Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 131


__ADS_3

Saat Erwin sedang memaku memikirkan keadaan Gian dan juga akira, tidak dapat dipungkiri meskipun ia merasa sangat kesal kepada Gian tapi tetap saja Erwin merasa prihatin dengan keadaan yang tengah terjadi, Erwin juga ikut memikirkan keadaan Akira yang tengah hamil besar.


Dan sampai subuh menjelang belum ada perkembangan tentang pencarian Akira.


Tapi tiba-tiba handphone Erwin berbunyi menandakan panggilan telepon masuk. Erwin segera meraihnya karena Erwin yakin itu panggilan dari anak buahnya yang akan memberinya kabar tentang perkembangan pencarian Akira.


Ya, benar saja nomer yang tertera di layar ponselnya milik anak buahnya, Erwin segera mengangkat panggilan itu.


"Halo … bagaimana, ada kabar apa?" tanpa menunggu jawaban sapaan dari anak buahnya Erwin langsung bertanya.


"Iya halo, Tuan, Saya ingin mengabarkan bahwa di jalan xxx arah keluar kota, telah terjadi kecelakaan dan menurut kabar salah satu korbannya adalah wanita hamil, jadi dicurigai bahwa korban tersebut adalah Nona Akira orang yang sedang kita cari," Anak buah Erwin melaporkan.


"Apa?" pekik Erwin kaget mendengar berita itu.


"Cari tau, lebih jelas Koban itu Akira atau bukan." Lanjut Erwin memerintahkan anak buahnya untuk mencari informasi lebih jelas dan lengkap.


"Iya, tuan kami memang sedang berada tidak jauh dari sana, kami sedang menuju ke sana. Korban masih di evakuasi, Tuan, Sebab kendaraan habis terbakar bersama korbannya, jadi sudah bisa di pastikan korban tidak bisa di selamatkan, dan sudah dalam keadaan tewas," anak buah Erwin melaporkan lebih lanjut.


"Astaga!" Bagai disambar petir perasaan Erwin ketika mendapat kepastian tentang nyawa si korban, Erwin takut korban tersebut benar-benar Akira.


Dan ketika itu Rima yang sedang terlelap terbangun karena mendengar percakapan Suaminya, ia menelisik melihat ke arah Suaminya yang tengah duduk sambil berbicara dengan seseorang melalui sambungan teleponnya.


Setelah Erwin menyudahi panggilan teleponnya, Rima melihat Erwin begitu panik, ia terlihat pucat pasih, dan keadaannya membuat Rima penasaran, membuatnya tidak bisa menahan  diri untuk tidak bertanya.


"Ada apa Mas, apa ada kabar tentang Akira?" 


"Iya," jawab singkat Erwin sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa yang terjadi, " Rima terperanjat, ia segera bangun dan terduduk, ia berharap ada berita baik tentang Akira, tapi melihat gelagat yang nampak jelas dari Erwin, sepertinya sesuatu yang buruk yang telah terjadi.


"Ada kecelakaan di ruas tol xxx arah ke luar kota, dan di duga korbannya adalah Akira, seorang wanita hamil." terang Erwin dengan suara bergetar.


"Apa!" Rima lebih syok daripada Erwin, ketika mendengarnya.


"Rima, aku harus segera kesana untuk memastikannya." Erwin pamit untuk pergi meninjau tempat kejadian.


Rima mengangguk, sebagai isyarat mengizinkannya untuk pergi, 


Erwin meraih jaketnya untuk segera pergi, tapi sebelum pergi Erwin mencium kening Rima terlebih dahulu, "Kamu, baik-baik di sini, jaga Sisil sampai aku kembali lagi."


Rima kembali mengangguk, "Hati-hati ya sayang!" pesan Rima.


"Iya." Ucap Erwin sambil berlalu.


Sebelumnya Erwin mengetuk pintu kamar Gian untuk mengajaknya ikut bersamanya, Mama Nirmala dan papa Arga masih di kamar Gian untuk menemaninya.


Dan Mama Nirmala yang membukakan pintunya. "Erwin!" seru mama Nirmala ketika melihat putra sulungnya yang mengetuk pintu.


" Iya, Mah ini aku." jawabnya lalu segera masuk tanpa di persilahkan terlebih dahulu.


Erwin menemui Gian yang tengah duduk memaku sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak telinganya.

__ADS_1


"Gian!" seru Erwin.


Gian mendongakkan wajahnya melihat ke arah Erwin yang telah berdiri di hadapannya.


"Apa." Jawab Gian menampakan ekspresi kalutnya.


Dengan  ragu Erwin memberi tahu tentang informasi yang ia dapatkan.


Semua terperanjat, karena syok mendengar apa yang telah disampaikan oleh Erwin.


"Itu tidak benar, Erwin!" Gian memekik ia menyangkal ucap Erwin yang mengatakan bahwa diduga salah satu korban dalam kecelakaan tersebut adalah Akira, seorang wanita hamil.


"Itu baru dugaan Gian, aku juga berharap itu bukan Akira, maka dari itu aku datang kemari menemuimu, dan ingin memberitahu kalian semua, aku akan pergi kesana untuk memastikan kebenarannya," ucap Erwin.


"Aku, ikut denganmu." Gian juga ingin memastikannya.


"Oke, tapi dengan catatan kamu harus kuat dengan apapun yang terjadi , jangan membuat keributan yang akan menghambat proses evakuasi." Erwin mengingatkan Gian, sebab Erwin tau sifat Gian yang  sulit menahan emosinya, dan dikhawatirkan ia akan membuat keributan di sana.


"Oke." Jawab tegas Gian, tapi terlihat sendu.


Mama Nirmala menangis terisak-isak, saat mendengar informasi itu, lututnya lemas ia tidak mampu berdiri apalagi berjalan. Tapi ia ingin ikut serta bersama putra-putrinya.


"Mah, kondisi Mama sangat lemah saat ini, aku tidak yakin mama kuat jika melihat kemungkinan terbuka terjadi nantinya." Erwin mencegah Mama Nirmala untuk ikut bersama mereka.


"Tidak, mama kuat kok, mama ingin melihatnya."  Mama Nirmala tetap memaksa.


"Iya mah tapi nanti ya, jika semua sudah selesai di evakuasi." Erwin membujuk Mamanya.


"Oke." Jawab Papa Arga, mengerti situasi.


Keduanya bersodara itu segera bergegas untuk pergi, tapi sebelum mereka pergi seperti biasa mereka mencium tangan kedua orang tuanya terlebih dahulu.


Mama Nirmala merangkul putra bungsunya sambil  menangis, saat putra bungsunya menyalami tangan "Kuatkan dirimu ya, Nak! Kita minta yang terbaik kepada tuhan, semoga Istrimu dan bayi-bayinya selalu dalam lindungannya."


Sesungguhnya perasaan Gian juga sangat hancur ketika itu, tapi ia menepisnya, ia berusaha untuk tetap tenang, dan ia tidak percaya jika korban kecelakaan itu adalah istrinya.


Mereka berjalan beriringan menuju keluar hotel, langkah Gian lebih sering tertinggal oleh Erwin, sebab meskipun ia sudah berusaha untuk tegar, tapi perasaannya tidak dapat dibohongi, dan itu membuat tubuhnya lunglai, lemah tidak bergairah.


Sesampainya di teras hotel, mobil Erwin sudah siap karena sebelumnya Erwin sudah menghubungi sopir pribadinya untuk bersikap mengantarkan mereka.


Sehingga Erwin segera masuk kedalam mobilnya diikuti oleh Gian. Stelah keduanya masuk pak sopir segera melajukan mobilnya menuju alamat yang telah Erwin berikan.


Dalam perjalanan, hanya ada keheningan, baik Erwin maupun Gian mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing, Gian tidak dapat membayangkan jika korban itu benar adalah Akira. Matanya terus berkaca-kaca , ketika pemikirannya mengarah ke sana. Tapi Gian tetap yakin Akira masih selamat.



Selepas kepergian suaminya Rima segera beralih ke kamar mandi, mencuci mukanya, dan berganti pakaian, lalu ia menghubungi mertuanya bertanya posisi keduanya sedang di mana.


Dan keduanya masih berada di kamar Gian, Rima segera menemui mereka untuk memberikan supportnya.


Rima memeluk mama mertuanya yang terlihat sangat rapuh saat itu, "Mah, yang sabarnya, Akira orang baik ia pasti selamat." ucap Rima menguatkan Mama mertuanya.

__ADS_1


"Iya, semoga saja itu bukan Akira." sahut Mama Nirmala penuh harapan.


Lalu setelah dirasa lebih tenang mereka berinisiatif menemui keluarga Akira, yang juga sedang gundah gulana, mereka belum ada yang tidur sepanjang malam mereka menanti kabar baik tentang Akira.


Dan ketika kedatangan dua besan nya mereka merasakan perasaan harap-harap cemas, tapi harapan mereka besannya membawa kabar baik tentang Akira.


"Ada kabar apa, Besan, mengenai putri kami?" tanya Bu Yuli yang tidak sabaran ingin mendengar kabar tentang putrinya.


Karena ia yakin kedatangan besannya memang ingin menyampaikan hal tersebut.


Mama Nirmala menatap suaminya, ia tidak tega jika harus mengatakannya sendiri, papa Arga mengerti dengan maksud tatapan istrinya, ia memejamkan mata sambil menganggukkan perlahan, sebagai isyarat bahwa ia mengerti dengan maksud istrinya.


Kemudian papa Arga lah, yang bicara, menyampaikan informasi yang mereka dapatkan.


Bu Yuli, menjerit histeris, ketika mendengarnya, ayah Ayus terkulai lemas tidak sadarkan diri.


Sambil menangis Safira berusaha menenangkan ibunya, "Tenang Bu, itu baru dugaan belum tentu semuanya benar, ibu jangan seperti ini, kita doakan yang terbaik untuk Akira." ucap Safira sambil memeluk ibunya yang masih menangis histeris.


Lucky, suami shafira ia bertindak menangani Ayah mertuanya, berusaha menyadarkannya. Mamah Nirmala kembali menangis terisak-isak larut dalam suasana. Rima memeluk mama Nirmala untuk menguatkannya.


Suasana benar-benar mencekam saat ini jeritan dan tangisan pecah terdengar menggema di seluruh ruangan itu, tapi mereka saling menguntungkan satu sama lainnya.


….


Gian dan Erwin sudah tiba di lokasi kejadian. Erwin segera turun dari mobilnya karena rasa penasaran mendorongnya untuk segera melihat proses evakuasi.


Beda halnya dengan Erwin, Gian masih tetap duduk di dalam mobil, langkahnya berat untuk turun dari mobil, ia tidak siap untuk menerima kenyataan, jantungnya berdebar kencang tidak beraturan, dadanya sungguh terasa sesak, ia merasa tidak sanggup untuk menyaksikan semua kenyataan.


Erwin berbalik untuk melihat Gian, Erwin mengerutkan keningnya melihat Gian yang masih memaku di dalamnya. Erwin kembali dan membuka pintu mobil, ia membungkukkan badan, tujuannya untuk melihat adiknya di dalam sana.


"Gian!" seru Erwin. Namun, yang dipanggil tidak bergeming sedikitpun ia mematung seperti tidak mendengar seruan kakaknya.


Erwin sampai menggapaikan tangannya untuk menyentuh adiknya dan menyadarkannya dari lamunannya.


"Gian!" Erwin kembali berseru, tapi kali ini Erwin mengguncang tubuh Gian agar mendapatkan respon darinya.


Ya, cara itu berhasil, sebab Gian segera menoleh ke arah Erwin, tapi tanpa ekspresi bahkan ia tidak menjawab seruan kakaknya.


"Ayo turun!" Kemudian ajak Erwin.


"Untuk apa?" jawab Gian.


Sontak jawab Gian membuat Erwin bingung mengapa Gian malah bicara seperti itu, bukankah ia tahu tujuan mereka kesana untuk melihat proses evakuasi dan untuk memastikan koran benar atau bukan istrinya.


"Gian, apa maksudmu, ayo segera turun, kita harus segera memastikan kebenaran.!" 


"Tidak usah, aku yakin itu bukan istri dan anak-anakku!" Gian meyakini pendiriannya.


"Iya, memang itu yang kita harapkan, tapi kita tetap harus memastikannya." Erwin masih membujuk Gian.


Setelah lama membujuk Gian agar ikut dengannya, dan akhirnya Gian turut serta bersama Erwin mendekat ke area lokasi kejadian.

__ADS_1


Terlihat beberapa anak buah Erwin dan Gian tengah berada di sana namun garis polisi membatasi mereka untuk tidak turut campur dalam proses evakuasi.


__ADS_2