Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab - 178


__ADS_3

Siang itu sangat terik, sang Surya bersinar sempurna di atas kepala, panasnya membara membuat gersang alam semesta.


Putra keluar dari sebuah restoran hotel bintang lima, usai menghadiri acara penting dengan kliennya, ia tergesa menaiki mobilnya lalu mengemudikan nya, sedangkan rekan-rekan yang satu tim dengannya menaiki kendaraan yang berbeda dengannya.


Putra lebih suka mengendarai mobil mewahnya sendiri, ia tidak memakai jasa sopir pribadi, karena menurutnya itu lebih menantang berasa bermain game online, atau bermain bom-bom car, menantang adrenalinnya menaklukkan Medan pertempuran membelah jalanan.


Seperti siang itu, putra merasakan gersangnya alam membuatnya ingin segera sampai di gedung yang menjulang, dimana terdapat ruangan tempatnya bekerja yang nyaman dengan segala fasilitasnya.


Putra menancap gas dengan kecepatan tinggi, di atas rata-rata, karena ingin segera sampai di kantornya dan mengadem kan dirinya di sana.


Alih-alih ingin segera sampai, putra tidak begitu pokus dengan lingkungan sekitar, tiba-tiba ada kucing melintas memotong jalannya saat mobilnya melewati pemukiman warga.


Dan hal itu membuat putra terhenyak karena terkejut, dengan gerakan respek Putra membanting setirnya untuk menghindari kucing yang melintas tersebut.


Namun naas dengan kecepatan tinggi ia hilang kendali sehingga mobil mewah itu menabrak pagar pembatas BRAK suara hantam mobil mewah putra menghantam pagar pembatas, dan terjadilah kecelakaan.


Mobil putra mengalami kerusakan di bagian depan mobilnya, Putra sendiri mengalami banyak luka terutama di bagian keningnya akibat benturan yang sangat keras dan luka di bagian lengannya yang terkena pecah kaca mobil itu sendiri.


Putra sempat tidak sadarkan diri karena ia merasa sangat syok dengan apa yang terjadi kepada dirinya dan akibat benturan di keningnya.


Beberapa warga menolongnya lalu melarikannya ke rumah sakit, dan kebetulan warga membawa Putra ke rumah sakit di mana Juna bertugas.


Sesampainya di rumah sakit Putra segera dilarikan ke ruang IGD, dan sangat seorang Dokter mudah berjenis kelamin perempuan akan menanganinya, Putra tersadar lalu ia menolak jika Dokter itu yang akan menanganinya.


Sebab Putra anti sekali di sentuh wanita selain dari keluarganya sendiri, sedari kecil ia sangat pemilih jika berinteraksi dengan wanita, baik dengan guru Dokter dan sebagainya.


"Maaf ini darurat, biarkan saya menangani anda!" ucap Dokter mudah itu.


"Tidak! panggilkan adik saya Dokter Juna, biarkan dia yang menangani ku!" perintah Putra.


Sang Dokter mengikuti apa yang Putra inginkan, ia mengurungkan niatnya untuk menangani pasiennya yang sebenarnya dalam kondisi darurat.


Sang Dokter menyuruh asistennya untuk menghubungi asisten Dokter Juna untuk segera agar dokter Juna segera ke ruang IGD, agar segera menangani pasiennya yang sangat aneh menurut Dokter itu.


Namun, ternyata Juna sedang berada di ruang operasi, karena Juna adalah Dokter bedah.


Dokter muda itu bernama Dokter Yuriska Anindya Putri. Ia segera menghampiri pasiennya kembali dan memberitahukan bahwa dokter Juna sedang tidak bisa diganggu ia sedang menangani pasien di ruang operasi.


"Minta Dokter pria lain untuk menanganiku!" pekik Putra, ia tetap menolak Dokter Yuri yang menanganinya.


Dan hal itu membuat Dokter Yuri merasa tersinggung dengan penolakan Putra. Ia merasa diragukan padahal ia sudah banyak mendapatkan gelar Dokter muda yang hebat dan sudah banyak mendapat banyak penghargaan dalam keahliannya di dunia kesehatan.


Maka dari itu, ia yang seorang dokter dari daerah terpencil, daerah pedalaman karena ke ahlinya dan karena kehebatannya ia bisa bertugas di rumah sakit besar di kota besar pula.


"Anda, meragukan saya?" ucap Dokter Yuri dengan nada penuh penekanan.


"Saya tidak ingin ada wanita lain yang menyentuh saya kecuali dari keluarga saya sendiri!" Itu prinsip aneh Putra.


Dokter Yuri mengerutkan keningnya, ia merasa konyol dengan apa yang diucapkan oleh pasiennya itu.


Di dunia modern di kota maju kota besar, anak muda, dengan penampilan pormalnya masih berpikir seperti itu. Sungguh tidak masuk di akal menurut dokter Yuri.


"Anda punya kelainan? Apa anda akan alergi jika saya menyentuh anda?" tanya Dokter Yuri.


Putra menggelengkan kepalanya, "Saya hanya ingin menjaga perasaan ibu saya," Jawab putra ketus.


Dokter Yuri semakin bingung mendengar jawaban Putra, "Apa hubungannya, saya tidak akan menyakiti anda, saya Dokter saya akan menolong anda, saya bukan penjahat, loh!" terang dokter Yuri penuh emosi.


"Karena Anda perempuan!" lagi-lagi jawaban Putra membuat Dokter Yuri semakin bingung.


"Maaf pak, saya harus segera mengambil tindakan, jangan menolak dan jangan banyak bergerak atau saya akan menyuntikkan obat penenang untuk melumpuhkan bapak." Ancam Dokter Yuri, tidak ingin ambil pusing lagi dengan alasan Putra.


Mendengar ancam Dokter Yuri, Putra tidak dapat lagi melawan, karena jarum suntik adalah salah satu kelemahanya, ia merasa terancam dan akhirnya pasrah.


Dokter Yuri terpaksa melakukan hal itu sebab luka Putra harus segera diobati, takut terjadi infeksi.


Dokter Yuri membersihkan luka itu dengan alkohol Putra merasakan perih luar biasa perihnya. Namum, ia tahan karena ia takut dokter Yuri akan menyuntik nya.


Lebih baik ia menahan rasa sakit karena lukanya dibersihkan, daripada ia harus disuntik pikir Putra.


"Sialan ini Dokter perempuan, belum apa-apa sudah menyiksaku," batin Putra.



Keluar dari ruang operasi asisten Dokter Juna memberitahunya bahwa kakaknya mengalami kecelakaan dan kini menunggunya di ruang IGD.


Mendengar kabar itu, Juna sangat terkejut dan langsung bergegas menuju ruang IGD.

__ADS_1


Sesampainya di ruangan itu Juna segera masuk, dan melihat Dokter Yuri sedang menangani Putra.


"Dokter Yuri!" Seru dokter Juna.


Dokter Yuri segera berbalik badan melihat ke arah sumber suara, dan ia melihat Dokter Juna lah yang menyebutkan namanya.


"Dokter Juna!" ucap Dokter Yuri membalas.


Mendengar Dokter Yuri menyebutkan nama dokter Juna, putra segera mengangkat kepalanya melihat ke arah Juna.


Dan barulah Putra merasa senang melihatnya, "Juna …!" teriak Putra.


Kemudian Juna mendekat ke arah keduanya.


"Juna! Ayo gantikan dia!" Putra menyuruh Juna untuk menggantikan dokter Yuri.


Yuri melihat ke arah Juna, namun Juna hanya tersenyum menanggapi kakaknya.


"Aah, jagoan bisa celaka juga rupanya," Juna malah berguyon mengejek Putra.


"Sialan, bukannya khawatir dengan keadaanku, kamu malah mengejekku!" ketus Putra.


"Awalnya aku sangat mengkhawatirkanmu, tapi mendengar suaramu sepertinya kamu baik-baik saja!" Juna menimpali dengan santainya.


"Juna, Dokter wanita ini sudah berani menyentuhku!" Putra malah mengadu.


"Oo … kamu jangan khawatir Dokter Yuri ini dokter hebat, dia sangat berprestasi sebagai  Dokter  mudah." Juna malah membanggakan dokter Yuri.


"Juna, persetan dengan itu, dia telah menyentuhku Juna!" Putra bicara penuh penekanan.


Dokter Yuri sangat benci mendengar kata-kata Putra yang terkesan merendahkannya. Kemudian ia sengaja melakukan gerakan mengobati luka Putra dengan kasarnya.


Sehingga Putra memekik kesakitan, "Aw … sialan pelan-pelan, wey!" teriak Putra.


"Lagian anda tidak punya sopan santun sama sekali jadi orang," gerutu dokter Yuri kesal.


"Hey, aku mendengarnya ya!" seru putra lagi.


"Bersetan dengan itu!" Dokter Yuri membalas ucapan Putra dan itu membuat Putra sangat kesal kepadanya.


Sedangkan Juna hanya tersenyum, melihat Dokter Yuri dan Putra berseteru.


"Bapak sendiri tidak bisa menghargai saya sebagai dokter!" jawab dokter Yuri tidak kalah kesalnya.


Kemudian dokter Yuri akan menyuntik obat antibiotik, tapi Putra menolak dan memberontak.


Tingkahnya sangat kekanak-kanakkan, baru kali ini selama menjalani prosesi sebagai seorang dokter ia mendapatkan pasien rese seperti Putra ini.


Dokter Yuri sudah hilang kesabarannya, ia menyerah untuk membujuk Putra, lalu ia terdiam dan menatap Putra dengan tatapan lelahnya.


"Apa, kamu lihat-lihat?" Putra malah bicara seperti itu kepada Dokter Yuri.


"Aku Tampa ya, kamu naksir sama saya, ha, ha, ha … itu bukan hal yang aneh sudah banyak wanita yang tergila-gila padaku!" Putra malah semakin narsis.


"Dokter Juna, apa dia benar kakakmu?" bisik Dokter Yuri bertanya, untuk memastikan kebenarannya.


Sebab Dokter Yuri melihat kepribadian mereka yang sangat berbeda, Dokter Juna lebih kalem, santai dan ramah.


Sedangkan Putra, terkesan kekanak-kanakan dan narsis bahkan arogan, karena Putra memiliki sifat seperti Papanya yaitu Gian.


Juna mengangguk dan mengiyakan pertanyaan Yuri.


"Lalu bagaimana cara menanganinya?" Yuri merasa putus asa dan seakan menyerah.


"Hanya ibu yang bisa menanganinya, nanti tunggu Ibu kami sedang menuju kemari! mungkin sebentar lagi akan sampai, karena beliau sempat menghubungi saya tadi." Terang Juna.


Dan benar saja dari arah belakang, Akira memanggil nama Juna.


"Juna …!" 


"Ibu …!" 


"Dimana Putra, lalu bagaimana kondisinya?" Akira terlihat sangat panik.


"Dia baik-baik saja Bu, hanya mengalami luka ringan," jawab Juna.


Lalu Juna menerangkan tentang Putra yang menolak untuk diobati dan meminta ibunya untuk membujuknya agar Putra mau mengikuti instruksi dari Dokter, sebelum Akira menemui Putra.

__ADS_1


Iya, Akira mengerti dengan apa yang di maksud oleh Juna dan Yuri, karena Akira sudah hapal betul tentang watak putranya, memang selalu membangkang, kepada semua orang apalagi kepada dokter dan dokter itu perempuan, terkecuali kepada ibunya putra baru akan menurut.


Setelah itu barulah mereka menghampiri Putra kembali yang sedang mengaduh kesakitan karena luka-lukanya.


Awalnya luka itu tidak begitu terasa sakit, tapi lama kelamaan baru terasa semakin sakit.


Apalagi ketika Putra melihat ibunya ia mengaduh manja, mengadu tentang rasa sakit yang ia rasakan.


"Putra … nak! Kenapa bisa seperti ini?" Akira sungguh Panik melihat kondisi Putra yang penuh luka di beberapa bagian tubuhnya.


"Aduh … ! Ibu ini sakit sekali rasanya!" Putra mengaduh manja dan semakin menjadi.


Sampai-sampai Akira tidak tega kepadanya, beda halnya dengan dokter Yuri, ia seakan mencibir Putra yang terkesan sangat manja.


"Aduh … ! Ibu ini sakit sekali rasanya!" Dokter Yuri mengulang kata-kata Putra dengan nada mencibir, tapi itu ia lakukan di belakang Putra dan Akira, sehingga putra dan Akira tidak tahu apa yang Yuri lakukan.


"Giliran tadi sok tegar, sok kuat giliran di depan ibunya ternyata anak manja." Gerutu Yuri.


Dan semua orang bisa mendengar apa yang di ucapkan oleh Dokter Yuri.


"Heh! Bicara apa kamu, kamu sedang mengejek saya?" Putra tidak terima.


"Ooo gak kok! saya hanya memuji bapak dan ibunya, ternyata sangat akrab antara Ibu dan anak, beda dengan saya!" Yuri bicara dengan gugupnya mencari alasan.


Tapi, iya! Memang sesungguhnya hubungan Yuri dengan orang tuanya tidak begitu dekat, ia didik dengan cara yang kasar tak jarang hari-harinya penuh dengan omelan cacian dan makian dari orang tuanya.


Kadang ia beranggapan bahwa dirinya bukan anak kandung dari mereka, ia menjadi seorang dokter itu karena prestasinya, ia mendapat beasiswa sejak duduk di bangku sekolah dasar.


Sehingga ia bersekolah mendapatkan bantuan dari pihak sekolah, termasuk seragam dan keperluan sekolah lainnya di tanggung pihak sekolah.


Kalau bukan karena itu entahlah mungkin Yuri tidak akan pernah sekolah sama sekali.


Seketika itu Yuri teringat kepada orang tuanya, dan mengingat perlakuan mereka terhadapnya.


Yuri termenung, lalu Akira menyentuh tangannya dan itu membuatnya terhenyak tersadar dari lamunannya.


"Dokter …!" 


"E-eh, iya Bu!" 


"Tolong lakukan yang terbaik untuk kesembuhan putra saya, Dok!" pinta Akira.


Ya seperti yang sudah dijelaskan kepada Akira, bahkan kepada Putra juga bahwa Putra harus mengikuti serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.


Tapi itu perlu kerja sama dengan pasiennya, sedangkan Putra sendiri selalu menolak untuk diobati, apalagi diinstruksikan untuk  hal lain, itu sangat sulit bagi dokter Yuri.


"Oke Dok! Biarkan saya yang membujuknya!" Kemudian Akira lah yang membujuk Putra, agar ia mau mengikuti setiap apa yang akan dilakukan oleh dokter atas dirinya.


Awalnya Putra tetap menolaknya, dan Bersikeras ingin pulang saat itu juga, dengan alasan bahwa ia tidak apa-apa.


Ya memang keterlihatan nya Putra tidak apa-apa. Namun, Akira dan yang lainnya tetap khawatir terjadi sesuatu di bagian dalam tubuh Putra yang tidak terlihat.


Namun, setelah Akira berusaha keras membujuknya akhirnya Putra mau mengikuti setiap apa yang diinstruksikan oleh dokter , termasuk disuntikkan obat antibiotik dan dipasang selama infus Juga.


Ya, tentu saja itu butuh waktu yang sangat alot sampai semua itu berhasil dilakukan, karena Putra memang phobia jarum suntik, atau alat-alat rumah sakit lainnya.


Semenjak kejadian ia disunat dulu ia sangat takut dengan alat-alat rumah sakit, karena setelah kejadian itu, saat itu ia sampai tidak sadarkan diri berhari-hari, dan menyebabkan Putra mengalami trauma mendalam akan hal yang berbau-bau rumah sakit.


Dan setelah semua serangkaian pemeriksaan selesai di lakukan, Yuri mengucap syukur karena merasa lega ia telah berhasil melewati cobaan terberat semasa karinya.


"Ya Tuhanku, akhirnya semuanya berjalan dengan lancar!" ucap Yuri merasa lega.


Akira tersenyum mendengarnya, "Terima Kasih ya Dok, telah sabar menghadapi Putra saya yang memang phobia alat-alat rumah sakit,"


"Oo iya, Bu! Terima kasih juga atas kerjasamanya karena ibu semua ini bisa dilalui." ucap Yuri, ya kalau bukan karena atas bujukan dari ibunya Yuri tidak akan bisa mengatasi Putra.


"Sekarang Pak putra, tinggal menjalani perawatan, Bu, sambil menunggu hasil pemeriksaannya keluar dan sampai kondisinya benar-benar pulih kembali." terang Yuri memberi tau.


"Eeh, kamu memanggil saya pak-pak, emang saya sudah setua itu!" Putra protes mendengar dokter Yuri menyebutnya dengan sebutan "Pak, atau bapak"


Putra masih saja bersikap ketus kepada Dokter Yuri, padahal Yuri sudah sangat sabar menghadapinya.


"Lalu saya, harus menyebut anda apa, masa saya harus manggil sayang …!" ucap Yuri dengan santainya.


Yuri bersikap seperti itu untuk menghargai Akira dan juga Juna, padahal dalam hatinya ia sangat kesal kepada Putra, yang tidak menghargainya sebagai Dokter.


Mendengar ucapan dokter Yuri, Akira dan Juna yang merasa terhibur.

__ADS_1


"Cie, cie …!" seru Akira dan Juna.


"Belum apa-apa sudah manggil sayang ni!" Celetuk Akira, dan itu membuat Juna diam seribu bahasa, Juna merasa tidak rela mendengarnya.


__ADS_2