
"Sial siapa sih yang datang mengganggu, dan menelpon berulang kali." Mood Gian pun jadi berantakan.
….
Dengan perasaan dongkol Gian terpaksa menyudahi permainannya, lalu meraih ponselnya dan mengangkat panggilan telepon, yang ternyata dari kakaknya - Erwin.
"Brengsek, selalu dia yang jadi pengganggu." gerutu Gian saat melihat nama Erwin di layar ponselnya.
"Halo … m o n y e t Lo! mau ngapain, mengganggu sekali." Gian langsung menyapa Erwin dengan umpatannya.
"Lo kok … langsung sewot begitu." Erwin sedikit terkejut mendengar umpatan Gian.
"Ini mama mengkhawatirkan mu dan juga Akira, mama takut terjadi sesuatu kepada kalian karena tidak membutuhkan pintu." lanjut Erwin menerangkan.
Dengan nada yang masih kesal, Gian kembali menjawab, "Bilangin sama mama, aku dan menantu kesayangannya tidak apa-apa."
"Tapi kenapa kamu menguci pintu dan tidak membukanya?" Erwin semakin kepo mendesak jawaban dari Gian.
"Aku lagi tanggung, dan kalian merusak moodku jadi berantakan." Gian langsung mematikan headphonenya dengan kasar.
Erwin langsung terhenyak dan menjauhkan ponselnya dan telinga dengan gerakan refleks.
Namun ia kembali ingin berbicara dan menyapa Gian untuk memastikan sambung telepon belum terputus.
"Halo … Gian halo…!" tapi tidak ada jawaban.
"Dasar, tidak sopan." gerutu Erwin ketika menyadari Gian memang sudah menutup sambungan teleponnya.
"Kenapa,Win?" tanya mama Nirmala yang penasaran.
Erwin menjelaskan dan menyampaikan apa yang dikatakan oleh Gian.
"Keterlaluan dia, masa begituan di kantor, kaya gak ada tempat lain aja." Mama Nirmala malam terpancing emosi dan merasa kesal kepada putra bungsunya.
Tapi papa Arga tidak tinggal diam, ia malah membela Gian, "Sudahlah mah, jangan ikut campur masalah pribadi mereka, itukan haknya mereka mau melakukan di mana saja dan kapan saja, orang mereka suami - istri kok, jadi sah-sah saja."
"Iya, pah … tapi ini kan kantor ini juga waktunya jam kerja, untung kita keluarganya yang berkunjung, lah coba kalau orang lain atau klien yang datang, apa coba kata mereka." Mama Nirmala tetap kukuh dengan asumsinya.
"Justru kalau klien tidak akan ada masalah, Siska tinggal bilang, Tuan Giantha Mahendra sedang ada urusan jadi sedang tidak bisa di ganggu, kalau mau menunggu silahkan, jika tidak silahkan kembali lain waktu, bereskan." Papa Arga pun tak kalah kukuhnya dalam membela putranya.
"Iya, iya … terserah papa aja deh, papa kan maha benar." Mama Nirmala mengalah dengan nada bicara penuh penekanan.
"Dih, gak nyadar banget sih si Mama, kan dia yang selalu jadi maha benar." Papa Arga tidak mau kalah dan menyindir istrinya.
Sedangkan Erwin hanya diam dan tidak berpihak kepada siapapun.
Lalu menengahi perdebatan mama dan papanya, "Sudah, sudah jangan berdebat kok jadi kaya anak kecil sih mama sama papa malah ribut."
Dan itu membuat Mama Nirmala dan Papa Arga diam sejenak menyadari kelakuan mereka yang memang seperti anak kecil.
"Ya sudah kita tunggu di ruanganku saja sepertinya Gian kembali meneruskan anu nya, jadi bakalan lama, lalu ngapain kita nungguin orang yang sedang indehoy." Ajak Erwin sekaligus mengingatkan apa yang sedang Gian lakukan.
….
Sementara itu di dalam ruangan Gian.
Sebenarnya mood Akira dan Gian memang sudah berantakan, terutama Gian tombak tumpulnya sudah menciut karena kesal telah di ganggu.
Tapi pikiran Gian tidak akan tenang, ia akan gelisah dan akan uring-uringan sepanjang waktu jika hasratnya belum tersalurkan atau belum terselesaikan.
Gian menatap wajah istrinya yang terlihat kesal, sebab Akira juga merasa malu pasti Kakak iparnya dan mertuanya akan curiga ditambah penuturan Gian kepada kakaknya sudah mengarah ke arah itu.
Akira banget ingin beranjak dari sana, "Eeh, mau kemana?" Gian bertanya.
__ADS_1
"Aku mau kekamar mandi mau membersihkan diri, lagian mau ngapain lagi, tuh si anu nya juga dah meleot kaya gitu." Akira menyindir tombak tumpul Gian yang sudah seperti kerupuk kena air.
"Kamu meragukan kejantanannya, aku masih kuat walaupun harus sepuluh ronde lagi." Gian merasa tersinggung dengan ucapan Akira, ia merasa harga dirinya di remehkan.
Maka dari itu Gian merasa tertantang, Gian melepaskan celana dengan sempurna, yang awalnya hanya setelah lututnya.
"Eeh mau ngapain kamu, udahlah jangan nekad, lagian itu diluar orang sedang menunggumu." Akira menegur sekaligus mengingatkan suaminya.
Tampan aba-aba lagi Gian membopong tubuh Akira dan membawanya ke kamar mandi yang terdapat di ruang itu.
"Jangan pedulikan mereka, kita main di kamar mandi sambil membersihkan diri." Terang Gian.
Akira tidak dapat menolaknya lagi, dan membiarkan suaminya menyelesaikan permainannya sampai tuntas, karena pekerjaan yang digantung itu memang tidak enak rasanya.
….
Kini Akira dan Gian sudah sama-sama membersihkan diri setelah menyelesaikan permainan mereka.
Akira meminta langsung pulang karena ia enggan bertemu dengan kakak ipar dan juga kedua mertuanya.
Akira akan merasa sangat malu jika bertemu dengan mereka sebab mereka sudah tau apa yang telah ia lakukannya dengan suaminya.
Yang membuatnya malu, karena Akira sendiri yang datang menemui suaminya, dan melakukannya di kantor di saat jam kerja.
Akira merasa terkesan dirinya yang sudah menggoda Gian dan itu yang membuatnya merasa malu.
"Yang, aku pulang dulu ya, kamu kan mau bahas pekerjaan sama keluarga mu jadi aku plang aja ya." Akira meminta izin untuk pulang.
"Oke, ayo aku antar sampai depan nanti aku minta supir kantor yang antar kamu pulang."
"Tidak usah, aku bisa sendiri dan aku bisa naik taksi online." Akira menolak untuk di antar pulang.
"Kamu tidak usah menolak, kalau gak, kamu gak usah pulang sendiri, biar aku yang antar kamu pulang."
"Oke …!" seru Gian merasa lega Akira mau menurutinya.
Dan baru saja keduanya membuka pintu hendak keluar, ternyata di depan pintu keluarga Gian sudah ada di sana.
Padahal Akira berniat pulang lebih dulu karena ingin menghindari mereka semua, ternyata Akira tetep tertangkap basah oleh keluarga Gian.
"Mama, papa, kak Erwin." gumam Akira terkejut.
"Iya, mau kemana kalian?" tanya mama Nirmala karena merasa Gian dan Akira akan kabur darinya, karena tidak mau di interogasi masalah tadi.
"Silahkan masuk dulu semuanya, dan tunggu di dalam aku ingin antar istri ku dulu, dia ingin pulang." terang Gian dan mempersilahkan keluarganya.
Mama Nirmala menatap Akira dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
Membuat Akira salah tingkah, ia selalu membuang pandangannya menghindari kontak mata dengan mereka.
"Kenapa aku merasa seperti perempuan penggoda di mata mereka, padahal kan sah-sah saja aku berbuat anu dengan suamiku sendiri." batin Akira sambil melirik tajam kepada suaminya, yang malah terlihat santai dan biasa saja.
"Akira …." Mama Nirmala mengejutkan Akira.
Ia langsung melempar pandangannya ke arah mama mertuanya, kemudian menyaut, "Iya, mah …." Akira langsung tertunduk kembali.
"Apa kabarmu nak …." Mama Nirmala berbasa-basi agar Akira tidak usah merasa canggung dengannya.
"Aku baik." Jawab Akira.
"Oo sukurlah, apa kamu tidak ingin ngobrol dulu sama, Mama." Mama Nirmala ingin berbincang dengan menantunya, tapi sepertinya Akira terlihat tidak nyaman.
"A-aku, aku harus pulang mah, nanti saja aku dan kak Gian akan ke rumah mama sekalian akan menemui sisil." Akira menolak, sebab ia rasa momennya tidak tepat untuk berbincang-bincang.
__ADS_1
Mama Nirmala mengerti dengan penuturan Akira, ia sepaham dengan pemikiran menantunya dan karena itu ia tidak ingin memaksanya.
"Oke … hati-hati di jalan ya nak, mama tunggu kedatanganmu di rumah." Balas mama Nirmala sambil tersenyum ramah.
Akira hanya mengangguk dan tersenyum kaku. Lalu ia pamit kepada semua orang.
Seperti rencana Gian mengantar istrinya sampai lobi kantor.
Dan memastikan istrinya pergi dengan keadaan aman.
Selepas kepergian Akira dari sana, Gian kembali ke ruangannya.
Ia berjalan tergesa namun sesekali bibirnya tersenyum teringat kejadian dirinya bersama istri saat melakukan hal anu, ia merasa lucu sendiri.
"Ah, istriku kamu sungguh menggemaskan, lama-lama aku bisa gila karenamu." Gian membatin karena terkesan dengan tingkah istrinya, yang sangat lugu dan malu-malu kucing, tapi pandai membuat suami bahagia.
Sepanjang perjalanannya menuju ruangannya, tanpa sadar Gian masih saja mengulum senyum di bibirnya, sungguh penampilan yang jarang sekali terjadi, karena sebelumnya ekspresi wajah Gian selalu datar tanpa ekspresi.
Namun kali ini ia terlihat tersenyum, dan itu yang membuatnya terasa aneh meskipun semua orang yang melihatnya mengakui Gian begitu tampan dengan seulas senyum di bibirnya.
Semua karyawan merasa tercengang dengan perubahan sikap Gian saat ini, sebab tidak biasanya ia tersenyum dan menyapa mereka atau membalas sapaan mereka, biasanya ia berlalu begitu saja jika melewati para karyawannya, responnya jika disapa hanya melirik sekilas.
Namun kali ini benar-benar aneh, Siska sampai tercengang dan dibuat mati kutu oleh sikap Gian kali ini.
Gian menyapanya lebih dulu dengan seulas senyum di bibirnya, Siska hampir saja meneteskan air liurnya ketika itu.
Para karyawan langsung bergosip ria membahas sikap aneh Gian setelah kedatangan istrinya.
"Benar apa yang di katakan oleh Siska, nona Akira memang luar biasa, dia mampu membuat beruang kutub jadi semanis gula."
"Iih, ungkapan mu tidak nyambung, mana ada ungkapan seperti itu."
"Ya, yang jelas luar biasa lah pokoknya."
(Ini sebenarnya othornya yang tidak pandai merangkai kata … 🤭)
"Iya sih, Tuan Gian jadi aneh banget hari ini."
"Beruang kutub, bisa berhati malaikat dan semanis madu, senyumnya itu loh yang bikin meleleh."
"Aku makin terpikat dan terobsesi dengannya."
Itu sebagian percakapan para karyawan, yang bergosip ria tentang Gian
…
Di ruangan Gian, sesampainya disana ia masih tersenyum tanpa sadar, menggambarkan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga karena sang istri telah mengikuti apa yang ia inginkan.
Padahal Akira hanya melakukan hal yang sederhana dan itu pun kewajiban baginya melayani dan memuaskan suami.
Tapi itu yang membuat Gian merasa dihargai dan dengan begitu Gian merasa sudah mendapatkan Akira seutuhnya jiwa raganya.
Erwin langsung menegur adiknya yang terlihat sumringah.
"Kenapa lu, kaya abis dapat undian miliar aja, saat menang tender dengan keuntungan milyaran aja ekspresimu tidak sesumringah ini, kenapa sekarang bisa sebahagia itu?" Erwin merasa sangat aneh melihat tingkah adiknya.
Mama dan papa mereka juga penasaran dengan jawaban Gian atas pertanyaan Erwin, sebab mereka juga merasa sangat heran melihat perubahan sikap Gian yang terlihat tidak seperti biasanya.
.....
Akan seperti apa jawaban Gian nantinya...?
Simak cerita selanjutnya ...!
__ADS_1