Cinta Antara 2 Pilihan

Cinta Antara 2 Pilihan
Bab -127


__ADS_3

Akira mulai membuka matanya, ketika mendengar ada suara yang tidak asing lagi baginya.


Dan benar saja suara itu adalah suara mama Nirmala, Akira malah menampilkan wajah datar ketika melihat mama mertuanya, ia belum sadar dengan apa yang terjadi, Akira berusaha mengingat-ingat, kejadian sebelum ia tertidur.


Akira langsung terperanjat saat ia sudah mengingatnya, ia gitu syok, mendapati mama mertuanya ada di kamarnya.


Ia langsung menelisik tubuhnya di dalam selimut, dan benar saja ia tidak mengenakan pakaian.


Akira terlihat pucat pasi karena rasa malunya, ia telah tertangkap basah oleh mama mertuanya.


Ia begitu Panik, sampai kesulitan menelan Salivanya, Akira lalu membangunkan suaminya mengoyak tubuhnya agar segera bangun.


Dengan terpaksa Gian terbangun dan membuka matanya, dan melihat istrinya sedang duduk dengan ekspresi wajah syok.


"Ma-mama …" gumam Akira sambil menatap, ke arah mertuanya.


Sedang mama Nirmala, segera berbalik dan melipat kedua tangannya di depan dadanya.


Pandangan Gian mengikuti arah pandangan istrinya yang sedang menatap mertuanya, Gian pun terkejut ketika melihat Mamanya berada di sana.


"Mama, lagi ngapain disini?" tanya Gian heran.


Mama Nirmala berbalik menyamping dengan pandangan lurus ke depan, lalu ia tersenyum kecut, karena merasa kesal kepada mereka berdua, Sebab ia sudah sangat mengkhawatirkan keduanya sementara apa yang sedang mereka lakukan berdua, ternyata sedang i n d e h o y.


"Mama, yang seharusnya bertanya seperti itu, apa yang sedang kalian lakukan." ketus Mama Nirmala.


Gian mengerutkan keningnya, merasa heran dengan pertanyaan sang mama.


"Apa masalahnya, Mah? ini kamar kita dan kita sudah sah sebagai suami istri, mama yang ngapain di sini, masuk seenaknya ke kamar orang." Gian kesal.


Lalu mama Nirmala, menegaskan mengapa. Ia sampai menerobos masuk kedalam kamar mereka.


"Semua sudah terlihat bersiap, tapi kalian berdua tidak terlihat batang hidungnya, mama menekan bel pintu berkali-kali, dan menghubungi nomor kalian tapi tidak satupun di antara kalian yang memberi respon, coba bagaimana mamah tidak panik lalu menerobos masuk dengan bantuan petugas hotel." Mamah Nirmala bicara penuh emosi. Gian dan Akira hanya saling melirik.


"Tapi apa yang Mama saksikan, Masaya Allah luar biasa pemandangannya, bikin Mama jantungan, untung saja mama gak semaput tadi saat melihatnya."  Mama Nirmala masih sangat kesal.


"Iya, Mah! Sorry kita ketiduran."  jawab Gian.


Akira sendiri tidak dapat berbicara apa pun, karena ia sangat malu, untung mama Nirmala tidak mengatakan kalau papa Arga juga melihat adegan tidak senonoh tadi, mungkin Akira tidak akan sanggup berdiri di hadapan papa Arga lagi jika ia tau papa mertuanya sempat melihatnya ia t e l a n j a n g bulat.


Untuk mencegah hal itu Mama Nirmala sengaja merahasiakannya, agar Akira tidak merasa malu saat berhadapan dengan Papa Arga nantinya.


"Ya sudah Ayo bersihkan diri kalian, tuh Mama sudah bawakan pakaian kalian, cepat turun acara sebentar lagi dimulai." Mamah Nirmala menginstruksikan Gian dan Akira.


'Iya, mah." Jawab tegas keduanya.


Mama Nirmala segera keluar dari kamar mereka dengan masih menyimpan rasa kesal di dadanya, tapi dia juga merasa lega sebab keduanya dalam keadaan baik-baik saja, karena Mama Nirmala sempat panik khawatir terjadi sesuatu kepada putra dan menantunya.

__ADS_1



Tanpa memakai busana ataupun tanpa menutup tubuhnya, Gian beranjak dari tempat tidurnya.


Akira sungguh kesal dengan kelakuan suaminya, yang semakin hari semakin m e s u m. Iya pun terkejut melihat Gian beranjak tanpa sehelai benang pun.


"Hey, ditutup dong gak tau malu …," gerutu Akira 


"Ngapain? disini hanya ada kita berdua, malu sama siapa?" tegas Gian.


"Ayo, buruan mandi!" Ajak Gian, sambil mengulurkan tangannya, ingin membantu Akira untuk turun dari tempat tidur dan membawanya ke kamar mandi.


Ya, seperti halnya Gian, Akira pun tidak mengenakan sehelai benang pun untuk menutupi tubuhnya.


Gian merasa tergelitik, mengingat kelakuannya sampai harus tertangkap basah oleh Mamanya. Karena itu ia terus mengulum senyum geli.


Sesampainya di kamar mandi, Gian  membantu Akira mendudukkannya di bathtub, Akira melihat ekspresi wajah Gian yang sedang mengulum senyum, Akira merasa curiga dan tersinggung.


"Kenapa kamu? Sedang menertawakanku ya, karena keadaanku seperti ini." Akira bicara dengan nada sendu.


"Eeh siapa bilang, aku mentertawakanmu, aku malah gemes banget sama kamu, andai tidak terburu-buru aku ingin melakukannya lagi." celetuk Gian menggoda istrinya.


"Apa!" Pekik Akira, mulai kesal.


"Iya, lihatlah,"  Gian menunjuk Juniornya yang sudah berdiri tegak dengan sempurna, "Bagaimana coba, aku mau menertawakanmu, juniorku saja selalu candu denganmu." Gian bicara dengan wajah memelas seakan meminta mengulang permainan panasnya.


Gian malah terkekeh geli mendengar penolakan Akira. "Ha, ha, ha … kamu takut sekali, Sayang, jika aku akan sungguh melakukannya."


"Gimana gak takut, melihat juniormu suda mode on seperti itu, lagian jika kamu sudah ingin anu, mana bisa aku menolaknya." Akira bicara apa adanya.


"Hah, hahaha …," tawa renyah Gian pecah mendengar pengakuan istri.


Akira kesal melihat suaminya seperti itu, ia memanyunkan bibirnya, "sudah sana aku mandi dulu, jika kamu terus menggodaku sampai kapan mau selesai mandinya." Akira mengusir Gian dari kamar mandi.


"Oke, oke, aku tidak akan menggodamu lagi, biar aku tahan h a s r a t ku, sampai nanti malam." Gian tidak bisa untuk tidak menggoda istrinya.


"Pasti ada ujungnya." Gerutu Akira, sambil menatap tajam suaminya yang masih cengar-cengir.


Kemudian Gian mulai memandikan istrinya mengguyur dengan air, menyabuninya dan lalu membilasnya sampai bersih, ia melakukan itu semua dengan telaten, dan tetap diselingi canda tawa dari keduanya.


Setelah keduanya selesai membersihkan diri, Gian meraih handuk mengelap tubuhnya dan tubuh istrinya, lalu memakaikan jubah handuk di tubuh Akira.


Ia sendiri hanya melilitkan handuk tadi di pinggangnya.


Gian membawa kembali istrinya ke kamar, ia mendudukkan-nya di kursi dan membantu mengeringkan dan menyisir rambutnya, setelah itu Gian juga membantu Akira mengenakan gaun yang tadi dibawakan oleh mama mertuanya.


Semenjak Akira hamil besar dan kesulitan untuk bergerak, Gian selalu siaga menjaganya dan membantu semua kesulitannya.

__ADS_1


Gian menghubunginya tim MUA yang  sudah di sewa khusus untuk memake up keluarga pengantin, agar mereka segera ke kamarnya untuk memake up istrinya.


Selang beberapa waktu tim MUA sudah hadir di kamarnya, dan segera memoles wajah Akira yang cantik alami. Agar terlihat lebih cantik lagi.


Tapi Akira meminta untuk di make up natural saja tidak usah tebal-tebal.


Karena ia di tempat acara hanya sebentar, hanya untuk menghargai pengantin dan orang tua serta para tamu undangan.


Dengan kondisinya yang sedang hamil besar Akira memang dibatasi untuk melakukan aktivitas yang berlebihan, sebab Akira mudah sekali merasa lelah dan letih.


Sesuai permintaan Akira, tim MUA  hanya mempoles wajahnya dengan sedikit sentuhan make up, namun. Tetap terlihat sangat cantik.


Setelah semua sesuai tim MUA pamit undur diri, Gian memberikan tips kepada mereka (terdiri dari dua orang) sebagai tanda terima kasih sudah membuat istrinya lebih cantik lagi.


Kini Gian dan Akira sudah siap untuk menghadiri pesta pernikahan Erwin dan Rima. Gian mengulurkan tangannya meminta Akira untuk duduk di kursi roda dan akan segera membawanya ke tempat acara.


Sesungguhnya Akira menolak untuk duduk di kursi roda, tapi Gian memaksanya. Akira tidak boleh berlama-lama berdiri dan berjalan aga jauh, maka dari itu Akira harus menggunakan kursi roda untuk memudahkannya. Dengan terpaksa akhirnya Akira mengikuti apa yang dikatakan oleh Gian.


Gian segera mendorong Akira dan membawanya ke tempat acara, dari kejauhan Akira menatap semua orang yang terlihat cantik dan elegan dengan penampilannya.


"Lihat mereka semua, terlihat cantik dan elegan, dengan dandanan merek, sedangkan aku seperti orang sakit seperti ini." gerutu Akira.


Gian menghentikan langkahnya, dan otomatis kursi roda pun berhenti, Gian menghampiri Akira dan berjongkok di hadapannya.


"Sayang, sudah kubilang jangan  pernah mengeluh bersyukurlah, karena  diluar sana banyak orang yang menginginkan kehamilan tapi tidak mendapatkannya, andai aku bisa, aku ingin sekali menggantikan posisimu, aku paham betul dengan keadaanmu, semua kesulitanmu, makanya aku selalu berusaha sebisaku untuk meringankan bebanmu." Gian menasehati Akira.


Entahlah mengapa akhir-akhir ini Akira memang sering mengeluh dan sangat sensitif, Mungkin karena pengaruh hormon ibu hamil. Selama masa kehamilan berlangsung, ibu hamil sering bersikap emosional, hal tersebut muncul karena disebabkan oleh peningkatan kadar hormon dalam diri bumil sehingga secara psikis memberikan banyak perubahan bagi bumil dari sisi emosional.


Faktor utama yang membuat ibu hamil lebih sulit untuk mengatur emosi karena adanya peningkatan hormon progesteron dan hormon estrogen. Kedua hormon ini nyatanya bisa mempengaruhi otak untuk mengatur semua perasaan termasuk perasaan marah, suasana hati yang buruk, atau pun kecewa.


Mendengar nasehat Suaminya Akira hanya menundukkan kepalanya, ia terlihat sendu.


Gian tidak ingin berdebat dan membuat Akira makin merasa stress, Gian juga tidak ingin mempermalukan dirinya dan juga istrinya di acara itu, jika sama-sama emosional akan terjadi perselisihan bahkan pertengkaran. Gian lebih memilih untuk mengalah untuk menjaga perasaan Akira .


"Ya, sudah kita kembali ke kamar, jika disini membuatmu tidak nyaman, kita bisa bersantai dan bisa i n d e h o y lagi." ucap Gian dengan maksud menghibur istrinya.


Gian kembali memutar balikkan kursi rodanya untuk kembali ke kamarnya. Tapi Akira menghentikannya dengan mencekal tangan Gian "Hentikan!"  seru Akira.


"Kenapa? bukannya kamu tidak ingin berbaur dengan mereka, ya, jadi sebaiknya kita kembali sebelum ada yang melihat kita dan memaksamu untuk bergabung dengan mereka." ucap Gian.


Akira mendongakkan kepalanya melihat ke arah belakang karena suaminya memang berada di belakangnya sedang dalam posisi mendorong kursi rodanya.


"Sayang, maafkan aku, selalu emosi dan banyak maunya, membuatmu serba salah dalam menghadapiku." Akira menyadari kesalahannya.


Gian tersenyum, dan kembali berpindah posisi, ia kembali berjongkok di depan istrinya, "Sayang, justru aku yang selalu membuatmu kesal tolong maafkan aku ya." Gian selalu berusaha untuk memahami Akira dan mengimbanginya.


Sekesal apapun Gian akan sikap Akira ia tetap sabar dan tidak pernah menampilkan kekesalannya, beda sekali dengan Gian yang dulu, Gian yang baru akira kenal dulu sangat keras kepala, dan tentramental.

__ADS_1


__ADS_2