bagaimana pun Shilla tidak boleh mengingat masa lalunya, sebab jika itu terjadi sudah pasti Shilla akan meninggalkannya.


"Siap tidak siap, kemungkinan itu ada, Akira bisa mengingat semuanya, tugasku sekarang, harus membuat Shilla benar-benar merasa bahagia hidup bersamaku, hingga nanti saat dia mengingat semuanya, ia tidak sanggup meninggalkan kebahagiaannya bersamaku, karena sejatinya kami saling mencintai, sejatinya Akira memang milikku." Tidak henti-hentinya Anjai membatin.


Anjai mengambil Anjas dari pangkuan Bi Atun, setelah Anjas bangun tidur, Anjai membawa Anjas menemui bundanya yang sedang beristirahat di kamar mereka.


"Assalamualaikum … bunda!" Anjai mengucap salam ketika ia masuk ke dalam kamarnya seakan Anjas yang berucap menyapa bundanya.


Shilla memang sudah terbangun dari tidurnya, ia menoleh ke arah pintu dan melihat dua jagoannya datang menemuinya, Shilla langsung mengembalikan senyumnya karena merasa bahagia melihat dua orang terkasihnya.


"Maafkan bunda ya, Nak! telah melupakanmu." 


"Aku yang salah, karena Aku kamu jadi seperti ini, kumohon maafkan aku." Anjai yang menimpali ucapan Shilla ia sembari menggenggam tangan Shilla lalu mengecup tangan Shilla.


Shilla hanya tersenyum, menanggapinya, "Bukan salahmu kok, Sayang, justru aku banyak berhutang Budi kepadamu, aku selalu merepotkan mu." 


Anjai menggelengkan kepalanya, "Bagaimana keadaanmu sekarang?" Kemudian tanya Anjai.


"Aku sudah lebih baik, kepadaku sudah tidak sakit lagi." Terang Shilla sambil menciumi putranya.


"Ya syukurlah jika begitu." Anjai merasa lega mendengarnya.


Anjai meraih tangan Shilla menggenggamnya dengan kedua tangannya, "Sayang, bisa dengarkan aku?" ucap Anjai dengan wajah serius.


Shilla menatap wajah Anjai, dan merasa bingung mengapa Anjai bicara seperti itu dengan ekspresi wajah seperti itu. Bukankah selama ini ia memang selalu mendengarkannya?


"Apa yang harus aku dengarkan?" tanya Shilla penasaran.


"Aku mohon kepadamu, jangan pernah berusaha mengingat masa lalu mu, karena itu hanya akan menyakitimu, kita jalani hidup kita yang sekarang ini dengan kebahagiaan dan sukacita." Anjai kembali mempengaruhi istrinya.

__ADS_1


Shilla mengangguk, "Iya, maafkan aku, tadi aku terlalu memaksakan diri, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, jika nanti aku menangkap bayangan apapun aku akan menepisnya, karena aku cukup bahagia hidup seperti sekarang ini." 


"Aku justru berdoa kepada yang maha kuasa agar masa-masa seperti sedang ingin tidak akan pernah berubah, aku berdoa semoga Tuhan akan terus menambah kebahagiaan kita." Lanjut Shilla.


Anjai sangat bahagia, mendengar apa yang dikatakan oleh Shilla, ia merangkul pundak Shilla dan membawanya ke dalam pelukannya bersama dengan sang putra.


Di sana mereka bertiga bermanja-manja, tertawa bersama penuh sukacita dan sudah pasti baik Anjai maupun Shilla mereka merasakan kebahagiaan yang tidak ingin pernah terlewatkan dalam hidup mereka.


Tapi meskipun begitu, Di hati Anjai tetap saja merasakan was-was, sebab ia tetap merasa takut ingatan Shilla kembali, dan sudah pasti Shilla akan kembali menjadi Akira dan kembali bersama Gian.


Ketika mengingat hal itu, Anjai yang sebenarnya Riza, merasakan sakit hati, karena Gian telah merebut Akira dari tangannya, dan yang membuat Riza sangat terluka Akira lebih memilih Gian dari pada dirinya, yang sudah sejak lama memadu kasih dengannya.


Riza sangat mencintai, Akira sehingga cintanya itu membuat ia gila, dan melakukan hal di luar dugaan. Dengan membawa kabur Akira dalam keadaan tengah mengandung.


"Aku, tidak akan melepaskan mu lagi, kamu milikku dan selamanya akan tetap menjadi milikku." Batin Anjai penuh dengan dendam.



Sementara di kediaman Tuan Arga Mahendra. 


Keluarga Arga Mahendra sedang melakukan kegiatan pagi mereka, berkumpul di meja makan untuk sarapan.


Pagi ini Rima dan Sisil tinggal kembali di rumah itu, atas permintaan Nyonya Nirmala, karena Erwin sudah kembali ke luar negeri untuk mengurus pekerjaannya di sana, karena Rima sedang mengandung jadi Erwin tidak mengajaknya turut serta bersamanya.


Karena itu juga, mama Nirmala meminta Rima untuk tinggal kembali di rumahnya, karena merasa khawatir takut terjadi sesuatu kepada Rima dan Sisil karena Erwin sedang berada di luar negeri.


Saat keluar sedang menikmati sarapannya, tiba-tiba datang Mila membuat keributan untuk menuntut perhatian dan tanggung jawab dari Gian.


"Selamat pagi!" sapa Mila, tanpa mengucap salam semua menoleh ke arah sumber suara yang ternyata adalah Mila lah orangnya.


Gian segera membuang muka ketika menyadari orang yang datang adalah Mila.


"Mila!" seru Mama Nirmala.


"Iya, kenapa mah, kenapa kalian terkejut melihat aku datang, aku menantu di rumah ini, jadi aku punya hak untuk datang ke rumah ini, apa lagi suamiku juga tinggal di sini." Ucap Mila penuh emosi.


"Ada apa denganmu Mila datang-datang kamu malah seperti ini?" Mama Nirmala tidak suka dengan tingkah Mila yang sok kuasa.


"Kenapa? Aku bicara apa adanya, aku datang kemari membawa putraku, ia ingin ayahnya melihatnya, dia butuh perhatian dan kasih sayang dari ayahnya." Tegas Mila lalu menghampiri Gian yang sedang duduk di meja makan.


Mila memperlihatkan wajah putranya agar Gian melihatnya, dan berharap Gian akan terenyuh melihat putranya lalu menerimanya sebagai putranya sendiri.


Tapi tidak sedikit pun Gian menoleh bahkan melirik pun tidak, ia malah beranjak dari tempat duduknya dan ingin pergi dari sana, tapi Mila meraih tangannya mencekal pergelangan tangannya untuk menghentikan pergerakan Gian agar jangan pergi dari sana.


"Tunggu, Gian, sebagai lelaki gentle tolong bersikaplah dewasa berikan hak ku dan juga hak putraku, kami butuh perhatian dan kasih sayang dari, kenapa kamu malah lari dari tanggung jawab," desak Mila.


Mama Nirmala sungguh geram melihat tingkah Mila seperti itu, ia segera merelai tangan Mila yang mencekal tangan Gian.

__ADS_1


Karena Gian sudah berusaha mengibaskan tangannya agar Mila melepaskannya tapi Mila mencelanya dengan sangat kuat, sehingga sulit untuk Gian terlepas dari cengkeraman Mila, ditambah Mila membawa bayinya, jadi Gian sedikit menahan emosinya, ia takut tindakannya membuat bayi Mila celaka.


Sudah pasti Mila akan menuntutnya dan akan menjadikan itu sebagai senjata untuk menekannya lagi nantinya.


__ADS_2