
Juna tercenung memikirkan maksud dari sikap mereka terhadap dokter Yuri, yang sepertinya ada sesuatu yang mereka rencanakan.
Tapi tiba-tiba Sisil yang periang datang lalu merangkul pinggang Juna, "Dokter ganteng sudah pulang ya? Tapi ko roman-roman nya masih bau acem!" Sisil sengaja menggoda Juna.
Meskipun Juna hanya anak angkat tapi keluarga Mahendra memperlakukannya sangat baik, dari pada keluarganya sendiri.
Baik keluarga dari ibunya maupun keluarga dari ayahnya.
Juna tersenyum mendengar ucapan Sisil, "Tau aja aku belum mandi!" kemudian sahut Juna.
"Jun, orang ganteng gak usah mandi, karena orang ganteng akan tetap ganteng walau bagaimanapun pun, kaya aku meskipun banyak luka tetep aja ganteng!" ucap putra yang selalu narsis.
"Iya gak dok?" lanjut Putra sengaja meminta pendapat dokter Yuri.
"Apa!" Yuri terkejut mendengarnya, ia bingung harus menjawab apa.
"Aku ganteng kan?" tegas putra makin narsis.
"E-eh iya, ga-ganteng," dokter Yuri terpaksa mengiyakan nya dengan gugupnya. Sebab Yuri merasa malu dengan jawabannya.
"Iya, dia memang ganteng, tapi nyebelin." Batin Yuri.
"Hhmm … mulai deh narsisnya!" Sisil menimpali.
Kemudian Akira menghampiri kumpulan anak muda tersebut sambil menyodorkan minuman untuk mereka semua.
Akira baru menyadari putranya keduanya belum bersiap ia masih menenteng tas tugasnya dan jas dokternya.
Kemudian Akira menyuruhnya untuk membersihkan diri dan bersiap.
Juna selalu patuh kepada ibunya, lalu pamit kepada semuanya terutama kepada dokter Yuri, untuk meninggalkan mereka.
Semua mengerti lalu mengiyakannya. Semua berlalu, kini tinggal putra, dan dokter Yuri berdua.
Putra terus saja memandang wajah dokter Yuri, dan itu membuat dokter Yuri meras risih, dan salah tingkah.
Tidak dipungkiri, Yuri merasa gugup karena malu terus dipandangi oleh putra.
"Maaf Pak Putra, kenapa lihatin saya seperti itu, memangnya ada yang aneh dengan saya?" Yuri memberanikan diri untuk menegurnya.
"Iya, ada aneh sekali …!"
"Hhaa! Apa yang aneh!" Yuri panik mendengar ucapan Putra yang mengatakan ada yang aneh pada dirinya, ia memeriksa penampilannya dengan panik nya, karena ia tidak menyadari apa yang membuatnya aneh.
"Iya, aneh ternyata ada bidadari berwujud manusia di hadapanku!" Kemudian ucap Putra menggombal.
"Apa!" Pekik Dokter Yuri, merasa kesal ternyata Putra sedang mengerjainya dengan menggombali nya.
"Eeh aku sedang mengagumi mu, harusnya dokter seneng loh! Karena selain mengagumi ibu ku, dokter orang kedua yang aku kagumi, berarti dokter termasuk orang yang beruntung bisa dikagumi sama orang seperti aku!" Putra selalu bicara apa adanya, dan itu yang membuatnya lucu.
Dokter tersenyum lucu, ia merasa tergoda dengan ucapan Putra yang terkesan ceplas-ceplos, ia tersenyum bukan karena mendengar dirinya dikagumi oleh Putra, melainkan dari ucapan Putra yang jujur apa adanya dan terkesan narsis.
Ya, Putra memang sangat narsis, bahkan kenarsisan nya sudah akut, ia sudah terbiasa sedari kecil bersikap seperti itu, karena ia sebagai tuan muda di keluarga Mahendra, semua menyayanginya dan mengagungkannya.
Karena itu semua orang keluarga Mahendra sangat menjaganya. Jangan ada yang menyentuhnya sembarang orang, tidak boleh ini itu, peraturan yang di buat oleh keluarga, sehingga itu menjadi kebiasaan bagi putra dan menjadi kan nya bersifat sombong dan angkuh. Namun, di balik itu putra memilih sipat humor yang tinggi pula.
Jadi kesombongannya dan keangkuhannya kadang terdengar sebagai lelucon dan terkesan sangat lucu, tak jarang orang-orang selalu tersenyum jika mendengarnya, seperti Papa dan ibunya selalu merasa terhibur jika berbicara dengannya.
Justru jika bicara dengan Juna mereka selalu serius, tapi meskipun sikap Putra seperti itu, beda halnya jika dia sedang benar-benar serius, ia akan lebih menakutkan dari seekor singa.
Seperti jika sedang bekerja, semua akan patuh dan takluk dengan semua keputusannya, cara berpikir putra sangat logis, karena itu ia selalu mendapatkan kepercayaan dari para klien nya, dan setiap pekerjaannya selalu berjalan lancar setiap kendala selalu dapat Putra patahkan, meskipun sangat sulit, ia selalu menemukan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah dalam bisnisnya.
Kakek Arga dan Papa Gian serta om Erwin, selalu angkat jempol dengan keberhasilan Putra dalam bisnisnya, mereka selalu puas dengan hasil kinerja Putra.
Jadi selain ganteng, Putra juga penerus tahta keluarga yang sangat jenius, ini menurun dari sifat Papanya, berikut dengan sifat sombong dan angkuhnya.
Namun, ia masih memiliki sifat ibunya, yang baik, penyayang, humoris jadi sifat Papa dan ibunya di mix jadi satu dalam kepribadian Putra dan terkesan selalu menghasilkan lelucon di setiap kesombongan dan keangkuhan Putra.
…
Saat ini Yuri baru menyadari sifat asli Putra yang sangat lucu menurutnya, ia terlihat selalu mengulum senyum ketika Putra berbicara.
Dan kini semua tamu undangan sudah berada di tempat acara waktu pengajian pun dimulai dengan dipimpin oleh pengurus panti, acara berjalan dengan khusyuk sampai dengan selesai.
Acara makan bersama pun di mulai, Yuri terlihat mengantri bersama dengan anggota keluarga dan tamu yang lain.
Putra melihat itu, dan meminta perhatian kepada semua orang. Ya, kini putra menjadi pusat perhatian dari semua orang yang berada di sana.
"Mohon maaf, apa bisa orang ganteng ini mengambil makanan lebih dulu!" ucap Putra agar dirinya di persilahkan untuk lebih dulu mengantri.
Ya, semua mempersilahkannya lalu Putra malah menarik dokter Yuri untuk mengikutinya. Padahal dokter Yuri menolak karena merasa tidak enak hati kepada yang lain, tapi orang-orang mempersilahkannya.
Itu semua membuat Yuri semakin malu, "Anda kenapa sih, Pak! Ini gak adil namanya!" Protes dokter Yuri kepada Putra.
__ADS_1
"Tenang saja, Bu dokter, woles …!" Putra menanggapinya dengan sangat santai.
Setelah selesai mengambil makanan mereka kembali duduk, untuk menyantap makanan yang sudah mereka ambil.
Tapi Putra bukannya makan ia malah meletakkan makanannya, dan itu membuat dokter Yuri bingung dengan tingkahnya.
"Kenapa tidak di makan?" tanya dokter Yuri.
"Aku penasaran, bagaimana ya rasanya makan di suapi bidadari," secara tidak langsung Putra meminta Yuri untuk menyuapinya.
Yuri mengerutkan keningnya, ia mengerti dengan maksud ucapan Putra, tapi ia enggan melakukannya karena malu, di sana banyak orang, rasanya tidak sopan lagian mereka juga kan bukan sepasang kekasih, lalu untuk apa melakukan hal seperti itu.
"Jangan aneh-aneh deh!" gerutu dokter Yuri.
"Enggak aneh kok! Kalau aku minta di gendong baru aneh," Putra menimpali.
"Udah ayo makan!" Dokter Yuri sudah mulai kesal, menghadapi tingkah Putra yang seperti anak kecil.
Tapi tidak dipungkiri dokter Yuri merasa terhibur dengan semua tingkah laku Putra yang lucu, dan ketika dokter Yuri menyendokkan nasi dari piringnya lalu akan menyuapkan ke mulutnya, tiba-tiba Putra bertingkah seperti anak kecil membuka mulutnya meminta sesuap nasi itu di suapkan ke mulutnya.
"Aaa…!" Putra membuka mulutnya.
Yuri merasa tidak enak hati, ia melihat ke kanan dan ke kiri melihat orang-orang di sekitarnya, ia merasa serba salah jika tidak memberikan suapan itu maka ia akan disangka egois, tapi ia juga merasa malu.
Dan Dokter Yuri memilih untuk menyuapkan sesendok nasi itu ke mulut Putra.
Dan akhirnya Putra berhasil mendapatkan suapan pertama dari dokter Yuri.
"Hhmmm … enak sekali ternyata rasanya makan dari suapan seorang bidadari!" seru Putra.
Dan itu berhasil mendapat perhatian dari semua orang, sehingga semua orang bersorak Sorai mendengar seruan Putra. Seakan semua ikut bahagia turut bersukacita.
Wajah Dokter Yuri memerah seperti buah tomat yang sudah siap di masak, karena rasa malunya.
Beda halnya dengan Juna, ia merasa panas hatinya melihat Putra yang sedang beraksi mendekati dokter Yuri secara terang-terangan, padahal dirinya lebih dulu mengenal dokter Yuri, dan ia lebih dulu jatuh hati kepadanya.
"Aku tidak boleh kalah saing dengan nya, cukup selama ini aku selalu mengalah, ya, memang dia tidak terkalahkan walaupun aku pernah berusaha untuk mengalahkannya, tapi kali ini pokonya aku tidak boleh kalah, Yuri harus jadi milikku bagaimanapun caranya, itu janjiku!" batin Juna tidak mau kalah dari putra.
Juna menatap mereka dari kejauhan, dengan tatapan tidak suka, rasanya hatinya sangat kecewa kepada Putra, tapi itu bukan salah Putra juga atau salah Yuri.
Sebab baik Putra, maupun Yuri tidak ada yang tau jika Juna menaruh hati kepada Yuri.
Juna mendekat mereka berdua lalu ikut bergabung di antara keduanya, Juna ikut makan satu piring bersama Putra, sesekali Juna juga menyuapi putra, begitu pun sebaliknya.
Tapi entah akan seperti apa jika Putra tau jikalau Juna juga menyukai Yuri, apakah hubungan persaudaraan mereka akan pecah karena persaingan memperebutkan satu orang wanita.
Atau kah salah satu dari mereka akan mengalah dan melepaskan Yuri untuk salah satunya.
Entahlah, Yuri sendiri belum tentu menyukai keduanya, atau hanya salah satunya saja, atau mungkin Yuri tidak menyukai keduanya dan bahkan tidak akan dimiliki oleh keduanya.
Semua itu masih teka teki yang membuat hati Juna resah dan gelisah. Namun, Juna tidak sedikit pun membenci Putra. Ia tetap bersikap seperti biasa.
…
Waktu sudah menunjukkan larut malam, susunan acara pun sudah selesai dilaksanakan dengan lancar, kini tempat acara acara sudah mulai sepi, hanya tinggal segelintir orang yang masih stay di sana, itu pun hanya keluarga terdekat saja, dan beberapa pekerja yang di tugas kan untuk membersihkan dan membereskan tempat acara serta peralatan dan perlengkapan yang dipakai dalam acara tersebut.
Kini juga waktunya Yuri untuk pulang, ia pamit kepada Akira dan suaminya sebagai tuan rumah di sana.
"Dok, ini sudah malam loh, apa sebaiknya dokter menginap saja di sini!" saran Akira.
"Iya dok masih ada kamar kosong kok, jika dokter mau menginap!" Papa Gian ikut menimpali, agar Putra lebih dekat dengannya.
Dan tentu saja Dokter Yuri menolaknya, "Ah tidak usah, Pak - Bu saya lebih baik pulang saja." ucap Yuri menolak.
Putra ikut menimpali, "Iya tidak usah, pah - Bu! Nanti saja tunggu aku dan dokter Yuri sah dulu!" ucap Putra.
Gian dan Akira tersenyum mendengarnya, sedangkan Yuri tertunduk malu dibuatnya.
"Aah Pak Putra bisa saja!" gumam Yuri malu-malu kucing.
"Kamu boleh panggil ayang kok,. tidak usah panggil pak!" Putra selalu protes jika dipanggil Pak atau bapak.
"Nanti saja panggil ayang nya kalau Pak Putra sudah mau serius dengan saya!" Yuri sengaja menimpali Putra dan mengimbangi candaannya, padahal putra tidak sedang bercanda ia serius dengan ucapannya.
Maka dari itu putra merasa tertantang pada saat itu juga, "Anda serius ingin saya meminangmu, dan aku akan segera meminangmu saat ini juga, akan ku pinang kau dengan bismillah …!"
Semua orang tertawa mendengar setiap ucapan Putra yang terkesan hanya sebuah lelucon, padahal Putra serius dengan ucapannya.
Yuri hanya tersenyum simpul menanggapinya, karena Yuri pun berpikiran sama seperti yang lain, Putra hanya sedang bercanda.
"Ternyata putra lebih lucu, dan lebih asik daripada, Juna!" batin Yuri, membandingkan antara kakak beradik tersebut.
Juna sudah bersiap ingin mengantarkan dokter Yuri pulang, ia menghampiri dokter Yuri lalu mengajaknya untuk segera pulang, karena waktu semakin larut.
__ADS_1
"Eeh, siapa bilang Dokter Yuri akan pulang denganmu, kamu sudah terlalu lelah, biar aku saja yang mengantarkannya pulang." ucap Putra mencegah Juna.
"Tidak, tidak, tidak usah Pak Putra, tidak usah repot-repot, tidak usah ada yang mengantarkan saya pulang, saya bisa naik taksi online.!" Yuri menolak, agar jangan ada siapa pun yang mengantarkannya pulang. Karena ia tidak ingin merepotkan siapa pun.
Tapi baik Putra maupun Juna, mereka berdua bersi kukuh ingin mengantarkan Yuri pulang, sampai terjadi perdebatan antara Putra dan Juna.
Akira segera menengahi mereka berdua, Akira melarang Putra untuk pergi sebab kondisinya memang belum stabil.
Tapi Akira juga, melarang Juna yang mengantar Yuri, dengan alasan Juna sudah terlalu lelah, setelah seharian bekerja.
"Tapi Bu, aku tidak apa-apa, aku masih kuat jika hanya mengantarkan dokter Yuri pulang!" Protes Juna kepada ibunya.
Akira tau itu, tapi Akira sengaja mengambil keputusan seperti itu agar sama-sama adil, lebih baik tidak ada satupun dari keduanya yang mengatakan Yuri pulang.
Agar kekesalan atau kekecewaan mereka berdua imbang kepada ibunya, dan di antara mereka berdua tidak saling membenci karena hal itu.
Akira meminta sopir yang mengantar dokter Yuri pulang, "Tidak apa-apa kan Dok, jika sopir kami yang mengantar anda pulang?" Akira bertanya untuk memastikan.
Yuri mengangguk sambil tersenyum, "Iya Bu, tidak apa-apa, padahal saya tidak diantarkan pulang juga tidak apa-apa, saya bisa naik taksi online kok!" ucap Yuri serba salah, padahal ia ingin menolak karena merasa merepotkan, Yuri juga merasa tidak enak hati, karenanya Putra dan Juna berselisih karenanya.
"Padahal saran ibu itu tidak gentle, aku yang membawanya kemari harusnya aku juga yang mengantarkan nya, kenapa harus sopir?" Protes Juna sangat kesal, ia bicara sambil berlalu ke kamarnya meninggalkan semua orang.
Lalu Sisil bertanya ke daerah mana dokter Yuri akan pulang, Yuri menyebutnya alatnya.
"Oo kebetulan itu satu arah, ke arah jalan kita pulang, dan kebetulan aku bawa mobil sendiri, dokter Yuri bisa ikut bersama ku, aku yang akan antar dokter Yuri pulang!" kemudian masukan dari Sisil.
Dokter Yuri segera mengiyakan ajakan Sisil daripada ia harus pulang di antar supir ia lebih enak di antara oleh Sisil yang sekalian akan pulang.
"Oke ya sudah kalau begitu!" Putra pun setuju, begitu juga dengan yang lainnya.
Karena Sisil juga tidak pulang sendiri ada bunda dan Papi nya yang akan mengawal mobil Sisil dari belakang.
Sedangkan para orang tua ( nenek-nenek dan kakek-kakek Putra) akan menginap di sana.
Kemudian Akira, putra dan yang lainnya mengantarkan keluarga Erwin yang hendak pulang bersama dengan Yuri yang turut serta bersama mereka.
Putra dan yang lainnya mengantarkan sampai teras rumah, dan tinggal mobil mereka yang terparkir di teras rumah Gian, kemudian semua anggota keluarga Erwin segera memasuki mobil, dan mengambil posisi mereka masing-masing termasuk Yuri.
Sebelum melajukan mobilnya Erwin, dan Sisil membunyikan klakson sebagai isyarat bahwa mereka pamit untuk pergi.
Putra dan yang lainnya segera melambaikan tangannya, sebagai isyarat mempersilahkan dan sampai jumpa lagi.
Akira tau betul Juna marah atau kecewa kepadanya. Maka dari itu Akira segera menghampiri Juna di kamarnya. Padahal Juna juga melihat kepergian Yuri dari rumah itu, ia ikut bersama Sisil tidak di antara sopir.
Tok, tok, tok, pintu kamar Juna di ketuk oleh Akira.
Kreet … suara pintu di buka, karena tidak lama Juna membukakan pintu untuk ibunya, Juna sudah dapat menebak siapa yang datang menemuinya, dan benar saja Akira lah yang datang.
Juna mempersilahkan ibunya untuk masuk, "Masuk Bu!"
"Juna, maafkan ibu, ibu tua kamu marah kepada ibu, karena ibu tidak mengizinkanmu untuk mengantarkan dokter Yuri!" Akira bicara to the point.
Juna menatap ibunya, "Tidak Bu, Aku tidak marah kepada ibu, apa yang ibu lakukan itu sudah benar, aku yang harusnya minta maaf, aku tidak bisa mengontrol diriku." Juna sadar diri, walaw bagaimana pun ia akan tetap di pandang salah di mata para keluarga, jika berani melawan Putra.
"Iya, Ibu terpaksa melakukan itu karena ibu tidak ingin ada perselisihan antara kamu dan juga Putra, sungguh nak! Ibu tidak berpihak kepada siapapun juga." Akira mencoba menerangkan agar putra tidak salah paham terhadapnya.
"Iya, Bu aku mengerti, aku tidak marah kok Bu, aku hanya ingin istirahat saja."
"Kamu sungguh tidak membenci ibu?" Akira tidak ingin Juna merasa di sisihkan dan merasa berkecil hati, sedari dulu Akira selalu menjaga perasaan Juna, sehingga menjadikan peribadi Juna sangat sensitif.
Ia sering menyendiri jika hatinya tersinggung. Tapi itu hanya sesaat, setelah moodnya kembali membaik Juna akan kembali aktif.
Saat itu putra menyusul ibunya masuk kedalam kamar Juna.
"Ibu, Juna!" Putra menyapa keduanya.
"Putra!" Seru keduanya, membalas Putra.
"Kenapa, Nak?" tanya Akira khawatir terjadi sesuatu kepadanya.
"Tidak ada apa-apa kok Bu, aku hanya ingin meminta maaf kepada Juna atas sikapku tadi," terang Putra.
"Iya, aku juga minta maaf, karena terlalu egois ingin menang sendiri." Juna pun merasa bersalah.
Kemudian keduanya saling berpelukan lalu Akira ikut memeluk kedua putranya.
Mereka selalu melakukan hal yang sama untuk menyelesaikan masalah, salah satu di antara mereka selalu ada yang mengalah menurunkan egonya untuk mengaku salah dan meminta maaf terlebih dahulu.
Dan itu lebih sering di lakukan oleh Putra ketimbang Juna, meskipun terkesan sombong dan angkuh tapi Putra lebih sering mengalah atas kesadaran dari sendiri.
Beda halnya dengan Juna, ia lebih sering mengalah karena terpaksa, bukan karena keinginan dari dalam hatinya, kadang Juna menyimpan dendam, jika harus di paksa mengalah.
Namun putra akan menyadari jika Juna tidak tulus mengalah kepadanya, itu bisa Putra ketahui dari sikap Juna yang mendiamkannya, dan pada akhirnya Putra lah, yang meminta maaf dan mengalah.
__ADS_1